
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻POV DIMAS
Mayraku meminta ketoprak saat ini, hanya 1 tempat dalam benakku saat ini BAKULAN KETOPRAK FIRGIE ...
Sejak Lyra bercerita tentang segala perkataan menyakitkan yang Firgie ucapkan tentang Lyra-ku. Aku merasa ada yang aneh, apa yang terjadi pada Firgie sebetulnya??
Dan aku memilih kesana saat ini, sekaligus untuk memastikannya. Namun jika Firgie benar-benar hanya mempermainkan Lyra selama ini, aku sungguh ingin membuat perhitungan dengannya ...
Kami sudah tepat di Bakulan Firgie berada, aku berharap bisa masuk sendiri kedalam. Lyra sudah dapat di pastikan tidak akan mau masuk kedalam, namun Mayra ... putri kecilku ternyata merengek untuk ikut bersamaku. Aku tau, ia akan luluh dengan permainan di ponselku, dan aku memberi ponselku untuk ganti ia tak mengikutiku.
Akupun masuk saat ini ke Bakulan Firgie, setelah aku memesan 3 bungkus ketoprak untuk di bawa pulang. Aku tengok tak ada sosok Fikra, adik dari Firgie. Akupun mencoba mencari tau tentang keberadaan Firgie melalui pegawainya.
"Mbak, mas pemilik bakulan ini, mas Firgie bukan?" tanyaku berpura-pura tak tau.
"Betul Pak Firgie."
"Apa ia ada di ruangan saat ini Mbak?" tanyaku kembali.
"Harusnya sih ada Mas," jawab sang pegawai ragu.
"Lho, kenapa harusnya Mbak?" aku semakin penasaran dan entah mengapa ada yang aneh.
"Jujur ya Mas, saya sebetulnya belum pernah bertemu langsung dengan Pak Firgie," ujarnya.
"Ia jarang kemari kah?" tanyaku.
"Bukan begitu Mas, saya dan kami pegawai disini gak pernah melihat pak Firgie datang, saat kami datang ia sudah ada, dan ia akan pulang saat kami sudah pulang," ujar sang pegawai.
"Kenapa begitu?"
"Saya kurang tau Pak, bahkan wajahnya saja saya blm pernah lihat, itu ruangan Bapak yang diatas juga yang boleh kesana hanya Pak Fikra adiknya."
"Ohh, sebetulnya saya teman lama pak Firgie, dulu kami sangat dekat, dan saya ingin bertemu dengannya saat ini," ujarku.
"Duhh saya gak berani Mas," ujar sang pegawai.
"Tolong Mbak, ada hal penting yang harus saya sampaikan. Oya, ini ada sedikit untuk mbak," bujuk Dimas seraya memberikan sang pegawai sebuah amplop.
"Ohh ... baiklah Pak. Tapi kita diam-diam saja ya Pak. Mari Pak lewat tangga samping saja," ujar sang pegawai luluh akhirnya dengan uang.
Akupun mengikuti sang pegawai, hingga sampailah aku di depan pintu ruangan Firgie berada, dan pegawai itupun meninggalkanku.
Tanpa mengetuk pintu aku segera masuk ke dalam, kulihat kursi Firgie yang sedang membelakangiku.
Tampak sebuah suara saat kutiba,
"Bagaimanna keadaan hari ini Fik? Apa semua aman?" ujar Firgie saat itu, ia menyangka aku adalah Fikra.
Akupun segera mendekat,
"Aku bukan Fikra, aku suami Lyra," ujarku yang tampak tak berpengaruh apapun pada Firgie, ia bahkan tak membalik kursinya.
"Ly- ra, jadi kalian sudah menikah? untuk apa kemari? Aku tidak ada urusan dengan wanita itu? Dimana Fikra adikku?" ujar Firgie.
"Aku kesini hanya memastikan perasaanmu pada istriku?" ujarku kembali.
Laki-laki yang tidak tau sopan santun, ia masih tak membalik kursinya, batinku mulai geram dengan prilakunya.
"Perasaan apa? apa istrimu tidak cerita, aku selama ini tidak betul-betul mencintainya," ujarnya.
