Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kejutan


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


"Shif, kamu kan anak baik. Sebetulnya Dimas apa kabar? Kamu nggak kasihan lihat Mbakmu sedih dan terus bertanya-tanya seperti ini?"


"Ibu ....


Shifaa terus menatap ibu seraya sesekali melirikku yang tak menggubrisnya dan seolah terhanyut dalam sedihku.


Tak lama adzan Maghrib berkumandang ...


ALLÒHU AKBAR ... ALLÒHU AKBARR ....


"Shifaa janji setelah makan malam, Shifaa akan memberitahu, sekarang Ibu Fatia dan Bapak Dewo istirahatlah. Jika memang ingin membawa mbak Lyra, bisa besok pagi. Perjalanan malam akan tidak baik untuk si kembar," ujar Shifaa hingga akhirnya ia berlalu setelah meminta izin akan melaksanakan ibadah maghribnya.




Beberapa saat berlalu,


Bapak ibu tengah makan malam di lantai bawah, tapi tidak denganku. Aku memilih menatap makanan yang telah diantar Bik Lasmi ke kamarku.


Kupindahkan Dirga saat ini ke ranjang ketika ia telah terlelap setelah sebelumnya ia terus menyesap ASIku. Beda halnya dengan Diyara yang masih asik menyusuri ranjang untuk belajar berjalan. Si kembarku memang sudah 10 bulan kini. Mereka sedang senang berdiri dengan topangan benda di sekitarnya.


Hingga tiba-tiba suara ketukan terus terdengar dari balik pintu kamarku.


"Mbakk ... buka Mbak.!!!" terdengar suara Shifaa setelahnya.


"Tidak dikunci masuklah Shif ...," teriakku.


Aku sudah menjawab dan meminta Shifaa masuk namun ketukan lagi-lagi kembali terdengar, "Bundaa, tolong buka pintu Bunda," suara Mayra kini.


"Iya masuklah Nakk..!!" teriakku kembali.


"Mayra tidak bisa buka pintu Bundaa," ucap Mayra dibarengi ketukan yang terus menerus dan sangat menggangguku.


Akhirnya kubangkit dari posisi dudukku dan membuka pintu kamarku, Diyara yang melihatku segera merangkak secepatnya dan berusaha menghampiriku, takut kutinggal sepertinya.


KREK ...


"SELAMAT ULANG TAHUN BUNDA ...."


Dibalik pintu kutatap wajah-wajah orang terdekatku, Mayra dengan kotak kado berpita, Shifaa dengan cake besar, Firgie dengan 1 buket mawar besar, Bapak, Ibu, bik Lasmi, Mang Diman dan Mbak Dinar semua berkumpul. Namun bukan terkejut bahagia, kusemakin terbawa sesakku. Aku tidak mengharap ulang tahun, disaat seperti ini apakah pantas merayakan ulang tahun. Aku masih berdiri mematung seraya menangis hingga kudengar sebuah suara memanggilku ...


"Sayangg ...."


Suara ini, aku mengenalnya kudangakkan kepalaku seketika menatap wajah-wajah dihadapanku. Apakah aku barusan salah dengar??


"Sayanggg ...."


Hingga seketika wajah-wajah dihadapanku bergeser kesisi kiri dan kanan, hingga tampaklah disana, wa- jahh Mas Di- mas?? Apa aku bermim-piii???



Seorang pria dengan kemeja putih berdiri kini dihadapanku. Aku masih terpaku seakan tak percaya dengan yang terjadi. Hingga sosok dengan kemeja putih melangkah maju kini kehadapanku.


"Apa begini caramu menyambut suamimu, Sayangg? Apa ini, kau menangis?? Kemarilahh..!!!" Seketika sosok berkemeja putih itu menarik tubuhku kepelukannya.


Ini nyata, dia memelukku. Apa ia be- nar mas Di- mas- ku??


Kudangakkan kepalaku menatap sosok yang dengan kuat menngunci tubuhku. Wajah ini ... benar, ini wa-jah suami-ku, akupun terisak sejadinya dan menenggelamkan wajahku dalam ke bahunya, kurasakan sapuan lembut di kepalaku saat ini.


Hingga otakku kembali teringat semua yang terjadi, kepiluan yang pria ini lakukan selama 2 bulan ini, kepergian tanpa kabar yang ia lakukan, semua sangat menyakitiku ... aku tak bisa dengan mudah melupakannya.


Kudorong tubuh dihadapaanku, berusaha melepaskan tangan yang masih mengunciku.


"Ada apa Sayang? Kau memberi jarak pada suamimu kini kah??" lembut terucap kata dari bibir mas Dimasku. Tapi sesak dan kecewa telah menguasaiku saat ini. Kupukul-pukul tubuh pria dihadapanku dengan air mata yang terus berlinang tak ingin berhenti.


