Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
END


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra hingga bab akhir ini❤❤


●Lanjuutt yaa👋☺


🌷🌷🌷


Untaian senyum gambaran cinta


Bagaimana hati menjaga hati


Dan rasa menjaga raga


Pelik hidup akan senantiasa ada


Laksana busur yang terlepas


Coretan takdir takkan salah alamat


Bukan seberapa keras badai datang


Namun seberapa kuat kita bertopang menahan badai yang kerap menghadang


Dan ...


Rasa adalah debar


Belaian adalah Binar


Genggaman adalah pelipur


Pelukan adalah penawar


Serta, Kebersamaan adalah sinar


Menyapu kelam,


Membuang suram,


Menghadapi curam,


Mengikis dendam.


Dan bahagia in-syaa Alloh akan di genggam ...




Bias mentari masih menyinari, walau hampir menepi tapi seakan enggan berlalu ...



Pukul 16:30 saat ini, sore santai diiringi hembusan angin yang mengadu, tak berlalu namun tak menggebu ...



Menyapu lirih jiwa-jiwa asih yang mencintai dengan fasih laksana buih yang mendidih, penuh luap kasih nan putih ...



Menatap senyum diiringi getar yang berdentum saat sang pujaan hati selalu menemani disisi, gelak tawa terdengar riuh berusaha mengikis pilu yang menggores. Tak melupakan dan tetap menjadi harapan. Akan kehadiran belahan jiwa yang tak ada kabar, namun dihati ia selalu ada dan yakin suatu saat waktu akan membawanya kepangkuan.



Terlihat sosok kecil berjalan mendekat kini diiringi sang kakak yang menyayangi tanpa henti walau tidak satu tali namun cintanya tak pernah bertepi.



"Qinara, jangan kesana Sayang disana banyak batu, nanti Qii jatuh gimana, ayo kita ke Bunda dan Ayah! Pegang tangan kak Mayra jangan dilepas yaa," lirih gadis cantik berhijab yang telah berusia 11 tahun kini, kedewasaannya memang selalu menggetarkan hati kami.



Dan kedua putri kami telah sangat dekat kini, "Bundaa ...," panggil malaikat kecil kami yang sejak dilahirkannya benar-benar tak membuang sedikitpun wajah sang Kakak yang keberadaannya masih menjadi misteri.



*Qinara* ... janin yang hadir 4 tahun silam saat terpuruk kami menanti Diyara, tapi kehadiran Qinara menjadi pelipur segala sesak. Membawa kami pada kehidupan normal seperti keluarga lain akhirnya.



Dikejauhan tampak pria kecil yang semakin besar tak membuah wajah sang ayah tampak berjalan dengan santai kearah kami. Gayanya yang cool, sperti ayahnya dimasa lalu. Ia tak banyak bicara namun sekalinya bicara sudah seperti pria dewasa, ia sangat bersih, tidak suka kotor, tidak suka berisik, teliti dan agak keras seperti Uti Arini, sang nenek. Dirga usianya hampir 6 tahun kini.



Kami sedang berkumpul keluarga besar di rumah makan sekaligus wahana permainan di kawasan Pluncut saat ini, dan Tasfo Barn lagi-lagi menjadi tempat pilihan kami. Suasananya yang sejuk, dengan pemandangan perbukitan yang indah, kami rasa sangat cocok untuk tempat rehat dan refresing seluruh keluarga.



Acara ini bukan tanpa alasan, melainkan sebab Shifaa adik kami baru saja membuka butiknya sekaligus syukuran 7 bulan janin dalam kandungannya. Ia dan Firgie memang telah menikah 3 tahun lalu, setelah penantian panjang akhirnya Shifaa dipercaya menjadi calon ibu.



Ayah ibu Cikarang maupun Bapak dan Ibu Tangerang alhamdulilah semua sehat. Kini semua berkumpul dan saling tertawa, walau sisa perih kehilangan Diyara masih ada, tapi kami berusaha bangkit dengan do'a dan harapan serta upaya yang masih kami lakukan dengan mencari sosok Bumi, pemuda yang membawa putri kami dari panti. Jauh dilubuk hati kami berharap kelak Diyara dapat ditemukan.



Adikku Ersha dan Sherly yang jarang main ke Bandung, mereka ikut bergabung. Sherly sudah menikah dan memiliki 1 buah hati tampak hadir bersama keluarga kecilnya. Dan Ersha masih duduk di bangku SMA kelas 3 saat ini.



Mas Dimas dan yayasan ibu Arini bekerja sama membesarkan Panti Asuhan CAHAYA MEDINA, mereka berdua menjadi donatur tetap disana. Dan anak-anak panti terlihat tertawa dan bahagia bermain wahana berjarak 5 meter dari tempat kami berada, dan Bu Niken terlihat bahagia dan ia sedang berbincang dengan ibu Arini kini.



Kutatap wajah-wajah polos ketiga buah hatiku, mereka sedang menyantap ice cream di gelas saat ini. Dan mas Dimas seperti biasa selalu berbagi apapun yang dimakannya padaku. Kubuka mulutku saat sendok berisi ice cream udah berada diambang bibirku. Ku rasakan manisnya ice cream seraya masih menatap ketiga malaikatku.



Dirga lagi-lagi membasuh ice cream yang bercecer di wajah sang adik,



"Qii, kalau makan yang bersih dong. Pipi Qii kotor Mas nggak suka, jorok," ucap Dirga.

__ADS_1



"Biarin dek, yang penting Qii seneng," sanggah Mayra sang kakak.



