Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Saran Lyra


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻POV DIMAS


Mataku masih terkantuk pagi ini, namun kurasakan hembusan angin yang terus mengganggu di wajahku.


Kubuka mataku, kutemukan wajah cantik Lyra istriku disana. Iapun mulai melontarkan maksudnya padaku, ingin meminta izin joging bersama putriku pagi ini.


Akupun tersentak, segera kuangkat tubuhku dari pembaringanku. Rasa hawatir menguasaiku, bagaimana tidak? bahkan ini kali pertama istriku menginjakkan Bandung, dan lagi sosok Rendi masih berkeliaran di sekitar kami. Bagaimana jika tiba-tiba Rendi mengahampiri dan menyakiti kedua wanitaku??


Dengan menyampingkan kantukku akupun memutuskan ikut mereka joging pagi ini.


Hawa dingin memang tidak terlalu berpengaruh untukku dan Mayra yang memang pernah tinggal di Bandung cukup lama, tapi tidak untuk Lyra-ku. Kuperhatikan sejak beberapa langkah keluar rumah ia selalu melipat tangannya, Lyra-ku tampak kedingian.


Akupun berinisiatif untuk mengajak Mayraku berlari. Dan seperti dugaanku Mayra akan mengikutiku, namun tidak dengan Lyra-ku, ia masih berjalan dengan perlahan dan akupun menghampirinya. Kukatakan bahwa dengan berlari hawa dingin akan tak terasa dan akhirnya Lyraku turut berlari dengan kami kini.


Tak terasa matahari mulai menampakkan sinarnya, kulihat penjual bandek disisi jalan yang kami lewati, dan kuputuskan berhenti guna memberi kehangatan bagi tubuh kami.


Dan disana, seorang pemuda yang telah berpeluh dengan keringatnya tampak membutuhkan kehangatan dari secangkir bandrek pula.


Aku tak asing dengan wajah ini, semakin mendekat aku semakin yakin. Cakra, itulah nama pemuda tersebut. Pemuda selama 2 hari ini selalu kujumpai saat sholat berjamaah subuh di Masjid. Kami berjalan beriringan setelah sebelumnya kami saling memperkenalkan diri. Dan tak kusangka Cakra berhenti tepat di depan 1 rumah sebelum rumahku, dia adalah tetanggaku rupanya, batinku.


Ada rasa heran kurasa, karena aku tau siapa pemilik rumah disisi rumahku, ia adalah mantan Wakapolri, Bapak Setyo Yuwono. Dan kufikir beliau tak memiliki putra berusia belia, ada yang SMA tapi wanita, Anjani kalau tidak salah namanya. Lalu siapa pemuda tersebut?


Untuk menghilangkan penasaranku, akhirnya kemarin aku menanyakan sosok pemuda tersebut pada Mang Diman tukang kebunku.


Iapun menjelaskan bahwa pemuda tersebut adalah menantu Pak Setyo, yang karena sebuah kesalahan harus dinikahkan dini dengan Anjani putri bungsu Pak Setyo.


Dan pemuda tersebut kini berdiri tepat dihadapanku, tampangnya rupawan seakan berdarah campuran tertangkap mataku, bahkan Mayra putri kecilkupun sampai tak berkedip memandangnya.


"Hai gadis cantik, siapa namamu?"


"Mayla Kak," putri kecilku tampak menyahut dengan malu atas sapaan Cakra.


"Berapa usianya Mas?" tanyanya padaku.


"5 tahun."


"Melihat putri Mas aku jadi teringat putra kecilku Aran, betapa rindu selalu menguasaiku karna keadaan mengharuskanku long distance dengan mereka," seketika tampak keharuan di wajah Cakra saat membicarakan tentang kerinduannya.


"Bersabarlah, aku dan Lyra istriku ini bahkan harus berpisah 7 tahun hingga akhirnya kami dipertemukan kembali, iyakan Sayang?"

__ADS_1


Dan Lyraku tampak tersenyum disana.


"Ayahhh ... Ayo kita lanjutkan jogingnya," celoteh Mayraku seketika menghentikan obrolanku dengan pemuda belasan tahun bernama Cakra tersebut.


"Mohon maaf kami duluan Cakra."


"Iya Mas, senang berkenalan dengan keluarga Mas," ujarnya sesaat sebelum kami akhirnya berpisah.


●●


Kami di wahana bermain kini, Mayraku tampak asik dengan permainan yang ada disana, sesekali ia berlari kearahku dan membuka lebar mulutnya. "A ... bunda," Mayraku seperti biasa makan dengan sangat lahap, terlebih yang saat ini ditanganku adalah ketopak, salah satu makanan kesukaannya.


"Bagaimana perkembangan ruko Mas yang terbakar?" ujarku membuka obrolan dengan mas Dimasku sesaat setelah makanan di piring kami habis.