"Bagusss, terus pukul tubuhnya Nak, luapkan kemarahanmu..!!!! Kamipun sangat muak sebetulnya dengan ulah anak ini." Kedua orang paruh baya kini berjalan mendekat kearahku, beserta Aldo dibelakang mereka. Ayah dan ibu mereka juga terlihat setelah sekian lama kini.


Ibu seketika memelukku saat jarak kami telah sangat dekat, iapun berujar, "Maafkan kami Nak, ibu terpaksa mengacuhkanmu karena rengekan anak ini.


"Ada apa ini Bu? Apa ya- ng terja- di sebetulnya??" lirihku.



**FLASHBACK 》DAGO HOSPITAL GRUP🏥**



🌻***Firgie*** ...



"*Kau harus bertahan Dimas!! Kau sudah berjanji akan membahagiakan Lyra bukan?? Penuhi janjimu*!!!."



Dan tak lama tangannya bergerak, kugenggam tangannya hingga akhirnya matanya terbuka, dan ia mengenaliku ...



"*Fir-gie ... ka-u telah dapat melihatkah? rupanya mata itu cocok untukmu* ...."



Akupun mengangguk, "*Bertahanlah atau aku akan mengambil Kembali Lyra jika kau tak mampu membahagiakannya*," ujarku padanya.



sebuah kata-kata gertakan agar ia tak meninggalkan Lyraku dan segera pulih seperti sedia kala. Tapi tak kusangka emosinya terpancing yang malah tak bagus untuknya. Ia menjawabku ....



"*Jangan berani mendekati Lyra-ku*,"




__ADS_1



Kejadian di Rumah Sakit beberapa waktu masih terus mengiang di otakku, hingga kini saatku telah mengantar Shifaa-ku pulang. Aku dengan paperbag kini sudah akan menuju ke Rumah Sakit mengantarkan kebutuhan Lyra, yang sekarang kuketahui adalah kakak dari kekasihku.



Namun gejolak otakku membuatku mengubah arah stirku. Aku menuju rumah sakit dimana operasi mataku beberapa bulan lalu dilakukan. Kata-kata Dimas mengenai Mata ini cocok untukku, terus berputar diotakku. *Mungkinkah ... Dimas yang memberi penglihatan padaku*??



Dan aku didalam ruangan Dr. Djatmiko, dokters spesialis bedah mata yang hari itu melakukan pembedahan atas mataku. Berkali-kali kutanyakan kembali tenang sosok dibalik operasiku. Namun lagi-lagi ia hanya menggeleng tak ingin menjawab, tak ingin melanggar janjinya, begitu ujarnya.



"Oke Dok kau tidak harus melanggar janjimu, ini sangat penting untukku Dok, aku telah mencurigai seseorang di balik ini. Dan saat ini ia sedang dalam keadaan buruk, aku tak ingin terlambat mengucapkan terima kasih padanya. Tolong Dok ... kau hanya perlu mengangguk atau menggeleng setelah kusebutkan namanya, dan aku akan segera pergi."



"Baik kuberi kau kesempatan 1 kali, dan kau harus segera pergi," ujar Dr. Djatmiko.



"Dimas, apa dia orangnya?? Dimas Anggoro bertempat tinggal di Sentra Duta Residence, benarkah dia Dok??"



Beberapa saat ia terdiam, baru setelahnya ia mengangguk.



Segera kupacu mobilku ke Rumah Sakit dimana sang penolongku dirawat. *Dimas yang melakukan ini semua, tapi untuk apa ia memberi penglihatan padaku?? Mungkinkah ia tau suatu saat akan berada dalam kondisi ini*??



Dan malam ini aku terus berada di rumah sakit, apa Lyra juga tau semua ini?? Beberapa kali kutatap Lyra dikejauhanku. Sosok pengisi hatiku yang saat ini sangat terlihat rapuh, begitu terlihat Lyra sangat mencintai Dimas.



Diotakku berfikir, bagaimana cara agar aku bisa bertemu Dimas, aku harus memastikan semuanya. Tapi di ruangannya hanya Lyra yang bisa keluar masuk. Hingga setelah subuh, Lyra mengatakan hendak keruang laktasi di lantai bawah. Melihat beberapa botol di paper bagnya aku langsung tau ia akan mempump-ASI untuk kedua bayinya.



Dan dini hari itu, perawat beberapa kali memanggil keluarga Dimas, melihat Lyra tak kunjung tiba. Diotakku terfikir mungkinkah ini rencana Alloh agar aku bisa menemui Dimas? Akupun masuk kedalam akhirnya.



Dimas tampak sangat kaget melihat kehadiranku ...



"Ka- u disini??"



Akupun mengangguk.



"Dimana istriku? Aku hanya ingin bertemu istriku ...." lirih Dimas.




