Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kendala Macet


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


🌻Ibu ...


Seminggu sudah, tapi luka jahitan di dada Dimas belum juga mengering, dan aku lagi-lagi harus melihat putra kesayanganku kesakitan. Ia memang tak menyatakannya secara langsung, tapi ia terus mengatur nafas dan memejamkan matanya. Walau tak mengatakannya ibu tau kau kesakitan Nak. Sebab ibu pernah merasakannya dulu, setelah pengaruh obat bius hilang, luar biasa perih terasa, sakit dan senat senut yang menusuk, terlebih kita tidak bisa banyak bergerak, sekalinya dipaksakan bergerak, luka jahitan akan berpengaruh.


Anakku yang malang, bahkan putrimu Diyara telah merasakannya lebih dulu. Dan aku hanya bisa menyapu kepala putra kesayanganku saat ini. Berberi sedikit support untuknya.


Dan kini lagi-lagi ponselku berbunyi, tampak nama menantuku muncul disana, Lyra ... istri putraku yang juga sedang berjuang menjalankan peran ibu sekaligus ayah untuk ketiga cucuku. Dan lagi-lagi pula Dimas melarangku mengangkatnya. Ia tak ingin istrinya mengetahui kondisinya, ujar putraku.


Pemikiran yang aneh, harusnya ia menunggu telfon dari istrinya yang akan menjadi semangat untuknya, tapi putraku bahkan tak pernah menyalakan ponselnya. Putraku yang begitu sangat mencintai istrinya, ia tak ingin istrinya mendengar sakit yang ia rasakan. Putraku tak bisa mendengar suara istrinya yang menghawatirkannya, ia tak ingin pula mendengar suara putra-putrinya. Ia akan sedih tak bisa mendampingi orang-orang tercintanya. Dan rasa sedihnya itu akan memperburuknya, oleh karenanya aku menurut.


Aku sekalipun tak pernah menghubungi menantuku. Tapi aku tetap memantau kondisi mereka dengan nomer ponselku yang lain. Nomer yang kugunakan untuk menelefon putriku Shifa yang memang tinggal bersama mbaknya. Dari Shifaa aku mengetahui kondisi keluarga putraku.


1 bulan akhirnya berlalu, luka sayatan putraku telah mengering dan tidak sakit menurutnya. Saat di cek kondisi jantung putraku juga stabil. Kamipun telah keluar rumah sakit saat ini, kami tinggal di hotel sebab putraku Dimas masih harus menjalani serangkaian fisioterapi. Terapi dari mulai latihan berdiri, duduk ke berdiri, bahkan sampai bisa naik sepeda. Aku pikir ini salah satu treatment unik, tapi memang para ahli di bidangnya sangat menyarankan berbagai terapi ini. Semua juga dalam pemantauan dokter jantung putraku. Bahkan dokter jantungnya mengatakan, dengan terapi akan membantu pemulihan pasien lebih cepat. Dan menyiapkan dirinya pada aktifitas rutinnya kelak.


Putraku menghabiskan waktunya di rumah sakit dengan serangkaian terapi disana, dan berjalan 2 minggu kini aku masih mendampinginya, sedang ayahnya sudah sejak Dimas keluar dari Rumah Sakit, ia telah kembali ke Bekasi menjalankan aktifitasnya.


Dan putraku lagi-lagi belum mau menghubungi istrinya, yang aku sadar ini sangat tidak adil untuk Lyra. Ia pasti kesepian, dan bertanya-tanya. Tapi aku tak bisa pula berpaling dari mimpi putraku. Ia ingin fokus terapi dan akan kembali saat ulang tahun Lyra, ia ingin menghilangkan kesedihan istrinya dihari ulang tahunnya. Pemikiran muda-mudi yang aneh, Dimas ... Dimass ...


Dan kami baru saja mendarat saat ponselku tiba-tiba terus berdering. Shifaa putriku berkali-kali menelefonku, ada apa ini? batinku.


Kuangkatlah akhirnya saat kami masih menunggu Aldo yang sedang dalam perjalanan menjemput kami di bandara.


"Ada apa Sayang?" tanyaku saat panggilannya kuangkat.


"Bu, sudah dimana? Mbak Lyra sejak siang tidak jua keluar kamar, fikiranku nggak enak Bu. Bagaimana jika Mbak Lyra putus asa dan melakukan ....


"Diam anak nakal..!!! Jaga bicaramu, mbakmu bukan orang seperti itu."


"Siapa itu Bu?" tanya Dimas yang sedang berdiri di sisiku.


"Shifaa, menurutnya istrimu sejak siang tidak keluar kamar," ujarku.


"Apa?? Berikan ponsel pada Dimas Buu," dan ponselpun berpindah tangan kini.


"Heii anak nakal, cepat pastikan keadaan istriku..!!! Pastikan ia dalam keadaan baik saat aku tiba," ujar Dimas kini.


