
Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
Kuminum Jus orange dihadapanku, setelah kulihat mas Dimaspun melakukannya. Hingga beberapa saat setelahnya ...
Mengapa kepalaku terus berputar dan panas sekali kurasa ...
"Masss ... " kupanggil beberapa kali suamiku yang sebelumnya duduk disisiku namun tak jua kudengar sahutannya. Dan kepalaku semakin pusing ...
Hingga tangan-tangan besar kurasakan mencengkram bahuku, mereka terus membawaku. Dan aku tak mengingat lagi setelahnya ....
•
•
•
🌻Pukul. 03:15
Kurasakan degub jantung yang memompa beraturan saat kupaksa mataku yang begitu berat untuk terbuka. Kurasakan pula tangan yang mengunci tubuhku dengan kuatnya.
Aroma parfum tercium pula menusuk hidung hingga tersalur kepenjuru otakku, aroma parfum yang begitu kuhafal, dan sangat melenakanku. Membuatku seakan terbawa kembali dalam mimpi yang seakan begitu indah dan nyata, kebersamaan dengan sang kekasih yang seakan candu yang tak ingin lekas berlalu.
Beberapa waktu kembali berlalu hingga sosok disisiku menggerakkan tubuhnya, ia terbangun. Tampak ia menyapu bahuku dan berbisik memanggilku, "Sayangg ...."
"Hmmm," lirihku.
Dan, "Ohh," seketika sosok disisiku duduk dan terus memijat kepalanya yang terasa berat, ia kaget melihat ruangan yang tak di kenalnya, di mengintip selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh wanita disisinya, "Astagfirulloh ... apa yang kami lakukan disini? Lyra, bangun sayang, ini bukan kamar kita ...."
"Mass, kepalaku sangat pusing, pegal pula seluruh tubuhku Mass," lirihku masih belum menyadari yang terjadi.
"Bangun sayang! Terjadi hal yang tidak beres disini ...."
Seketika pria disisiku masuk ke kamar mandi, membasahi kepalanya dan segera memakai pakaian yang tampak bercecer disisi ranjang.
"Sayang ... bangun! Pakai pakaianmu dan kita pulang! Firasat Mas tidak baik," bisik priaku membuat seketika ku dudukkan diriku dan berusaha memakai satu persatu pakaianku yang diletakkan di ranjang oleh suamiku dengan kesadaranku yang belum sempurna.
"Sial, 50 panggilan tak terjawab, Shifa, Aldo dan Ibu? Apa yang terjadi di rumah? Sayang sudah belum?"
Aku mencuci wajahku di wastafel, dan memakai hijabku yang tidak serapi saat datang tadi. Dengan tergopoh-gopoh kamipun keluar dari kamar dan segera keluar dari hotel tempat kami berada. Sekilas mataku menangkap cafe dilantai bawah tempat kami makan malam sebelumnya La ELPalaZZo Cafe , yang menjadi tempat terakhir kami hingga akhirnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Udara dingin menyapu tubuh-tubuh kami yang terasa kaku, kami biarkan tanda di tubuh juga sisa peluh yang belum sempat dibersihkan.
Lampu-lampu jalan masih menyala dan menghias sepanjang jalan yang kami lewati, beberapa orang masih terlihat berkeliaran tak tentu di dini hari yang hampir menerang.
Otak kami terus menerawang dan menerka setiap hal yang terjadi hingga sesak akhirnya saat membayangkan kemungkinan ada hal buruk yang telah kami lewatkan sebelumnya.
Tiada kata, hanya keheningan menjadi pengiring laju kemudi kami, hingga kufikir harus mengeluarkan sesak yang memenuhi otakku saat ini ....
"Mass, mungkinkah ini semua ulah Rendi, dan bagaimana jika terjadi sesuatu ....
"Stop! Jangan lanjutkan! Mas tidak ingin berprasangka. Buka ponselmu dan telfon rumah, coba kita lihat semoga semua baik-baik saja," ujar mas Dimas dengan rahut wajah yang terlihat kacau.
*Tuttt ... Tuuttt .... Tuutt*
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikum salam, Lyra Dimas, dimana kalian? Cepat pulang!!" tampak kemarahan dari balik telfon dan itu adalah suara i-bu A-ri-ni.
"Mass ...."
"Bagaimana? kenapa cepat sekali ditutup?"
"Ibu A-rini dirumah Mass, Masss ... apa yang terjadi di rumah?? Anak-anakk ... bagaimana jika terjadi sesuatu pada me-reka ...." lirihku tak terasa butiran air terus memaksa kini keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
"Ahhh, sialll," gusar mas Dimas mengepalkan jemarinya dan memukul kearah kemudi dengan sangat keras.
"Jangan menangis Sayang, kita hadapi semua!."
Dan berbagai hal tentang anak-anak terus muncul diotakku. Hingga beberapa saat berlalu gerbang perumahan kami telah tampak. Dan dalam hitungan menit yang singkat bayang rumah kami yang tampak ramai tertangkap mata kami ...
Beberapa security terlihat mondar mandir di depan rumah, terdapat pula mobil polisi terparkir di muka gerbang rumah kami. Yaris hitam Firgie serta Brio Aldo juga tampak berbaris disana.
Dan Terios mas Dimas mulai masuk kini kepelataran. Suasana riuh rumah semakin terlihat. APV ayah terparkir menemani Jazz Silver disana. Kamipun seketika keluar dari mobil, Ayah dan Aldo sedang berbicara serius dengan seorang polisi di ruang tamu, seketika Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari kedatangan kami. Kamipun segera ikut duduk berbaur.
"Apa yang ter-jadi Yah?"
"Masuk kedalam temui ibumu!!"
Dan kamipun masuk kini, ibu terlihat tanpa daya duduk di ruang keluarga ditemani Shifaa disisinya. Matanya terbelalak menangkap raga kami.
"Kalian akhirnya pulang ... apa ini Dimas! Beginikah caramu menjaga keluargamu! Dan kalian, darimana saja kalian? Rambut berantakan, hijab tidak rapi. Apa yang kalian lakukan semalaman? Apa kalian hanya mementingkan diri kalian saja?" geram ibu seraya terus menangis.
"Ada apa ini Bu? Apa yang terjadi di-rumah Di-mas?"
*Cucu ibuuu* ....
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