Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kebiasaan Baru


__ADS_3

👨"Pulang kerja ku tunggu di tempat biasa ya Ly!"


👩"Iya sayangg..." segera ku bàlas pesan dari Firgie.


👨"Kalimat apa itu di belakang, katakan lagi Ly!"


👩"Sayanggg..."


👨"Katakan lagi Lyra..."


👩"Sayang sayang sayang sayang sayanggg....❤"


👨"Makasiii Sayangku😙😙❤"


👩"Aku lanjutkan makanku ya Gie, belum sholat juga" ujarku.


👨"Kenapa gak ada kalimat sayang lagi?"


👩"Aku lanjutkan makanku ya sayang❤"


👨"👍👍Oke, sampai ketemu nanti😙😙❤"


**


"Kenapa sih lagi makan senyum-senyum sendiri?" tanya ka'Fid heran.


"Nggak ka lagi bales pesan dari Firgie" ujarku.


"Hemmm yang udah jadian, tapi aku seneng Ly lihat kamu seminggu ini banyak senyum dan bersemangat" ujar Ka' Fid.


"Alhamdulillah ka, Alloh memberiku pengganti mas Dimas orang yang sangat baik dan menyanyangiku seperti mas Dimas dulu...." kuhentikan kalimatku segera. Sepertinya tak baik mengungkit mas Dimas yang akan mengingatkanku kembali padanya.


"Syukurlah Ly aku ikut bahagia. Sebenernya aku sudah melihat ketertarikan di mata Firgie saat di Kafe Holala pertama kali kita bertemu itu" ujar ka 'Fid.


"Oya.. masa sih ka?" aku sangat terkejut memang sih Firgie telah mengatakan seperti itu tapi bagaimana Ka'Fid juga menyadarinya..


"Kau ingat saat kita masuk ke Kafe Holala waktu itu, memang mata Firgie saat itu menatap mbak Dewi tapi aku melihat beberapa kali Ia melirik ke arahmu Ly."


"Benarkah Ka? Saat itu bahkan kita datang bertiga dan ia belum tau siapa diantara kita yang akan di kenalkan padanya."


"Itu berarti hatinya sejak awal sudah menunjukmu" ujar Ka'Fida sambil tersenyum menggodaku.


"Ahh, Kaka bisa aja" ujar ku malu. Hatinya menunjukku, kata-kata yang indah. Bisa aja ka'Fid, batinku.


"Ly, kau sudah dengar kabar Pak Dimas?.


Degg... Mas Dimas.. mendengar namanya kembali membuat hatiku bergetar. Astagfirulloh.. Ingat Lyra kau sekarang sudah bersama Firgie. Dan dia adalah sosok yang nyata dihadapanmu, bisik hatiku.


"Memang ada kabar apa ka? tanyaku ragu.


"Udah seminggu ini Pak Dimas gak masuk katanya sakit" ucap Ka'Fid.


Sakit sampai 1 minggu? sakit apa Mas Dimas? bukannya tinggal seminggu lagi pernikahanmu, batinku.


"Ah.. sekarang ia bukan urusanku kak" ujarku mengelak dari hatiku yang sebetulnya menghawatirkannya.


"Iya sih Ly tapi kamu mikir gak sih, sakit apa sampai seminggu mana tinggal seminggu lagikan pernikahannya" tambah kaFid.


"Mungkin kecapean prepare buat pernikahannya ka" lirihku.


"Mungkin, tapi buat orang segagah mas Dimas klo kecapean ko kayaknya aneh ya."


"Tapi mbak Friss tiap hari aku melihatnya ko' Ka."


"Itu dia yang lebih aneh kenapa calon suami sakit, ia tenang aja kerja."


"Sudah ah ka, gak usah bahas urusan orang lain. Yuk sholat ka!" ujarku pada Ka Fid.


**


Aku dijemputan Bekasi Timur saat ini. Mall XX masih tampak jauh. Kuambil alat tempur di pouch ku. Kutatap wajahku di cermin kecilku, kuberi bedak tipis disana, lip cream berwarna nude kupilih. Kemudian kurapikan hijabku.

