Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Mungkinkah???


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻KEDIAMAN CIKARANG


Ini adalah hari keduaku di rumah Ibu Cikarang. Selain melepas rindu, Mas Dimas juga sedang gencar mengontrol ruko di Jababeka yang mengalami penurunan omset. Aldo juga ada disini, ibu pribadi yang menyuruh Aldo menginap di rumah, agar rumah tidak sepi katanya. Setelah Aldo meminta pendapat Mas Dimas, akhirnya Aldo mengiyakan keinginan ibu tersebut.


Mbak Dinar juga ikut menginap di Cikarang, guna membantuku mengurus si kembar. Dan siang ini kami berencana bersilaturahmi ke rumah kak Fida sekaligus menengok rumah kami yang sudah lama tak kami datangi.


Tampak kini pria tampan dengan outfit casual celana jeans dan kaos putih memasuki kamarku, Dirga sudah siap bersama mbak Dinar di lantai bawah saat ini, sedangkann Diyara baru selesai kugantikan pakaian. Diyara tampak sedang bermain sendiri di atas karpet bulu saat ini, sesekali ia merangkak menghampiri kakiku yang masih duduk di depan meja rias merapikan hijabku.


Mas Dimas yang baru masuk seketika meraih tubuh mungil Diyara dan membawanya ke ranjang. Ia tampak berceloteh bersama Diyara sambil sesekali melirik kearahku.


Dan untuk memastikan kembali seluruh penampilanku, kuberdiri di hadapan cermin panjang yang menampilkan keseluruhan tubuhku kini. Gamis semi jeans dengan aplikasi kain perca yang dipotong kotak-kotak sebagai variasi di sertai resleting busui untuk memberi kebutuhan si kembar sudah tampak melekat cantik di tubuh tinggiku, hijab segi 4 instan berwarna hitam berbahan jersey kupilih melengkapinya.


Dan kini aku duduk di tepi ranjang hendak menggunakan kaos kaki jempolku, hingga tiba-tiba mas Dimas mulai menggodaku ...


"Bidadari mana sih ini?" bisik mas Dimas seraya mengunci tubuhku dari belakang, beberapa kecupan tamoak didaratkannya di bahu belakangku.


"Mass, aku masih bersiap," ujarku.


"Parfummu terlalu wangi Sayang, lain kali keluar tidak perlu menggunakannya. Cukup di rumah menggunakan parfumnya," lirih mas Dimas menghembuskan nafasnya di leherku.


"Masa sih Mas, sepertinya aku memakai parfum biasa saja dan tidak terlalu banyak," lirihku heran.


"Tetap saja, indra penciuman pria tajam Sayang, lain kali tidak perlu menggunakan parfum saat keluar oke!! atau mas akan hawatir saat kau keluar rumah terlebih saat kau keluar tidak bersama Mas," ucap mas Dimas kembali sambil lagi lagi menghembuskan nafas di leherku.


"Mas terlalu berlebihan, siapa juga yang akan melirik wanita dengan 2 bayi bersamanya," ujarku sambil ku gerak-gerakkan kepalaku geli dengan keusilan mas Dimas.


"Jangan salah, kau lihat di berita, yang sudah lanjut usia saja banyak menjadi korban. Apalagi kau yang masih cantik,"


"Mas nakal, mencari celah untuk menggombal."


"Mas serius dengan kata-kata Mas," seketika mas Dimas mengangkat daguku dan mengecup sekilas bibirku.


"Sudah selesai pakai kaos kakinya bukan?Lekas pakai sepatu ketsmu, ayo kita berangkat..!!!"




Aku berjalan di tangga bersama mas Dimas saat ini, tampak Diyara memeluk manja sang ayah yang sedang menggendongnya. Di lantai bawah ibu sedang bersama mbak Dinar tampak mengajak berbincang dirga cucu kecilnya. Dan Mayra tampak sedang memakai sepatu ketsnya di tepi.



"Sudah mau berangkat?" ujar ibu saat ini.



"Iya Bu," jawab mas dimas.



"Kalian pulang kerumahkan malam ini?" tanya ibu kembali melihat tas bayi kami tampak penuh.



"Kami kerumah Fahmi sekaligus menengok rumah kami Bu. Kemungkinan malam ini kami akan tidur di rumah kami. Besok siang kami akan kembali kesini lagi."



"Ahh, Sayang. Benar ya, besok siang sudah kembali?" ibu memastikan kembali apa yang di dengarnya.



