
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻21:05 KAMAR UTAMA
"Mass ...,"
"Humm ...."
"Terima kasih selalu menyemangatiku selama ini," ujarku bersandar di bahu mas dimasku.
Ya, sudah lama momen seperti ini tak kami dapati. Setelah hari-hari berat kemarin, serasa dunia kami hanya sekitar rumah sakit dan Diyara. Tapi beberapa bulan ini, kami memang sudah dapat bernafas lega, terlebih setelah beberapa hari ini kami dapati hasil check up Diyara menunjukkan grafik perbaikan yang cukup signifikan.
"Mas juga masih sering rapuh, kita berdua saling menyemangati adalah kata yang lebih tepat. Kita telah berjuang bersama, dan alhamdulillah setiap perih telah terlewati," tutur mas Dimas seraya mengusap-usap lembut jemariku.
Dan akupun mengangguk.
"Kuingat saat pertama kali mengetahui keadaan Diyara, aku sering berfikir. Dosa apa yang kulakukan sampai Robbku menegurku melalui sakit Diyara. Pertanyaan itu selalu dalam benakku, sampai aku berfikir mungkinkah karena hubungan dengan lawan jenis yang dulu pernah kujalani. Mungkinkah Alloh ingin menghapus kesalahan-kesalahanku di masa lalu melalui sakit Diyara," ujarku teringat kepedihan dimasa itu.
"Jika memang seperti itu, tentunya dosa mas yang lebih besar, karena Mas saat itu telah menyakiti hati gadis yang baik sepertimu," ucap mas Dimas seraya terus menatapku.
"Masss ... " panggilku lirih tak ingin pria disisiku menyalahkan dirinya, akupun ikut menatapnya kini.
Mas Dimas menyapu wajahku saat ini dan seketika menarik kepalaku ke dadanya. Ia mendekapku sangat erat. "Apapun itu, semua telah kita lewati. Semoga tak ada lagi kepedihan setelah ini. Kita sekeluarga selalu bersama dan tak terpisahkan."
Aku mengangguk, "Amiinn," ujarku.
"Mas tiba-tiba teringat awal-awal pertemuan kita, Mas harus berterima kasih pada secrew-screwmu yang selalu terjatuh menangkap kehadiran Mas."
Dan Ohh, malunya aku mengingat kelakuanku saat itu, kutenggelamkan wajahku lebih dalam menutupi maluku.
"Kenapa, Lyra malu?" ucap mas Dimas menyadari perubahan gerakku.
Kuanggukan kepalaku dengan wajah yang telah kusembunyikan. Dan mas Dimas semakin mengeratkan tangannya.
"Lyra ingat saat kita pulang bersama pertama kalinya?"
Aku kembali mengangguk, sebagai pernyataan aku masih mengingatnya.
"Mas menunggu di bawah tangga parkiran PT kita, saat itu mas sangat terpana melihat Lyra berpakaian bebas tanpa seragam kerja."
Aku mengangkat wajahku kini, "Apa pakaian yang kugunakan norak Mas? nggak pantas??" ujarku terkaget karena Mas Dimas tak pernah membahas ini sebelumnya, akupun duduk dihadapannya menyimak setiap ucapannya.
"Bukan, bukan begitu. Tapi Lyra sangat berbeda, cantikk."
Dan aku mengerucutkan bibirku kini seraya tersenyum malu, bahagia tepatnya. "Gombal," ujarku menampik.
"Ishh, Mas tidak ada bakat menggombal, yang mas ucap adalah yang mas fikirkan," ujar mas Dimas meyakinkan rasanya dengan sebelah tangannya yang mengusap kepalaku.
__ADS_1
"Lalu??" dan aku penasaran apa lagi isi benak mas Dimas diawal-awal kebersamaan kami.
"Merasakaan angin malam bersama seorang wanita di motor adalah hal baru untuk Mas, dan Mas baru pertama berani melakukannya bersamamu."
"Aku juga Mas," lirihku dan kutatap mas Dimas seketika tersenyum.
"Entah kekuatan apa yang menarik Mas berani mengambil langkah mendekatimu dan seakan ingin terus melihat wajah polosmu kala itu. Padahal saat itu Mas tau semuanya tidak mungkin ...." dan kulihat mas Dimas menunduk dalam.
.... Harusnya Mas tidak mengikuti hati Mas karena semuanya ternyata menyakitimu. Maaf Mas telah menorehkan luka padamu saat itu," lirih mas Dimas kembali melanjutkan ucapannya.
