Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Meninggalkanmu ...


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Diamm ... jangan lanjutkan.!!!. Ok kita akan operasi ke luar negri. Tapi kau harus memastikan pada ibu, tetap dengan semangat akan kesembuhanmu Nak, dan kelak kau akan kembali kepada anak dan istrimu dengan kepulihanmu..!!!!"



🌻***Dimas*** ...



Pukul 00:40 saat ini. Setelah 2 jam 25 menit perjalanan sampailah kami di *Penang de' Royal Hotel*, tempat berdiam kami sementara selama proses penyembuhanku di Penang ini. Ya ... Penang Malaysia adalah tujuan kami dan tempat kami berada saat ini.



Kurebahkan diriku kini seraya terus kuatur helaan nafasku yang lagi-lagi berdetak dengan cepat disana, berkali kurasakan sesaknya dadaku, namun janji yang kuberikan pada kekasihku membuat kuharus tetap bertahan atas setiap sesak yang kurasa. Tangisnya adalah dorongan semangatku, senyumnya adalah keberkahan yang kudapati dihidupku. Dan aku akan menjaga keberkahan itu, nikmat tiada terperi hadirnya ia bidadari pengisi hati dan jiwaku. Sosok pembawa lentera yang menghangatkan jiwaku yang beku setelah kegagalanku.



***Flashback*** :



Aku, ayah dan ibu masih dalam perbincangan kami. Setelah kukatakan kemantapanku akan pembedahan yang akan kujalani, tak menunggu lama ibu segera menghubungi Om Rudi selaku dokter keluarga kami. Dan Dr. Abraham Yusuf adalah dokter jantung terbaik di Penang Malaysia sesuai rekomendasinya. Tetap di luar negeri seperti keinginanku, namun dengan jarak yang terjangkau melihat kondisi penyakitku.



Tak menunggu lama pula, ibu menghubungi Dr. Abraham Yusuf dan menceritakan kronologis penyakitku. Untuk menguatkan, ibu juga menyambungkan Dr. Yusuf begitu ia ingin dipanggil dengan Dr. Edo, dokter yang menangani penyakitku di Dago Hospital ini. Dr. Yusufpun menjadwalkan pertemuan kami esok siang di Rumah Sakit tempatnya bernaung.



Dengan dibantu Aldo, ibu segera memesan tiket untuk kami sesegera mungkin agar proses penyembuhanku bisa segera dilakukan.



4 tiket keberangkatan ke *Penang international Airport*, telah kami pesan. Ibu memang meminta Aldo untuk ikut pada keberangkatan ini, sebab ia adalah sosok muda yang bisa diandalkan menurut ibu. Dan ibu merasa membutuhkan Aldo untuk mendampingi kami hingga aku di tangani. Dan keberangkatan pukul 22.00 adalah waktu yang kami dapati.



Namun seketika ibu bertanya,



"Siapa yang akan memberitahukan Lyra akan kondisi ini?"



"Aku," jawabku mantap. *Bukan orang lain, mainkan aku sendirilah yang harus memberitahu Lyra*, fikirku.







14:05 saat APV ayah menepi di pelataran Sentra Duta Residence kediamanku. Kami memang meninggalkan Aldo untuk mengurus seluruh administrasi beserta dokumen pendukung rujukanku ke Healty World Hospital of Penang, Malaysia.



Dengan dibantu Ibu, aku melangkahkan kaki ke ruang tamu rumahku dan duduk disana. Tak lama Lyraku yang tampak penuh tanya berlari memastikan mobil siapa yang menepi di rumahnya. Ia tampak kaget melihat keberadaanku, seketika tubuh rampingnya merapat ke tubuhku. Lyraku memelukku dengan hangat.



"Mas ... kau sudah pulihkah?" bisiknya begitu dekat denganku membuat daya kerja jantungku semakin tak beraturan merasakan getaran rasaku yang dalam pada wanitaku ini.



"Lyra ... sudah ya Sayang," ibu seketika memisahkan ragaku dari wanitaku setelah melihat keringat dan nafasku yang mulai terengah. Tampak Lyra terheran tapi iya menurut seraya terus menatapku.



"Ayo Yah, bawa Dimas ke kamarnya.!!! Dimas butuh istirahat, ibu juga ingin bertemu Diyara, Dirga serta Mayra," ucap ibu yang ditanggapi anggukan oleh Ayah.



"Ayo Nak," ujar Ayah.



