
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Pakai ini saja!!"
"Hahhh .... Mas serius?" ujarku.
"Serius," jawab mas Dimas singkat.
"Maaf, aku tidak bisa memakai pakaian seperti itu Mas," lirihku.
"Kenapa? malu dengan Mas? kita sudah halal Sayang ... " bisik mas Dimas di telingaku.
"Tetap saja aku malu Mas, oh ya, ada Mayra pula Mas, bagaimana jika Mayra melihat," ujarku mencari alasan.
"Alasan," ujar mas dimas menarik hidungku.
"Jangan-jangan kau takut pada Mas?"
"Oh, hmm ... ti - dak kok Ma- s," ujarku terbata.
"Ganti pakaianmu, Mas janji malam ini tidak akan macam-macam," ujar mas Dimas.
"Sungguh?" ucapku berbinar.
"Iya, Sayang ...."
Segera kuberjalan ke arah lemari namun setelah kufikir ... Akupun berbalik kembali.
"Kenapa berbalik?" tampak heran mas Dimas.
Kududukkan diriku di sisi ranjang, "Tetap aku malu Mass, bagaimana kalau nanti saja di rumah aku akan pakai pakaian tipis itu, bagaimana Mas??" kutampakkan wajah memelasku.
"Lalu malam ini kau akan tidur memakai tunik ini kah?" mas Dimas menyentuh ujung pakaian yang kugunakan.
Akupun mengangguk dan mas Dimas tampak menggeleng-geleng.
Beberapa saat kemudian ...
"Oya Mass, mengapa aku tak terfikir sebelumnya, aku akan ke kamar Sherly meminjam pakaiannya, tunggu ya Mass," ujarku.
"Heii tunggu, kau akan membangunkan yang lain nanti, pakai baju Mas saja!" tahan mas Dimas saat kuhendak beranjak keluar kamar.
Mas Dimas segera berdiri menuju kopernya. Ia mengambil kaos berwarna putih dan celana boxer navy miliknya.
"Pakailah itu!"
"Kenapa diam saja, ayo ganti!!"
"Mas berbalik dulu, aku malu," lirihku.
Ohh, ada-ada saja, istriku sangat pemalu ternyata, batin mas Dimas.
●Setelah beberapa saat ...
"Kau boleh berbalik Mass," ujarku setelah memakai pakaian mas Dimas akhinya.
"Nah, begini kan tidak gerah seperti tadi. Kemarilah Ly," panggil mas Dimas.
"Mas mau apa?"
"Mau mengobrol denganmu, tidak ada larangan kan suami mengobrol dengan istrinya?" gurau mas Dimas.
Akupun segera mendekat dan duduk diranjang di sisi mas Dimas saat ini.
"Apa tidak ada celana mas yang lebih panjang," ujarku sambil terus menutupi bagian atas kakiku yang terumbar kemana-mana.
__ADS_1
"Ada celana levis panjang, mau?"
"Ahh Mas, aku kan serius," ucapku.
"Tidak ada Sayang, celana pendek mas ukurannya semua sama, lagipula dulu kau juga pernah pakai celana pendek seperti ini, kenapa sekarang jadi sangat pemalu?" ujar mas Dimas menghadapkan duduknya ke arahku.
"Itukan dulu Mas, lagipula malam itu, aku spontan keluar karena mas datang. Dan setelah 5 tahun ini aku hijrah, aku sudah meninggalkan celana-celana dan pakaian pendekku," jelasku.
"Sekarang abaikan masalah celana, ceritakan tentang awal kau berhijrah?" tanya mas Dimas sambil terus menatapku.
"Mas ingat saat kita bertemu di acara akikah anak mbak Dewi, pulang dari sana aku mampir ke rumah Kak Fida. Ternyata keluarga Kak Fida sangat agamais, kakaknya bahkan tidak mau bersalaman dengan ... "
"Firgie ...," sela mas Dimas.
