Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menemukanmu


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻POV RENDI


Siang ini benar-benar lebih cerah dari biasanya, semua saat kulihat beberapa pesan dari nomer yang tak kukenal, dan saat ku cek .... Aku terperangah wanita yang selama ini kuinginkan tiba-tiba mengirim pesan padaku.


Lyra ... entah angin apa yang membawanya mencariku, agak aneh untukku tapi bukan Rendi namanya jika melewatkan seekor Ikan Segar yang mendekat ... Dan dengan cepat kukirim lokasi cafe yang juga 1 gedung dengan hotel tempatku menginap.


Sesuai waktu yang telah kami tentukan, sampailah aku ke kafe tersebut dan ternyata Lyra-ku telah sampai lebih dulu. Ternyata ia sangat niat bertemu denganku, wajah cantiknya tampak tak pernah berubah sejak 7 tahun lalu. Walau hijab yang ia kenakan menutup dadanya kini, namun semakin kau menutupi keindahanmu, entah mengapa aku semakin penasaran dengan yang ada di dalamnya.


Kami berbincang ...


Lyra tampak berbeda kini, tatapan takutnya setiap bertemu denganku tak terlihat. Dan kami terus mengobrol, ia terlihat sangat tenang. Aku bahagia dengan setiap pernyataannya tentang Dimas, bagaimana Dimas tak perhatian, Dimas sungkan untuk membelikan yang ia minta, Dimas tak memuaskannya. Aku bahagia karna berarti aku memiliki peluang bersamanya dan aku bisa memberi semua yang tak ia dapatkan dari suaminya, saudaraku yang bodoh.


Semua tampak alami dan mengalir membuatku seakan terbang kelangit ketujuh, hingga kemudian Lyra mengungkit masalah kebakaran ruko Dimas. Entah mengapa aku merasa Lyra menyelidik sesuatu. Dan aku lebih terhenyak saat Lyra berkata membenci Dimas sedang Frista saja yang jelas-jelas selalu tersakiti hatinya, selalu memuja Dimas. Aku mulai meragukan Lyra, tapi aku tetap mengikuti permainannya ...


Kecurigaanku semakin nyata saat Lyra menginginkanku mencari orang yang membakar ruko Dimas. Mungkinkah ini hanya jebakan untukku? Dan ia sebetulnya tau akulah orang di belakang itu semua. Tapi aku yakin Lyra tak mungkin memiliki keberanian sebesar ini tanpa campur tangan Dimas.


Kutengok kekanan dan kekiri sekelilingku, aku tak melihat sosok Dimas. Tapi ada tempat yang belum aku lihat, dibelakangku ...


Akupun mengambil ponselku kini. Kutekan kamera depan saat ini. Hingga wajahku dan setiap yang ada di belakangku tampak. Dan dugaanku kembali benar, seseorang yang tampak menutup wajahnya dengan koran kulihat kini. Wajahnya memang tertutup, tapi aku bisa mengenali jam tangan yang digunakannya. Karena aku hapal merk apa saja yang Dimas sukai.


Kurang ajar sepasang suami istri berusaha bermain-main denganku, dan kata-kata Lyra sebelumnya bulshit ternyata, sungguh berani wanita ini ... Kau akan menyesal dengan semua sandiwara ini Dimas, dan Kau Lyra, kau harus mendapat pelajaran untuk kebohonganmu ...


Segera kukirim pesan terhadap Frista, "Ini nomer Dimas 08xxxxxxxxxx, segera hubungi dia. Dan alihkan perhatian Dimas padamu. Jika kau tak menurut, aku akan beritahu tentang kebenaran Mayra. Dan itu artinya, jelas Dimas selamanya akan membencimu Friss," ancam Rendi dalam tulisannya.


Kutatap Lyra mulai bingung saat Dimas menepi menjawab teleponnya, matanya terus menyusuri langkah Dimas. Dan disaat itu pula kumasukkan obat dalam juice orange di hadapan wanita yang sudah sok berani menggangguku tersebut.


Ketika kupastikan obat yang kumasukkan telah larut seluruhnya, akupun meminta Lyra meminumnya. Dan aku puas karena berhasil mambuat Lyra yang sebelumnya terlihat ragu dan takut akan minuman di hadapannya. Namun akhirnya ia memantapkan dirinya untuk mendengar bualanku. Kupaparkan ketidak mungkinan pelayan memasukkan sesuatu di dalamnya, bahkan akupun tak berpindah tempat sejak tadi.