"Kemarin Mas sudah membuat laporan ke Perusahaan Asuransi. Hari ini Mas akan kesana lagi untuk memberikann laporan kerugian," ucap mas Dimas seraya melambaikann tangan kepada sang putri agar tak bermain terlalu jauh.


"Kerugianmu pasti sangat besar?" lirihku sembari kudekatkan sendok kemulut Mayra yang sudah berdiri di dekatku dan membuka lebar mulutnya.


Mas Dimas terlihat tersenyum getir, "Yang mas fikirkan bukan hanya kerugian toko tapi juga nasib karyawan Mas yang bekerja disana."


"Lalu bagaimana nasib mereka?"


"Tak ada pilihan mereka akan dirumahkan terlebih dahulu tapi mas tidak 100% mengikat mereka. Mas mempersilahkan mereka mencari pekerjaan lain sambil menunggu toko roti Mas beroperasi kembali," ujar Mas Dimas.


"Ada apa Sayang. Mas tau kalau Mas tampan tapi jangan terus memperhatikan Mas. Tidak baik di perhatikan orang," dan Mas Dimas bisa-bisanya bercanda disaat seperti ini.


"Sayang ...."


"Hmm ...."


"Sepertinya kita akan lama di Bandung, apa Lyra tidak masalah?" mas Dimas bertanya dengan tatapan yang begitu serius.


"Aku suka Bandung. Yaa, walau cuaca disini kerap membuatku kedinginan tapi lama-kelamaan aku pasti menyesuaikannya. Lagipula sudah kewajibanku berada disisi suamiku," lirihku sambil kulontarkan senyum tulusku.


"Terima kasih Sayang," seketika mas Dimas merangkul dan terus membelai bahuku.


"Mas tapi kita tak membawa banyak pakaian kemarin."


"Akhir pekan mas akan membawamu berbelanja dan mencari yang kita butuhkan," seuntai senyum kembali terlihat di wajah tampan mas Dimasku.


"Jika kau sibuk, aku dan Mayra bisa pergi sendiri naik taxi online Mas," ujarku tak ingin mengganggu pekerjaan mas Dimas.


"Mana bisa mas membiarkan kalian berdua keluar tanpa Mas," ujar mas Dimas di barengi kedatangan Mayra sambil membuka mulutnya hingga tampak bulat sempurna penampakan mulut putriku.


"Mas tidak percaya padaku?"

__ADS_1


"Tidak, bukan itu alasannya. Masalahnya ... " mata mas Dimas terlihat tajam menatapku.


"Kenapa berhenti bicara?" aku penasaran.


".... karena kemungkinan besar Rendi ada di Bandung saat ini."


"Benarkah? Mengapa mas bisa begitu yakin?" selidikku.


"Sayang ... mengenai ruko Mas yang terbakar


tempo hari. Kemungkinan ada campur tangan Rendi di dalamnya," terang mas Dimas seketika membuatku bergidik takut.


"Hahh ... benarkah Mas."


"Ini sih baru dugaan, karena dari CCTV yang bisa di selamatkan, terdapat bayang pria berjaket cream berambut ikal panjang. Entah mengapa Mas berfikir itu Rendi."


"Lalu kau sudah melaporkannya ke kantor polisi kah?" ujarku.


"Bukti yang Mas miliki belum cukup Sayang, andai kita bisa membuatnya mengaku, dapat dipastikan ia akan masuk jeruji besi," tutur mas Dimas.


"Membuatnya mengaku?? ... mungkin aku bisa membantumu Mas."


"Maksudmu?"


Kugengam jemari mas Dimas kini, "Aku akan menemuinya dan menyelidiki kebakaran itu dari mulutnya."


"Tidak Lyra, tolong jangan fikirkan hal seperti itu, sama saja mas memasukanmu ke kandang singa," tegas mas Dimas.


"Aku tidak takut Mas, kita akan melakukannya bersama, kau diam-diam akan mengikutiku. Dan aku yakin Mas akan menjagaku dari keburukan Rendi," ujarku.


"Itu sangat beresiko Lyra ...."


"Mas Please!!! fikirkan setelah kita memperoleh Bukti pengakuan Rendi, hidup kita akan tenang," lirihku.


Haruskah aku mengikuti saran istriku??? batin Dimas bergemuruh.


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


🌻Bab ini berisi Colab dengan athor kece SEPHINASERA dengan judul novel Karyanya Beautifully Paintful ... sudah banyak karya beliau yang selalu membuat reader tak bisa kelain hati, monggo bisa tengak tengok karya beliau😊😊


🌻Ini adalah cara kami saling mensupport Karya, terlebih untuk remahan seperti Bubu❤❤


__ADS_1


__ADS_2