Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menemukan Bayangmu


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Dan seseorang tiba-tiba memanggilku dan duduk disisiku ...


Jadi benar ka-u di-sini ...



🌻***Firgie*** ...



Kuikuti Shifaa memasuki kamar tempat sang kakak dirawat, sejenak aku terdiam di pintu tak menyangka akan menemui kakak dari wanita yang kusandangkan status kekasih padanya dalam kondisi seperti ini. Aku tak bisa melihat wajahnya tapi selang-selang ditubuhnya membuatku iba.



Hingga Shifaa menyadari keterpakuanku, akupun mendekat mengikuti panggilannya.


Kini wajah sang kakak tampak jelas dihadapanku, spontan terucaplah lirih namanya dari bibirku.



*Dimas* ...



Shifaapun kaget mendengarnya,



"Kau mengenal kakakku Mas?" ujar Shifaa yang belum lagi kujawab, seketika tampak gerakan di jari Dimas, pria yang telah memiliki wanitaku, *Lyra*.



Kubisikkan kata-kata di telinga Dimas saat Shifa dengan segera keluar mencari dokter untuk mengabarkan kondisi sang Kakak.



"Kau harus bertahan Dimas!! Kau sudah berjanji akan membahagiakan Lyra bukan?? Penuhi janjimu!!!," lirihku.



Dan tak lama tangannya bergerak, kugenggam tangannya hingga akhirnya matanya terbuka, dan ia mengenaliku ...



"Fir-gie ... "

__ADS_1



Akupun mengangguk, "Bertahanlah atau aku akan mengambil Kembali Lyra jika kau tak mampu membahagiakannya," ujarku padanya.



sebuah kata-kata gertakan agar ia tak meninggalkan Lyraku dan segera pulih seperti sedia kala. Tapi tak kusangka emosinya terpancing yang malah tak bagus untuknya. Ia menjawabku ....



"Jangan berani mendekati Lyra-ku," yang membuatnya seketika terus menarik nafasnya. Dan datanglah para suster dan kami diminta keluar dari ruangan Dimas berada.






Aku berdiri di sudut jendela saat kumenangkap bayang Lyra setelah sekian lama. Wajah ayu dan ceria dikala dulu benar-benar tak terlihat, ibarat langit wajah Lyra laksana langit tanpa sinaran, walau kecantikannya tetap tak berubah.



Entah gertakan atau harapan yang aku ucapkan beberapa saat lalu pada suaminya. Yang jelas aku tak bisa melihat Lyra bersedih, Dimas harus sembuh atau aku yang akan membahagiakannya kembali. Setidaknya itu adalah asa di lubuk terdalamku.




*Gadis nakal itu, keadaan membuatnya tampak dewasa*.



Aku tiba-tiba teringat tempatku saat ini. Aku adalah kekasih gadis nakal itu yang bahkan sore ini harusnya aku akan berkenalan dengan keluarganya. Yang diluar nalarku, Dimas dan Lyra adalah kakak Shifa yang akan ketemui sore ini. Takdir apa semua ini, bahkan aku sedang menata hatiku untuk Shifaa tapi keadaan mempertemukanku kembali dengan *Cinta-ku*.



Shifaa memang belum mampu menggantikan posisi Lyra di hatiku. Tapi aku mulai nyaman dengan kehadiran dan keceriaannya. Warna baru yang masuk dalam warna abu-abuku. Sisa cinta untuk *Lyra-ku*.



Kuantarkan Shifa ke rumahnya, tampak seorang bayi Lyra terus menangis. Sang pengasuh menimang-nimang bayi itu di lantai bawah agar saudara kembarnya yang tidur tak terganggu. Shifaku tampak meraih tubuh mungil nan berisi sang bayi tapi bayi itu tak diam juga, entah mengapa aku berinisiatif mencoba menenangkannya.



Dan tubuh mungil itu kini dalam dekapanku. Kudekap ia hangat sambil kusapu bahunya, entah mengapa tangisnya mereda, ia kupangku dan kuberi susu yang telah disiapkan Shifaa, gadis kecil itu tampak tenang, matanya terus berkedap-kedip menatapku, mata ini ... mata *Lyra-ku*, bayi yang cantik, kukecup beberapa kali wajahnya, ia sangat harum, aku seakan merasa mengecup Lyraku. Hal bodoh bermain diotakku. Astagfirulloh, kulantunkan istigfarku. Hingga bayi mungil yang kutahu kemudian bernama Diyara telah tertidur pulas dalam dekapanku.



