
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Dimas, Lyra ... Bagaimana kondisi Diyara?" 2 orang paruh baya seketika menghambur kami setengah berlari, wajah panik, hawatir dan kesedihan terpancar jelas dari keduanya.
Ibu Arini dan Ayah Arya, merekalah yang datang saat ini. Ibu Arini seketika langsung memelukku erat sambil tangannnya terus membasuh punggungku.
Ayah terlihat sedang berbicara dengan Bapak, sedang mas Dimas disisiku dan Ibu.
"Sabar ... sabar, kalian berdua harus kuat dan saling mennguatkan. Kalian berdua orang tua hebat yang diberi ujian yang hebat pula. Tenang Lyra, jangan menangis lagi. Anakmu sedang berjuang, kau tidak boleh lemah."
"Sudah berapa lama Diyara di dalam?"
"3 jam Buu,"
"Waktu ibu, operasi selesai setelah 6 jam. Berdo'a dan harus terus optimis. Kau lihat ibu kan? ibu sehat saat ini, dan Diyara juga pasti akan sehat." ujar ibu terus menyemangatiku.
Akupun mengangguk.
"Kalian berdua sudah makan siang?" tanya ibu terhadap kami.
"Dimas sudah Bu tapi Lyra benar-benar tidak mau makan," jujur mas Dimas saat ini.
"Apa-apaan ini Sayang. Ingat susu anakmu ada padamu. Siapkan nutrisi terbaik untuk Diyara pasca operasinya nanti, juga Dirga ... ia juga butuh ASI mu. Bawa Lyra ke kantin Dimas..!!! Kau tidak perlu hawatir, ada ibu, ayah dan Bapak disini, paham??" Dan akupun mengangguk mengiyakan.
"Oiya ibu kesini hanya berdua?" tanya mas Dimas sebelum kami beranjak pergi.
"Kami berempat dengan Shifaa dan Pak supri. Shifaa sedang diantar Pak supri ke rumahmu, biar dia membantu ibu Fatia menjaga Mayra."
"Terima kasih Buu."
Ibu mengangguk dan terus mendorong kami untuk beranjak ke kantin mencari makan.
•
•
•
"A Sayang ... buka mulutmu yang besar..!!!"
Aku masih menggeleng saat ini, membayangkan Diyara didalam sana, tak tertelan rasanya makanan ini.
"Sayangg ... kau ingatkan perkataan ibu tadi bukan? kau harus memberi nutrisi terbaik untuk Dirga dan Diyara. Khususnya Diyara setelah menjalani operasinya nanti.
"Tidak bisa tertelan Mass," lirihku.
"Bisa.!! Sedikit-sedikit saja okee. Harus ada makanan yang mauk ke tubuhmu. Kau harus pump ASI-mu juga bukan?"
Setelah beberapa saat mas Dimas terus membujukku, akhirnya aku mulai memakan makananku.
"Pintar, A lagi. Suapan ini sangat besar, buka mulutmu yang besar juga okee..!!!"
"Jangan banyak-banyak Mass,"
Mas Dimas seketika tersenyum dan mengangguk.
"Kau tau, jarang-jarang mas menyuapi ketoprak seperti ini. Melihatnya saja jujur mas tidak suka. Tapi untukmu dan kedua bayi kita, okelahh," ujar mas Dimas mengenyampingkan egonya.
Dan aku hanya bisa menatapnya sambil mengunyah makanan yang dimasukkan mas Dimas lagi-lagi ke mulutku.
"Mas juga pesan makanan yaa?" ucapku.
"Tadi mas sudah makan siang banyak di rumah Sayang ...," ujar mas Dimas.
•
__ADS_1
•
•
Dan kami berjalan kembali ke ruang operasi setelah sebelumnya menjalankan ibadah Ashar kami.
Aku masih menggenggam tangan mas Dimas yang seperti biasa selalu berkeringat.
"Lyra duluan ya, mas mau ke toilet dulu," lirih mas Dimas saat ini sambil melayangkan senyum yang tampak dipaksakannya.
"Iya," jawabku dan segera menuju tempat ibu berada.
"Mana Dimas?"
"Ke toilet bu," ibu tampak mengangguk sambil matanya menuju arah toilet putranya berada.
"Ibu mau kemana?" tanyaku melihat ibu seketika hendak menjauh dariku tanpa kata.
"Ibu juga kayaknya pengen ke toilet," ujar ibu kubalas dengan anggukanku.
•
•
4 jam sudah Diyara di dalam, lampu berwarna merah terus berkedip diatas sana.
Putriku ... entah apa yang sedang dokter lakukan padamu saat ini, batinku cemas dan hawatir kurasa.
ALLÒHU AKBAR ... ALLÒHU AKBAR ...
Adzan maghrib pun berkumandang, kami saling bergantian menjalankan ibadah Magrib kami saat ini.
Aku masih duduk di teras masjid bersama mas Dimas setelah sebelumnya ibu, bapak dan ayah menjalanan sholatnya.
