
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻IBU ...
Kulambaikan tangan saat Avanza hitam milik adik suamiku meninggalkan pelataran rumahku. Ihsan adalah adik mas Arya, ayah Dimas dan Shifa. Yang merupakan suamiku. Dan Harti adalah sahabatku, yang diam-diam ternyata menyukai Ihsan adik suamiku dan akhirnya mereka berjodoh hingga pelaminan. Jadilah sahabatku menjadi iparku kini.
Sebenarnya di SMA dulu aku memiliki 1 sahabat lagi, ia adalah Widuri. Tapi entah dimana sahabat lamaku itu. Terakhir kudengar ia tinggal di Jogya, tapi entah Jogya sebelah mana akupun tak tahu.
Kumasuk kini kedalam rumah setelah bayangan Avanza hitam telah menghilang. Kusapu lembut bahu putraku yang sedang jalan beriringan denganku. Kutahan lengannya yang hendak melaju kelantai atas, kutarik hingga sampailah kami ke sebuah ruangan dengan buku berjejer dalam rak disana.
Ya, kurasa ruang kerja suamiku adalah tempat yang paling pas untuk kami berbincang.
"Ibu ...."
"Dimass, kau dengar bukan ujaran Bulik Harti tadi. Jangan sampai kau termasuk orang yang bodoh Nak!! Kau masih muda, banyak hal yang bisa kau raih dan lakukan. Belum lagi istri dan anakmu, mereka masih sangat membutuhkanmu Sayang."
Setelah beberapa saat terdiam, kutatap putraku mulai berujar,
"Apakah Dimas akan sembuh Bu?"
"Heii, kata-kata apa ini Dimas, kita punya Sang pencipta yang maha pengasih. Lakukan usaha pengobatan. Dan serahkan segalanya pada RobbMu, insyaAlloh ia akan mengatur kebaikan untukmu. Dan yang terpenting kau harus jujur dengan Ayah dan istrimu. Mereka berhak tau, mereka orang-orang yang mencintaimu. Jangan sampai kau menyesal Nak," lirih ucapan ibu namun sangat menamparku.
Segera kuraih tubuh kurus ibuku, kucari ketenangan dalam peluknya.
"Ibu ...."
"Fikirkan ucapan Ibu dan Bulik Har Nak, fikirkan pula anak-anak dan istrimu, kau anak ibu yang baik. Jangan sampai salah bertindak yang membuatmu akan menyesal," ucap ibu dengan tangan yang terus menyapu bahuku.
"Bu apakah selang-selang akan menempel di tubuhku? Bagaimana jika Lyra merasa sedih?"
"Dia akan lebih sedih jika tau kau menutupi segalanya,"
"Ibu harus ke dapur. Fikirkanlah Nak, datanglah Kekamar ibu nanti malam saat kau sudah mantap dengan keputusanmu dan siap bicara dengan Ayahmu."
"O ya, kau akan ke ruko bukan? hati-hatilah selalu Sayang ...."
"Terima kasih Bu."
●●●●
🌻Lyra ...
Hampir setengah jam yang lalu aku telah mendengar suara mobil suamiku memasuki gerbang tapi mengapa aku belum juga melihat wajahnya. Tidakkah ia rindu denganku dan anak-anaknya?
Kutelusuri area lantai 2 rumah ibuku, namun tak jua kutemui suamiku, akupun turun kelantai bawah saat ini. Masih tak ada tanda-tanda kehadiran kekasihku. Dimana mas Dimas? kupastikan mobilnya di luar. Dan memang mobil yang biasa membawa kami sekeluarga telah terparkir cantik di garasi.
Akupun kembali kedalam lagi. Tinggal koridor kamar ibu yang belum kujelajahi. Dan akupun menuju kesana saat ini ...
Semakin dekat semakin kudengar sayup suara teriakan ibu. Ibu tak biasa berteriak, apakah mas Dimas ada disana dan mas Dimas membuat kesalahan hingga ibu harus memarahinya?? Kurapatkan telingaku kini ...