Aku mengangguk.
"Dan disanalah, awal hatiku tersentuh dan sangat malu diri ini, Kakak Kak Fida bahkan tidak mau berjabat dengan non muhrim karena takut dengan RobNya, lalu bagaimana dengan kedekatanku dengan Dia," ujarku.
"Dengan Firgie?"
Aku mengangguk.
"Memang kedekatan seperti apa saja yang kalian lakukan?" tanya mas Dimas kembali sambil terus menatapku.
"Mass ...," lirihku.
"Tidak apa-apa, cerita saja,"
"Mas tidak marah?" lirihku.
"Mas-kan sudah memilikimu saat ini," ucap mas Dimas meyakinkan bahwa ceritaku tidak akan berpengaruh padanya.
"Hmm ... kurang lebih yang kita pernah lakukan dulu," ujarku.
"Kalian berapa lama bersama?" tanya mas Dimas dengan nada datar kini.
"1 tahun lebih,"
Aku mengangguk
Mas Dimas tampak menarik nafas, "Hahh 1 tahun lebih tentu ia pernah memelukmu, apa sering?"
"Tidak juga," jawabku.
"Apa ia juga menciummu?"
"Iya, kening," jawabku.
"Kau juga mencium tangannya seperti dengan Mas?"
Aku mengangguk.
"Ia pasti sering menatapmu?"
Aku mengangguk.
"Dan apa kalian juga sering mengucapkan kata cinta?"
Aku kembali mengangguk.
"Apa kau juga memeluknya di motor?"
Aku lagi-lagi mengangguk.
"Hahh, banyak yang sudah kalian lewati. Oya, apa ia pernah membawamu kerumahnya?"
Dan aku kembali mengangguk.
"Apa kalian ...."
__ADS_1
"Mas sudah ... jangan tanya lagi!!" potongku atas tanyanya.
"Hahh ... pasti kalian sangat saling mencintai saat itu."
Aku memeluk mas Dimasku saat ini, "Kau sudah berjanji tidak akan marah kan Mas," lirihku.
Dan mas Dimas mengangguk perlahan.
"Dengarkan Mas, Lyra!" mas Dimas mengangkat daguku untuk menatapnya.
Dan aku memerhatikannnya.
"Kau adalah milik Mas saat ini, jangan peluk pria lain, mencium, menatap, berkata mesra. Cukup semua hanya pada Mas, jelas!!" tegas mas Dimas dalam kata-katanya.
Akupun mengangguk.
Mas Dimas kemudian mengeratkan pelukannya padaku dan berkali mengecup keningku.
"Sekarang, lanjutkan kembali ceritamu. Bagaimana hubunganmu dengan Firgie setelah ke rumah Fida?" ujar mas Dimas
"Tak lama setelah itu Kak Fida memutuskan berta'aruf dengan mas Fahmi rekan suami kakak kak Fida, juga ada temanku yang lain melakukan ta'aruf juga namanya mbakk Alika, mereka ingin pacaran belabel halal jadi tidak membuat Alloh cemburu, ujar kak Fida dan mbak Alika saat itu."
"Lalu?"
"Hatiku kembali bergejolak, mulai takut dengan hubunganku dengan dia yang akan tak disukaii Alloh, karena hubungan kami tidak berlabel halal."
"Kemudian??"
"Sejak itu aku mulai sering datang ke kajian. Namun semakin aku bertambah ilmu ternyata aku semakin sesak dengan hubunganku dengan dia. Aku takut kami berkasih sayang di dunia tapi kelak saling menyalahkan di akhirat. Akupun mulai memberi jarak padanya."
"Sebut saja namanya! Mas tidak masalah, malah jika kau sungkan menyebut namanya, Mas akan berfikir ia masih ada di hatimu."
Aku menatap mas Dimasku, dan mengangguk setelahnya.
"Lanjutkan ceritamu ...," ujar mas Dimas.
