
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻 MASIH DI SPBU KALIMALANG
Setelah menjalankan ibadah Ashar, kami menuju restoran cepat saji kini, perjalanan jauh membuat perut kami lekas bergemuruh kembali. Restoran ayam goreng yang berasal dari negri Paman Sam adalah satu-satunya tempat makan yang tertangkap mata kami. Kamipun memutusan mengisi perut kami disana.
Aku, Kak Fida, Mayra dan Irsya berada dalam 1 meja. Sedang Mas Dimas dan Mas Fahmi berada di meja lainnya tak jauh dari meja kami berada.
Kulihat Mayra makan sendiri dengan lahapnya, ia tak mau di suapi katanya. Akupun akhirnya makan bagianku sendiri.. Kak Fida makan bagian miliknya sambil sesekali menyuapi Irsya putranya.
"Tadi Dimas tidak macam-macam denganmu kan Ly?" tanya Kak Fida berusaha mencari tau apa yang terjadi di mobil antaraku dan mas Dimas.
"Tidak kak, aku tertidur tadi lagipula mas Dimas tidak akan berani bermacam-macam padaku, terlebih ada Mayra pula diantara kami," tuturku pada Kak Fida.
"Baguslah," tenang Kak Fida mendengar jawabku.
"Bagaimana keadaanmu Kak? Apa kau letih?" hawatirku padanya.
"Aku sehat Lyra, dan aku senang bisa silaturahmi ke rumahmu, jujur awalnya aku takut ibumu bersikeras tak setuju tadi, alhamdulillah ia luluh juga," tandasnya.
Akupun mengangguk.
Hingga beberapa saat berlalu, makanan dipiring kami masing-masing telah habis, mas Dimas dan mas Fahmi mendekati meja kami, masing-masing mengambil 1 kursi dan ikut duduk bersama dalam 1 meja bersama kami.
Aku masih membersihkan sisa-sisa nasi yang menempel di pipi Mayra menggunakan tisu basah kini.
"Apa anak ayah sudah kenyang?" tanya mas Dimas disisi Mayra sambil ikut mengambil tisu basah dan membasuh tangan sang putri yang tampak berminyak.
"Mayla sudah kenyang ayah, Mayla makan banyak, bunda yang makan sedikit."
"Benarkah? Bunda kenapa makan sedikit?" tatapan mas Dimas mengarah kepadaku mencari jawab atas tanyanya.
"Aku masih kenyang Mas," ujarku.
"Kau tau Dim, jika ada orang melihat kalian bertiga, pasti tidak ada yang menyangka kalian belum menikah," mas Fahmi tampak menggoda kami.
"Bisa saja kau Fah," balas mas Dimas.
__ADS_1
Mas Dimas seketika menatapku, tapi aku bersikap seolah tak mendengarnya. Melihat tak ada ekspresi dariku mas Dimas seketika memalingkan wajahnya lagi.
"Fah, minggu ini kau tak ada acara bukan? bagaimana jika besok malam kalian silaturahmi kerumahku, aku ingin mengenalkan Lyra pada keluargaku," ujar Mas Dimas penuh kesungguhan.
"Minggu besok maksudmu?? Kau sungguh tak ingin membuang waktu kawan," mas Fahmi tampak tersenyum menggoda mas Dimas kembali..
"Ayolahh ... berhenti menggodaku Fah, kau bersedia bukan?" tanya mas Dimas kembali.
"Bagaimana Sayangg, apa besok kita harus mengikuti keinginan Dimas?" mas Fahmi berujar kepada kak Fida istrinya.
Setelah beberapa saat terdiam Kak Fida menatapku,
"Bagaimana sahabatku, apa kau siap bertemu calon mertuamu?" Kak Fida berbalik melempar tanyanya kepadaku.
"Istriku yang pintar ... Nahh kita tunggu jawaban calon istrimu Dim," mas Fahmi tampak tersenyum kearah mas Dimas.
"Bagaimana Ly? Kau mau kan?" lirih mas Dimas menatapku penuh harap.
"Ohh ... Aku? Maaf Mass tapi A - ku ....
