Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menjaga Mayra


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Tolong Mass, aku ingin bertemu putriku ... Izinkan aku melihatnya sekejap saja," terdengar mbak Friss terus memohon dari balik pintu ruangan Mayra berada.


"Kenapa kau masih disini!!! Pergi kau, jangan pernah muncul dihadapanku, wanita yang tak bisa menjaga dirinya sepertimu, tak pantas mendapatkan tempat dimanapun," geram mas Dimas mendapati mbak Friss masih saja memaksa masuk ke ruang perawatan Mayra.


Aku memahami perasaan mas Dimas, ia sangat kecewa terhadap kelakuan mbak Friss yang ternyata pernah bermain dengan Rendi di belakangnya. Bahkan disaat usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Tapi disatu pihak, akupun tak tega melihat seorang ibu menohon untuk bertemu putrinya sendiri.


Dan aku menghampiri suamiku saat ini,


"Lyra ... tolong aku!! Aku ingin melihat putriku Ly. Tolong izinkan aku, kita sama-sama seorang ibu bukan?"


"Mass ...," lirihku.


"Masuklah Sayang, kau tidak usah ikut campur," ujar mas dimas menyanggah ucapanku.


"Tapi Mass ...."


"KU BILANG MASUK!!!" teriak mas Dimas padaku. Membuatku seketika kaget, tidak pernah sekalipun mas Dimas meninggikan suaranya padaku. Ini kali pertama untukku. Kulirik ia sekilas, kemudian ku berhambur masuk kedalam dan terisakku di sofa saat ini.


Mas dimas yang menyadari, segera mengusir Friss dan menutup pintu, kemudian ia segera menghambur kearahku, "Maaf Sayang, mas spontan tadi, tidak ada maksud sedikitpun mas marah padamu."


Aku yang masih kaget, kualihkan wajahku dari tatapan mas Dimas. Dan ia seketika memelukku.


"Lepas mas!!!"


"Tolong maafkan mas!!"


"Mas jahat padaku," lirihku.


"Sayang .... Maaf, menatap Friss jadi teringat semua kebohongan yang ia lakukan. Mas jadi spontan berteriak padamu tadi. Jangan marah!! Mana bisa mas benar-benar berteriak padamu. Jangan menolak Mas, PLEASE!!!"


"Kemari Sayang ...," Mas Dimas mengeratkan kembali pelukannya sambil terus menyapu bahuku, "Mas sayang Lyra, sangat Sayang. Tak tahu bagaimana kehidupan Mas tanpamu. Jangan marah," Mas Dimas meraih daguku dan mengecup bibirku sekilas.


Dan aku masih menatapnya.


"Jangan menatap mas seperti itu,"


"Sungguh Mas tidak benar-benar berteriak padaku tadi?"


"Mana bisa Mas melakukan hal seperti itu padamu sayang ...."


"Bohong,"


"Sungguh," Mas Dimas mendekati wajahku dan menyapu pipiku dengan kecupannya.


"Geli," ujarku saat bulu-bulu di wajahnya mengenai wajahku.


"Tersenyumlah ...,"


Setelah beberapa lama akupun tersenyum, memang tidak bisa berlama-lama marah pada lelaki nakal ini.


"Cantiknya Mas," lirihnya kemudian.


Kudorong tubuh Mas Dimas perlahan.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Baby twins sesak." ujarku.


"Ohh, maaf sayang-sayangnya Ayah. Ayah baru saja menghimpit kalian, apa kalian juga akan marah pada ayah?"


"Mas ...,"


"Ayah hanya bercanda," mas Dimas tampak bersimpuh dan mengusap dan mencium kedua bayinya dalam perutku.


"Hmmm ... "


"Oh, Ayah, Ibu ... sejak kapan kalian datang?" mas Dimas segera dari posisi bersimpuhnya.


"Sejak drama dimulai,"


"Jadi sejak tadi kalian melihat kami?" tampak dibalik pintu 2 orang paruh baya saling berangkulan dan tersenyum menatap kami.


"Iya Sayang, ibu melihat semuanya. Ibu senang kalian bisa cepat berbaikan," ujar Ibu.


"Ibu sudah menahan ingin menjewer anakmu Yah kalau tidak bisa meredakan emosi Lyra, bisa-bisanya anakmu berteriak pada wanita hamil."


"Ibu ...," lirih mas Dimas.


"Haaa, ibu ... ibu. Melihat Lyra marah, Ayah jadi teringat ibumu saat marah. Diam seribu bahasa, dan Ayah harus pintar berkata-kata untuk meredam kemarahan ibumu."


"Sudah, sudah .... ayo kita makan, cucu-cucu Uti pasti sudah lapar. Lyra tadi pesan ketoprak kan? Dimas ini seperti Ayah Nasi goreng seafood dan ibu Nasi goreng ati ampela. Mari makan ...."


"Ketoprakmu rasa apa Sayang?" bisik mas Dimas mulai meledekku.


"Rasa Firgie puas.!!!"


"Nakal," mas Dimas menarik hidungku yang sedang makan saat ini.


"Masss, sakit ...."


"Dimas, Lyra ... jangan biasakan mengobrol saat makan!!!!" ujar ibu.


"I-ya Buu," jawab kami secara bersamaan.


"Mayra sejak tadi belum bangun kah?" ayah memulai obrolan setelah acara makan kami selesai.


"Tadi bangun sebentar, menanyakan adik-adiknya kemudian tidur kembali. Dimas tanyakan perawat katanya Mayra masih dalam pengaruh obat bius, jadi belum sadar sepenuhnya dan itu normal."