Setelah kupastikan Lyra meminum Orange Juice tersebut, kuberitahulah yang sebenarnya agar Lyraku bahagia. Bahwa akulah yang melakukan pembakaran pada Ruko suaminya, anggaplah sebagai hadiah dimuka karna malam nanti dapat dipastikan ia akan bersamaku.


Harus kupapah Lyra segera ke kamarku, sebelum Dimas kembali, batinku.





Beberapa saat kemudian ...


Lyra terlihat sudah tak sadarkan diri di ranjangku kini.


Kurebahkan diriku di sofa, aku harus bersabar, aku ingin melihat Lyra sendiri yang melucuti pakaiannya ...


5 menit ...


10 menit ...


Kuat juga wanita ini, seakan obat perangsang yang kuberi kebal pada tubuhnya.


Tidak ... Tidak mungkin ... Aku selalu menggunakan trik seperti ini namun biasanya obat bekerja tak selama ini ...


Aku akan menunggunya sebentar lagi, jika masih tidak ada reaksi, aku akan meminumkannya 1 pil lagi ...

__ADS_1


15 menit berlalu kini ...


Lyra masih tak bereaksi.


Okee ... sepertinya kau menginginkan dosis lebih, Sayang ...


Setelah kularutkan obat dalam air mineral, segera kuminumkan larutan tersebut ke mulut Lyra ...


Oke ... permainan pasti akan sangat menyenangkan ...


Namun tak lama ...


BRAK ..


Sosok pria dengan wajah penuh kemarahan berdiri mematung kini ...


●●●●


🌻POV DIMAS


Rasa hawatir kurasakan kini, tapi lyraku tak bergeming dengan keputusannya. Benar juga yang ia katakan bahwa aku pasti menjaganya.


Hingga kami berada di Cafe kini ...


Lyraku mulai terlihat asik berbincang dengan Rendi.


Tak kusangka, Lyraku ternyata sangat pandai berakting, semoga segalanya lancar dan kami bisa pulang nanti malam membawa bukti yang kami temukan, batinku.


Setelah sekian lama kuliat mereka asik berbincang tiba-tiba ponselku berdering dari nomer yang tak kukenal. Karna kufikir mungkin yang menelepon dari Perusahaan Asuransi maka aku putuskan mengangkatnya. Tapi semua akan sia-sia jika Rendi mendengar suaraku dan mengetahui rencana kami. Akupun memilih menepi di balik dinding agar Rendi tak melihatku.


Hanya mengangkat telepon sebentar, pasti tidak apa-apa, mereka juga masih asik berbincang, fikirku.


"Mas ... tolong maafkan aku Mas!!.."


"Maaf, sepertinya kau salah sambung."


"Aku Frista Mas, mantan istrimu ...,"


"Friss, ada apa kau menghubungiku. Kita sudah tak ada hubungan lagi sekarang?"


"Saat ini aku sakit dan membutuhkanmu Mas," rintih Friss yang saat ini memang kebetulan baru sadar setelah selesai menjalani operasi kanker payudara pertamanya.


"Kau sakit apa?" Dimas tampak mengiba karna bagaimanapun Friss adalah wanita yang melahirkan Mayra putrinya.


"Aku baru saya menjalani operasi Mas, ada kanker di payudaraku. Aku butuh semangat darimu Mas ... Tolong Mas ...," rintih Friss kembali.


"Kau menghubungi orang yang salah Friss, harusnya kau menghubungi pria yang selalu bersamamu dulu itu. Karena tidak ada hubungan diantara kita lagi." tegas Dimas mengenyampingkan nuraninya karena bagimanapun ia sudah memiliki Lyra saat ini..


*Oh, tiba-tiba aku teringat Lyra-ku, segera kuintip dinding tempatku bersembunyi. Dan Ohhh, dimana Lyra, Lyraku tak ada ...


Segera kututup sambungan teleponku dengan Friss seketika. Dan aku beranjak ke meja tempat dimana tadi Lyra-ku duduk. Dan ... gelas ini, gelas dihadapan Lyra tampak kosong. Mungkinkah ....


Pelayann!!!


"Ada apa Pak?"


"Dimana pria dan wanita yang duduk disini tadi?"


"Maaf Pak, mungkin sudah keluar, karena saya sibuk melayani tamu jadi tidak memperhatikan."

__ADS_1


Ahhh, Sialll !!!


Kau sangat bodoh Dimas. Kau ceroboh ... Yang kau hawatirkan terjadi, dan Lyra entah dimana saat ini ...