"Kau belum siap Ly?" terka mas Dimas tak sabar menunggu jawabku.
"Hahh serius, jadi kau mau?" mas Dimas menegaskan kembali jawabku.
Akupun mengangguk sambil kuberi senyum terbaikku pada calon suamiku kini.
Seketika mas Fahmi dan Kak Fida tertawa melihat kepanikan di wajah Mas Dimas sesaat sebelumnya.
"Nakal kau ... Lyra," ujar mas Dimas tampak senyum terus mengembang di bibirnya.
"Kau pria yang beruntung Dim, memperoleh wanita yang menurut pada keinginan calon suaminya," ucap Fahmi kembali menggoda mas Dimas.
●●●●●
🌻18:30 MINGGU MALAM KEDIAMAN DIMAS
"sebetulnya siapa yang akan datang Dim?" ibu kaget melihat banyak makanan yang dibeli Dimas putranya.
"Temanku Bu," ujar Dimas masih merahasiakan kehadiran Lyra pada sang Ibu.
"Mbok Rumi, tolong masakan yang kubawa ini rapihkan diatas meja yaa!!, dan bolu yang saya bawa tolong letakkan nanti dipiring!! untuk minuman, teh manis hangat cocok untuk udara malam seperti saat ini."
__ADS_1
Dimas tampak mengatur setiap hal di rumahnya saat ini, ibu dan ayah yang melihat tampak menggeleng-geleng.
"Apa putramu hendak membawa wanitanya malam ini Bu?" bisik ayah pada istrinya.
"Entah, Dimas sama sekali tidak bicara padaku," lirih sang ibu.
"Kita lihat saja siapa yang datang nanti Yah, bagaimanapun ibu yakin, setelah kegagalannya Dimas pasti tidak akan sembarangan memilih wanita," lirih ibu kembali.
Ayahpun mengangguk membenarkan ucapan istrinya.
Tampak Dimas menghampiri kedua orang tanya kini,
"Ayah, Ibu, tolong jam 7 nanti persiapkan diri kalian menyambut orang spesial untuk Dimas!" Dimas tampak kembali ke dapur mengecek pekerjaan Mbok Rumi.
"Dim ... Dimas ... Nak,?" panggil sang ibu.
"Percuma Bu, putramu telah berlalu tak mendengar penggilannmu," gumam ayah.
🌻Sebuah motor besar berhenti di pelataran rumah Dimas saat ini ...
Seorang pemuda rupawan dengan tas ransel besar tampak memasuki ruang tamu, hidungnya yang bangir, matanya yang tajam, serta dagu lancipnya seakan mampu menghinotis siapa saja wanita yang ditemuinya. Tak heran ia memiliki banyak teman wanita di setiap tempat yang didatanginya, walau memang tak satupun yang mampu benar-benar memikatnya diusianya yang sudah memasuki kepala 3, yahh.. ia memang seusia Dimas, tepat usianya selisih 3 bulan lebih tua dari Dimas.
Semuanya bukan tanpa alasan, hatinya sulit tersentuh wanita, itulah alasannya. Dan ia masih mencari sosok wanita yang sesuai dengan inginnya.
Siapa ia sebetulnya? Ia adalah sepupu Dimas, anak dari Om Roy, kakak Tante Arini ibunda Dimas. Om Roy menikah dengan wanita berkebangsaan Amerika, namun pernikahannya hanya berlangsung 3 tahun, sang ibu meninggalkan mereka dan kembali kenegaranya, mereka bercerai tepatnya.
Tinggalah sang sepupu kini tinggal hanya berdua dengan sang ayah tanpa pernah merasa kasih sayang seorang Ibu. Hal yang menjadikannya membenci wanita. Hanya 2 wanita yang disayangi dalam hidupnya Tante Arini dan Shifa adik Dimas. Yang sudah dianggap keluarganya sendiri. Karna sang ayah hanya sibuk bekerja dan mabuk-mabukan sepeninggal ibunya.
"Haii Om ... Tantee ...." sapa sang pria dengan rambut panjang dan gaya casualnya.
"Rendiiii ...."
🌻Rendi
🌷🌷🌷
🌻Segini dulu yaa😊😊
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1