.... Apa kau tega meninggalkan istri dan ketiga anakmu? Ibu kesal dengan cara berfikir putramu Yah, Dan lagi kau tau Yah, ia juga pernah bicara ingin mendonorkan matanya setelah tiada. Apa kau begitu bahagia berfikir untuk meninggalkan kami?? Kau tidak memikirkan perasaan ibumu? Ayahmu? Istrimu? Anak-anakmu?? Dan seluruh keluargamu?? Kau sangat egois Dim ...." ujar ibu dengan air mata yang terus berlinang.
Dan akupun mendengar semua namun lirih tak begitu jelas, Kenapa ibu berkata seolah-olah Mas Dimas akan meninggalkan kami, ada donor mata, dan mas Dimas yang menurut ibu egois, ibupun terdengar menangis. Ada apa ini semua??
Mengenyampingkan sopan santun dan mengikuti emosi dan prasangkaku, kubuka kini pintu besar berwarna putih dihadapanku ...
Krek ...
Kulihat seluruh orang dalam kamar ibu terkejut melihatku. Ibu tampak sedang menangis tersedu disana.
__ADS_1
"Ada apa ini Mass??"
"Bawa Lyra ke kamarmu dan jelaskan segalanya pada istrimu..!!!" Ibu seketika keluar kamar dan meninggalkan kami, dan ayah tampak diam tak bergeming.
Kulihat mas Dimas menganggukan kepalanya kearah Ayah, baru setelahnya ia menghampiriku.
"Kita bicara di kamar Sayang," lirih suara mas Dimas tampak wajah tanpa ekspresi disana.
Sepanjang jalan kuperhatikan wajah suamiku, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ibu terlihat begitu sedih?? banyak tanya berkumpul diotakkku saat ini.
Hingga sampailah kami di kamar ...
Mas Dimas mendekati ranjang sikembar dan mengecup keduanya yang sedang tidur secara bergantian.
Tak lama mas Dimas tampak bersimpuh dikakiku yang sedang duduk di sofa.
"Ada apa ini Mas, bangunlah.!!"
Bukan merubah posisinya ia malah menarik kedua tanganku dan berkali-kali mengecupnya. Hingga kemudian ia berujar ...
"Maafkan Mas Sayang,"
"Maaf untuk apa?" lirihku bingung masih penuh teka-teki, kutatap mas Dimas menghembuskan nafas panjang baru kembali berujar ...
"Mas telah membohongi Lyra sesuatu, tolong jangan marah..!!"
"Berbohong apa? duduklah disini jangan dibawah," aku mengangkat bahu mas Dimas hingga ia duduk disisiku kini.
"Ceritakan dengan jelas, kesalahan apa?" lirihku berusaha menyamankannya.
"Lyra, sebetulnya ... ma-s juga mengi-dap jantung seperti i-bu dan Diyara ...."
Dan aku sangat terkejut dan tak percaya dengan yang baru saja kudengar. Kurangkum wajah yang terus merunduk disisiku.
Kutatap wajah yang masih kurangkum dengan kedua tanganku, kutatap mata berkaca yang seketika meneteskan buliran air dari sudutnya.
"Jadi ini be-nar?" lirihku, tak lama kulihat wajah dihadapanku terus mengangguk disana.
Seketika kutenggelamkan wajahku ke bahu suamiku dan terisak disana. Kulingkarkan kedua tanganku menguncinya dengan rapat.
"Semuanya benar Lyra," ucap mas Dimas kini.
Semakin mas berkata, semakin remuk hatiku dan sesak seakan tak ingin menerima semua kenyataan yang lagi-lagi menghempaskanku ketepi kesedihan.
Aku masih terisak hingga kurasakan kecupan berulang kali didaratkan mas Dimas dikeningku. Tak lama mas Dimas mengangkat kepalaku menghadap wajahnya, "Maafkan Mas," ujarnya lirih.
Sesaat aku terdiam namun akhirnya kumengangguk mengiyakan. Dan kembali kutenggelamkan wajahku kebahunya, ingin memeluk suamiku dan merasakan dekapannya, berharap tak ada hal buruk yang akan terjadi padanya.