"Ayah, Lyra saja yang memapah mas Dimas," lirihku.



"Tubuhmu tidak cukup besar Sayang."



"Oh, iya," terdengar lirih kekecewaan pada Lyraku tapi aku tau Lyra pasti memahaminya. Iapun berjalan dibelakangku saat ini bersama ibu, ibu tampak menyapu bahu Lyra saat ini.






"Ayahh ...." seketika Mayraku berlari kearahku. Tubuh kecilnya terus memeluk kakiku. Ingin kurendahkan tubuhku untuk menggapainya namun aku tak mampu menyangga tubuhku.



"Ayo lanjutkan peluk ayah dikamar Sayang," ucap ibu seraya merengkuh tubuh kecil Mayra dalam dekapannya.



Tak lama kami telah berada di kamar kami saat ini. Ibu dan ayah masih memandangi dan mencium gemas si kembar yang tampak terlelap. Mayra terus menciumku dan terus menanyakan kondisiku. tapi aku hanya mampu mengangguk menanggapi celotehnya.



Ibu merapikan bantal sebagai sandaran dudukku dan membuat aku berbaring dengan posisi kepala yang meninggi. Dan disana Lyraku terus menatapku dengan berbagai tanya tentang kondisiku.



"Mayra, ayo ikut Uti, Uti sangat rindu mendengar cerita tentang sekolah Mayra," ujar ibu seketika ditanggappi anggukan oleh Mayra. Seketika Mayra bangkit setelah menciumku dan bundanya bergantian.



Ayah dan Ibu seketika keluar kamar bersama Mayra, sesuai keinginanku aku akan menjelaskan sendiri pada Lyra mengenai kondisiku dan perihal pembedahanku di Penang.

__ADS_1



Lyra tampak mendekatiku kini ...



"Mas, apa kondisimu sungguh telah membaik? Kenapa pulang tidak mengabariku?" lirih Lyra mencari jawab satu persatu tanya yang ada diotaknya.



"Sayang ... apa kau senang mas kembali ke rumah?" tanyaku perlahan.



"Itu jangan ditanya, aku sangat senang. Tapi wajahmu masih tampak pucat Mass," ujar Lyra kembali.



"Kemarilah ...!!!" seketika kududukkan diriku dan kupeluk Lyraku. Ia tampak membalas pelukanku lembut hawatir dekapannya akan menyakitiku.



"Lyra sayang mas kan?" tanyaku dan segera dibalas anggukan oleh Lyra.



"Dulu kita pernah berpisah selama 7 tahun hingga akhirnya kita bertemu lagi, benar?" Dan Lyra-ku kembali mengangguk.



"Jujur kondisi Mas masih belum pulih," ujarku. Dan Lyra seketika mengangkat tubuhnya dan menatapku dalam.



"Jika belum pulih mengapa pulang?" tanyanya kembali.



"Sayang, untukmu dan anak-anak Mas akan berjuang," lirihku seraya terus menatap wajah cantik istriku yang tampak terus menerka setiap kataku.



"Berjuang? Maksudnya??" Lyra-ku bertanya kembali.



"Mas bersedia di operasi," tuturku seketika Lyra terus meraba dadaku.



"Itu pasti akan menyakitkan untukmu Mas, dan dadamu ini akan bertanda seperti Diyara." Dan Lyra kini kembali memelukku. Ia tampak menangis di bahuku. Kuatur nafasku, dan menjaga emosiku agar kondisi jantungku tak memburuk. Kusapu terus bahu indah Lyra-ku.



"Jika harus dioperasi, mengapa kau dipulangkan dari Rumah Sakit?" Lyra-ku kembali bertanya.



"Karena operasi Mas bukan di Rumah Sakit itu," jawabku. Seketika Lyra-ku bertambah heran dengan jawabku.



"Lalu Dimana?" lirih Lyraku masih mendekapku.




"Kenapa sangat jauh, apa Mas lebih senang jika kita berjauhan??" lirih Lyra seraya menyapu wajahku.



Akupun mengambil jarinya yang mendarat di wajahku. Kugenggam erat dan kukecup kini. Kuatur nafasku sebelum memulai bicara, juga agar air mataku tak menetes dihadapan wanitaku.



"Berjanjilah Lyra akan mendo'akan dan menunggu Mas kembali," lirihku.



"Aku akan ikut bersama Mas," ujar Lyra-ku dengan wajah manjanya.