"In syaaAlloh Bu," ujarku.



"Diyara cantik Uti, *cup ... cup* ...


Dirga gantengnya Uti, *cup ... cup* ... sampai bertemu besok lagi Sayang,"



"Utiii ... Mayra juga mau dicium seperti dede kembar," dan Mayra tampak bergelayut pada gamis utinya saat ini.



"Yang ini sudah pasti kesayangan Uti yang paling cantik." Uti Arini tampak menciumi Mayra saat ini membuat seketika wajah Mayra merona bahagia.



"Apa Mayra sudah cantik seperti Bunda Uti?"



"Sangat mirip seperti Bunda, cantik. Seperti bayangan Bunda." Kembali Mayra tersipu dan segera menghambur malu memeluk kakiku.



Mayra memang menggunakan outfit seragam sepertiku saat ini, gamis jeans berpadu hijab hitam dengan model segitiga depan sepertiku, juga sepatu kets yang sama pula dengan yang kupakai.



"Oke! Kita berangkat sekarang ya, agar saat zuhur kita sudah di tempat Fahmi," ucap mas Dimas tampak bersemangat.



Akupun tersenyum seraya mengangguk mengiyakan.



"Dimas, pelan-pelan saja mengemudinya yaa..!!! Jika sikembar rewel berhentilah sejenak cari udara di luar," ucap ibu dengan kehawatiran tampak disana.



"Iya ibuku Sayang," mas Dimas seketika mengecup kening ibu dan bersaliman setelahnya. Aku, Mayra dan sikembar turut mengecup tangan uti juga saat ini.



●●●●



🌻**PUKUL 12:10**

__ADS_1



Terios Mas Dimas segera menepi saat di lihatnya rumah sang sahabat telah di depan mata. Satu persatu dari kami segera keluar menuju rumah yang sudah lama tak kami datangi tersebut.



Dan tak lama ...



"Ami, Bunda udah dateng tuhh," Irsya lucu yang mengintip dari jendela seketika berteriak memanggil Aminya.



Tak menunggu lama, Irsya, Ami Fida dan Abi Fahmi telah nampak di depan pintu menyambut kedatangan kami. Abi Fahmi segera memeluk mas Dimas sang sahabat dengan erat, "Apa kabarmu Bro?"



"Alhamdulillah aku sehat Fah," jawab mas Dimas seraya menepuk bahu sahabatnya.



"Bundaa," dan Irsya seketika memeluk kakiku saat ini.



Kak Fida segera berjalan mendekat dan mengangkat tubuh Irsya sehingga ia bisa mencium dan memeluk tubuhku.



"Ini adik bayi Bunda?" akupun mengangguk dan tersenyum pada Irsya yang oernah sangat dekat denganku dulu.



"Adik bayi bunda lucu, boleh Issya cium dede," celoteh Irsyaa tampak antusias melihat Diyara dalam dekapanku.



"Tentu saja boleh Sayang," ucapku seraya mendaratkan kecupan di pipi Irsya.



Tak lama Irsyapun mencium Diyara baru setelahnya ia meminta turun dan segera berlari menghampiri sahabatnya, Mayra.



"Lyraa ... " dan Kak Fidapun turut memelukku juga saat ini.



"Kak ...." sapa ku pula dengan lirih.



"Inikah Diyara?"



Aku mengangguk




Tak lama Kak Fida beralih pandangannya pada Dirga yang tertidur dalam dekapan mbak Dinar, "Ini pasti Dirga, iya tampan seperti ayahnya."



"Ami Fida," dan Mayra tiba-tiba mendekati Fida dan mengecup tangan ibu sahabatnya tersebut.



"Anak pintarr .. Mayra cantik, sudah tambah tinggi dan besar juga," ucap kak Fida dengan tatapan tak terlepas dari wajah cantik Mayra.



"Sudah ... Sudah, ayo kita lanjut di dalam rumah kangen-kangenannya," ujar Abi Fahmi menggiring kami semua masuk rumah saat ini.






"Sikembarmu langsung bawa ke kamar saja ya Ly, biar nyaman bobo-nya."



Dan akupun mengikuti langkah kaki kak Fida ke kamar tamu saat ini. Kak Fida mendekap Dirga dalam dekapannya. Mbak Dinar tampak mendampingi Mayra yang langsung asik bermain dengan Irsya. Mas Dimas dan Mas Fahmi di ruang tamu menyeruput teh hangat yang sudah di sajikan oleh Bik Minah ART kak Fida.



