Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Pengajian di rumah Mas Dimas


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Letih tubuhku kini, kusandarkan tubuhku di tepi kasur lantaiku. Seakan remuk tubuhku setelah sepanjang hari berjibaku dengan produk di line-ku. Ya seminggu ini memang kami di wajibkan lembur setelah beberapa waktu lalu ditemukan adanya complain customer unposition label ( keluhan konsumen adanya pemasangan label yang tidak sesuai/miring ). Alhasil produk line yang bermasalah di tanggal tersebut dan seterusnya diminta untuk di rework oleh Manager kami untuk memastikan kinerja line tersebut.


Terpaksa kamipun harus me-rework ( mengulang pekerjaan ) dengan mengeluarkan kembali produk dari karton box, dan mengecek kembali label pada produk apakah pemasangannya sudah benar sesuai standar atau belum, standar yang digunakan menggunakan jig/alat bantu yang terbuat dari acrilic yang di bentuk, agar pemasangan label setiap produk letak nya sama.


Proses seperti ini sangat riskan dari kerusakan, dan kami para leader harus memastikan para member bekerja dengan benar dan teliti, untuk mengurangi resiko kerusakan yang terjadi.


Produk yang sudah dicek ulang, nantinya harus di masukkan ke karton box sebelumnya. Dengan memastikan setelah proses pembongkaran, karton box tersebut tidak ada yang penyok, robek atau kerusakan lainnya. Saat memasukkan kembali-pun harus hati-hati jangan ada masalah baru yang timbul, sterefoam harus dipastikan tidak rusak, buku panduan tidak ada yang terlupa, juga proses packing harus benar.


Oh, lelahnya ... setidaknya kurang dari sebulan lagi aku melakukan aktifitas ini, setelah pernikahanku nanti aku akan fokus di rumah, melaksanakan kewajibanku sebagai istri, dan hal yang membuatku senang, ternyata rumahku nanti dengan rumah Kak Fida tidak terlalu jauh. Kami bisa saling berkunjung, sehingga aku dan Mayra tidak akan kesepian.


Dan mas Dimas sudah merencanakan segalanya dengan sangat matang, ia memilih lokasi rumah yang dekat dengan taman lengkap dengan wahana bermain anak yang pasti membuat Mayra senang. Selain itu letaknya yang tak jauh dari Mushola aku sangat nyaman, mas Dimas-pun bisa sholat berjamaah di mushola tersebut saat sedang di rumah dengan berjalan kaki.


Mas Dimas, mengingatnya membuatku tersadar sejak siang belum mengecek ponselku. Dan aku sama sekali belum mengabari mas Dimas, ia akan sangat hawatir jika belum mendapat kabar dariku.


Dan benar, beberapa pesannya seketika masuk saat ku-nyalakan ponselku. Isi pesan yang seperti biasanya, menanyakan aku sedang apa, aku sudah pulang atau belum dan mengapa belum mengabarinya tertulis disana.


Akupun segera membalas pesannya, pesan dari calon suami yang berani memperjuangkanku ...


"Wa'alaikumussalam Mas, alhamdulillah aku sudah sampai rumah, tadi aku lembur, maaf baru mengabarimu," balasku.


Tak lama ponselku berdering ...


Mas Dimas meneleponku. Seketika langsung kutekan timbol hijau yang menyambungkanku dengannya nya saat ini.


"Assalamu'alaikumm ...," ucap salam Mas Dimas terdengar di telingaku.


"Wa'alaikum salam ...," jawabku.


"Baru sampai?" tanyanya.


"Iya Mass," jawabku.


"Memang lembur lagi?"


"Iya Mass, masih melanjutkan rework yang kemarin," ujarku.


"Kau pasti letih."

__ADS_1


"Iya,"


"Baiklah, kau mandi dan beristirahatlah."


"Mas masih di Bandung?"


"Iya , besok pagi Mas baru ke Bekasi."


"Kau tidak lupa acara minggu malam ini kan Ly?" tanya mas Dimas serius.


"Tentu aku ingat, ada pengajian di rumah orang tua mas bukan?" tuturku.


"Iya, tepat sekali. Fahmi mas hubungi tapi tidak bisa datang sedang ada acara. Lyra nanti mas jemput jam 5 sore yaa."


"Mayra ikut kan, Mas?" tanyaku memastikan.


"Iyaa, mas ingat Lyra. Mas pasti akan mengajak Mayra."


"Terima kasih mas."


"Iya, yasudah. Selamat stirahat Lyra, Assalamu'alaikumm."


"Wa'alaikumussalamm. Mas juga selamat istirahat," ujarku menutup pembicaraan kami.


