
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻2 BULAN KEMUDIAN
Bandung telah menjadi kediaman keduaku kini, aku semakin terbiasa dengan desiran dinginnya yang selalu menyapaku. Sebagaimana telah terbiasa pula aku dengan aktivitasku menjadi istri mas Dimas.
Mas Dimas sudah tak pernah mengigau dimalam hari lagi, karena mungkin telah merasakan memilikiku sepenuhnya.
Seperti biasa aku selalu membuat nasi goreng di pagi hari untuk ke2 orang terkasihku, tak ayal hari inipun seperti itu. Jujur sebetulnya memang aku tak begitu pandai memasak. Tapi terkecuali untuk nasi goreng aku merasa ahli membuatnya. Dan pagi ini, nasi goreng yang kubuat kutambahkan udang di dalamnya, jadi seperti nasi goreng seafood di restoran-restoran mewah.
Sedangkan untuk menu makan siang dan malam, kupercayakan sepenuhnya pada Bik Lasmi. Dan Alhamdulillah Mas Dimas memahaminya, atau jika bosan masakan rumahan pesanan makanan melalui ojek online menjadi pilihan kami.
Pukul 07:00 saat ini, tapi kedua terkasihku tampak belum menampakkan dirinya. Tumben, fikirku.
"Bik, tolong bantu sajikan nasi gorengnya keatas meja ya, aku akan tengok mas Dimas dan Mayra," ujarku sambil kulepaskan celemek yang saat ini membalut pakaianku.
Kulangkahkan kakiku saat ini ke kamar kami, kami memang masih tidur bersama-sama Mayra, setidaknya begitulah dimata Mayra.
Kami akan pindah ke kamar sebelah jika tubuh kami sedang meminta hak kami masing-masing dan kami akan pindah setelah sholat subuh dan kembali berbaring bersama Mayra. Karna memang kamar Mayra masih belum sempat kami fikirkan sebab mas Dimas masih sibuk dengan renovasi rukonya yang masih belum selesai.
Aku telah sampai di lantai atas rumahku kini, tampak Mayra sedang asik menonton acara kartun kesukaannya.
"Anak Bunda, ko belum turun kebawah sih, ayo turun sarapan dulu nak, Bunda sudah buat nasi goreng untukmu," ucapku.
"Mayla menonton TV sambil tunggu ayah Bunda ...."
"Lho memang ayah sedang apa?"
"Nggak tau." celoteh jujurnya.
Ada apa dengan Mas Dimas, batinku.
Segera kulangkahkan kaki ke kamarku kini, dan benar Mas Dimas masih berselimut di atas ranjang.
"Mas, kau tidak ke ruko?" lirihku sambil kuganggu dengan menciumi wajahnya.
"Sepertinya hari ini Mas akan bekerja dari rumah Lyra."
"Mas sakit?" kuletakkan jemariku ke keningnya tapi tak ada demam.
"Entah, badan Mas serasa pegal semua. Dan perut Mas sangat mual," lirihnya.
Pasti mas seperti ini karena letih, semenjak renovasi ruko dimulai mas Dimas memang kerap pulang larut. Pengerjaan dengan sistem borongan tersebut memang menguras waktu dan fikirannya, di otaknya selalu berfikir bagaimana agar para karyawannya bisa cepat bekerja kembali dan bisnisnya bisa kembali berjalan. Dan sekarang alhamdulillah pengerjaan sudah sampai tahap finishing.
"Sekarang Mas sarapan yaa, kita berobat setelahnya?" ujarku.
"Tidak perlu ke dokter Sayang, mas hanya butuh istirahat saja. Oupp ... " belum menyelesikan ucapannya mas Dimas terlihat berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di closet.
"Perut mas mual sekali," lirihnya.
"Sepertinya mas masuk angin, kita sarapan dulu ya, nanti Lyra kerokin mas setelah makan," ujarku.
__ADS_1
"Mas masih mual, nanti ya Sayang."
"Baiklah, tapi mas harus makan yaa!!"
Mas Dimaspun mengangguk perlahan, ia membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang dan aku memberinya minyak penghangat di perut mas Dimas kini.
•
•
•
🌻30 MENIT KEMUDIAN
Mas Dimas tampak sedang menuruni tangga saat ini, ia terlihat sudah rapi dengan celana jeans dan kemeja kotak-kotaknya.
"Mas sudah baikan?" tanyaku yang sedang berbincang dengan Bik Lasmi, mendengarkan awal pertemuan Bik Lasmi dengan mas Dimas 6 tahun silam. Dan Bik Lasmi ternyata sudah ikut mas Dimas sejak Mas Dimas masih bersama mbak Friss.
Dan disana tampak mas Dimas mengangguk menjawab tanyaku, "Siapkan sarapan Mas Sayang," ujarnya yang kini telah sampai dihadapanku.
Akupun segera menyiapkannya, nasi goreng seafood yang telah kumasak tadi pagi, kuhangatkan beberapa saat, baru kuberikan pada mas Dimas setelahnya.
