Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Shopping


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Dan aku di kamar ini ...


Kamar yang memiliki sepenggal cerita kepedihan dimasa lalu, entah mengapa melihat setiap sudut yang tak pernah berubah sejak sekitar 8 tahun yang lalu, selalu menorehkan sesak yang tak mampu kugambarkan.


Hari itu, aku mengetahui kau selalu mengikutiku, betapa rapuhnya kau saat kita berpisah, malam-malammu yang kau habiskan untuk menatap kontrakanku. Bagaimana semua itu bisa kau lakukan? Bahkan aku sudah membuka hati untuk lelaki lain. Dan kau masih terpaku dengan sesakmu atasku, hingga 7 tahun berlalu bahkan aku masih hadir mengusik tidurmu ...


Kutatap pria yang duduk disisiku saat ini, pria dalam masa laluku yang ternyata menjadi akhir pelabuhan cintaku. Seperti malam-malam sebelumnya, priaku selalu sibuk mengecek pekerjaannya sebelum akhirnya mengistirahatkan tubuhnya. Pria ini, apa tidak letih terus bekerja, mondar-mandir Bekasi-Bandung, menerjang panas, bahkan kulit putihnya sudah mulai memudar walau ketampanannya tetap tak pernah berkurang.


"Heiii, Bumil belum mengantuk kah?? kenapa terus memandang Mas?" dan mas Dimas ternyata menyadariku yang sejak tadi memperhatikannya. Ia kini menatapku penuh tanya.


"Mass, apa masih banyak pekerjaanmu?" tanyaku sambil bergelayut di lengannya.


"Ada apa Sayang??" lirihnya, dan tiba-tiba memandang dan mengecup bibirku sekilas.


Seketika pula aku malu dan bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Ishh, masih malu saja dicium suami. Sebentar ya Sayang. Sedikit lagi ...."


Akupun mengangguk, sambil terus kupeluk tubuh suamiku dari samping.


Hingga beberapa saat kemudian, mas Dimas tampak menutup dan meletakkan laptopnya di atas nacash. Iapun mulai mendekatkan wajahnya ke perutku, "Assalamu'alikum Sholeh an Shalihah Ayah, kalian sedang apa? kalian harus selalu sehat dan saling menjaga di dalam sana yaa..!!!" ujar mas Dimas kemudian ia tampak melantunkan do'a ...


رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ


“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa] (QS. Ali Imron: 38).


Ia lalu mengusap perutku dengan kedua tangannya.


Dan Ohh ... "Sayang, kau merasakan pergerakan baby twins barusan kah?"


"Kau juga merasakannya Mas?" tampak anggukan di wajah mas Dimas. "Mereka sering seperti itu setiap malam Mas," ujarku.


"Benarkah, ini kali pertama Mas," seketika mas Dimas meletakkan kembali wajahnya ke perutku. "Haii baby twins Ayah, ayah senang sekali merasakan gerakan kalian, ayo tendang Ayah lagi sayang, ayolah Nak..!!! Ayah sungguh tak sabar berjumpa kalian, ayah sayang kalian ..." Mas Dimas terus berceloteh, terasa haru kurasa saat ini. Rasa syukur terus kupanjatkan pada Robku yang tak pernah berhenti memberi cintaNya untukku. Terus kusapu kepala suamiku saat ini. Senang melihat kebahagiannya tatkala lagi-lagi baby twins menunjukkan kehadirannya.


"Sayang, kemarikan tanganmu ada dibagian ini yang agak lancip," mas Dimas membawa tanganku keposisi perutku yang agak keras dan terasa lancip.


"Ini siku anak ganteng atau anak cantik Ayah yaa?" Mas Dimas tampak berbisik kembali di perutku.


Setelah baby twins tampak tenang, mas Dimas duduk dihadapanku dan seketika memelukku.


"Terima kasih Sayang, Mas sangat bahagia, mereka hidup, mereka bergerak dan merespon Mas. Mereka bukti cinta kita Lyra. Mas sangat mencintai Lyra, sangat ... Lyra juga mencintai Mas bukan?" dan lagi-lagi Mas Dimas selalu memastikan perasaanku, karena aku memang hampir tidak pernah mengucapkannya.


Dan akupun mengangguk menanggapi tanya mas Dimas. Mas Dimas kemudian menghujaniku dengan kecupannya, dahi, pipi, hidung, dagu, dan bibirku turut mendapat bukti perasaan yang dimilikinya.

__ADS_1


"Mas sudahh," lirihku.


"Semuanya milik Mas," dan mas Dimas memelukku kembali setelahnya.


"Akhhh ...."


"Ada apa Mas??" kulihat mas Dimas tiba-tiba menyentuh dadanya.


"Tidak apa-apa, rasa bahagia membuat mas seakan sesak untuk bernafas." Ahh, kufikir mas kenapa, sejak dulu aku juga sering merasa sesak, sampai saat ini sesak terus hadir jika berjauhan denganmu Mas, batinku.


Kueratkan kembali pelukanku pada dada bidang mas Dimas.


