
"Kau percaya padaku kan Lyra.. Kau tunggu aku disana!"
****
Seorang lelaki tampak sedang mengendarai satria merahnya. Ia melajukan kendaraan diatas rata-rata biasanya, hatinya resah, gemuruh dalam jiwanya saat ini. Sangat tidak tenang dengan kondisi seseorang disana. Seorang gadis yang sejak awal pertemuannya sudah menarik hatinya.
Sungguh tak ingin ada suatu keburukan menimpa sang gadis. Ia semakin kencang melajukan motornya saat teringat suara tangisan sang gadis di sudut telefon beberapa saat lalu. Apa sebetulnya yang terjadi? Bagaimana gadis itu bisa sampai kesana? Bagaimana keadaannya kini? Banyak tanya berkumpul diotak Firgie. Satu keinginan dalam hatinya saat ini. Cepat menemukan gadis itu, Lyra...
Dilihatnya kembali kiriman lokasi dimana Lyra berada saat ini. Sudah hampir sampai, batinnya.
Tak berserang lama Firgie telah sampai pada titik yang dituju layar ponselnya. Ia menoleh kekanan dan kiri, mencari keberadaan Lyra. Hingga matanya menangkap seorang gadis di depan sebuah cofee shop. Gadis dengan celana jeans hitam dan tunik bermotif bunga-bunga tampak duduk disana dengan kepala yang ia rebahkan diatas meja. Walau saat ini sang gadis tengah duduk membelakanginya, Firgie yakin betul ia adalah Lyra sosok yang sedang dicarinya.
Dengan cepat Firgie menghampiri Lyra. Lyra tengah tertidur ternyata. Firgie terus menatap wajah dihadapannya, wajah manis nan meneduhkan yang belakangan ini selalu ingin ia lihat dan ia lindungi. Bekas tangis masih tampak terlihat di wajah sang gadis, ia tertidur sangat pulas hingga Firgie tak kuasa membangunkannya.
Tiba-tiba pandangan Firgie tak bergeming, ia tampak kaget. Ia memastikan apa yang tertangkap matanya. Pakaian di bahu Lyra sobek, terekspos jelas kulit putih Lyra dan tali bra yang terlihat disana. Segera Firgie melepas jaket yang ia pakai dan meletakkan di tubuh Lyra. Lyra tampak bergerak namun ia kembali tertidur. Lyra apa saja yang terjadi padamu? Kenapa pakaianmu sampai robek? Siapa yang melakukan ini? Tangannya mengepal, kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Awas saja orang itu!! geramnya.
Ia masih menatap wajah Lyra, mengelus kepala sang gadis. Lyra masih tak terbangun.
Pukul 21:25 saat ini, Firgie memutuskan membangunkan Lyra.
Firgie berdiri dibelakang tempat Lyra duduk, memanggil namanya berkali-kali sambil terus mengelus kepala Lyra.
"Ly.... Lyra..."
"Lyraa...."
Setelah beberapa saat akhirnya kepala sang gadis terangkat, ia mendengar suara yang ia kenal memanggilnya. Seketika Lyra berbalik dan memeluk pinggang laki-laki didepannya...
"Mas Di-mas..." lirih Lyra sambil kembali menangis tersedu.
"Akhirnya kau datang Ma-s, aku ta-kuutt..."
Walau kecewa dengan yang didengarnya, beberapa saat Firgie membiarkan sang gadis meluapkan pedihnya...
Tangan Firgie kemudian menyentuh dagu Lyra, mengangkatnya keatas.
"Aku Firgie bukan Dimas...!!!"
Lyra kaget dan melepaskan pelukannya, ia tersadar. Ia memang menghubungi Firgie tadi kenapa dengan bodohnya otakku menganggap Mas Dimas yang datang...
"Maaf Gie..." lirih Lyra tampak penyesalaan di wajahnya.
Bagaimana aku bisa mempermasalahkan hal seperti ini Lyra, setelah apa yang kau alami. batin firgie.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!!" ajak Firgie.
Lyrapun berdiri dari duduknya.
Firgie menyadari hijab tak tertutup di leher Lyra.
Dengan hati-hati Firgie mengambil sebuah pin yang terpasang di bagian depan jaketnya, jaket yang saat ini melekat di bahu Lyra. Lyra tampak heran apa yang Firgie lakukan dan juga bertanya-tanya mengapa sudah ada jaket dibahuku? Sejak kapan ada disana? batin Lyra.
Dengan hati-hati pula Firgie membetulkan hijab yang dipakai Lyra, kemudian meletakkan pin di bagian lehernya sebagai pengganti peniti yang entah mengapa bisa tak ada di tempatnya, batin Firgie.
Ia memperhatikan penampilan Lyra dari atas ke bawah.. Dan Ia cukup tenang karna pakaian Lyra masih rapi di bagian depannya. Tunik bunga selutut dengan model full kancing itu masih terlihat sempurna, tidak ada kancing yang terlepas atau sobek di seluruh bagiannya.
"Ada apa Gie?" Lyra tampak heran, Firgie terus memperhatikan penampilannya dengan seksama.
Firgie tak menjawab hanya sebuah senyum yang ia berikan menjawab tanya Lyra.
