Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kemarahan Mas Dimas


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


BRAKKK, pintupun terbuka..


BUG ... BUG ...


Kutarik pria yang menghimpit Lyraku, Kulayangkan beberapa pukulan ke wajah pria brengsek itu.. Sosok pria brengsek yang ternyata adalah ...


Kakak Sepupuku ....


●●●●


Mas Dimas menutup pintu kamarnya, tak ingin ada orang yang mendengar kegaduhan di kamarnya.


Ia kembali mendekati Rendi, menarik kembali kerah kemeja pria tersebut,


BUG ... BUG ...


Mas Dimas memukul kembali Rendi, emosinya memuncak setelah apa yang telah dilihatnya beberapa saat lalu.


Rendi tak mau kalah, perkara benar atau salah yang dilakukannya, Ia tak mau terlihat kalah dari Dimas walau dalam bidang baku hantam sekalipun.


Ia mulai membalas pukulan Dimas, namun segera di tangkis oleh Dimas. Beberapa kali Rendi maju dan memukul kembali. Tampak sebuah pukulan mengenai wajah Dimas saat ini, darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Lyra yang melihat ada darah di wajah calon suaminya mulai panik. ia berusaha melerai keduanya.


Lyra Menarik lengan Dimas ketepi.


"Sudah Mass, jangan berkelahi lagi, tolong!! aku tidak ingin melihat mas terluka," lirihku.


"Kau duduklah disini Lyraa," mas Dimas menyuruhku duduk di tepi ranjang dan mereka melanjutkan kembali baku hantam mereka. Rendi mulai terkulai, mas Dimas mendorong tubuh Rendi ke tepi bersandar di dinding dan menahannya.

__ADS_1


"Katakan Mas, aku punya salah apa padamu, hingga kau tega menyakiti calon istriku?"


"Bahkan kau menyakiti calon istriku di kamar calon suaminya sendiri, menjijikan."


"Kurang baik apa keluargaku padamu, kami memberikan kasih sayang padamu tapi kau menghancurkannya?


"Jawab mas?"


"Ayo katakan!!"


"Kau seperti Kakak untukku, tapi perilakumu sungguh tak bisa kumaafkan, kau dengar aku mas!! aku membencimu mulai saat ini."


Dan aku ... masih dalam tangisku melihat pertikaian 2 saudara dihadapanku.


Samar kulihat rendi mulai bicara ...


"Membenciku? Silahkan ...." ia mulai tertawa sambil menahan sakit atas pukulan mas Dimas.


Wajah yang tadi tampak tertawa, kemudian keras, tiba-tiba Rendi kini memohon-mohon lirih pada mas Dimas. Kau sakit Ren ..., batinku. Dan mas Dimas, mengapa ia menatapku kini, apa mas Dimas mulai kasihan pada Rendi dan akan memberikanku pada laki-laki brengs*k itu? segera kugelengkan kepalaku sejadinya, aku tidak mau ..., batinku*.


"Kau sakit mas, Kau fikir Lyra sebuah barang-kah? Hentikan ini Mas!! Kau harus bersyukur dengan hidupmu!! Berubahlah Mas!! Kau memiliki usaha yang luar biasa!! Kau bisa memiliki wanita manapun, bahkan tidak menutup kemungkinan kau akan mendapatkan wanita yang lebih dari Lyra-ku, pergilah Mas!! Jangan muncul lagi dalam kehidupan kami!! Atau aku tidak akan segan menghabisimu!!!" tegas mas Dimas.


"Sekarang, Pergiii!!!!" teriak mas Dimas.


Rendi-pun seketika keluar dari kamar dengan langkah gontai ...


Mas Dimas menghampiriku, ia membelai kepalaku kini


"Ayo, mas akan mengantarmu pulang," lirihnya.


Kudangakkan kepalaku, kulihat wajah mas Dimas tampak ekspresi kesedihan menatapku, dan kulihat darah mengucur di bibirnya ...


"Kau berdarah Mass,"

__ADS_1


"Mas tidak apa-apa, ayo ikut Mas!!" Mas Dimas langsung meraih tanganku dan menggenggamnya. Setelah kejadian tadi, mas Dimas penolongku, ia juga akan menjadi suamiku, akupun membiarkannya ...


"Tapi banyak orang diluar Mas," lirihku.


"Kau percaya pada Mas, kan? Ayo ikut Mas!!"


Akupun menyamakan langkah Mas Dimas dan berjalan beriringan dengannya kini.


Mas Dimas membawaku kesudut lantai 2, ternyata disana ada tangga lain yang mengarah ke belakang rumah. Ada gerbang tinggi disana. Dan mas Dimas tampak membuka pengunci gerbang tersebut. Dan kami diluar kini. Mas Dimas meraih ponsel disakunya dan menelepon seseorang.


"Mang Supri, bawa Jazzku ke gerbang belakang!! Aku tunggu sekarang!!"


Setelah menutup telponnya Mas Dimas kembali menatapku, meyapu bahuku tanpa kata ...


Mobilpun tiba.


Mang Supri segera keluar, menganggukkan kepala lantas segera berlalu meninggalkan kami.


Mas dimas membuka pintu untukku, mempersilahkan-ku masuk. Dan segera ia masuk pula ke posisi kemudi setelahnya.


Suasana diantara kami masih hening, mas Dimas terus melajukan Jazznya, entah ia akan membawaku kemana aku tak tau, namun aku mempercayainya.


Mas Dimas menepikan Jazznya kini kesisi sebuah taman yang terlihat agak sepi. Ia menatapku dan menarik kepalaku kedadanya ...


••••


••••


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


🌻Jangan lupa kasih komen ya!! vote juga boleh banget😃😃

__ADS_1


__ADS_2