
Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
Mas Dimas seketika merangkul bahuku menyadarkanku dari lamunku, hingga aku menoleh dan terkaget, kuterkekeh setelahnya karena tertangkap menatap pria lain sebelumnya.
"Jaga matamu, bukan kau yang sedang diminta Firgie tapi Shifaa, adikmu."
Di ruang tamu masih tampak obrolan antara Firgie dan Ayah Ibu, ingin sekali aku terus menyimaknya namun tiba-tiba terdengar suara tangisan dari lantai atas. *Oh, anakku sepertinya terbangun*, batinku.
akupun segera ke lantai atas menghampiri anakku, terus kususui Diyara dalam dekapanku berharap bayi mungil ini segera tertidur kembali karena aku sungguh penasaran dengan jawaban Firgie tapi nyatanya bukan kantuk dirasakan Diyara melainkan ia bertambah segar, dan dengan nakal ia hanya memainkan pucuk ASIku seraya sesekali menggigitnya.
"Ahhh, sakit Sayanng ... Diyara sudah kenyang??" kutatap ia terus mengerjap-kerjapkan matanya, kutarik pucuk ASIku tapi ia terus menahannya, akhirnya kutekan lembut hidung mungilnya baru ia membuka mulutnya.
"Ya sudah ayo kita ke bawah yaa," ujarku seraya terus kuciumi pipi mungilnya.
Kutatap Dirga masih sangat pulas diranjangnya, hingga aku beranjak kelantai bawah dengan tenang.
Dan dibawah ternyata pembicaraan serius telah selesai, ibu dan ayah tampak sudah tak terlihat mungkin mereka sudah masuk ke kamarnya, demikian dengan Ibu dan Bapakku yang juga tak terlihat.
Diruang tamu Shifaa tampak sedang berbincang dengan Firgie, terlihat Shifaa bergelayut manja dilengan Firgie pemandangan yang tak kusukai bagaimanapun mereka belum muhrim, tampak Shifaa tak melihat kehadiranku sebaliknya Firgie terlihat berusaha menjauhkan dirinya terlebih saat ia menangkapku sudah di dasar tangga. Tampak pula Mayra disisi mereka masih bermain ponselku.
Kucari bayang suamiku dan ternyata ia sedang asik berbincang masalah pekerjaan dengan Aldo di ruang kerja. Kuturunkan Diyara kini di ruang televisi dan kududukkan diriku di sofa sambil mengamati putri kecilku dengan otakku yang sibuk menerka jawaban Firgie atas tanya ibu.
Dan bayiku terus saja merangkak dengan cepatnya hingga sampai ia di teras depan. Segera ku berlari dan ternyata bayiku kini sudah dalam dekapan seorang pria, Fikra. Ia masih menunggu sang kakak diluar ternyata.
Diyara terus tertawa mendengar celotehan Fikra yang membaringkannya di pergelangan tangannya. Fikra seketika terkaget melihat kehadiranku, akupun memilih duduk saat ini di kursi santai teras rumahku.
"Mbak Lyraa ...," ujar Fikra tatkala menangkap bayangku.
"Haiii Fik," balas sapaku.
"Ternyata benar kulihat tadi adalah mbak, kufikir hanya seseoang yang wajahnya mirip denganmu mbak," ucap Fikra dan akupun seketika tersenyum.
"Garis takdir yang aneh," ujar Fikra kemudian.
Akupun kembali tersenyum kecil yang sedikit kupaksakan.
"Ini putrimukah Mbak?"
"Iya," jawabku.
"Gadis kecil yang cantik, sangat mirip sepertimu Mbak," ucap Fikra seraya sesekali mengelitiki tubuh mungil Diyara dan seketika ditanggapi tawa dan celoteh Diyara.
"Terima kasih," jawabku.
"Awalnya aku bingung saat Mas menyuruhku datang ke Bandung dan ikut menghadiri acara pengajianmu, dan beberapa saat lalu aku lebih terkejut saat mas tiba-tiba melontarkan keseriusan untuk seorang gadis. Sebab yang kutahu selama ini hanya kau wanita yang ada dihatinya. Namun melihat kehadiranmu tadi, dan ternyata kau masih memiliki hubungan dengan gadis yang didekati mas Gie aku jadi memahami yang terjadi," ucap Fikra tenang dan sangat hati-hati.
"Apa yang kau pahami?" lirihku.
__ADS_1
"Gadis itu adikmu-kah Mbak?"
"Ia adik suamiku," ujarku.
"Pria yang tempo hari dengan gadis kecil mencarimu di bakulan pasti, ia juga beberapa kali ke bakulan mencari masku, entah apa yang ia fikirkan," ucap Fikra.
"Ia itu dia, kau tadi juga pasti melihatnya dirumah ini bukan? tunggu, kau bilang Mas Dimas mencari Firgie? aku bahkan baru tau." *Mungkinkah saat Mas rapuh dan berusaha mendonorkan mata ke Firgie?? ahh entah biarkanlah* ... batinku.
"Iya aku melihatnya. Kalian sangat serasi. Walau hati kecilku mengatakan kau akan lebih serasi dengan masku."
"Jaga ucapanmu Fik, jangan ucapkan kalimat yang pemilik rumah ini tidak menyukainya, akan tidak baik jika ucapanmu di dengar suamiku."
"Aku mengerti Mbak, maaf," ujar Fikra setelahnya.
