
Mata mas Dimas masih terpejam namun tangannya menggenggam erat jemariku, sangat sulit terlepas..
"Mas, kau mendengarkanku kan? Lepaskan aku mas....
Bagaimana jika mbak Fris tau aku disini?
****
"Bu... ada telepon dari mas Dimas" teriak Rima sang asisten rumah tangga sambil menggenggam telepon di tangannya.
Friss yang mendengar seketika menuruni tangga dan mengambil telepon dari genggaman sang ART.
"Mas, kau dimana?" ujar Friss tegas.
"Hey, ini Frista kah? sayang sekali Dimas terlalu lama menunggu kau menjawab teleponnya. Dia langsung tertidur setelah meminum obat yang kuberi." ujar sosok dari balik telepon.
"Siapa ini?" tanya Friss kembali ketus.
"Aku Om Rudi, dokter pribadi keluarga Dimas. Tadi Dimas kesini dan tiba-tiba kepalanya terasa pusing, aku memberinya obat dan ia langsung tak sadar. Tolong katakan pada Arini malam ini Dimas bermalam Di rumahku. Oya... tadi Dimas juga menitip pesan untukmu, besok malam ia akan ke rumahmu katanya." Tampak Rudi berusaha berbicara setenang mungkin bersama Friss.
Friss yang mendengar Dimas esok akan datang menemuinya seketika kemarahannya mereda, tampak rona bahagia memenuhi wajahnya kini.
Arini yang melihat perubahan sikap calon menantunya tampak heran. Ia mendekati Friss.
"Siapa yang menelepon Friss?" tanya ibu penasaran.
"Om Rudi tante. Dimas menginap di rumahnya malam ini."
"Lalu, mengapa kau tampak bahagia?" tanya ibu masih tampak heran.
"Besok malam Dimas akan kerumahku tante" jawab Friss tersipu malu.
"Oya." Ibu melirik ke kamar atas. Bagaimana Rudi bisa menelepon di saat yang sangat tepat? Dan jawaban yang di berikan... Mengapa Rudi bisa sangat yakin Besok malam Dimas akan sadar? Bagaimana jika Besok Dimas belum sadar? batin ibu merasa banyak hal janggal menurutnya.
Ahh sudahlah... yang penting Friss tidak mengetahui ada Lyra di kamar Dimas, batin ibu lagi membuang segala prasangkanya.
"Tantee, aku pulang dulu ya!" ujar Friss tiba-tiba merasa yang di carinya tak ada disana.
"Kau tidak makan dulu sayang?" teriak ibu ke arah Friss.
"Aku makan di rumah saja tantee" terdengar sayup suara jawaban Friss yang sedang menuju pintu keluar.
"Anak itu..." gumam ibu Arini.
****
*Di kamar ketika 2 sejoli mendengar sautan suara dari arah tangga.
"Om, segera hubungi rumah! Lyra sedang bersamaku ada Friss disini! Katakan pada Friss besok malam aku akan menemuinya!!!" tampak Dimas mengirim pesan pada om Rudi saat dilihatnya Lyra begitu panik dan terus menatap ke arah pintu, tak menghiraukannya...
*****
Ibu saat ini di kamar Dimas.
"Tante, aku tidak bisa tetap disini" ujarku khawatir kejadian barusan terulang lagi.
"Lyra, maaf membuatmu berada pada kondisi tadi. Kau pasti takut tadi," ucap ibu Arini.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Apakah sudah ada reaksi dari Dimas, Lyra?" tanya ibu penuh harap.
"Saat kejadian tadi, mas Dimas menggenggam tanganku tante.." lirihku.
"Benarkah?"
"Iya tante, tangannya mengenggamku tapi matanya masih terpejam" ujarku menjelaskan.
ALLOOHÙ AKBAR.. ALLOOHÙ AKBAR...
Adzan Maghrib berkumandang.
"Yasudah, ayo kita sholat dulu nak!!" ibu membawaku ke Mushola di lantai bawah meninggalkan mas Dimas di kamarnya.
Sesaat kilirik mas Dimas sebelum meninggalkannya, "Mengapa tadi aku merasa engkau sadar mas, kau terus mengeratkan genggamanku, sangat erat dan tak melepaskannya. Apakah itu juga di luar kesadaranmu?
Ku cek ponsel yang sejak tadi ku abaikan keberadaannya setelah ku selesaikan ibadah Sholat Maghribku.
Beberapa pesan dari Firgie tampak disana.
Maaf Gie, sesaat lalu aku melupakanmu, batinku.
Kubaca beberapa pesan masuk darinya.
👨15:15 "Sore ini bertemu di tempat biasa ya Ly!"
👨16:30 "Jemputanmu sudah tiba kenapa kau masih tak tampak, aku masih di bakulan ketoprak menunggumu?"
Sesak rasanya dadaku membayangkanmu menungguku, maafkan aku Gie...
Tiba2 ada pesan kembali muncul dari Firgie.
"Kau sudah di kossan kah Lyra? aku kesana ya..."
