
Mas Dimas masih mendekapku erat seakan telah menemukan kembali gadisnya yang telah hilang.
Tidak ... ini tidak benar, mas Dimas bukan milikku lagi ia adalah milik Mbak Friss. Suara batinku bergejolak.
Perlahan kulepaskan dekapan mas Dimas.
Kujauhkan posisi dudukku darinya.
"Maafkan mas Lyra," ujar mas Dimas yang juga menyadari kesalahannya.
Aku hanya terdiam tak mampu berkata. Merasa benteng pertahanan antaraku dan Mas Dimas yang dengan susah payah kami bangun sepekan ini hancur dalam sekejap.
"Lyra, makasih sudah mengizinkan Mas melihatmu malam ini. Seminggu ini terasa berat untuk Mas harus selalu menghindarimu dan menahan tak menyapamu. Tapi Mas sudah berusaha bersikap baik pada Friss Ly."
Iya mas, aku tau. Bahkan aku selalu melihat kebersamaan kalian di kantin. Sakit rasanya, mungkin begini yang dirasa mbak Friss saat aku selalu menghabiskan waktu istirahat denganmu saat itu. Dan kejadian malam ini, harusnya tak terjadi. harusnya kita tak bertemu. Bagaimana jika mbak Friss tau? Ampuni aku ya Robb, bisikku dalam diam.
🌻Kulihat jam Pukul 01.15
"Ini sudah sangat malam Mas. Sebaiknya Mas pulang! besok pagi kita juga harus bekerja?" ujarku.
"Iya Ly. Tolong maafkan tindakan mas ya Ly!"
Aku mengangguk mengiyakan.
Kulihat mas Dimas menggunakan jaket dan kupluk hitamnya. Tiba-tiba kuteringat pesan dari Mbak Susi. Apa jangan-jangan yang dimaksud mbak Susi tentang sosok yang sering mengawasi sekitar sini adalah ....
"Mas, apa setiap malam kau sering kesini?" tanyaku terbata khawatir prasangku ternyata salah.
Mas Dimas diam tak menjawab.
"Mas ...," panggilku lagi padanya berharap ia menjawab tanyaku.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kulihat mas Dimas mengangguk.
"Kenapa Mas?" tanyaku tak menyangka.
"Karna aku ingin melihatmu Ly! Berusaha mengacuhkanmu di PT terasa menyakitkan untukku. Jadi aku kesini berharap melihatmu Lyra, tapi kau tak jua keluar. Tapi tak masalah, melihat kontrakanmu tinggal dan kau aman didalam, aku sudah bahagia Ly."
"Mass, kenapa kau bertindak seperti itu? Jam berapa kau pulang dari sini setiap hari?"
"Mas ... jawab aku mas!!" tanyaku lagi saat kulihat ia hanya terdiam.
"Tergantung Ly ... jika mataku mulai mengantuk aku akan pulang."
"Jam berapa?" tanyaku lagi mendesaknya.
"Jam 1/Jam 2."
"Mas ... tidakkah kau letih? Kenapa melakukan smua ini?"
"Ohh, Mas Dimas," lirihku tak menyangka.
"Oke, ini sudah cukup malam. Kita lanjut bicara nanti, pulanglah mas!" ujarku lagi.
"Baik Ly. Assalamu'alaikum." Ucapan salamnya menjadi kata terakhir darinya malam itu.
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
Mas Dimas kemudian berlalu mengambil motornya, menariknya kedepan. Ia menyalakan motornya ketika telah sampai di gang depan, agar tak mengganggu penghuni yang lain, mungkin begitu fikirnya.
Mas Dimasku ...
Apa yang kau lakukan selama ini?
__ADS_1
Tidakkah akalmu mengatakan ini salah?
Tidakkah Kau menyayangi dirimu sendiri?
Waktu yang Kau habiskan hanya untuk melihat rumahku ...
Oh, bukankah itu hal bodoh?
●●●●
Kubuka Jendela disebelahku. Udara pagi sangat menyejukkan. Kupandangi setiap orang dengan berbagai aktifitasnya pagi ini. Dengan ketulusan niat dan kepasrahan pada sang Maha Pencipta. Mereka menyemangati hari mereka. Siap bertempur dengan keadaan. Berpeluh mencari sebongkah receh untuk menghidupi keluarga tercinta.
Tiba-tiba kutersadar dari lamunku dan mengingat peristiwa semalam. Kufikir aku yang terpuruk dengan perpisahan ini namun sebaliknya mas Dimas terlihat lebih rapuh dari yang kubayangkan. Masih tak menyangka Mas Dimas selama ini diam-diam selalu memantau keadaanku, menungguku dengan ketidakpastian akan hadirku di sudut kontrakan. Benar-benar hal bodoh, batinku.
Aku harus membuatnya berhenti bertindak seperti itu. Mbak Friss harus menjadi prioritasnya bukan aku. Dan kesehatannya, tidur berapa jam dia dalam semalam jika dini hari ia baru pulang kerumah? Tidakkah ia peduli dengan dirinya? Ohh ... mas Dimasku.
Kuambil ponsel dalam saku ku.
Kukirim pesan untuk mas Dimas.
📨Jam 7 nanti malam kutunggu di bakulan nasi goreng Warung Bongkok!
📩Kita bicara di rumahmu saja! Gak ada mbakmu kan? tampak balasan dari mas Dimas.
📨Di bakulan nasi goreng! jawabku.
Aku memang menghindari Mas Dimas ke kontrakanku. Belajar dari sebelumnya, emosi sering melemahkan kami. Lebih baik aku bertemu dengannya diluar, batinku.
●●●●
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1