"Jujur aku kasihan pada adikmu Mbak, maaf adik suamimu maksudku ...."
"Kenapa?"
"Karena memberikan hatinya pada laki-laki yang hanya menyimpan hatinya untuk mbaknya."
"Jaga ucapanmu sekali lagi Fikra..!!! mbak tidak suka kata-katamu. Firgie sudah membuka hatinya kembali. Dan mbak sudah hilang dari hatinya," ujarku.
"Itu menurut mbak, atau yang mbak dengar tapi aku lebih tau masku, saat buta hingga melihat hanya kau yang difikirkannya, ia sangat penasaran apa mbak bahagia dengan kehidupan mbak saat ini atau tidak. Masku tidak pernah menghilangkanmu Mbak, masku memang pribadi yang suka berkorban jadi aku tidak aneh dengan prilakunya malam ini.
"Mbak harusnya lebih tau, dulu atau skarang masku tetap sama. Mungkin saja ia bersama adikmu untuk memastikan kebahagianmu selalu."
"Hentikan Fik, ucapanmu tidak masuk akal, kemarikan putriku," dan seketika kuambil Diyara dari pangkuan Fikra dan akupun beranjak masuk ke dalam.
*Seketika pula tampak bayangan yang juga mendahului aku masuk, siapa barusan?? Ada yang mendengar pembicaraan kami kah*??
•
•
Dan aku memilih ke kamarku saat ini, merebahkan diri di ranjang bersama Diyaraku, hingga seketika seorang wanita paruh baya tampak masuk kedalam kamarku, ibuku yang masuk dan duduk di tepi ranjangku kini, akupun mengangkat tubuhku dan ikut duduk didekat ibuku.
"Ly, ibu pamit ya, besok habis subuh ibu langsung balik ke Tangerang," ujar ibuku seraya menyapu bahuku.
"Kamu dan Dimas baik-baik yaa, hal sekecil apapun dibicarakan dengan kepala dingin jangan pakai emosi," ucap ibu kembali dan seketika kurangkulkan tubuhku kedekapan ibuku. "Terima kasih Buu," lirihku setelahnya.
"Maaf Lyra sering merepotkan ibu," ujarku kembali.
"Iyaa ...," ucap ibu seketika melepas pelukanku dan menatapku seksama.
"Ly, gak tau kenapa ibu tadi seneng ngelihat mantan pacarmu bicara saat meminta adiknya Dimas, gentle ya orangnya, langsung to de point dan kelihatan sangat dewasa," ucap ibu penuh semangat saat ini.
Akupun seketika tersenyum sambil kugeleng-gelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Ibu serius Ly, ibu jadi penasaran kenapa kamu dulu pisah sama dia, kalau dia selingkuh kayaknya nggak deh, kamu juga gak mungkin. Kenapa emang kamu dulu pisah??" tanya ibu penasaran.
"Itukan masa lalu Buu, gak bagus dibicarain," ujarku.
"Ibu cuma penasaran aja Nok," ujar ibu kembali.
"Cerita dong Nok..!!!" ucap ibu lagi.
"Gimana ya Buu, nggak enak kalau mas Dimas denger."
"Dimas kan lagi dibawah, nggak denger mesti, ayo cerita..!!!"
"Baik, Lyra sama Firgie pisah baik-baik dan gak ada masalah Bu, kami takut kalau Alloh gak suka dengan hubungan kami," ujarku rasanya sesak membuka kisahku dulu.
"Maksud kamu??"
"Dulu Firgie minta waktu 1 tahun, tapi dia gak dateng dan ternyata saat itu dia kecelakaan dan buta Bu."
"Kalau gitu Firgie duluan yang pernah mau nikahin kamu? Wahh kalau gak kecelakaan Firgie jadi menantu ibu itu," polos ibu.
"Udah ahh Bu. Lagian ibu bukannya muji memantunya malah muji lelaki lain sih, mas Dimas juga hebat ko bu dimata Lyra,"
"Ya mesti kamu bela suamimu. Tapi Dimas suka lemah, anak ibunya banget dia."
"Husss ibuu. Ini rumah mas Dimas ibu ngomongin yang punya rumah gimana sih? Hati-hati dinding di rumah ini dibuat mas Dimas punya telinga lho Bu," ucapku mengganggu ibuku.
"Ihh kamu, iya mas Dimas ibu akui nggak pernah kurang mencintai kamu dan anak-anaknya, kamu bikin ibu takut aja nih kalau Dimas sampe denger."
"Wahh bakalan ibu gak di transfer uang lagi sama Mas lho, kalau Mas tau ibu dukung Firgie daripada dia," ucapku masih menggoda ibu.
"Ya jangan to Ly ..."
Dan aku tak bisa menahan tawaku melihat kepanikan ibu saat ini.
"Udah ahh ibu mau ke kamar keburu Dimas dateng," sesaat kemudian ibu sudah menghilang tanpa menyadari ada sosok yang ikut mendengar pembicaraan mereka.
Akupun duduk kini dihadapan putri kecilku dan berceloteh dengannya, tampak ia sangat ceria dan segar tak mengantuk terus berceloteh seraya berteriak menghentak-hentakkan kakinya ke ranjang.
Hingga tiba-tiba kurasakan tangan yang melingkar kuat dipingangku.
"Mass ...," lirihku karena tak ada sosok lain sudah pasti ini suamiku.
*Mas mencintai Lyra ... sangat* ...
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1