__ADS_1


Setelah tampilanku cukup menyegarkan, perhatianku teralih pada pemandangan di luar jendela, tampak pohon-pohon berjejer cantik disisi jalan. Kondisi jendela yang sedikit terbuka membuat hembusan angin beberapa kali masuk menyapaku.


Tiba-tiba otakku teringat obrolanku dengan ka Fida siang tadi mengenai Mas Dimas. Sakit apa kamu mas? Pasti mbak Friss dan keluargamu akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhanmu. Do'aku selalu untuk kesembuhan dan kebahagiaanmu mas, tak terasa tetesan air terus keluar dari sudut mataku. Mas Dimasku..


Mall XX sudah tampak di depan mataku. Babe jemputan perlahan memarkirkan bisnya. Saat bis telah berhenti sempurna. Aku dan beberapa orang turun disana.


Segera ku berjalan dengan penuh semangat menuju bakulan Ketoprak tempat faforite ku dan Firgie.


Dan seperti biasa Firgie telah sampai disana lebih dulu. Ia tersenyum menatapku dari kejauhan yang saat ini sedang berjalan kearahnya.


Ia mengulurkan tangannya saat aku telah didekatnya. Ku kecup punggung tangan Firgie, suatu kebiasaan baru bagi kami belakangan ini. Ia masih tak melepas tanganku matanya melirik bangku di sebelahnya, memintaku duduk disisinya.


"Macet gak?" tanyanya.


"Biasa macet sedikit" jawabku.


"Gimana dengan pekerjaanmu hari ini?


"Alhamdulillah lancar Gie" jawabku lagi.


Tak lama pemilik bakulan ketoprak datang membawa 2 piring ketoprak, seperti biasa Firgie telah memesan lebih dahulu.


"Hari ini kita mau kemana?tanya Firgie di tengah makan kami.


"Terserah kau saja Gie, tempat yang kau sukai pasti aku juga suka" bisikku.


"Ternyata Lyraku sudah pintar bicara sekarang" Firgie menggodaku.


"Karena aku belajar darimu" bisikku lagi.


Perut kami sama-sama telah kenyang sekarang. Firgie membawaku mencari masjid terdekat untuk menjalankan ibadah ashar kami. Baru setelahnya Firgie mengajakku melaju diatas satrianya berkeliling Bekasi saat ini. Ia memberhentikan laju motornya di sebuah taman yang indah dan asri. Kami duduk di sisi taman, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Firgie menceritakan kisah2 yang lucu untukku, membuatku berkali-kali tertawa mendengarnya.


"Sudah Gie, jangan cerita lagi perutku sakit" ujarku tak bisa menahan tawaku.


Firgie menggenggam tanganku.


"Aku senang melihat tawamu Lyra" bisiknya sambil menatapku.


"Kenapa? aku senang menatapmu Ly. Ciptaan Alloh yang sangat sempurna" ucap Firgie tak melepas tatapannya.


"Kau sangat pintar menggodaku Gie."


"Aku serius, tidak menggodamu. Aku sungguh beruntung memperoleh hatimu Lyra" ujar Firgie lagi.


Tak lama adzan maghrib berkumandang. Kedua sejoli tampak naik keatas Satria merah dan melajukan kembali motornya mencari masjid terdekat.


***


Pukul 18.40


Mereka telah sampai ke kossan Lyra dengan 2 bungkus ice cream yang mereka beli di XXMart dalam perjalanan pulang tadi.


Mereka pun langsung menikmati ice cream itu.


"Berapa usiamu Lyra?" tanya Firgie padaku sambil menikmati ice cream dalam genggaman kami masing2.


"19, kau sendiri brp?" tanyaku balik.


"Aku 23. Oya, ceritakan tentang keluargamu Ly, dimana mereka? Dan bagaimana kau bisa tinggal jauh dari keluargamu?" ujar Firgie.


"Aku berasal dari Jakarta Gie. Lebih tepatnya sudut Jakarta. Aku anak pertama dari 3 bersaudara, kedua adikku perempuan. Keluargaku biasa dan kami hidup dalam kesederhanaan. Sebelum bekerja disini aku bekerja di sebuah perusahaan kecil hingga tawaran dari mbak Susi untuk bekerja di PTnya datang. Akupun akhirnya terlempar ke Bekasi. Begitu cerita tentang keluargaku Gie. Tak ada yang menarik, bukan?" ujarku.