"Saat dilemaku semakin memuncak dan Fir-gie mulai menyadari perubahan sikapku. Aku memantapkan diri untuk mencari kejelasan hubunganku dan Fir-gie. Menikah atau berpisah," lirihku.
"Dan jawabannya?"
"Aku diminta menunggunya selama 1 tahun untuk mengumpulkan materi guna menghalalkanku, dengan syarat tanpa komunikasi dan pertemuan aku menyetujui permintaannya."
"Apa yang terjadi 1 tahun kemudian?" mas Dimas tampak penasaran.
"Ia tidak datang bahkan kabarnya-pun tak kuketahui, ia seakan raib. Segala mimpi dan janjinya yang menjadi semangatku kala itu, hancur dalam sekejab. Fir-gie benar-benar mengingkari janjinya. Hingga kami bertemu kembali tak sengaja di bakulan ketopraknya 4 tahun kemudian, saat bersama Mayra hari itu," lirihku.
"Saat kau menangis tersedu saat itu kah?" tanya mas Dimas.
Aku mengangguk.
Mas Dimas tampak meraih jemariku dan menciumnya ...
"Kau tampak berubah setelah hari itu, kau menutup peristiwa hari itu bahkan tak ingin memberitahu Mas, saat ini apa kau mau menceritakan pada Mas, apa yang Firgie katakan hingga kau tampak menangis sejadinya?" tampak keseriusan di wajah mas Dimas saat ini.
Kueratkan tangan mas Dimas kini, dan kusandarkan kepalaku dibahunya sebelum akhirnya kulanjutkan ceritaku.
"Fir-gie jahat, ia melukaiku dengan kata-katanya hari itu," lirihku.
"Apa yang Firgie katakan??"
Aku memeluk mas Dimasku, merasa membutuhkan penopang jika harus membuka kejadian hari itu. Mas Dimaspun memberiku kenyamanan dalam dekapannya.
"Hari itu Fir-gie mengatakan bahwa perasaannya padaku adalah kesalahan Mas, ia tidak benar-benar memperjuangkanku ternyata, segala mimpi dan janjinya adalah kebohongan. Ia mengatakan aku wanita yang egois, wanita sok suci dan munafik, ia menyangka cintaku padanya kepura-puraan. Ia menghujaniku dengan prasangkanya yang menyakitkan, ia benar-benar bukan Fir-gie yang kukenal, ketulusan yang melekat didirinya hilang, kata-kata yang keluar dari bibirnya sangat terang-terangan dan menyakitkan ....
... Ia sangat jahat Mas, ia sangat menyakitiku, aku tidak seperti itu, Fir-gie yang pembohong, aku membencinya, sangat membencinya Fir-gie ... mengapa aku mengenal orang seperti itu? Mengapa orang seperti itu masuk ke dalam hatiku? Bahkan ia yang dulu terus mengejarku, ia pernah mengatakan bahwa rasa cintanya padaku sudah menancap sangat dalam di hatinya, ia juga mengatakan aku hanya boleh menjadi takdirnya, namun kini ia dengan mudah mengatakan cintanya telah hilang Masss ...," lirihku dan aku tak mampu menahan deraian air mata yang terus memaksa keluar.
"Hentikan!! Mas sudah tak ingin mendengar lagi ... jangan lanjutkan!!! Maaf Mas membuka lukamu, Sayang ...." Mas Dimas mengeratkan dekapannya.
Aku tak menyangka kata-kata seperti itu mampu keluar dari seorang Firgie yang selalu terlihat menyayangi Lyra, ia yang selalu cemburu dengan kehadiranku. Jika semua yang dikatakannya benar, sungguh ia sangat keterlaluan. Tapi cinta tak mungkin hilang dalam sekejap. Mengapa ia seakan sengaja membuat Lyra membencinya? Ada apa semua ini? batin Dimas.
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy Reading❤❤