Segera kuberlari ke pusat informasi Mall. Kutanyakan dimana untuk bisa melihat CCTV Mall ... Mereka pun memberitahu ruang pelacak CCTV ada di lantai 6 setelah Gedung Hotel di Lantai 5.


Dengan perasaan was-was yang bercampur aduk, aku bergegas ke kantai 6 saat ini. Setelah menunggu Lift tak kunjung terbuka, kupilih menaiki tangga darurat saat ini, tidak jauh, naik 3 lantai fikirku.


Hingga beberapa saat berlalu, aku tiba di lantai 6 kini. Setelah kuputari area sekitar, akupun menemukan ruang dengan plang PEMANTAU CCTV. Akupun bergegas masuk, namun seorang security menahanku.


"Maaf harus ada surat izin untuk melihat CCTV Pak," ujarnya.


"Tolong saya Pak, istri saya menghilang ... saya hawatir ada hal buruk menimpanya. Tolong Pak ...."


Dan lagi-lagi security itu menolak ...


"Istri saya sedang dalam bahaya Pak. Apa Bapak berani bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada istri saya." Geram Dimas, ia bahkan sempat menarik baju dinas sang security. Namun ia masih bersikukuh tak memberi izin.


Dan aku sangat bingung, apa yang harus kulakukan saat ini, berbagai hal buruk memenuhi otakku ...


Kuserahkan KTP bahkan SIM ku sebagai jaminanku, ia masih menolak.


Hingga tiba-tiba aku teringat seorang Kapolda yang membantuku membuat surat pernyataan kejadian kebakaran tempo hari dan aku menyimpan nomer ponselnya.


Akupun berdiri menjauh dan menelepon Kapolda tersebut, kujelaskan dari awal hingga akhir termasuk tentang rencanaku dan Lyra untuk mencari bukti pembakaran rukoku. Hingga istriku yang menghilang. Setelah mendengar penjelasanku, iapun meminta menyerahkan ponselku pada sang security.


Setelah mendapat jaminan dari Kapolda. Security itupun memperbolehkanku melihat CCTV.


Aku mulai melihat kejadian beberapa saat lalu, dari mulai Lantai 3 ...


"Itu ... itu istri saya Pak," tampak Rendi yang sedang memapah Lyra ke lift. Kurang ajar berani-beraninya lelaki itu menyentuh istriku.


"Bisa tolong lihat CCTV didalam lift Pak," dan tak lama kami menemukannya. Terlihat Rendi menekan tombol 5. Dan tak lama ia keluar dari lift.


Kamipun segera melihat CCTV di lantai 5 dimana Rendi terus memapah Lyra masuk kesebuah kamar bernomer 301.


"Terima kasih banyak Pak, saya akan segera menjemput istri saya," ujarku setelah mengetahui dimana keberadaan Lyra-ku.


"Tunggu Pak, saya akan ikut dengan Bapak. Karna saya harus memastikan tidak ada kericuhan di gedung kami."


Akupun mengangguk.




Dan tibalah kami di lantai 5 kini, syukurlah dengan security bersamaku, iapun membantu menjelaskan tentang yang terjadi sehingga kamipun bisa mendapatkan kartu acces sang manager hotel untuk membuka kamar 301 tersebut.


*Kamar 301 sudah dihadapanku. Aku dipenuhi dengan gejolak api dikepalaku. Tak menunggu lama, aku, security juga manager hotel segera membuka kamar yang dimaksud. Dan tampaklah Rendi yang sedang duduk dengan minuman beralkohol ditangannya. Ia tampak kaget menatapku, dan aku tak seketika langsung melemparkan pukulanku ke wajahnya, berkali-kali kupukuli wajahnya tanpa ampun. Ia yang sedang terpengaruh alkohol tampak tak berkutik, hingga Security akhirnya meleraiku.


"Sudah Pak, sudah cukup. Sekarang Bapak bisa jemput istri Bapak. Kuarahkan kakiku ke kamar yang tertutup disana. Rasa Dag Dig Dug memenuhiku, bagaimana kondisi Lyraku .... Apa Rendi sudah berhasil melancarkan aksi buruknya?? Awas kau Ren jika sampai telah terjadi hal buruk pada istriku ...


Dan terbukalah pintu di hadapanku kini ...


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


🌻Mau tau gak yang di tunggu outhor setiap detiknya?

__ADS_1


Jawab : Komen dan like kalian guys😊😊😍


__ADS_2