"Kalau begitu aku harus banyak berterima kasih pada mbak Susi yang membawamu ke Bekasi, jika tidak aku tidak akan pernah bertemu denganmu" tutur Firgie sambil terus tersenyum kearahku.


"Hentikan senyum seperti itu Gie!." ujarku malu.


"Entah.. aku juga aneh. Sepertinya bibirku tak bisa berhenti tersenyum menatapmu Lyra" godanya.


"Ahh, kau sangat pandai menggoda wanita Gie." mungkin wajahku sangat memerah kini, malunya. Batinku.


"Sudah pernah ku katakan padamu. Aku tidak menggoda setiap wanita, hanya terhadap orang yang ku suka saja Lyra..."

__ADS_1


"Tidakkk, saat itu kau tidak berkata begitu Gie. Kau berkata, *hanya pada beberapa yang ku suka. Hmm.. sekarang ayo katakan padaku siapa saja beberapa orang itu??" desakku pada Firgie sambil mencubit lengannya.


"Oh.. ternyata kau mengingat smua ucapanku Ly..."


"Ayolah Gie, ceritakan siapa saja wanita yang pernah ada di hatimu atau menjadi kekasihmu" desakku lagi.


"Lyra, sungguh aku tidak banyak memiliki kekasih."


"Ayolahh Gie..."


"Oke.. Aku 3x pacaran Ly. Pertama saat SMA hanya cinta monyet, gadis itu bernama Indah dan ia sudah menikah sekarang. Kedua teman mainku, teman kumpul bersama geng kami. Dia yang menembakku duluan, namanya Karin. Terakhir denganmu Lyra." Ujarnya menjelaskan sambil akhirnya mencubit hidungku.


"Terus kalian...."


"Sudah jangan membahas aku" potong Firgie tiba-tiba.


"Ly... kata-kata yang kau tulis di pesanmu tadi, aku ingin mendengarnya langsung."


"Kata-kata apa?" ujarku berpura lupa.


"Yang tadi siang..." desak Firgie.


"Yang mana sih? aku tidak ingat" ucapku berpura kembali namun tak bisa menyembunyikann senyumku.


"Ayo.. katakan... kau pasti pura-pura lupa kan?" desak Firgie lagi sambil mulai mengelitikiku...


"Hentikan Gie.. Sudah... Sudah.. iya aku katakan." Ujarku menyerah merasa lemas tertawa akibat kelitik yang ia lakukan.


"Sa-yang" ucapku terbata.


"Katakan yang benar Lyra... seperti tadi di pesanmu."


"Hmm... Sayanggg... begitu?" ujarku merasa aneh dan malu dengan yang ku katakan mungkin karena kami masih baru, beda saat bersama dengan Mas Dimas...


"Masih kurang benar... gunakan hatimu Lyra" lirih Firgie.


Seketika Firgie meraih kepalaku menarik kedadanya..


"Gadisku yang manis, aku sayangggg padamu. Begitu..." bisik Firgie di telingaku.


Beberapa saat kemudian..


"Oke sudah malam aku pulang dulu ya Ly."


Firgie berdiri dan memakai jaketnya.


"Assalamu'alaikum Lyra, sampai bertemu esok."


"Wa'alaikum salam Gie..." Ku sambut uluran tangannya dan kukecup punggung tangannya..*Kebiasaan baru kami.


Firgiepun hendak beranjak keluar..


"Gie tunggu!!.." panggilku.


"Terima kasih sayangggg..." ucapku lirih dengan berjinjit dan berbisik di telinganya.


Firgie seketika mencuri kecupan di dahiku.


"Cupp.."


Kupukul dadanya perlahan...


"Kau nakal Gie..." *tapi di lubuk hatiku menyukainya dan betapa dada ini sesak karenanya....


****


#Salam Cinta dari Thor❤ Dukung selalu karya Thor dengan Klik tombol jempol di kiri bawah dan beri komen terhadap karya thor...


Vote dan Rate juga jangan lupa yaaa😉


#Happy Reading😍

__ADS_1


__ADS_2