"Oya, kau, ibu dan Lyra pulanglah ke rumah. Malam ini biar Ayah yang menunggu Mayra."


"Dimas akan menemani Ayah malam ini," ujar mas Dimas menanggapi pernyataan Ayah.


"Kau pulanglah Nak, sudah sejak pagi kau dan Lyra belum pulang. Kau beristirahatlah..!!!"


"Ayahh, Mayra putri Dimas. Tanggung jawab Dimas untuk menjaga Mayra." kukuh Mas Dimas.


"Dim, setelah kenyataan tadi siang, Ayah senang kasih sayangmu tak berubah pada Mayra," Ayah menepuk bahu putranya.


"Entah Yahh, sesaat Dimas bingung harus bersikap bagaimana pada Mayra, mengingat prilaku ibunya, terlebih Rendi yang ternyata ayahnya. Sosok saudara yang belakangan ini banyak mempersulit Dimas, ia juga menyukai Lyra. Dan kini ternyata ia juga bermain bersama Friss. Muak Dimas membayangkan semuanya. Tapi menatap Mayra. Ia sangat polos, ia tak tau apa-apa, ia tak bersalah. Dimas putuskan, Mayra akan selalu menjadi anak Dimas dan bunda Lyra. Mayra tidak boleh tau asal usulnya."


"Ayah bangga padamu, walau tidak semua yang kau ucap benar karena Mayra tetap harus tau siapa ibu kandungnya."


"Entahlah Yahh, saat ini Dimas belum bisa berfikir itu."


"Hari semakin larut, kau antarlah ibu dan Lyra pulang, beristirahatlah dulu kau di rumah baru kau bisa kembali setelahnya."


"Iya Yah ...."

__ADS_1


Aku dan Ibu di sisi Mayra saat ini. Ibu tampak memegang Al-Qur'an kecil di tangannya. Sesekali kutatap 2 orang pria yang terus saja berbincang dengan seriusnya di sofa beberapa meter dari tempatku duduk menatap putriku.


°°Mayraku, Bunda tak peduli siapa dan bagaimana asal usulmu, yang Bunda tau kau adalah permata Bunda, dan Bunda akan selalu menjaga dan menyanyangimu sampai akhir hidup Bunda ...


●●●●


"Ayo bersiap!! Dimas akan antar Ibu dan Lyra pulang."


"Ibu disini saja bersama Ayah,"


"Aku juga disini bersama Mayra Mass,"


"Kalian para wanita pulanglah, nanti Dimas akan kembali. Besok pagi baru kalian kemari lagi,"


"Tapi Yahh ...." lirih ibu.


"Ibu, jangan membantah!! dengarkan ayah okee!!!" ujar Ayah tegas.


"Lyra kau pulanglah, kau ibu hamil yang juga harus memikirkan kedua janinmu, udara dan suasana rumah sakit tak baik untukmu Nak. Sana berangkat Dimas.!!! sebelum udara malam Bandung akan sangat menusuk kulit kalian," ayah tampak sangat bijak dan berwibawa saat ini.


Dan kamipun meninggalkan rumah sakit saat ini, setelah sebelumnya kupeluk dan terus kucium malaikat kecilku tersebut.


●●●●


Dan ibu sudah di kamar tamu di lantai bawah saat ini.


Aku dan Mas Dimas merebahkan diri saat ini setelah sebelumnya kami menjalankan Isya berjamaah.


"Hari ini pasti berat untukmu Mas?" kurebahkan kepalaku dibahu mas Dimasku.


"Sangat berat untuk kita ...." mas Dimas menggenggam jemariku kini.


Akupun mengangguk.


"Aku heran, kehidupan apa yang kujalani dulu bersama Friss. Kami 1 atap tapi ia mengandung anak orang lain."


"Jangan dilanjut jika hanya menyakitimu Mas."


Tampak Mas Dimas tersenyum dan melanjutkan lagi ucapannya, "Jika tidak ada kejadian hari ini mungkin selamanya mas tidak pernah tau asal usul Mayra."


"Iya, semua hal selalu ada hikmah," tuturku.


"Tentang Mayra, apa asal usulnya mempengaruhi kasih sayangmu Mas?"


"Yang kau lihat?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin tau sesungguhnya perasaanmu terhadap kenyataan Mayra, tapi jika Mas tidak ingin membaginya tidak apa-apa."


"Apa Mas bisa tidak jujur padamu," terlihat mas Dimas tersenyum saat ini, baru setelahnya ia melanjutkan ucapannya kembali ... "Tadi ayah juga menanyakan hal yang sama pada Mas. Lyra, jujur semuanya sangat tidak mudah untuk Mas terlebih Rendi yang menjadi Ayah Mayra, tapi ya sudahlah. Mayra akan tetap jadi anak Mas, malaikat Mas, Mas menggendongnya dari Mayra dilahirkan, Mas merawatnya, melihat perkembangannya ... apa bisa semuanya hilang dalam 1 hari. Tentu tidak, Mayra adalah milik Mas, Lyra." Kulihat mantap semua kata-kata terucap dari bibir mas Dimas.


"Aku bangga padamu Mas," kukecup pipi mas Dimas.


Dan ia semakin menarikku mendekat, mengecup bibirku dalam. Detak jantung semakin tak menentu menjadi saksi gejolak kami hingga kemudian mas melepas setelah nafasku semakin terlihat memburu.


"Sayang maaf, sampai terlupa Mas harus kembali ke Rumah Sakit menemani Ayah menjaga putri kita."


Akupun mengangguk memahaminya. Mas Dimas memelukku kembali sebelum akhirnya terlihat melewati pintu pembatas kami.

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2