"Bu, saya izin berbelanja ke toko depan ya, ada beberapa bahan di dapur yang habis," Bik Lasmi tampak berbicara padaku sambil sesekali tangannya merapihkan jilbab yang dipakainya.
"Iya Bik, sebentar saya ambilkan uang untuk berbelanja," aku hendak bergegas ke kamar atas kini namun tiba-tiba tangan Mas Dimas menahannya.
Ia menggeleng seraya berucap, "Bik, kalau ada kue Serabi, tolong belikan untukku!!" tampak mas Dimas memberikan 3 lembar uang berwarna merah untuk Bik Lasmi saat ini.
"Baik, saya pamit Pak, Bu," dan seketika bik Lasmi sudah tak terlihat lagi.
Aku memperhatikan mas Dimas yang sedang makan kini, tampak sendok di tangannya sedang memilah udang dari nasi goreng yang kubuat. Dikumpulkannya udang pada satu sisi piring baru ia mulai memakan nasi gorengnya.
"Suka," jawab mas Dimas sembari menatapku.
"Lalu kenapa udang-udangnya di kumpulkan ke tepi?"
"Terbawa kebiasaan sejak kecil, mas suka udang, tapi mas akan tahan dan bersabar memakannya belakangan, mmm ... membayangkannya saja sudah nikmat sekali, dulu ibu sering membuat udang asam manis dan udang saus tiram. Hmm, nikmat sekali sayang, oya 1 lagi, udang goreng tepung mas juga suka." Mas Dimas tampak terus berceloteh sembari mengunyah nasi goreng buatanku.
"Apa mas sudah benar-benar sehat? apa sudah tidak mual lagi?" ujarku melihat penampilannya yang sudah rapi.
"Alhamdulillah, mas juga bingung, 2 hari ini tiap pagi mas selalu mual. Mungkin Lyra benar mas masuk angin."
"Mas mau kemana? katanya hari ini mau kerja dari rumah ...." ujarku.
"Tadi Pak Suryo mandor yang menangani renovasi ruko menelepon, Partisi yang mas pesan beberapa hari lalu telah sampai di ruko, mas harus memastikan apakah yang datang sesuai dengan yang mas pesan atau tidak."
"Partisi itu apa?" ucapku ingin tau.
"Semacam penyekat ruangan Sayang, jadi untuk menyiasati sebuah ruangan agar menjadi beberapa bagian."
"Oh, berbahan triplek kah?"
"Ya, triplek juga bisa. Tapi untuk yang mas pesan kali ini adalah partisi dari bambu, jadi bambu kecil-kecil yang disusun menjadi sebuah sekat."
"Kenapa tidak suruh Aldo saja untuk mengecek, bukankah kau sedang tidak sehat?" ucapku sambil terus kutatap wajah mas Dimas yang sedikit pucat.
__ADS_1
"Aldo sedang mas suruh memantau toko di Bekasi, sepertinya kau sangat ingin mas menemanimu dirumah, hemm?" goda mas Dimas.
"Mass ... aku hanya hawatir akan keadaanmu. Ishh, siapa juga yang berfikir seperti itu," lirihku sembari kukerucutkan bibirku kini.
"Ihhh ... bibir ini, kayaknya minta mas cium nih."
"Nggak mau ahh, mulut mas bau udang," timpalku.
"Nakal ya, udang ini kan Lyra juga yang masak."
"Iya Sihh, hee ..."
"Sudah mas habisin masakan Lyra, enak. Besok mas mau sarapan seperti ini lagi." Mas Dimas seketika mendekatkan bibirnya ...
"Ihh ... sana ahh. Gosok gigi dulu klo mau minta Kiss."
"Yahh, semua gara-gara udang ...," ujar mas Dimas sebelum akhirnya menghilang ke lantai atas.
•
•
"Mas mau berangkat sekarang?" ujarku seketika melihat mas Dimas membawa tas laptopnya.
"Iyaa."
"Mas ... tunggu sebentar!!" aku berlari ke kamar saat ini.
•
•
"Lho, kau kemana Sayang?" heran mas Dimas melihatku sudah bergamis cantik dengan tas selempang melingkar di bahuku.
Dan tak lama, Mayra juga tampak menghambur pada kami pula dengan wajah yang merona.
"Kalian mau kemana?" heran mas Dimas.
"Aku hanya akan memastikan suamiku tidak terlalu letih Bekerja, Mas."
"Dan Mayra? Kau akan bosan ikut ayah ke ruko Nak,"
"Mayla tidak bosan, Mayla malah bosan di lumah telus Ayah."
"Hahh, kalian ini ... terserah kalian lah," pasrah mas Dimas akhirnya.
"Mas, sepulangnya nanti. Kita memeriksa kesehatanmu yaa?" ujarku sungguh-sungguh.
"Tapi Mas sudah tidak apa-apa."
"Supaya aku tenang Mas ...."
"Lihat sajalah nanti. Ayo lekas naik ke mobil jika ingin ikut Ayah!!."
"Yeaaa ...." pekikan bersemangat Mayra terdengar kini.
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