"Anak-anakmu cantik dan ganteng Ly, juga menggemaskan," ucap kak Fida seraya menatap kedua bayi kembarku yang tampak tidur berjejer saat ini.



"Alhamdulillah Kak," ucapku seraya tersenyum pula.



"Maaf aku dan mas Fahmi tidak menjenguk Diyara saat itu, karena kondisi Salsa yang juga kurang sehat ketika itu," ucap kak Fida lirih dengan wajah penyesalan disana.



"Tidak apa-apa kak, yang terpenting mimpi buruk itu telah berlalu. Oya kak, mana Salsa putri kecilmu? Dia pasti sudah bisa berjalan saat ini bukan?" tanyaku dengan antusias.



"Ia baru saja tidur. Benar, ia sangat aktif Ly. Setelah bisa berjalan kami benar-benar tidak boleh lengah mengawasi Salsa."



"Pasti Salsa sangat menggemaskan. Aku juga sering tak sabar melihat kedua bayiku berlari," lirihku.



Dan seketika kulihat kaki Dirga mulai bergerak, dan sebelum ia terbangun segera kuraih tubuh mungil Dirga dan kuberikan hak ASI atasnya. Iapun tertidur lagi setelahnya.

__ADS_1



"Kedua bayimu ASI semua?" tanya kak Fida yang serius memperhatikan aktifitasku menyusui Dirga.



Akupun mengangguk.



"Hebat, Salsa bahkan sudah tidak ASi," lirih kak Fida.



"Lho kenapa Kak??"



"Beberapa bulan usia Salsa, aku terkena Typus dan harus di rawat di Rumah Sakit, saat itu aku tidak bisa memberikan Salsa ASi. Jadilah Salsa yang saat itu di rumah bersama neneknya diberikan SuFor untuk pengganti ASiku. Dan setelah seminggu aku di rawat, kuberikan lagi Salsa ASI ku dan ia tampak menolaknya dan terus menangis," terlihat kesedihan di wajah kak Fida saat ini.



"Sabar Kak, In sya Alloh itu bukan kesalahanmu toh memang keadaan yang membuat Kakak tidak bisa memberi Salsa ASI saat itu," Kak Fidapun mengangguk mengiyakan ucapanku.



"Ceritakan tentang Diyara Ly?"



"Diyara putriku yang spesial Kak, ia mengidap jantung bawaan dari Uti Arini. Saat itu 1 bulan usianya dan aku harus melihat putriku dengan berbagai selang di tubuhnya ...



Dan aku seketika menghentikan ceritaku.



"Jangan dilanjutkan jika akan membuatmu bersedih mengingatnya," ucap kak Fida yang melihat gurat kesedihan di wajahku.



"Iya Kak, alhamdulillah kondisi Diyara sekarang telah pulih. Ia aktif dan tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Hanya saja ...



"Hanya kenapa??" Kak Fida tampak penasaran dengan kelanjutan ceritaku.



"Sisa operasi yang dialami Diyara meninggalkan tanda yang selalu mengingatkanku selalu akan hari itu."



"Maksudmu??"



Kubuka perlahan kancing gaun Diyara ...






"Ohhh, sudah ... sudah Lyra jangan di buka lagi.!!! Anak yang malang, Diyara ... Kau orang tua spesial yang dianugrahi anak yang spesial pula Lyra," ucap kak Fida kini setelah melihat tanda yang dimiliki Diyaraku.



"Iya Kak," jawabku.



"Lyra, aku mendengar suatu kabar ...



"Apa Kak?" aku antusias namun tak tahu apa sebetulnya yang ingin di bahas oleh kak Fida.



"Kau pernah mengatakan Firgie memiliki usaha ketorak bukan?"



Akupun mengangguk perlahan.



"Aku pernah beberapa kali kesana Ly," kak Fida tampak berbicara dengan serius.



"Kak, tolong aku tidak ingin membicarakan tentang laki-laki itu," lirihku.



"Dengarkan aku dulu Lyra, entah yang dimaksud Firgie atau bukan, tapi menurut seorang karyawan di rukonya. Sang pemilik usahanya adalah pria ya-ng ca-cat," lirih kak Fida dengan sangat hati-hati.



"Maksud Kakak?" aku masih tampak belum memahaminya.



"Pemilik bakulan Keroprak Mas Gie yang kau ceritakan, Ia katanya seorang yang *Bu-ta*."



*Haaahhhh*



🌷🌷🌷


__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2