Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Akan Serius Dengan Shifaa


__ADS_3

Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


"Maksudmu Gie??"


"Lyraa ... aku tau ini tak benar. Tapi bagaimana lagi jika hatiku tak menginginkan sosok lain selainmu???


"Giee ... apa-apaan ini? kau mempermainkan perasaan adikku kah?"


"Hahaha, kau terlalu serius Ly, tidak ada seperti itu. Aku serius dengan Shifaa. Sulit sebetulnya menghilangkanmu, tapi Shifaa sudah memberi warna lain untukku. Aku sungguh menyukainya, walau ia belum sepenuhnya mengisi seluruh hatiku, tapi aku akan berusaha lebih keras mencintainya."


"Kau serius Gie?"


"Ada apa ini, kemarin Fikra, kemudian ibu mertuamu dan kini kaupun tak percaya ... Apa kalian fikir aku selemah itu kah?" ucap Firgie tampak heran.


"Maaf Gie, hanya saja ....


"Cukup Ly, aku sadar dengan kenyataan hidupku, dan kaupun sudah bahagia. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu dan mempermainkan adikmu. Aku serius Lyra."


"Baiklah, aku pegang ucapanmu Gie. Sepertinya aku sudah mendengar apa yang ingin kudengar. Aku permisi." Dan akupun meninggalkan ruangan itu.


Sesampainya diluar aku segera naik ke Jazz Silverku. Tanpa memperhatikan sekeliling, yang ternyata di sisi jalan tampak Terios Dimas terparkir cantik. Ia yang sebetulnya ingin menepi memastikan pula perasaan Firgie atas adiknya, seketika mengubah arah stirnya. Ia terhenyak ternyata Jazznya telah lebih dulu terparkir disana..




🌻Pukul 17:10 saat ini. Dan sampailah aku di rumahku kini. Kedua bayiku seketika merangkak menghambur kearahku melihat kedatanganku.



Kuangkat kedua tubuh mungil tersebut dan kubawa ke kamarku, Mayraku yang sedang asik menonton tv tampak pula mengikuti langkahku yang menuju lantai atas membawa kedua adiknya. Terlihat pula mbak Dinar mengikuti pula dibelakangku.



"Mbak, kau bisa beristirahat di kamar selama si kembar bersamaku," ujarku seketika mbak Dinar mengangguk dan berbalik menuju kamarnya.



Sesampainyaku di kamar aku segera bercengkrama dan bercanda dengan si kembarku. Tampak pula Mayra berbaur merasa gemas dengan celoteh adik-adiknya. Iapun terus menciumi dan mengelitiki sang adik.



Tak menunggu lama mas Dimas tampak memasuki kamar kami. Dihampirinya-ku seketika dan diraihnya tubuhku serta didaratkan kecupan di keningku, "Kau tampak rapi, kau darimana? Adakah yang kau lakukan dan mas tidak tau?"



Kuberi senyum terbaikku saat ini pada suamiku. "Yaa, aku habis bertemu pria lain di belakangmu Mass ...."



"Kau tidak harus jujur, belajarlah berbohong agar hati suamimu ini tak perlu sakit dengan kejujuranmu,"



"Begitukah? Kau ada ide? Apa yang harus kukatakan sebaiknya?" lirihku.

__ADS_1



"Ahhh Sayangg, siapa yang kau temui tadi?"



"Calon adik iparku Mass."



Dilepaskannya pelukanku seketika, "Mantan kekasihmu yang kau temui rupanya."



"Apa yang kau lakukan bersama mantan kekasihmu tadi? kalian bernostalgia tentang masa lalu kah?" ditariknya daguku keatas hingga bibirku bersentuhan dengan bibirnya sekilas.



"Jaga prilakumu, ada anak-anakmu disini Mas," lirihku.



"Mereka tak melihat, mereka sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing," bisik mas Dimas kini.



"Kemari, duduklah! Ceritakan apa yang kalian bicarakan berdua tadi!"



Kutatap sekilas wajah mas Dimas baru kumulai bicara, "Aku terus terfikir ucapan Fikra bahwa Firgie mendekati Shifaa hanya alasan untuk tetap menjagaku. Jadi aku menemuinya untuk memastikan apa niat sebetulnya mendekati Shifaa," ujarku.




"Jadi kau mendengarnya? lupakanlah Mas, anggaplah ia berujar demikian sebab empati terhadap yang dialami sang kakak," lirihku.



Mas Dimaspun mengangguk menerima ucapanku, "Dan jawaban apa yang kau dapati saat kau bertanya pada Firgie?" tanya mas Dimas setelahnya dengan tatapan malas namun berusaha seolah serius menyimak.



"Firgie berujar kalau ia serius mendekati Shifaa dan tidak main-main."



"Dan kau percaya?"



"Firgie terlihat bersungguh-sungguh kurasa," ucapku.



"Hahh sudahlah, Shifaa juga menyukai Firgie, kita hentikan pembahasan ini. Mereka sudah dewasa, terserah apa yang akan mereka perbuat," ujar mas Dimas seraya merangkul bahuku.


__ADS_1


Akupun mengangguk mengiyakan.



"Oya, tadi Rendi menghubungi Mas."



"Un-tuk a-pa Mass??"



"Ia mengajak kita bertemu nanti malam, mencari jalan tengah untuk Mayra," ujar Mas Dimas.



"Kau meng-iyakan?" tanyaku.



"Aku belum menjawab. Apa yang harus Mas jawab menurutmu?"



"Jangan Mas, aku hawatir ia merencanakan sesuatu," lirihku.



"Menurut ibu, kita harus menghadapi ini dengan kepala dingin. Mungkin sekali-kali kita perlu mendengar, Mas ingin tau apa yang ada di otaknya."



"Mas tidak akan menyerahkan Mayra pada mereka, bukan?"



"Tentu tidak Sayang, Mayra milik kita walau suatu saat ia memang harus tau yang sebenarnya,"



"Jadi kita akan datang malam inikah?



"Bersiaplah ba'da isya kita berangkat."



"Baiklah," ujarku dengan ragu sebetulnya.



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤


__ADS_1


🌻Maaf sedikit, lagi gak mood nulis sebetulnya, tapi kisah ini sudah cukup panjang ingin segera diakhiri, jangan bosan yaa😊😊


__ADS_2