"Heii, suami yang buruk. Aku tidak bisa menjamin, sepertinya istrimu sudah sangat letih menunggumu Mas."

__ADS_1


"Jangan banyak bicara..!!! Temani Mbakmu..!! Awas jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan anak-anakku."


Telfonpun ditutup hingga setelah magrib, Shifaa kembali menelefon.




"Sudah dimana Bu? Maaf aku sudah cerita segalanya pada Ibu Fatia dan Bapak Dewo, gak ada cara lain Bu, cuma mereka yang bisa menahan Mbak Lyra. Bu Loadspeaker biar Mas dengar ..!!!"


"Iya, aku sudah dengar semua. Ya sudah tidak apa-apa."


"Mas, kau harus cepat sampai, menurut Bapak dan Ibu, lebih baik jika ingin memberi kejutan sebelum Mbak Lyra keluar kamar. Kalau mbak Lyra sampai keluar dan meminta pulang saat ini, Bapak Ibunya tak bisa menolak. Karena yang Masmu lakukan memang salah. Kau dengar itu Mas, mertuamu juga sudah mulai kesal padamu.!! Cepat datang, atau siap-siap kau jadi duda kembali..!!!"


"Anak nakal jaga bicaramu pada Masmu."


"Iya, maaf Buu. Oya Mas kira-kira kau sampai jam berapa?"


"Belum tau ini, kami baru keluar dari masjid. Sepertinya jalanan masih sangat padat merayap Shif. Pokoknya kau harus buat Mbakkmu tidak keluar dari rumah..!!!"


"Hahhh, bagaimana ini Maass.?? Okelah untukmu aku akan kerahkan seluruh kemampuan otakku, tapi suatu saat kau harus membayarnya Mas.!!! Karena ini benar-benar tugas yang sulit. Kalau aku jadi Mbak Lyra dan punya suami yang menghilang sepertimu aku juga sudah pergi dari rumah," ujar Shifaa.


"Anak nakal. Iya kau boleh minta apapun pada Mas, lagipula bisa-bisanya kau menyamakan dirimu dengan istriku yang lembut. Dan siapa yang kau bayangkan jadi suamimu hah??"


"Firgie?? Kau yakin dia mencintaimukah?? Bagaimana jika Aldo saja. Ia akan jadi suami siaga untukmu. Benar begitu Kan Al??" dan Dimas bertanya pada Aldo yang sedang menyetir saat ini. Dan tampaklah Aldo terlihat salah tingkah akhirnya. Tampak Ayah terus menggeleng-geleng terhadap candaan putra-putrinya.


"Sudah ... sudah, suasana genting kalian malah bercanda," ujarku.


"Mas, sepertinya macet akan sangat lama ini," ujar Aldo.


"Hahh, bagaimana ini?? Shif, kau masih mendengar Mas bukan?"


"Masih. Ada apa lagi Mas?"


"Apa Mang Diman ada di rumah??"


"Ada."


"Bagus, suruh ia menjemput Mas di Jln. Boulevard pakai matic segera mas tunggu..!!! Mas terjebak macet ini."


Telfonpun terputus, hingga beberapa saat kemudian Shifaa tampak kembali menelefon.


"Bu, berikan ponsel ibu pada Mas..!!!"

__ADS_1


"Ada apa lagi?"


"Mang Diman nggak bisa naik matic, gimana dong Mas??"


"Kau saja jemput Mas yaa..!!! Ayolah Sayang ...."


"Aku takut jarak jauh Mas. Bagaimana jika mas Firgie yang menjemputmu?"


"Apa dia disana??"


"Iya, tuh dia lagi membantu putrimu mengerjakan PR."


"Apa kekasihmu sudah tidak punya rumah sekarang, kenapa sering sekali ia di rumahku?"


"Jangan begitulah Mass, bagaimanapun ia sangat menyayangi putra-putrimu, selain menyanyangi adikmu yang imut ini."


"Hahh, yasudah. Cepat kekasihmu suruh menjemputku..!!!


"Siapp Mas, Mas kalian berdua yang akur ya nanti. Dan ingatt..!!! Kau berhutang pada kami berdua..!!!"


"Iya anak nakal."


Dan panggilanpun berakhir setelahnya, kami menepi di Jln. Boulevard dan menunggu lelaki yang hendak menjemput Dimas.


"Siapa yang akhirnya menjemputmu Nak?"


"Firgie."


"Kekasih Shifa yang mantan kekasih istrimu-kah?"


"Iya Bu."


"Kau tidak cemburu padanya lagi?"


"Tidak. Karna setelahku fikir, aku sudah lama memenangkan Lyra. Lyra milikku untuk apa aku takut ...."


"Tumben kau sekarang pintar, ini baru Dimas anak Ibu. Setelah sekian lama akhirnya otakmu bisa bekerja dengan benar kembali."


"Hahh Ibuu ...."


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


🌻Setelah ini kita lanjut pertemuan Lyra dan Dimas yaa😊😊


__ADS_2