Kulihat mas Dimas mengambil ponselnya disaku dan tampak menelepon seseorang,
"Assalamu'alaikum ...,"
"Gimana kondisi rumah Dek? Mayra sudah makan? Dirga rewel gak?" tanya mas Dimas. Ya, Mas Dimas sedang menelepon Shifa adiknya yang sedang berada di rumah kami saat ini.
"Loud speaker Mas..!!!" dan mas Dimaspun mengangguk.
"Tadi Dirga rewel sebentar Mas, karena gak sabar nunggu ASi yang masih di hangatkan sama ibu fatia. Tapi pas ASInya siap dan Dirga mimik, langsung diem deh. Tuh, lagi dipangku ibu Fatia sekarang."
"Lho emang rewel kok dipangku?"
"Dirga lagi bobo Mas, kata ibu Fatia kalau magrib gak bagus bayi dibiarin sendiri apalagi sedang tidur."
"Kalau Mayra lagi ngapain?" tanya mas Dimas kembali.
"Ini deket aku lagi ngerjain PR, dek ada ayah sama bunda nii," ujar Shifa di telepon terdengar berbicara dengan Mayra.
Dan tak lama ...
"Ayahhh ... Bunda, kok gak pulang-pulang sih?" celoteh Mayra dengan manja.
"Hai cantik bunda, Mayra nakal gak di rumah?" tanyaku sambil menahan air mata yang hendak menetes.
"Nggak nakal. Mayra tadi pinter kasih mimik Dirga pakai botol bund," ucap Mayra kembali.
"Wahhh, pinternya anak Ayah, Ayah harus kasih hadiah untuk Mayra ni sudah jadi Kakak yang baik,"
"Yeaaa, Mayra mau boneka barbie ya Yahh..!!!"
"Oke siyap tuan putri," ujar mas Dimas menggoda Mayra.
"Dedek Diyara masih diobatin ya Yah?"
"Iya Sayang, Mayra doain adik cepet sembuh ya..!!" ujar Mas Dimas.
__ADS_1
"Tadi Mayra ikut Kakak Shifa sholat, Mayra sudah doain dede Diyara Yahh, Mayra juga doain Bunda, Ayah sama dede Durga biar sehat terus."
"Masya Alloh pintarnya anak Ayah. Ponselnya tolong kasih Uti Fatia ya Sayang, ayah mau bicara," ujar Mas Dimas kembali.
"Iya, sebentar ya Yah ...,"
•
•
"Dimas, bagaimana kondisi disana Nak? apa operasinya sudah selesai? Lyra tenang kan?"
"Operasi masih berjalan Bu, perkiraan jam 8 nanti operasi baru akan selesai. Lyra sudah lebih tenang saat ini."
"Alhamdulillah, semoga semua berjalan lancar Nak. Kalian berdua jangan memikirkan yang di rumah, kami semua baik-baik disini. Yang terpenting jaga kesehatan kalian yang disana.
"Iya Bu. Ya sudah begitu saja ya Bu."
"Iya, salam buat ibu dan ayahmu disana yaa, Assalamu'alaikum,"
"Iya Bu. Wa'alaikumsalam ...."
~~
"Kasihan Mayra dan Dirga jadi tidak kita perhatikan ya Mas," lirihku sendu.
"Jangan berfikir macam-macam. Ada ibu dan Shifa yang menjaga. Kita percayakan pada mereka." Akupun mengangguk.
"Kita kembali kedalam ya..!!!"
"Iya Mas, tapi aku mau mampir ke ruang Laktasi."
"Tempat apa itu?"
"Tempat mem-pump ASI, udah sangat padat dan sakit, harus dikeluarkan. Nanti biar di bawa Ibu kalau pulang ke rumah, kasih stock buat Dirga."
"Ya sudah."
•
•
•
Dan jam 8 akhirnya kini, 6 orang tampak keluar dari ruangan operasi saat ini, 4 orang tampak berpakaian hijau dan 2 orang berpakaian putih.
Mas Dimas segera menghampiri salah seorang berpakaian hijau yang melintas dihadapan kami,
"Permisi Dok, bagaimana kondisi putri kami?" tanya mas Dimas dengan wajah cemas disana.
"Anda ayah dari ananda Diyara?"
Mas Dimas seketika mengangguk.
"Operasi berjalan baik. Ananda Diyara akan segera kami pindahkan ke ruang ICU untuk memantau ketat kondisi pasca operasi."
"Sampai berapa lama efek obat bius berakhir Dok?"
"Karena ini bius total, 1-2 hari efek obat bius masih tetap ada. Setelah ada pergerakan nanti, ibundanya sudah bisa menyusui, tapi sementara menggunakan botol untuk menghindari pergerakan berlebih sampai bekas luka mengering."
Dokter segera beranjak setelah menyelesaikan jawabannya.
Dan beberapa saat kemudian, 3 orang perawat berpakaian serba putih tertutup tampak mendorong ranjang berisi putri kecil kami, kondisi yang sangat menyayat hati kami lihat saat itu ....
foto hanya sebuah gambaran bayi pasca operasi jantung🙏🙏
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤
🌻Mohon maaf jika terdapat kesalahan penyampaian thor, smua thor copas dari artikel mbah google🙏🙏