
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?? Jika Mayra saja sampai hafal, apa Mbak Friss juga tau?? Apa selama menjadi suami mbak Friss, mas Dimas juga kerap mengigau seperti ini??
●●●●
🌻Pukul 04:00
Seperti sudah ada alarm otomatis dalam diriku, setiap malam aku akan terbangun di jam ini.
Kuangkat tubuhku dari pelukan mas Dimas, memastikan dengan melihat ponselku di meja, jam berapa ini. Dan sudah kuduga jam 04:00 tertera disana.
Tiba-tiba sepasang tangan yang menyadari aku melepas pelukannya, melingkarkan tangannya kepinggangku, menahanku untuk tak beranjak dari ranjang saat ini.
"Ini masih malam, mau kemana Sayang?" lirih suara seseorang yang semalaman tak membiarkan tubuhku terlepas dari dekapnya.
"Aku hendak sholat malam Mas, bagaimana jika kita sholat bersama?" ujarku sambil terus menggoda dengan menyapu-nyapu pipi mas dengan bibirku.
"Boleh, kau berwudhulah dahulu, nanti mas menyusul," ujar mas Dimas.
"Baiklah, tapi lepaskan dulu tangan Mas, aku tak bisa bergerak," lirihku.
"Ohh, maaf."
Segera kuangkat tubuhku saat tangan kekar mas Dimas melepaskanku, kupakai celana dalaman gamisku sebelum akhirnya aku keluar dari kamarku. Tersengar sayup suara ibu yang melantunkan ayat suci saat ini di kamarnya.
Aku segera berwudhu dan beranjak ke kamar kembali, aku berpapasan dengan mas Dimas saat ia hendak berwudu pula. Dan kamipun segera melaksanakan ibadah sunnah kami setelahnya.
Tak lama adzan subuhpun berkumandang, kami melanjutkan ibadah sunah dengan ibadah wajib kami berjamaah. Aku mengecup punggung tangan mas Dimas saat dia telah selesai memanjatkan do'anya. Iapun melanjutkan dengan mencium keningku dan seperti sebelumnya ia kembali menahanku dan meletakkan tangannnya di ubun-ubunku, mas Dimas kembali berdo'a memohon kebaikan dari diriku.
Mas Dimas sedang berkutik dengan ponselnya saat ini, sedang aku mulai merapihkan pakaian mas Dimas dan Mayra, memisahkan pakaian kotor dan pakaian bersih mereka agar tidak tercampur. Aku duduk di tepi ranjang membelakanginya saat ini.
Hingga tiba-tiba sebuah tangan melingkar penuh di pinggangku ...
"Mas ... aku sedang beberes," ujarku.
"Nanti saja lanjut beberesnya," bisik mas Dimas.
Mas Dimas menyibakkan rambutku kedepan dan kurasakan ia mulai mengecup leher belakangku.
"Mas sedang apa?"
"Mengganggu istri Mas," bisiknya kembali.
Mas Dimas seakan sengaja membuatku geli dengan menyapu-nyapu leherku dengan dagunya, tangannyapun mulai mengunci tanganku.
"Mass, gelii ... hentikan," lirihku sambil tak mampu menahan desiran dan rasa geli yang mulai menjalar keseluruh tubuhku. Dan akupun berbalik menghadapnya.
"Nahh, kalau begini mas kan jadi bisa memandang Lyra."
Mas Dimas mulai menyibakkan kembali rambutku kebelakang, membelai rambutku dan merapihkannya ke belakang telingaku.
"Terima kasih, bahkan hanya memandangmu saja mas sudah senang, mas masih serasa mimpi sudah menjadi suami Lyra," lirih mas Dimas.
"Mass, bicara apa sih," akupun seakan tersihir dengan tampannya wajah suamiku, kusapu-sapu lembut wajah mas Dimasku, matanya yang memancarkan rasa kasih, hidungnya yang mancung, dan bibir ini, bibir yang telah mengambil ciuman pertamaku, juga dagu lancip dengan janggut tipis yang selalu membuatku geli. Aku masih asik meraba wajahnya, memain-mainkan rambutnya. Hingga mas Dimas menangkap tanganku.
"Tanganmu nakal sekali menggoda mas Sayang," ujar mas Dimas seketika langsung memelukku.
