Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Mencari jalan mendekat


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻2 BULAN KEMUDIAN


POV Shifaa


Bandung sudah seperti rumahku keduaku kini. Syukurlah ... entah apa yang terjadi, malam itu ibu memanggilku dan mempertanyakan tentang kemantapanku untuk mengambil jurusan Fashion Designer di kota tempat tinggal Mas-ku, Bandung.


Setelah kukerahkan segala kemampuanku dan memutar-mutar pemikirannya. Akhirnya ibuku menyerah, walau kemenanganku bukan hasil usahaku sendiri, sebab sudah dapat dipastikan Mas-ku telah meyakinkan ibu sebelumnya.


Mas Dimas memang kesayangan Ibu, kesayangan nomer 1 maksudku. Karena aku juga kesayangan ibuku, tapi aku ada di peringkat 2. Dan segala ucapan mas Dimas akan lebih di dengar ibu ketimbang sang pemegang juara 2 ini.


Apapun itu aku bahagia dengan segala yang terjadi. Hingga 2 bulan kini aku telah terdaftar di lembaga pendidikan Islamic Fashion Institute Bandung.


Kurikulum berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI) yang spesifik pada kaidah-kaidah  Islam dalam  penerapan nya pada busana muslim dan pergaulan maupun bisnis dengan riset dan pembangunan pribadi , akal dan mental Islami. Sehingga IFI melahirkan lulusan yang : santun dalam pergaulan, beretika dalam berbisnis, jujur dalam berkarya, menghargai hak cipta, dan menjalankan Ukhuwah Islamiyah.


Dan itulah visi lembaga pendidikan yang kupilih, semua lengkap menurutku. Seminggu 4x pertemuan selama 1,5 tahun adalah kelas yang kuambil yang terdiri :


3 bulan materi Fashion Stylist


6 bulan materi Fashion PR dan Marketing


9 bulan materi Fashion Designer


Itu tentang kuliahku, lalu bagaimana tentang hatiku?? Ohh, ini pembahasan yang kusukai, karena nyatanya aku mulai dekat dengan pria sang pemilik kartu nama yang telah mendekam dalam dompetku selama ini.


FIRGIE RAZKAFFA KHAIRAN


Nama yang sudah sangat melekat di hatiku, dan saat ini aku ingin selalu dekat dengannya. Yahh, walau awalnya lagi-lagi kupergunakan keponakan cantikku untuk bertemu dengannya kembali di tempat yang berbeda.


🌻Flashback


1 bulan yang lalu


"Assalamu'alaikumm ...." ucapku.


"Wa'alaikumussalam," jawab seorang pria dari balik ponselku.


"Mas masih inget gak, tentang ponakanku yang nahan pipis di ruko Mas tempo hari, efeknya baru sekarang nihhh. Pokoknya Mas harus tanggung jawab atau aku laporin ke kantor polisi..!!!" ujarku menggertaknya.


"Memang di rumah sakit mana keponakannya dirawat?" sang pria tampak menyelidik dan tak ingin lepas dari tanggung jawabnya.


"Barusan sudah ku share lokasi alamat kliniknya, pokoknya buruan dateng Mas..!!!"


"Aku pasti datang, tunggu saja disana..!!!" ujar sang pria tampak melihat jam di tangannya pukul 16:15 tampak disana, dan ia belum menjalankan ibadah asharnya. Iapun menuju toilet, berwudhu dan menjalankan ibadah di ruangnnya. Baru setelahnya ia pergi ke lokasi yang di arahkan melalui layar ponselnya.




"Lama banget sih Mas?"


"Mana keponakanmu?" ujar sang pria bertanya kearahku. Seraya tangannya meletakkan kunci Yaris yang semula berada dalam genggamannya ke sakunya kini.


"Mas kelamaan ... keponakanku sudah dibawa pulang bundanya. Soalnya aku masih ada 2 lagi ponakan di rumah, jadi gak bisa di rawat," ujarku.

__ADS_1


"Jadi bagimana caraku bertanggung jawab pada keponakanmu?"


"Gimana yaa? ya sudah aku fikirin nanti deh. Doain aja semoga keponakanku cepat pulih. Sekarang antar aku pulang aja.!!!" ujarku sedikit memaksa, walau awalnya ia terlihat ragu namun akhirnya ia mengangguk.


Wajah tampan seperti ini kufikir ia akan senang menggombal atau paling tidak mencari tau tentang aku, kufikir aku cukup cantik. Tapi semua hanya hayalku, pria ini diam seribu bahasa sepanjang perjalanan kami.


"Mas, Mas ... mampir makan dulu ya..!! aku laper, aku punya maag nih daripada aku sakit gimana?" ia tampak melirikku sekilas baru berujar setelahnya ...


"Mau makan apa?"


"Pecel ayam boleh Mas,"


"Aku masih baru di daerah Bandung belum tau banyak tempat makan disini. Kamu aja yang ngarahin jalan..!!" dan ternyata ia juga bukan asli orang Bandung, bertanya padaku ya tentu saja aku tidak tau.


Akupun menggeleng sejadinya saat ini,


"Ada apa?" tanyanya heran dengan gelengan kepalaku.


"Aku juga baru di Bandung, belum tau banyak wilayah sini," lirihku.


"Yauda kita cari dulu," ucap tenangnya.


"Mas, disana kayak rame tukang makanan tuh Mas ...," kutatap di depan jarak 5 meter dari kami, tampak tempat makan pinggiran dengan beraneka ragam pilihan disana.