Hingga beberapa saat,
•
•
•
Kami masih saling menatap tanpa kata duduk bersandar di background ranjang kami, tangan mas Dimas terus merangkulku hingga kusandaran kepalaku kini kedadanya. Terdengar degup jantung yang memacu cepat disana. Seketika kuangkat kepalaku dan kubasuh dada mas Dimas lembut, "Mengapa harus ada masalah didalam sini. Sejak kapan kau mengetahuinya Mas?" tanyaku
"11 bulan yang lalu saat Frista mulai masuk ke rumah kita,"
"Aku yang membawa mbak Friss ke rumah, secara tidak langsung akulah yang memancing masalah di jantungmu," lirihku.
"Tidak begitu Sayang," ujar mas Dimas masih terus membelai rambutku.
__ADS_1
"Berarti kau telah lama menahan sesakmu sendiri, pantas saja kau sering tiba-tiba ingin ke toilet atau tiba-tiba menghilang. Apakah kau sedang merasakan sesakmu kala itu?"
Dan mas Dimas mengangguk mengiakan.
"Mas, jika aku tidak memergokimu tadi, pasti kau masih menutupi segalanya dariku, iya kan??"
"Tidak begitu, memang rencananya setelah memberitahu Ayah, aku akan memberi tahumu," ucap mas Dimas kini.
"Sungguh??"
"Tentu Sayang,"
"Mass, berjanjilah kau akan pulih dan selalu ada disisiku. Aku dan anak-anak membutuhkanmu Mas,"
"Iya." Dan mas lagi-lagi mengecup kepalaku.
"Mas, sesampainya di Bandung kita harus segera menemui Dr. Ryan, kita harus fokus memulihkan jantungmu," ujarku.
Mas dimas seketika mengangguk.
"Lyra, kau akan selalu mendampingi mas-kan?" ujarnya kemudian
"Iya, pasti Mass ...." kulingkarkan kini tanganku di pinggang mas Dimas dan kusandarkan lagi kepalaku di dadanya.
"Mass, dengan posisi seperti ini apa dadamu sakit?"
"Sedang tidak sakit," ujarnya.
"Dan vitamin berbentuk hati kecil i-tu obat jantungmu kah?" tanyaku kembali.
Lagi-lagi mas Dimas mengangguk.
"Tanganmu yang sering berkeringat, wajahmu yang tiba-tiba pucat dan tanganmu yang sering menyentuh dadamu, kau sedang merasakan sakit kah kala itu?"
Terlihat mas Dimas tersenyum kecil dan mengangguk perlahan.
"Tapi untuk tangan Mas kurang tau, memang seperti keringat berlebih tapi tak selalu mas sedang sesak." Akupun mendengarkan dengam seksama setiap ucapan mas dimas.
"Saat kau pingsan di ruko kau juga sedang merasa sakit?" aku masih memastikan semua dengan tanyaku.
"Iya sudah jangan bertanya lagi. Kita tidur oke.!!"
"Ternyata aku tidak peka terhadap gelagatmu Mas, maafkanku ... aku terlalu sibuk dengam anak-anak sampai mengabaikan yang kulihat," sedih kurasa kini.
"Mas lebih senang kau tidak tau," ujar mas Dimas seketika membuatku marah.
"Tolong jangan menyembunyikan apapun lagi dibelakangku Mas, atau aku akan merasa kau tak menganggap aku sebagai istrimu," lirihku.
"Kau istri Mas, cinta Mas dan tersayang Mas," mas Dimas lagi-lagi mengecup kepalaku.
"Mass,"
"Hemm,"
"Aku mendengar pula kemarahan ibu di kamar mengenai do-nor mata, dan aku mulai menyadari sesuatu. Tolong jangan fikirkan hal seperti itu Mas, aku ingin Mas semangat untuk sembuh. Aku tidak ingin dengan yang lain selain denganmu. Kalau kau sampai meninggalkanku, aku akan marah selamanya padamu." lirihku kembali dengan buliran yang kembali memaksa keluar.
"Sudah jangan bicara lagi. Maafkan Mas. Mengenai donor mata itu tak akan terjadi. Tapi mas ingin bertanya sesuatu pada Lyra."
"Bertanya apa?"
"Jika ternyata Firgie sudah bisa melihat dan kalian bertemu apa hatimu akan ragu??"
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