__ADS_1
"Maksudmu, satu tahun lebih kau hanya mempermainkan perasaannya kah? dan 1 tahun janjimu menghalalkannya, apa janji itu juga salah satu permainanmu?" tegasku.
"Bisa jadi begitu."
"Bisa jadi kau katakan? Laki-laki macam apa kau?" geramku.
Aku tak bisa menahan diriku, selama itu ia hanya mempermainkan hati Lyra-ku, memeluknya, menciumnya, kau anggap semua itu permainan?? bahkan Lyra-ku hidup dengan harapan yang yang kau janjikan, bedebah!!, marahku dalam batinku.
Segera kudekati lelaki yang sejak tadi mambelakangiku, laki-laki tak sopan yang tak memiliki hati ternyata ... aku geram, lelaki seperti ini harus diberi pelajaran agar dikemudian hari tidak menjadikan gadis lain sebagai permainannya.
Kutarik kerah kemeja lelaki yang menggunakan kaca mata hitam tersebut, kubawa ia ketepi. Kulayangkan beberapa pukulanku ke wajahnya hingga kaca matanya terlempar, namun ia tak membalasku.
"Bukankah kau sudah mendapatkan Lyra-ku, pergilah!! Jangan mengganngguku!!" lirihnya.
"Lyra-mu??" panas aku mendengar kata-katanya, setelah kepalsuannya ia masih berani menyebut Lyra-ku adalah Lyra-nya, kurang ajar!!!
Kulayangkan lagi beberapa pukulanku ...
"Itu untuk balasan rasa sakit yang kau beri pada istriku, kenapa tidak membalas?? Ayo balas aku!! agar kita imbang," tegasku.
Aku masih menarik kerah lehernya, tampak ia berusaha meraih kaos yang kupakai, aku mundurkan tubuhku, dan ia masih berusaha meraihku namun lagi-lagi ia tak benar-benar mengenaiku, dan aku mulai heran ...
Kumundurkan posisiku, "Haiii Firgie, ayo maju aku disini!!!" ujarku.
Ia tampak maju mengikuti arah suaraku, dan aku berpindah posisiku dalam diamku, ia masih melangkah kearahku sebelumnya, aneh, mungkinkah???
Kudekati kembali Firgie berada, kuayun-ayunkan tanganku ke wajahnya, dan benar ... ia tak bergeming ....
Aku segera duduk di sofa, jadi itu yang terjadi, aku baru memahaminya, Fir-gie tak bisa melihat???
"Dimana Kau?" ujarnya.
Aku masih duduk dalam keterpakuanku ...
Hingga setelah beberapa saat, Firgie yang sudah hafal tata letak furniturenya, mulai duduk di sofa.
"Kau jagalah Lyra, aku sudah tidak bisa menjaganya," lirihnya kembali.
"Kapan semua ini terjadi?" tanyaku.
"4 tahun lalu, saat aku hendak menemui Lyra-ku ... " jelasnya.
"Berhenti menyebut dia Lyramu!! dia Lyra istriku," ujarku.
"Iyaa, Lyra istrimu."
"Jelaskan bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanyaku penasaran.
"Aku sudah siap menghalalkan Lyra istrimu hari itu, hingga sebuah sedan menerjang tubuhku, tangan dan kakiku patah dan mataku, seperti yang kau lihat saat ini," lirih Firgie tampak matanya mulai berkaca.
"Kenapa tidak mengabarkan kondisimu pada Lyra?" tanyaku.
"Untuk apa? Untuk memberinya kesedihan mengetahui kondisiku? Lyra milikmu saat ini, jaga dan sayangilah ia dengan baik!!" ujar Firgie tampak berpura-pura tegar.
"Apakah perasaanmu tulus saat bersama Lyra-ku?"
"Jika kau bisa mengukur dalamnya lautan, sedalam itulah cintaku pada Lyra," lirihnya.
"Kenapa harus menyakiti hati Lyra dengan kata-katamu yang menyakitkan tempo hari??"
"Bahkan hari itu akupun sedang menghujamkan tombak kehatiku, aku melakukannya agar Lyra benar-benar melupakanku, Dan kau harusnya bersyukur dengan aku menyakitinya, itu memudahkanmu mendapatkannya bukan?" ujarnya datar, namun matanya memancarkan kesedihan yang dalam.