"Mau makan disana?" tanyanya.


Akupun mengangguk hingga tak lama ia menepikan yarisnya dan kami beriringan mencari makanan yang hendak kami santap.


Akhirnya kami meliat bakulan pecel ayam yang tampak baru memasang tendanya tersebut, "Mas mau 2 posi yaa," ujarnya kemudian.


Ia masih dengan diamnya, semakin ia diam ia semakin terlihat cool dan mempesona, "Mas sebelum pindah ke Bandung memang tinggal dimana?" ujarku mencairkan suasana diantara kami.


"Oh ya, aku juga orang bekasi. Aku di Cikarang, mas dimana??"


"Bekasi Timur,"


"Wah Mass, kalau nanti mas balik ke bekasi boleh nih aku sekalian bareng," ujarku lagi.


Dan pria ini lagi-lagi hanya diam menanggapi ucapanku.


"Oiya kita belum kenalan, kenalkan namaku Shifa," ujarku.


"Sudah tau nama ku kan di kartu nama kemarin?"


"Yahh, aku ngesavenya cuma bakulan ketoprak tuh, siapa nama Mas yaa," ucapku kembali tampak berfikir.


"Firgie." dan ia akhirnya, menyebutkan namanya langsung.


"Aku manggilnya mas fir, mas Gie atau mas Firgie??"


"Terserah," jawabnya datar.


"Mas Firgie, mas sejak kapan mas berbisnis?" tanyaku mulai penasaran dengan bisnis yang dijalaninya, tapi tiba-tiba ...


"Mangga di taruang Teteh, Aa ...," seorang pelayan menghampiri dengan 2 piring pecel ayam saat ini.


"Nuhun Kang," ucap Firgie, yang merupakan nama laki-laki di sebelahku dan dibalas senyuman oleh pengantar makanan barusan.


"Wah, Mas keren nih katanya belum lama di Bandung tapi udah bisa bahasa Sunda," ucapku.

__ADS_1


"Ayahku berdarah Sunda jadi sedikit-sedikit aku tau," ucap Firgie kembali walau masih dengan nada datarnya.


Dan kami memulai makan kami saat ini, ia makan sangat fokus dan tanpa suara. Tapi sungguh aku sebaliknya tak ingin waktu yang ada sia-sia dengan ke-diaman, karena belum tentu nanti-nanti ada momen seperti ini.


"Mas, sambil jawab yang tadi dong, Mas sejak kapan berbisnis?"


"Memang penting tau usahaku? Aku membukanya sudah lama," ia menarik alisnya keatas setelah ucapannya selesai sambil matanya mengarah ke makananku seolah mengisyaratkan, jangan ngomong terus, tuh makan makanan!!, dan aku hanya mengerucutkan bibirku, tanda tak suka dengan ucapannya, nanya aja gak boleh apa? batinku.


Dan setelah beberapa saat,





Makanan di piring kami telah habis,


Ia tampak bangun dari duduknya, berdiri di sisi sebuah tiang listrik dan tampak merokok sambil menatap langit yang mulai meredup karna memang matahari baru saja masuk keperaduannya.


Dari jauhpun ia sangat tampan, tak bisa kubuang sedikitpun tatapanku dari sosok pria bernama Firgie tersebut.


Terlihat gulungan rokok di tangannya habis, ia membuang disisi sepatunya dan menginjaknya. Ia tampak berjalan menujuku saat ini.


"Mau merokok aja, menjauh segala. Disini juga gpp kali Mas," celotehku.


"Asap rokok tidak baik," ucapnya.


"Kalau tidak baik kenapa mas merokok, kalau menghisapnya gpp gitu?" aku merasa punya celah untuk berlama dengannya saat ini, lagi-lagi dengan membalikkan katanya. Serasa ingin tersenyum dalam hati sebetulnya.


Dan ia hanya tersenyum kecil menanggapi tanyaku, dan senyumnya ... duhh manis sekali, ia akhirnya mulai tersenyum padaku ...


"Sudah habis kan makanannya, ayo pulang..!!!" ujarnya kemudian.


Baru kami memulai perjalanan pulang kami, seketika terdengar ...


ALLÒHU AKBAR ALLÒHU AKBAR ...


Azan Magrib terdengar berkumandang, lantunannya sangat merasuk ke jiwaku, menghadirkan getar-getar kecintaanku pada Robbku, kami berdua terdiam meresapi suara azan berkumandang hingga akhirnya panggilan itu terhenti.


"Mas, Mas ... ada masjid tuh. Menepi dulu yaa," ujarku.


Ia tampak tak menanggapi ucapanku namun tangannya membelokkan setirnya ke Masjid yang ku maksud.


"Kenapa belum turun, katanya mau sholat. Ayo turun..!!!" ucapnya sambil menatapku yang hanya terdiam.


Dan aku akhirnya turun saat ini seraya ingin selalu tersenyum, ia menatapku tadi, aku tidak bermimpikan?? batinku.


"Kenapa nggak jalan? malah senyum-senyum sendiri," dan ia tampak meninggalkanku saat ini menuju masjid.




Telah kutunaikan kewajibanku pada sang pencipta, tak sabar rasanya bertemu pria bernama Firgie itu kembali. Tadi sepertinya aku melihat ia telah keluar saat ku masih merapikan hijabku. Mana ya orang itu?? Awas saja kalau ia sampai meninggalkanku ...


🌷🌷🌷


Segini dulu yaa ...

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2