Dan Dimas hanya terdiam tak menangapi ujaranku.



"Dim, kenapa kau memberi penglihatan untukku? Apa kau mempersiapkanku untuk menjaga istrimu kah?"



"Omonganmu tak masuk akal, pergilah kau dari sini..!!!" lirih Dimas.



"Itupun yang aku fikirkan, yang kau lakukan sungguh tidak masuk akal Dimas Anggoro.!!! Tapi jika kau menginginkannya, aku dengan senang hati akan menjaga Lyra dan anak-anakmu. Jujur saja, Lyra memang sulit kusingkirkan dari hatiku,"



"Diam Kau..!!! Aku akan tetap di sisi istriku, kau dengar. Jadi jangan pernah mendekati istriku..!!!"



"Bagus, aku suka kata-katamu. Lyra sangat mencintaimu. Jika kau menyerah, aku siap menjaganya..!!!"



Akupun segera keluar setelah perawat mendekati ranjang Dimas dan melihat sesuatu yang buruk terjadi. Nada dan grafik dalam monitor Dimas terdengar cepat dan tak beraturan.






Dan pagipun tiba 2 orang paruh baya muncul dari balik lift, yang ternyata itu ayah dan ibu Dimas. Entah mengapa ibu Dimas sepertinya kurang menyukaiku, ia menyuruhku pulang pagi itu.



Aku terus mencari tau kondisi Dimas melalui Shifa kekasihku. Dan ternyata Dimas sudah berada di Malaysia, namun ku melihat hal yang janggal. Dimas tampak tidak pernah menghubungi Lyra, Lyra terkesan tak bersemangat hidup. Ada apa sebenarnya?? Aku berusaha menghubungi nomer Dimas yang kulihat diam-diam dari ponsel Shifa. Dan memang ponsel Dimas tak bisa dihubungi.



Setelah mendapat alamat email Dimas dari Shifaa pula, kukirim email padanya hari itu, mungkin saja Dimas akan membalas. Seperti biasa aku memanasinya akan mengambil Lyra darinya, tujuanku hanya 1 agar Dimas membalas emailku dan keluar dari persembunyiannya.



📨Assalamu'alaikum ...


Haii calon Kakak Ipar, apa kau masih hidup?? Aku sudah tak sabar mendengar kabarmu. Siapa yang akan jadi milikku kelak, Istrimu Lyra atau Shifa adikmu.


Istrimu tentu kesukaanku dan adikmu juga sangat menggemaskanku. Jadi siapa yang harus kusanding?

__ADS_1


Tolong jangan berlama mengabariku, atau kasihan hati adikmu yang semakin dalam menempatkanku dihatinya.


Orang yang menerima penglihatan darimu,


Firgie,



1 Bulan berlalu akhirnya ada balasan yang masuk ke emailku ...



📩Wa'alaikumsalam ...


Simpan semua mimpimu, baik Lyra ataupun Shifa aku pastikan tidak akan jadi milikmu.


Aku akan kembali.


Suami mantan kekasihmu,


Dimas.



*📨Assalamu'alaikum*,



*Akhirnya kura-kura telah keluar dari persembunyiannya*.



*Kapan kau kembali? Jangan sampai air mata mantan kekasihku habis menangisi kediamanmu* ...



*Orang yang siap mendampingi istrimu*,


*Firgie*.



Dan lagi-lagi ditengah malam aku mendapat balasan dari Dimas.



*📩Wa'alaikumsalam*,



*Aku akan mengganti setiap tangisan Lyra dengan kebahagiaan seumur hidupnya*.



*Pemilik jiwa dan raga mantan kekasihmu*,


*Dimas*.



📨Assalamu'alaikum,


Ohh, hancurlah hatiku kini.


Kutunggu janjimu Dimas anggoro.


Sebagai ganti penglihatan yang kau beri, aku akan menjaga adikmu dengan baik.


Calon adik iparmu,


Firgie



*📩Wa'alaikumsalamm*,



*Tinggalkan adikku jika kau tidak benar-benar menyukainya*..!!!



*Aku sudah siapkan lelaki yang lebih pantas mendampingi adikku. Aldo, dia sudah lama menyukai Shifa. Orang tuaku juga telah menyukainya*.



*Kakak yang menyayangi adiknya*,


*Dimas*.



📨Assalamu'alaikum,


Aku akan memperjuangkan Shifaa..


Firgie.



*📩Wa'alaikumsalam*,



*Bagus, aku tunggu keseriusanmu*.



*Dimas*.



Ohh, dan aku yang termakan permainanku sendiri. Dimas diam-diam mempersiapkan Aldo untuk Shifaa, dan mereka saat ini satu atap. Habislah aku, aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan cinta kembali.


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


🌻Ditunggu kelanjutannya yaa😉


__ADS_2