Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Tak Ingin Sakit Kembali


__ADS_3

"Gimana Ly? Kau mau kan mengantarku sore ini?" Ka'Fid masih tampak membujukku.


"Lyra... Please, kakakku esok akan bertunangan dan aku belum memiliki gaun yang pantas dipakai esok di acara tersebut. Ayolah Ly..." Ia masih saja merajuk.


Firgie... kau dimana sebetulnya? Biasanya di jam menjelang pulang seperti ini kau sudah mengirim pesan untukku. Mengingatkan akan hutang yang harus kubayar dengan menemanimu makan malam. Dan sesuai perjanjian hari ini adalah hari terakhir makan malam bersamamu, tinggal acara di akhir pekan saja yang belum aku tepati. Pesanku juga belum di balas. Atau aku antar Ka'Fida saja? batinku.


"Gimana? Kau bisa kan Ly?" tanya Ka'Fida lagi.


"Hmm... Okelaah ka. Oya, memang kita akan kemana mencari gaun untukmu itu?" ujarku.


"Ke Mall SS Ly. Aku pernah melihat disana banyak toko menjual gaun-gaun indah" jawabnya tampak bersemangat.


"Kalau gitu kita pulang naik jemputan Bekasi Barat ya ka?"


"Iya Ly..."


"Okee."


Oh Gie, maaf aku akhirnya membuat rencana jalan bersama Ka'Fid. Semua juga karna Kau... Entah apa yang kau lakukan saat ini hingga tak bisa memberi kabar kepadaku. Dan mengapa aku seakan kehilangan sosokmu??


***


Bekasi Barat 16:30


MALL SS telah di depan kami saat ini. Mall yang lebih besar dibanding Mall XX yang biasa menjadi tempat faforitku.


Dengan cepat Ka'Fid segera menarik tanganku ke satu toko pakaian, memilih dan membalik satu persatu pakaian di toko tersebut. Saat tak di temukan yang ia cari, Ia kemudian beralih ke toko yang lainnya. Dan begitu seterusnya, Ia merasa belum ada gaun yang cocok dan sesuai dengan bayangannya.


"Itu bagus kak, cantik" ujarku menunjuk satu gaun berwarna peach di hadapan kami.


"Ihh, nggak ah Ly.. Aku gak suka warna peach terlalu girly." Dan begitu seterusnya setiap kutunjuk gaun cantik menurutku akan ada saja alasan ketidakcocokan menurut sahabatku tersebut.


Hingga kini telah pukul 17:15*


"Kau sudah sholat kak? Aku sih lagi halangan, jadi gak sholat" ujarku.


"Oiyaa, sampai lupa untung kau mengingatkan Ly... Yuk kita ke basement ada Mushola disana!" Ka'Fid segera menarikku kembali seakan tak ada letih untuknya padahal kakiku sudah cenut-cenut menahan pegal, mengikutinya sejak tadi.


Aku duduk di kursi kayu disisi mushola menunggu Ka'Fid, kembali ku cek ponselku. Mungkin saja Firgie sudah membalas pesanku, tapi tak ada pesan masuk ternyata.

__ADS_1


Mataku terus tertuju pada pintu keluar mushola, menunggu Ka'Fid keluar dari sana. Namun bukan bayangan ka'Fid yang kutemukan keluar dari Mushola tapi bayangan lain yang kulihat dan tak asing dimataku. Bukankah itu... Firgie, ia di Mall SS? Dan ia tak sendiri seorang wanita berambut pendek tampak beriringan bersamanya. *Deg... Rasa apa ini mengapa dadaku begitu sesak melihat mereka. Wanita dengan dress pendek selutut itu terlihat manis, bersih kulitnya. Ia terlihat beberapa kali bergelayut manja di tangan Firgie. Siapa dia ya... mengapa, terlihat sangat akrab dengan Firgie? "Gie, mungkinkah itu kekasihmu? Tapi jika sudah ada Dia, mengapa Kau selalu meluangkan waktumu untukku?? Tidakkah itu akan menyakiti kekasihmu?" lirihku.


"Hai Ly... ko bengong sih? Maaf lama ya, aku ke toilet dulu tadi." Ujar Ka'Fid membuyarkan lamunanku.


Kutengok kekanan dan kekiri, mencari bayangan 2 sosok yang kulihat tadi. Tapi sudah tak kutemukan jejak mereka.


"Nyari siapa sih?" Ka'Fid tampak heran melihatku.


"Bukan apa-apa Ka..." ujarku.


"Ayo sekarang kita ke lantai 3 ya Ly!!. Kita belum mencari kesana tadi" ajak Ka'Fid kembali padaku.


Kuikuti langkahnya, walau otakku sedang tak fokus dan membayangkan banyak hal saat ini...