"Tubuhmu sangat kurus, makanlah yang banyak Lyra," lirih mas Dimas.
"Iya, memang tubuhku tak berisi seperti mbak Friss bukan Mas?"
__ADS_1
"Heii, Mas tidak bermaksud membandingkanmu Sayang," ujar mas Dimas.
"Mas, ada yang ingin ku tanyakan," ujarku melepaskan pelukan mas Dimas.
"Katakanlah!!"
"Yang kutahu Mbak Friss sangat tergila-gila olehmu, bagaimana ia bisa menduakanmu?" tanyaku heran.
"Kenapa membahas wanita itu, kita bicara hal lain saja oke!" ucap Mas Dimas.
"Aku hanya heran Mas, kau bersikap baik padanya kan?"
"Apa harus mas sebutkan apa saja yang Mas lakukan bersama Friss?" ujar mas Dimas.
"Bukan begitu, apa kau mencintainya Mas?" tanyaku kembali.
"Mas mencintaimu Sayang."
"Bukan tentang aku Mas, tapi mbak Friss," ujarku.
"Mas sudah berusaha memperlakukannya dengan baik, mengapa ia bisa menduakan mas, mas tidak tau. Dan tidak ingin tau, puas?" tegas mas Dimas.
"Tapi kalian memiliki Mayra, kau pasti mencintainya dulu, iya kan Mas?"
"Jangan bertanya lagi oke!!"
"Mas, jujurlah! aku tidak akan marah. Apalagi tubuh Mbak Friss sangat berisi dan menggoda, kau pasti menyukainya, betul kan Mas?"
"Lyra, STOP!!" tegas mas Dimas kembali, sepertinya ia sangat tidak suka dengan pertanyaanku.
"Kau marah padaku Mas?"
"Mana pakaian Mas, Mas ingin mandi!" dingin mas Dimas.
🌻Apa aku salah? Akukan sekedar bertanya, kemarin mas Dimas juga mempertanyakan tentang Firgie dan aku tidak marah, batin Lyra.
🌻Maaf Lyra, mas tidak suka membahas Friss. Mas sudah berusaha keras mencintai Friss kala itu, tapi hati mas menolaknya, hati mas hanya menginginkanmu. Dan untuk mas, penghianatan itu sangat menyakitkan. Bukan tentang Mas, tapi tentang Mayra. Oleh karenanya mas tidak ingin membahasnya, perkara siapa yang salah dan benar, mas tidak ingin menengok kebelakang. Mas cukup ingin menatap masa depan bersamamu. Kali ini mas sedikit marah karena kau terus membandingkan tubuhmu dengan Friss. Dan untuk membuat puluhan anak sekalipun seperti Mayra, tanpa cinta-pun bisa, Sayang ..., batin Dimas.
Mas Dimas keluar kamar mandi dan segera berbincang dengan Bapak diluar.
Aku segera mandi, dan memandikan Mayra yang mulai terbangun setelahnya.
●●●●
🌻PUKUL 07.00
Seluruh anggota keluarga tampak sudah bersiap pagi ini, Bapak dengan seragam angkotnya, Sherly dengan pakaian kerjanya dan Ersha dengan pakaian sekolahnya. Kami berkumpul di ruang tamu sambil melahap sarapan kami. Karena Ibu memang sejak pagi sudah memasak Nasi goreng untuk kami. Mayra pula-pun terlihat sangat menikmati makannya, hari ini ia mau makan sendiri tidak mau disuapi, ujarnya.
Dan kini mas Dimas, memulai bicara di sela makan kami,
"Bapak, Ibu, jam 9 nanti, Dimas sudah akan kembali ke Bekasi bersama Lyra dan Mayra," ujar mas Dimas yang membuat seluruh anggota keluarga terperangah.
"Kenapa harus kembali secepat itu Dim?" tanya Bapak.
"Iya Nak Dimas, 2 harilah lagi lah Nak," tambah Ibu.
"Maaf Pak, Buk, Dimas juga ada pekerjaan yang harus Dimas urus, jadi tidak bisa berlama-lama disini," ujar mas Dimas lagi dengan nada sopannya.
"Yahh, Mbak, kok cepet banget sih pulangnya," ujar Ersha kepadaku.
"Mas Dimas kan kerja Sha, nanti klo senggang mbak Lyra juga kesini lagi kok," ujarku.