Kubalas segera pesan yang baru di kirimkan Firgie tersebut,
"Aku sedang di luar Gie..."
"Dimana?" balas Firgie dengan cepat.
"Dirumah mas Dimas.." sungguh aku tidak bisa berbohong padamu, maaf jika jawabanku menyakitimu.
"Share lokasimu sekarang, aku akan menjemputmu sayang!"
"Biar aku pulang sendiri saja Gie.." balasku, karena ku tahu pasti tante Arini tak akan membiarkanku pulang sendiri dan pasti akan menyuruh Pak Supri mengantarku. Karena juga jarak dari Bekasi Timur ke Cikarang kediaman Dimas lumayan jauh, ku tak ingin kau letih Gie...
"Share lokasimu, aku tunggu!! aku ingin merasakan udara malam bersamamu" balas Firgie lagi.
Aku tak bisa terus menolaknya, ku kirim lokasiku pada Firgie.
"40 menit lagi aku akan sampai😙" balasnya kembali dengan cepat.
"Kau sudah selesai Lyra" suara tante Arini mengejutkannku.
Aku mengangguk, memasukkan kembali ponselku tanpa membalas pesan Firgie yang terakhir.
__ADS_1
"Kita makan malam dulu ya Lyra!"
Tante Arini membawaku ke ruang makan besar berbentuk ovale, berbagai makanan di hidangkan Rima dengan sangat rapi. Tapi suasana tampak sepi, hanya aku dan tante Arini, kemana anggota keluarga yang lain? batinku.
"Kau pasti aneh kita makan hanya berdua ya Ly?" ujar tante Arini seakan tau yang kufikirkan.
"Ayah Dimas dan Shifa putri kecilku sedang mengikuti Gathering dari perusahaan besok malam baru pulang" tante Arini menjelaskan.
Kamipun makan kembali dengan keheningan saat itu, tante Arini seperti sebelumnya makan sangat anggun. Tanpa suara dan sangat fokus.
"Kau ke kamar Dimas dulu ya Lyra, nanti tante menyusul. Oiya, tolong minumkan obat dalam botol sirup untuk Dimas ya! obat Dimas ada di laci nacas bagian atas, sedang airnya sudah ada di atas meja. Tolong ya sayang!!" Ibu mas Dimas kemudian tampak memasuki sebuah kamar besar meninggalkanku.
Lagi-lagi jantungku berdetak kencang saat kakiku hendak memasuki kamar mas Dimas.
Kubuka perlahan pintu di depanku. Tampak mas Dimas masih terpejam disana.
Mengapa aku merasa ada kejanggalan padamu..
Apa kau benar belum sadar mas??
Kutatap wajah mas Dimas yang sedang terpejam, tampak sebagian rambut bagian depannya basah. Pemandangan seperti ini pernah kulihat sebelumnya, saat aku melihatmu keluar dari Masjid ketika kita berkencan dulu. Rambut basah ini, mengingatkanku saat itu. Kau habis sholat kah mas? Apa kau berpura belum sadarkan diri?.
Tiba-tiba aku teringat permintaan ibu untuk memberi mas Dimas obat.
Kucari obat di laci nacas di sisi kanan ranjang mas Dimas. Kucari obat berbentuk botol sirup di laci atas tapi tak kutemukan. Akhirnya ku cari kembali di laci kedua, mungkin tante Arini lupa meletakkannya, fikirku. Tapi masih tak kutemukan. Kubuka kembali laci ketiga, bukan botol sirup yang ku lihat melainkan foto-fotoku banyak kulihat disana...
Aku terkaget, dadaku sesak.. Kenapa banyak fotoku disini? Bahkan aku sendiri bukan pribadi yang senang di foto. Ku ambil 1 persatu foto di laci tersebut, ada fotoku menggunakan piyama kucing dengan hijab tali disana, mataku tampak sembab dalam foto. Saat itu pagi hari setelah malam perpisahanku dengan mas Dimas. Bagaimana mas Dimas mendapatkan foto ini? Kulihat foto yang lain, fotoku dengan bermacam gaya terlihat disana, ada beberapa fotoku sedang menggunakan tunik, beberapa sedang menggunakan kemeja, kaos, sweater, dan pakaian lain yang semua ada dalam lemariku..
Dadaku semakin sesak....
Apa mungkin selama ini mas Dimas... Mengikutiku?
Kutatap wajah mas Dimas...
Mass... Sebegitukahnya engkau kehilanganku? Tubuhku seakan ingin roboh mengetahui kenyataan di hadapanku..
Mas Dimass...
Apa aku sudah begitu menyakitimu??
Apa begitu berharganya aku untukmu??
***
*Visual penampilan Lyra di rumah Dimas😎
*****
#Salam Cinta selalu dari Thor❤
Mohon dukungan apresiasi untuk karya pertama thor ini😉
Klik tombol like, rate, vote dan beri komen membangun untuk Thor...
#Happy Reading😍
__ADS_1