"Tapi jorok Kak," ucap Dirga kembali.



"Nggak papa, dulu Dirga kecil juga belepotan kalau makan ice cream," ucap Kak Mayra.



"Iya Bund?" tanya Dirga kearahku.



"Ice cream bercecer itu biasa Sayang, nih lihat Bunda ...," dan Mas Dimas mencolek ice cream ke pipiku saat ini.



"Ayahh, nakal ihh." Kubalas mencolek ice cream kini ke pipi suamiku.



"Berani balas Ayah, awas yaa ... "



"Sudah ahh Yahh, ampun ... malu tuh dilihat anak-anak."



Dan Dirga tampak menggeleng-gelengkan kepalanya saat ini, "Ayah dan Bunda jorok," ucap Dirga seketika meninggalkan kursi lesehan kami dan menuju Uti Arini.



"Lihat tuh anakmu marah," lirihku menatap Dirga yang berjalan semakin menjauh.



Dan mas Dimas hanya tersenyum seraya menggeleng-geleng atas sifat putra kecilnya.



Dan tuan rumah penyelenggara acara akhirnya tiba, Firgie dan Shifaa tampak berjalan kearah meja kami. Firgie tampak was-was melihat Shifaa dalam kehamilan besarnya gagah berjalan dengan cepat diantara bebatuan yang menanjak.



"Sayang pelan-pelan ...," lirih suara Firgie.



Namun Shifa dengan wajah yang ditekuk tampak terus berjalan tak menghiraukan ujaran sang suami.



"Ada apa sih? Kok manyun gitu mukanya?" ujarku kepada Shifaa yang baru saja tiba dan duduk disisiku.




"Kenapa Gie," ujar mas Dimas.



"Gak tau nih Dim, Shifa di tempat rame minta gendong, kan aku malu," jawab Firgie pada mas Dimas.



Dan kami yang mendengarnya ingin tertawa tapi kami tahan karena tak ingin Shifaa semakin ngambek. *Ibu hamil yang satu ini memang* ... batinku.



"Udah jangan marah dong Sayang, nanti dirumah mas gendong muter-muter, mau?" bujuk Firgie seraya menyapu kepala istrinya berusaha menghilangkan amarahnya.



"Nggak."



"Kok Gak mau?" tanya Firgie seraya terus menatap wajah sang istri.



"Nanti aku sama baby kita pusing," gusar Shifaa membuang wajah dari suaminya.



"Bukan muter-muter begitu, tapi mas gendong sambil memutari rumah. Gimana mau gak?"



"Yaudah mau. Sekarang suapin aku ice cream!" pinta Shifa masih mengerucutkan bibirnya.



"Itu tangannya nganggur kan," ujar Firgie.



"Tuhh kan gak Sayang. Mas Dimas aja sering suapin mbak Lyra," marah Shifaa.



"Iya ... iyaa, Mas bercanda kok. Ayo cepat buka mulutnya!"



"Yang lembut ngomongnya dong Mass ... " ujar Shifaa.

__ADS_1



"Ayo buka mulutmu Sayang," lirih Firgie.



"Nahh begitu aku baru suka, nih anakmu ikutan senyum barusan di dalam perut," lirih Shifaa.



"Emang iya?"



"Iya ... Masss kenapa sihh tinggal iya-in aja, pake nanya segala ......



Dan Mas Dimas seketika menarik lenganku menjauh meninggalkan calon ayah dan ibu baru yang penuh drama tersebut. Mas Dimas tampak menghampiri mbak Dinar dan memintanya mengawasi Qinara.







Dan Mas Dimas mengajakku masuk kesebuah rumah pohon yang tertutup saat ini.



"Ayo naik," pinta mas Dimas.



Akupun tersenyum dan menuruti keinginan mas Dimas.



Dan di dalam rumah pohon tampak lilin-lilin tertata cantik dengan sepiring ketoprak di tengahnya.



"Yahhh ...." lirihku memanggil suamiku takjub dengan yang kulihat.



"Tempat yang cantik bukan?" tanya mas Dimas seraya terus menatapku.



Akupun mengangguk, "Ta-pi kenapa ada ke-top-rak?" heranku.



"Karena ketoprak, hubungan kita akhirnya terikat kembali."



"Maksud Ayah?" tanyaku belum memahami.



"Jika mantanmu penyuka ketoprak itu dulu tidak menghilang mungkin kita tak akan bersatu."



Dan akupun tersenyum.



"Dan mantanmu itu jujur banyak memberi semangat untuk Ayah."



"Oyaa?? Jadi Ayah sudah tidak benci ketoprak lagi?"



"Tidak, aku bahkan sekarang sangat suka ketoprak seperti istriku, kita bisa menyantapnya berdua seperti saat ini."



"Yahh ... " lirihku melihat mas Dimas mulai menyapu bahu dan menahan tengkukku.



Seketika mas Dimas mendekatkan wajahnya ...



Sebuah kecupan yang hangat dan tak ingin kami sudahi akhirnya menjadi penutup sementara kisah ini.



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=END\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



![](contribute/fiction/1187984/markdown/12519675/1614786334555.jpg)



🌻Makasih atas segala support❤❤



🌻Yang penasaran dengan Diyara bisa ke Novel ***My Handsome Dad***, yg stop sampai disini jg gpp😊


__ADS_1


🌻Kelanjutan kisah Lyra dan Dimas, masuk ke Kisah Mas Bumi yaa❤


__ADS_2