Kulingkarkan kini kedua tanganku ke tubuh mas Dimas, "Jangan dilanjut Mas, aku tidak suka mendengarnya," bisikku tak ingin mengingat hal yang menyakitkanku.
Iapun mengangguk.
"Kalau boleh jujur Mas ingin sekali mengulang saat-saat seperti dulu, merasakan hembusan angin malam, menatap indahnya lampu jalan, juga makan berdua sambil saling menatap."
"Aku juga ingin, ayo kita lakukan Mas!!!" ucapku antusias.
"Sungguh??"
Akupun mengangguk, "Oya tapi bagaimana dengan anak-anak kita," lirihku.
Mas Dimas tampak melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 21:40 disana.
"Kita kenyangkan anak-anak kita dahulu, kita keluar 1 jam saja, dan kembali setelahnya. Bukanlah ada Shifaa, Bik Lasmi dan Mbak Dinar. Stock susumu masih ada bukan di kulkas?"
Akupun tersenyum kini, "Baiklah Sayang," lirihku, dan seketika mas Dimas menarikku "Ahh, mas lepas..!!"
"Tidak ...." ucapku.
"Katakan!!"
Aku masih menggeleng,
"Ayolaahh Sayang,.!!!"
"Nanti saja," bisikku segera menghambur mengambil Dirga dalam pelukku dan menyusuinya.
Cap ... Cap ... Capp
Dan, Ahhh, segera kutarik keluar pucuk ASIku.
"Ada apa?"
"Dirga menggigit," dan mas Dimas terus tersenyum disana.
Kusodorkan kembali, tapi bibir Dirga tak mau terbuka, sudah kenyang sepertinya.
"Hmm, Sayang Bunda masih kenyang yaa?" lirihku seraya meletakkan Dirga kembali dan mengambil Diyara setelahnya,
Berbeda dengan Dirga, Diyara tampak bersemangat menyesap ASIku. Hingga 10 menit berlalu dan Diyara baru melepasnya.
__ADS_1
"Cantiknya Bundaa," ujarku mencium bayi kecilku baru kemudian meletakkan di boxnya kembali.
"Oke ... selesaiii ..."
"Kita berangkat sekarang?"
"Tunggu, aku titip pesan pada Shifaa, bik Lasmi dan mbak Dinar untuk menjaga baby twins dahulu," ujarku.
"Shifaa biar aku yang memberitahu," ujar mas Dimas tak menunggu lama segera berhambur keluar kamar kami.
•
•
"Dekk ... sudah tidur?"
"Belum Mas, masih nonton drakor di Utube, ada apa Mas?" heran Shifaa tumben Masnya mencarinya malam-malam.
"Mas sama Mbak mau keluar sebentar, titip si kembar bisa gak? kamu nonton drakornya di kamar mas aja gimana?" ujar mas Dimas dengan tatapan penuh harap disana.
"Hmm yang mau berduaan. Oke lah, tenang aja serahin semua sama Shifaa, stock susu udah ada kan Mas?"
"Ada di kulkas, habis disusuin juga. Masih pada kenyang kok."
"Okee, gih sono berangkat!!! Seneng-seneng ya Mass." Shifaa tampak menggoda masnya.
"Ishh apa sih?nakal," ujar mas Dimas seraya mencubit hidung adiknya. "Ahh Mas."
•
•
"Bik Lasmi dan Mbak Dinar sudah diberitahu?"
"Sudah, tuh aku suruh tidur di sofa ruang TV lantai 2," ujarku seraya tersenyum menatap mas Dimas yang juga tak membuang senyum diwajahnya sejak tadi.
"Pakai jaket yang benar Sayang," ujar mas Dimas menarik resleting jaketku keatas setelah dimasukkannya bagian bawah hijabku kedalam jaket.
Kaos kakipun sudah kupasang sempurna, kurias tipis bagian wajahku, sekali-kali cantik ahh, sudah lama gak berjalan berdua dengan mas Dimas, batinku.
"Sudah siap??"
Akupun mengangguk, kuciumi kedua bayi kembarku, dan ke kamar Mayra setelahnya. Baru kemudian aku dan mas Dimas beranjak keluar saat ini.
Mas Dimas tampak berbicara serius pada Mang Diman sebelum kami beranjak.
Diambilnya motor matic yang terparkir cantik di bagasi. Dan tak lama kamipun sudah berada di atasnya siap menerjang malam dengan bisikan angin yang kami biarkan mengikuti.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1