"Mayra di tinggal disini aja ya, temenin Uti," ujar Ibu menggoda Mayra.
"Mayla mau tapi sama Bunda nginepnya," celoteh Mayra.
__ADS_1
"Bunda biar pulang Dek, nanti anty Sherly ajak ke Mall deh," ujar Sherly merayu Mayra.
"Nggak mau kalo gak sama Bunda."
"Kalau nginepnya sama bunda, ayah sama siapa dong?" goda Ersha kembali.
"Nggak mau, Mayla mau ke Bekasi aja sama ayah, bunda," ujar Mayra dengan nada mulai kesal.
"Iya, Iyaa ... Mayra pulang ke Bekasi kok," ujar Bapak tak ingin ada tangisan di wajah Mayra.
"Kalau memang begitu yasudah, tolong Lyranya dijaga ya Dim," ujar Bapak.
"Pasti Pak," tegas mas Dimas.
Aku menatap mas Dimas saat ini, tapi mas Dimas tak sedikitpun melirikku. Apa Mas Dimas marah, atas kejadian tadi pagi? batinku.
"Baik, Bapak berangkat, ayo Sher, Sha, kalian harus berangkat juga bukan?" ujar Bapak setelah sarapan di piringnya habis.
Aku dan mas Dimas seketika berdiri mengantar Bapak dan adik-adikku berangkat, Bapak tampak menghampiriku saat ini.
"Bapak berangkat ya Nok, Dimas anak baik, Bapak tenang sudah ada yang menjagamu," ujar Bapak berbisik saat aku dalam dekapannya.
"Bapak jaga kesehatan selalu ya Pak," ujarku menahan air mata yang hampir menetes. Tak tega sebetulnya melihat Bapak yang mulai menua harus tetap menarik angkot untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Anak cantik, Akung kerja dulu ya," Bapak tampak mencium Mayra saat ini.
Setelahnya, bapak terlihat merangkul mas Dimas menjauh menuju angkotnya, " Tolong sayangi Lyra Dim, Lyra memang anak tertua tapi ia yang paling rapuh, beda sama 2 adiknya. Lyra terlihat luarnya tegar tapi dia cengeng, waktu kecil dia yang paling sering sakit tapi Alhamdulillah besarnya sehat. Bapak titip Lyra ya Nak," terlihat Bapak diam-diam menghapus air matanya. Mas dimas yang menangkapnya seketika memeluk Bapak.
"Dimas akan menyayangi Lyra seperti Bapak menyayanginya," ujar mas Dimas.
Tak lama kemudian, Bapak mengayunkan tangan kearah kami dari dalam angkotnya, dan seketika angkot Bapak sudah tak terlihat lagi.
Ersha dan Sherly tampak menyalami aku dan mas Dimas, baru kemudian menciumi Mayra yang masih asik dengan kerupuk di tangannya.
"Kami berangkat ya Mas, Mbak, Assalamu'alaikum," ujar keduanya yang berboncengan motor menjauh dari kediaman kami.
"Wa'alaikum salam," jawab salam kami yang masih tampak tertegun saat ini.
Aku mengikuti ibu ke dapur saat ini, Mayra tampak sedang menonton TV dan mas Dimas sibuk dengan laptopnya.
🌻PUKUL 09.00
"Kami berangkat ya Buk," ujarku memeluk dan mencium tangan ibu.
Mayrapun melakukan yang sama setelahnya.
"Titip Lyra ya Nak Dimas," lirih Ibu.
"Iya bu," ujar mas Dimas.
"Ibu ... ini ada sedikit dari Dimas," tampak mas Dimas memberikan Ibu sebuah amplop.
"Apa ini Nak, sudah ... yang kemarin masih banyak Nak," ujar ibu kaget dengan pemberian mas Dimas.
"Mass ... " lirihku.
Mas Dimas hanya melirikku dan berpaling kembali.
"Tolong diterima Bu, Lyra sekarang sudah tidak bekerja, kalau ibu butuh apa-apa jangan sungkan bicara pada Dimas," ujar mas Dimas yang membuat ibu hampir menangis dan seketika merangkul dan mengusap-usap bahunya.
"Terima kasih Nak, semoga rezekimu tambah banyak dan berkah," do'a ibu menjadi kata perpisahan untuk kami saat ini.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1