●●●●


Kediaman mas Dimas sudah dihias sedemikian rupa, karpet telah digelar, bunga-bunga telah tertata cantik disetiap sudut ruangan sehingga tampak memperindah bangunan megah bercat putih tersebut.


Acara pengajian malam ini di gelar tidak lain untuk mendo'akan agar acara Akad sang putra yang akan di gelar 3 pekan mendatang dapat berjalan lancar tanpa kendala. tak lupa do'a Sakinah, Mawaddah dan Warrohmah yang di damba setiap insan dalam berumah tangga juga akan di panjatkan dalam pengajian ini, terlebih pernikahan yang di gelar bukanlah yang pertama, ini kali kedua sang putra akan menjalani kehidupan barunya kembali.


Pengajian memang diadakan maju dari tanggal yang di rencanakan sebelumnya. Harusnya pengajian baru akan dilangsungkan 2 minggu lagi tepatnya 3 hari sebelum hari H, namun dikarenakan Om Arya dan Tante Arini akan menghadiri pertemuan bisnis di Singapura selama 1 minggu. Akhirnya mas Dimas sekeluarga memilih hari ini untuk menyelenggarakan pengajian di kediaman mereka.


Pukul 19:00 saat ini, sesuai planning acara akan dimulai Ba'da Isya Pukul 19:30 nanti. Tampak beberapa kerabat Tante Arini dan Om Arya mulai berdatangan.


Tante Arini tampak bersemangat membawaku kesana dan kemari memperkenalkanku pada kerabat mereka yang sudah tiba saat ini. Tampak pula Mayra yang terus menggenggam tanganku dan mengikuti kami.


"Rin, rin, anakmu tuh pinter banget cari pasangan, dulu tau-tau Dimas nikah, mantumu yang pertama dulu itu juga cantik. Lho kok sekarang dapet mantu yang lebih cantik lagi, punya cucu yang gemesin pula lagi ini, tak doain semoga pernikahan Dimas yang sekarang langgeng yo Rin," ujar Bude Aryani kerabat ibu. Dan disusul bude-bude dan bulek-bulek lain ikut berkomentar.


Tante Arini-pun mengamini setiap do'a baik yang dilontarkan.


"Lho Dimasnya mana to, kok gak kelihatan? apa Dimas sibuk to Rin?" tanya bude Harni.


"Ada kok Mbak, masih siap-siap mungkin," jawab Tante Arini.

__ADS_1


"Lyra, tante minta tolong lihat Dimas dikamarnya ya, mesti dia lagi ngecek kerjaannya itu. Dimas kalau sudah megang kerjaan lupa segalanya anak itu, maaf ya Nak tante jadi nyuruh kamu," ujar Tante Arini.


"Iya Tantee," jawabku. Aku dan Mayra segera menuju kamar mas Dimas di lantai 2 kini.


Tok ... Tok ... aku mengetuk pintu kini.


"Langsung masuk saja Bunda, ini kamal Ayah kok," celoteh Mayra dan langsung membuka pintu kamar mas Dimas kini.


"Bunda, Mayla mau minum dulu yaa!," tiba-tiba Mayra keluar dan menutup rapat pintu kamar kini.


Duhh, Mayra kenapa tiba-tiba meninggalkanku begitu saja, lirihku.


Kamar ini, masih sama seperti 7 tahun lalu. Dulu mas Dimas berpura-pura tak sadar di ranjang itu, dan dilaci itu, aku menemukan banyak foto-fotoku disana. Kamar ini masih sama ... kamar ini mempertontonkanku kembali akan kenangan malam itu, kenangan yang kembali jelas di otakku.


Malam itu ... aku melihat betapa rapuhnya mas Dimas.


Malam itu ... aku baru tau Mas Dimas yang selalu mengikutiku.


Dan malam itu ... mas Dimas menarik dan memelukku.


Malam itu pula ... aku dengan sadar memeluk Firgie dimotornya.


Tubuhku terasa lemah saat ini, kenangan membuatku kembali sesak ... aku menghindari banyak hal dari kejadian masa laluku. Dan kamar ini, membuka 1 bagian kenangan masa laluku tersebut ...


Kududukkan diriku di ranjang mas Dimas.


Kuberusaha menghilangkan segala sesakku ...


Hingga tak kusadari seseorang telah masuk kedalam kamar dan ia memanggilku ...


••••


••••



🌻Lyra menghadiri pengajian di rumah Mas Dimas❤


🌷🌷🌷


🌻Hayoo ... kira-kira siapa ya yang baru saja masuk ke kamar mas Dimas???


🌻Yang mau flashback kenangan Lyra, bisa ke Bab 54. Serpihan Hati Mas Dimas😊😊

__ADS_1


🌻Ditunggu kelanjutannya yaa ....


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2