"Wahhh... Lyra, lihat cantik sekali bukan gaun itu!" Ka'Fid tampak menunjuk suatu gaun yang tergantung di muka suatu toko. Aku tak melihatnya jelas, hanya warna biru yang tertangkap mataku, gejolak otakku membuatku tak mampu berkonsentrasi saat ini. Kuanggukan kepalaku menyetujui pilihan Ka'Fid atas gaun itu.


Setelah ukuran dirasa cukup dan cocok saat Ka'Fid kenakan. Ia lantas membayar gaun pilihannya itu.


"Kita makan dulu ya Ly!" ajak Ka'Fid.


"Ka' aku langsung pulang saja ya..." ujarku.


"Aku makan dirumah saja Ka!" pintaku lirih.


"Apa kau dijemput Firgie?" tanya Ka'Fid kembali.


"Aku naik angkot saja Ka..."


"Kalau gitu ayo kita pulang bareng, aku juga makan di rumah saja" ujar Ka'Fid tampak risau melihat gelagat anehku.


"Ly, apa kau ada masalah? kau tampak murung setelah menungguku sholat tadi?" Ka'Fid membuka obrolan denganku di dalam angkot yang kami naiki.


Ku gelengkan kepalaku. Dan tak menghiraukannya lagi yang duduk disisiku.


Ka'Fid yang sudah hafal dengan sifatku. Tak banyak bertanya lagi. Ia sangat tahu, ada sesuatu yang aku fikirkan saat ini dan aku akan lebih memilih diam saat otakku sedang tidak baik. Iapun sudah hafal kalau aku pasti akan kembali bersikap seperti biasa setelah otakku mampu mencerna dengan baik kembali...


Ka'Fid tampak turun lebih dulu, dan beralih naik ke angkot lainnya. Aku melambaikan tanganku melihatnya menjauh dan iapun di sudut sana melambaikan tangannya pula kearahku.


Tibalah aku di gang kossanku. Kulangkahkan kakiku tak bersemangat, rasa letih bercampur keadaan hatiku yang begitu sesak saat ini membuat jarak ke kossanku terasa sangat jauh dan tak kunjung sampai. Namun akhirnya bangunan ber cat hijau itu tertangkap mataku. Sebentar lagi sampai, batinku.

__ADS_1


Langsung kubersihkan diriku, celana selutut berwarna coklat dan Kaos pendek berwarna putih ku pilih menemani malamku. Seperti biasa kubiarkan rambutku tergerai setelah seharian ku belenggu mereka dengan ikatan dikepalaku.


Kurebahkan diriku di ranjang, kuabaikan ajakan perutku yang sudah minta diisi. Ku pejamkan mataku, tidur lebih cepat adalah satu-satunya yang kuharap saat ini. Namun mataku tak jua mampu terpejam, otakku terus mengingat kejadian tadi sore.


Kenapa Firgie tega padaku? Siapa wanita itu? Mengapa mereka begitu akrab? Gie... Aku takut menghadapi kenyataan. Kenyataan pahit yang pernah sebelumnya kurasakan. Sungguh aku tak ingin sakit lagi Gie... Dan tak ingin pula menyakiti wanita lain kembali... Jika memang kau sudah miliknya, aku akan mundur perlahan darimu.


*Pukul 21.00


Tok... Tokk...


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku.


Mungkin Diah, ia biasa meminta nasi dimalam hari, batinku.


Kubuka pintu kamarku.


Ternyata bukan Diah melainkan Firgie* yang sedang berdiri disana.


Ia tampak kaget melihat penampilanku.


Firgie memang belum pernah melihatku tanpa hijab sebelumnya. Ia biasa mengantarku pulang dan kami mengobrol dengan hijab yang masih menempel di kepalaku.


"Ada apa kau kemari?" tanyaku datar.


Tak kuhiraukan matanya yang masih terpana melihatku tanpa hijab. Buatku hal biasa memang seperti ini tanpa hijab dirumah, tapi menjadi tak biasa dimatanya yang baru melihat penampilanku yang berbeda tak seperti biasanya.


"Gie" panggilku padanya yang hanya terdiam.


"Oh maaf Ly, Boleh aku masuk?" ujarnya seketika mendengar panggilanku.


Sesaat aku bingung apakah membiarkannya masuk atau kusuruh dia pulang saja.


Tapi tanganku spontan melebarkan pintu yang membatasi kami. *Oh, kenapa tanganku tak bekerja sama dengan otakku? Tanganku langsung memberi keputusan mempersilahkan Firgie masuk saat ini...


****


#Salam Cinta❤ dari Thor..


Jangan lupa kasih dukungan untuk karya thor yaa😍

__ADS_1


#Happy reading😍*


__ADS_2