"Tidak bisa Sayang, Mayra harus sekolah dan sikembar juga membutuhkanmu."



"Lalu mas bersama siapa?" tanya Lyraku kembali dengan air mata yang mulai konsisten menetes.



"Ibu dan Ayah akan bersama Mas, Aldo juga akan mengantar dan kembali lagi mengurus semua bisnis Mas,"



"Aku ingin ikut Mass ...." Lyra-ku memohon kini.



"Sayang ... jangan begini atau Mas akan tak tenang meninggalkanmu," ucapku tak ingin Lyra melemah.



"Berapa lama Mas??"



"Mas tidak bisa memastikan, bisa 2-3 bulan," ucapku seraya kubasuh air mata Lyra yang terus memaksa keluar.



"Itu sangat lama," lirih Lyraku kutatap ia menjatuhkan wajahnya ke bahuku, ia terus menyesap di bahuku.



"7 tahun pernah berhasil kita lalui, ini hanya hitungan Bulan Sayang," kusapu kepalanya kini.



"Apa kita harus seperti ini??"



"Hanya sementara Sayangg ...." Kutenangkan Lyra-ku.

__ADS_1



"Berjanjilah Mas akan kembali dengan kesembuhan," Lyraku berujar kembali, dan seketika aku mengangguk seraya berujar, "In syaa Alloh, Mas akan berjuang dan kembali untukmu dan anak-anak."



"Kapan Mas berangkat?" tanya Lyra-ku kembali.



Ini adalah bagian tersulit untukku. Mengabarkan keberangkatanku nanti malam pada pujaan hatiku ini. Kurangkum wajah ayu istriku dengan kedua telapak tanganku, kukecup tiap bagian wajahnya, hingga sampaiku di bibirnya kini. Kukecup lembut bibir Lyra-ku. Kecupan dalam namun tak berlama melihat kondisiku. Setelahnya aku memeluknya. Kubisikkan kata-kata cinta pada Lyra-ku hingga ia terus mengangguk memahami rasaku.



"Jadi berangkat kapan??" Lyraku mengangkat tubuhnya dan kembali bertanya.



"Nanti malam."



"Hahhh ... nanti malamm??"



Beberapa saat berlalu ...






Lyra-ku tampak terus menyapu dadaku, berkali-kali ia terus mengeratkan pelukannya. Ia mengecup dan menyapu wajahku berulang kali, menyapu kepalaku, dan terus menenggelamkan wajahnya di tubuhku. Andai aku tak lemah saat ini, mungkin aku terbawa getaran yang ia beri dan ingin melakukannya namun aku tak memiliki kekuatan itu saat ini.



Beberapa saat lalu memang aku meminta Lyra berbaring disisiku, menghabiskan waktu bersamaku, walau hanya sekedar berpelukan dan menghirup harum tubuh Lyraku. Semua akan menjadi semangat untukku dan aku akan membawa semangat ini hingga kembaliku.



*Oekk ... Oekkk* ....



"Mass, Diyara bangun,"



"Biarkan sajaa ...."



"Masss,"



"Baiklah sana, segera kembali lagi Sayang," ucapku.



Setelah kuberi hak Diyara, aku kembali kesisi mas Dimas ...."



Beberapa saat kemudian, kembali Dirga menangis, aku masih menahan tubuh Lyra-ku hingga suara pekikan tangis Dirga semakin kencang.



"Mass, kasihan Dirga ...."



"Momen di ganggu si kembar seperti ini pasti akan selalu mas ingat,"



"Mas sakit tapi tetap saja nakal," bisikku.



Tak lama ....



"Lyra ... Dimas ..., kalian sedang apa? Itu bayi kalian menangis. Kalian tidak dengar kah?"



Seketika aku melepaskan tubuh Lyraku, membiarkannya memberi hak ASI pada putra kami.






"Sayang ..."



"Hmmm??"



"Jaga dirimu dengan baik selama Mas tidak ada," dan Lyra-ku mengangguk seketika.



"Walau teman Shifaa lebih sempurna dari Mas, kau tidak boleh berpaling," Lyra tampak menatapku dalam dan mengangguk kemudian ...



"Assalamu'alaikumm ...."


"Wa'alaikumussalam Mass, Mas sudah sampai??"


"Baru saja, Lyra sedang apa?"


"Aku tengah menyusui Diyara. Masss ... kamar ini sangat sepi tanpamu, padahal baru beberapa saat berlalu, tapi aku sudah sangat merindukannmu ...

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2