"Sayang ... sudah..!!! Malam semakin larut dan kau butuh istirahat. Bukankah, esok kau akan shopping dengan ibu?" ujar mas Dimas melepaskan pelukanku, tampak wajah serius disana.


Tumben, tak biasanya Mas ingin cepat berlalu dari pelukanku, tapi ini memang sudah malam ... kutatap Mas Dimas tampak perlahan membaringkan tubuhnya. Ia bahkan tak memelukku seperti biasa, dan akupun memejamkan mataku.




Seakan dalam mimpiku, terdengar suara pintu terbuka dan menutup kembali ...


●●●●


"Lyra kita mampir ke toko itu ya Nak, banyak gamis cantik disana ...," ujar ibu dengan nada sopan dan elegannya seperti biasa.


"Gamis Lyra sudah banyak Bu," ujarku tak ingin ada kemubadziran di lemariku dan mengenyampingkan tatapan pengharapan ibu.


Dan beberapa saat kemudian ....




Seorang pelayan toko terlihat membawa setumpuk gamis dengan model baby doll dengan berbagai jenis bahan mengikuti arah ibu mendekat padaku.


"Lyra, kau suka semua yang ibu pilihkan ini bukan?"


"Hahh, semua bu??"


"Iya Sayang, setiap bulan perutmu akan terus membesar. Dan gamis-gamis model seperti ini sangat cocok untuk ibu hamil sepertimu.


Lihat ini Sayang, untuk bahan katun, dingin dan menyerap keringat bisa kau gunakan di rumah. Untuk bahan Ceruty dan Satin bisa kau pakai saat acara resmi keluar. Kau suka semua ini kan Nak?"


"Tapi ini terlalu banyak Buu."


"Tidak baik menolak pemberian Sayang, Mbak saya ambil semuanya yaa..!!" ujar ibu mengelus bahuku kemudian segera berlalu entah mencari apa lagi disudut sana.


"Hijab langsungan softped dengan tali samping 2 layer ini sangat nyaman dipakai ibu hamil sepertimu Nak, tidak repot namun tetap telihat cantik, tolong campur yang tadi ya Mbak," ibu terlihat bersemangat namun tidak meninggalkan kesan cantik dan elegannya saat berbicara.

__ADS_1


Setelah membayar yang dipilihnya, kamipun berpindah ke toko lain dan ibu segera mengambil apa yang ia fikir cocok untukku. Dan kali ini, beberapa buah mini dress berbahan katun lembut tanpa lengan dengan model baby doll sudah di tangannya.


"Ini untuk kau pakai tidur Sayang, agar cucu-cucu ibu leluasa bergerak saat malam hari."


"Ini tidak perlu Bu," ujarku yang seakan angin lalu untuk ibu.


Ibu mengajakku masuk ke toko sandal saat ini. Dan lagi-lagi ibu mengambil 2 flat sandals untukku.


"Ayo paskan kakimu Sayang, ibu hamil akan berbahaya menggunakan sendal ber-hak," akupun mengangguk dengan pernyataan ibu, menolakpun tak ada artinya. Ibu tampak membelikan pula sandal cantik untuk Mayra.


Dan penuhlah sudah tangan kami dengan paper bag belanja. Tampak Pak Supri segera masuk kedalam Mall setelah sebelumnya di hubungi oleh Ibu.


Kami menuju Gramedia saat ini, menjemput Shifaa dan Mayra disana. Kami memang berpisah tadi, karena hawatir Mayra akan bosan dengan aktifitas belanja yang kami lakukan. Dan Shifaa yang sedang libur akhirnya dengan senang hati ikut dan menemani Mayra mencari buku mewarnai yang disukainya.


"Mayra mau Uti beliin apa Sayang?" tanya ibu setelah tadi membayar buku menggambar yang dipilih Mayra.


"Es krim boleh Uti?"


"Hmm, untuk hari ini boleh lah."


"Ada lagi yang Mayra mau?" ibu bertanya lagi setelah melihat es krim di tangan Mayra habis.


"Mayra mau main di time zone Uti,"


"Shifaa, kau bermain-mainlah dengan Mayra. Ibu dan mbak Lyra akan menunggu di Resto di seberang sana," ujar ibu sangat tau kalau perutku memang sudah lapar setelah berkeliling tadi.


"Kau harus makan yang banyak Sayang, jangan pernah takut gemuk..!! yang penting kedua bayimu sehat, kau paham?"


"Iya Buu," jawabku.


Setelah Mayra dan Shifaa ikut bergabung dan menghabiskan makan mereka, kami akhirnya beranjak ke pintu keluar hendak pulang, sampai kulihat sebuah gaun yang sangat cantik.


"Ibu, Lyra ada perlu sebentar di toko itu."


"Oh, ya sudah. Lekas kembali ya Nak..!!"




"Kau beli apa ini Sayang?"


"Sebuah hadiah untuk teman Bu."


"Oh baiklah. Kita langsung pulang ya, Dimas tadi menghubungi ada keperluan, jadi tidak bisa menjemput kita."


"Iya Buu."


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2