"Begitukah?? Tapi tidakkah kau berfikir .... Mungkin saja, Lyra akan tetap menerima kondisimu jika kau jujur akan yang terjadi padamu ...," ujarku.
"Menerima untuk menjadi bebannya kah? Bahkan hatiku akan lebih hancur jika melihat hari-hari Lyra bersedih meratapi kondisiku."
__ADS_1
"Kau sudah mendapatkannya, aku titip bahagiakanlah dia!!"
"Kenapa kau tidak melakukan operasi?" tanyaku kembali.
"Korneaku rusak parah, aku sudah mengajukan ke berbagai rumah sakit tapi memang sulit mendapatkan donor mata saat ini," lirihnya.
"Apa kabar Lyra saat ini?" tanyanya.
"Baik."
"Apa ia masih menyimpanku di hatinya?" tanyanya.
"Mungkin sedikit, tapi aku akan segera menghapusnya," ujarku.
"Oya, kita belum berkenalan, aku Firgie ... " tampak Firgie menyodorkan lengannya kearahku.
"Kau sudah mengenalku," ujarku.
"Oya ... siapa, maaf aku tak bisa melihatmu."
"Maaf sebelumnya aku telah memukulmu tadi, aku Dimas ... " tegasku.
"Di- mas?? Kau Dimas mantan kekasih Ly- ra kah??" ujarnya tampak kaget.
"Betul."
"Bukankah kau sudah menikah?? Jangan bilang kau menjadikan Lyra yang kedua? Dan seorang gadis kecil yang bersama Lyra tempo hari, ia putrimu??" lirih Firgie.
"Iya gadis itu putriku. Aku sudah 4 tahun berpisah dari Friss."
"Hahh ... rupanya kalian bertemu lagi, dulu Lyra sangat mencintaimu, pasti tidak akan sulit membalikkan hati Lyra kembali." ujar Firgie.
"Semoga begitu."
"Berjanjilah Dimas!! Kau akan membahagiakan Lyra!! Jangan pernah membuatnya menangis, ia sudah banyak mendapat penderitaan, terlebih pastinya tak mudah ia menjalani 4 tahun ini."
"Kau tak perlu mengingatkanku, bahkan aku sudah berjanji pada Robbku," ujarku.
"Jika suatu saat aku memperoleh pendonor mata, dan saat itu kuketahui Lyra tidak bahagia atau kau menyakitinya. Aku tidak akan sungkan mengambil Lyra kembali darimu Dimas," tegas Firgie.
"Kurang ajar, bahkan kau terang-terangan ingin merebut seorang istri dari suaminya, tidak akan ada hal seperti itu dalam hidupku Firgie."
"Baik, Lyra-ku pasti sudah sangat gelisah aku terlalu lama disini. Kuucapkan semoga kau selalu bahagia Firgie," lirihku.
"Lyra juga ada disini??"
"Ia di mobil bersama putriku."
"Ohhh ... Kudo'akan selalu untuk kebahagiaan pernikahan kalian," lirihnya.
Dan kami saling berangkulan, sebelumku akhirnya meninggalkan ruangannya.
Dan disana, seorang adik yang tampak menyadari kehadiran Mayra yang mencari ayahnya, ia segera berlari kearah tangga. Ia menatapku hingga akhirnya berlalu menuju ke ruangan sang Kakak.
Dan aku melihat Mayraku baru saja masuk hendak mencariku, kulambaikan tanganku kearahnya dan segera kudekati putri kecilku.
Akupun segera ke mobil bersama Mayra-ku setelah mengambil pesananku.
Pintu mobil kubuka. Kulihat Lyraku tampak sangat gelisah di wajahnya, ku masukkan Mayraku kedalam ...
Lyra-ku tidak boleh sampai tau kondisi Firgie sebenarnya, aku tidak akan membiarkan hatimu goyah Sayang ... Dan aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, tak akan kubiarkan Firgie atau sosok lain merebutmu dariku ... lirih dalam batinku sambil kurangkul dan kupeluk Lyraku saat ini.
Aku sangat mencintaimu Sayang ... Kucium kening Lyraku hingga akhirnya aku kembali ke posisi kemudiku.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤
🌻Jangan lupa like, komen, rate dan Vote bagi yang belum yaa😊😊