Shifaa memintaku meletakkan langsung ke ranjang sang bayi, karna hawatir sang bayi terbangun kembali jika harus berpindah tangan. Shifaapun mengarahkanku ke lantai 2 rumahnya, dan kini aku masuk kedalam kamar besar dengan foto-foto Lyra dan Dimas disisinya, tampak pula foto bayi kembar mereka, juga foto gadis manis 6 tahun terpasang disalah satu dindingnya. Ini adalah kamar Lyra dan Dimas, perasaan apa ini, aku tak seharusnya masuk kesini. Otakku berkelana membayangkan *Lyra-ku* banyak menghabiskan waktu bersama Dimas disini, segera kuletakkan bayi cantik tersebut, tampak pula bayi tampan yang tadi sore juga telah kupangku, ini pasti Dirga, batinku. Tampak pula di ranjang besar gadis 6 tahun tampak sedang tertidur, dan itu pasti Mayra. Shifaa masih tampak memandangi ponakannya yang tertidur dan aku terbawa melihat sekeliling kamar besar itu, terdapat lemari kaca dengan gamis-gamis menggantung, ranjang besar yang indah, meja rias yang cantik, sofa minimalis dengan meja cantik disertai hiasan-hiasan kaca dan bunga-bunga. Tampak pula dress tidur mini yang tergantung disisi lemari, ohh, otakku tiba-tiba membayangkan Lyra menggunakan dress itu. Asttagfirulloh, kembali kulantunkan istigfarku. Aku segera beranjak keluar dan menunggu Shifa di ruang keluarga. Shifaku tampak turun.

__ADS_1



Entah mengapa otakkku terus terfikir Lyra yang berada di Rumah Sakit sendiri. Tapi akupun tak boleh membohongi Shifaa jika ingin kesana. Akupun menawarkan untuk membawakan kebutuhan kakaknya di rumah sakit, sehingga secara tidak langsung Shifaa tau aku akan kesana.



Shifaa tampak senang dan menerima tawaranku. Sebuah selimut dalam *paper bag* diberikan Shifaa untuk diantarkan kepada kakaknya, tampak pula handuk kecil, pasta dan sikat gigi dan entah alat apa beserta botol-botol juga tampak disana. Menurut Shifaa itu adalah alat mbaknya mem-pump ASI untuk stok susu sikembar. Akupun segera menuju rumah sakit setelahnya.



Diperjalanan kubelikan nasi pecel ayam untuk Lyraku karena kufikir ia pasti belum makan, air mineral dan beberapa roti dan snack kubawakan pula untuk Lyra. Ia menyusui 2 bayi, perutnya tak boleh kosong.






Dan sampailah aku di rumah sakit, lantai 3 menjadi tujuanku, kutatap Lyra duduk termangu di sudut jendela. Akupun memanggil dan seketika duduk disisinya, setelah sekian lama aku memanggil namanya kembali ...



*°°Lyra* ...



Ia tampak terkejut, padahal beberapa saat lalu kami telah saling bertemu. Kamipun larut dalam keheningan beberapa saat. hingga keluar ucapan dari bibirnya.



*Jadi benar ka-u di-sini* ...



🌻Lyraa ...


"Jadi benar ka-u di-sini ..." ucapku setelah beberapa saat tak tau harus berucap apa.


Kulihat pria di sebelahku mengangguk.


"Aku turut bersedih atas ujian yang kau alami," ucap Firgie, pria disebelahku tersebut seraya terus menatapku, akupun membuang tatapanku kearah lain, merasa aneh dengan situasi ini. Situasi aneh dalam bingkai yang telah berbeda. Dan ia adalah masa lalu yang nyaris menghalalkanku hingga kuketahui beberapa saat lalu, kecelakaanlah yang membuat takdir memisahkan kami ...


Tiba-tiba kuteringat, pertanyaan mas Dimas beberapa waktu di dalam tadi, "Apakah ia ada disini". Mungkinkah ia yang dimaksud adalah Fir-gie. Tiba-tiba muncul tanya diotakku ...


Apakah mereka telah bertemu sebelumnya??


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


🌻Terima kasih readers yang masih menunggu kelanjutan kisah ini, boleh saling silaturahmi di gc ku😊😊


__ADS_2