Firgie memasangkan dengan benar jaket yang tadi hanya tertempel saja di bahu Lyra. "Biar kau tidak kedinginan." Ujar Firgie sambil menaikkan resleting jaket hingga full keatas.
"Oke, ayo pulang!!" Firgie berjalan mendekati motornya berada diikuti Lyra di belakangnya.
Dimotor tampak keheningan diantara keduanya.
Diotak Firgie terus berfikir, siapa yang merobek pakaian Lyra, posisinya dibelakang. Itu berarti Lyra menghindar atau tepatnya laki-laki itu memaksa Lyra bahkan mungkin mengejar Lyra.. Perih hati Firgie membayangkan apa yang mungkin telah terjadi pada Lyra...
Ia meraih kedua tangan Lyra, menariknya hingga memeluk tubuhnya. Dan Lyra dengan nyaman sepanjang perjalanan tidur dibahu Firgie... Firgie perlahan mengendarai motornya dengan 1 tangan karna tangan lainnya menggenggam erat tangan Lyra erat di perutnya. Agar tidak terjatuh.
Pukul 21:41 mereka tiba dimuka kontrakan.
Firgie mengelus tangan Lyra membangunkannya. "Lyraa, kita sudah sampai..." ujarnya.
Lyrapun terbangun dan mereka berdua masuk kedalam kossan yang telah tampak sepi.
"Aku langsung mandi ya Gie.. tunggu aku sebentar." ujar Lyra yang ingin segera membersihkan dirinya dari smua perilaku Rendi yang sangat menjijikan beberapa waktu lalu.
Firgie seperti biasa duduk di sisi pintu yang terbuka. Ia tampak pusing, siapa laki-laki yang bersama Lyra tadi? mengapa mereka bisa bersama? dan kenapa Lyra bisa sendiri disana.. Kemana laki-laki itu, kurang ajar!! Bahkan Lyra tidak tau dimana ia berada saat menelefonku. Apa jadinya jika aku tak datang.. Lyra, mengapa kau begitu ceroboh. Haruskah aku menanyakan semua pada Lyra?? tidak.. tidak saat ini perasaanya mungkin belum stabil.
Tiba-tiba Lyra muncul dari balik dinding keluar dari kamar mandi yang terletak di sudut kossan. Setelan piyama kucing dipakainya saat ini, rambut panjangnya tergerai tampak habis di keringakan dengan handuk.
Wajah cantik ini, tak akan kubiarkan siapapun menyentuh apalagi merusaknya.. batin Firgie
Lyra segera duduk disisi Firgie, keduanya saling bertatap..
"Terima kasih Gie..." ujar Lyra.
__ADS_1
Firgie menjawab dengan senyuman, banyak tanya diotaknya membuat kata tak mampu terucap di bibirnya. Rasa kasihan terpancar pula untuk gadis yang duduk di sisinya kini.
"Gie... tadi aku....."
Firgie meletakkan telunjuk dibibirnya, "jangan cerita sekarang, kau istirahat saja malam ini dengan baik!" lirih Firgie walaupun sebetulnya ia sangat ingin mendengar smua yang terjadi, tapi ia menahannya untuk kenyamanan sang gadis.
Terdengar suara bakulan nasi goreng di luar kossan.
"Kau sudah makan Ly?"
Segera Firgie keluar memanggil tukang nasi goreng yang melintas saat dilihatnya Lyra menggeleng menjawab tanyanya.. *Lyra belum makan...
"Ko belinya 1?" tanya Lyra saat Firgie kembali hanya membawa 1 bungkusan ditangannya.
"Aku nanti makan di rumah saja, lihat sudah hampir jam 10. Aku harus pulang, kau harus habiskan smuanya yaa!!" ujar Firgie sambil memakai jaketnya.
Tampak wajah kecewa di wajah Lyra karna Firgie harus meninggalkannya..
Kenapa cepat pulang Gie, banyak yang ingin ku ceritakan padamu.. tapi memang waktu membatasi kita.. Terima kasih Gie... Terima kasih untuk semua perhatian dan pertolonganmu... Kau adalah teman terbaik yang kumiliki, batin Lyra.
"Hati-hati Gie..." lirih Lyra.
"Kau yang hati-hati, langsung masuk dan habiskan makannya ya!" ujar Firgie meninggalkan senyum manisnya.
"Assalamu'alaikum.." ujar Firgie lagi sambil terus menatap Lyra hingga akhirnya ia berlalu.
"Wa'alaikum salam" jawab Lyra.
*Diluar kossan Firgie tampak mendengus aroma di jaketnya, aku suka wangi tubuhmu menempel di jaketku ini Lyra...
Sepertinya dalam waktu lama tak akan kucuci jaket ini...
Sesaat kemudian bayang Firgiepun telah menghilang...
nengok Firgie yukk😉
****
#Salam Cinta ❤ dari thor
PLEASE kasih jempol, rate dan vote ya!!!! sebagai apresiasi untuk thor😍 jangan di baca aja!!! kasih komen juga buat perbaikan thor🙏🙏 biar popularitas Thor naik..
__ADS_1
#Happy reading😉