
Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
Rona mentari melukis indah sang cakrawala ...
Pagi yang sama,
Hembusan angin sang sama,
Dan sinaran yang sama,
Semua terlihat sama namun terbingkai rasa yang berbeda.
Kuangkat tubuhku dari pembaringanku hingga seketika kutangkap pantulan gadis berhijab duduk di sofa kamarku. Ia terlihat serius, matanya menatap dalam majalah dalam genggamannya hingga tak sadar aku telah terbangun.
Ia seketika menengok dan dilihatnya aku tengah mengawang langit kamar. "Mbak sudah bangun?" iapun berdiri mendekatiku dengan sepiring nasi dilengkapi lauk-pauk saat ini.
"Kau sudah lama disini? Masmu yang menyuruhmu pasti?" ucapku.
Dan Shifaa terlihat mengangguk.
"Mayra ... dimana Mayra?"
"Mayra sedang sarapan dibawah mbak, Mayra beberapa hari ini tidak boleh sekolah oleh mas Dimas," terang Shifaa.
"Dan Dirga, dimana putraku? kenapa ia tak ada di ranjangnya?"
"Dirga sudah mandi dan tampan, ia sedang disuapi mbak Dinar di bawah,"
"Biasanya aku yang menyuapi Diyara, Diyara-ku ... Kau dimana Sayang??" isakku kembali.
"Mbakk ..."
"Shif ... duduklah! Tolong ceritakan bagaimana sebetulnya kejadian tadi malam," lirihku kini ingin tau.
"Sekitar jam 10 lewat sedikit aku dan Mas Firgie sampai dirumah, tapi ada yang aneh. Sebuah mobil carry tampak terparkir di luar gerbang, dengan kondisi gerbang yang sedikit terbuka. Mas Firgie segera menghambur masuk dan didapatinya seorang lelaki dengan tampang preman berkupluk di depan rumah. Terjadi baku hantam saat itu. Tampak sang pria segera berteriak memberi sinyal pada teman-temannya dan ia menuju mobil dan menyalakannya ....
"La-lu??" tanyaku.
"Didalam rumah, Mbok Lasmi tergeletak tak sadarkan diri di lantai, Mas firgie ke lantai atas tampak seorang pria botak sedang membekap pengasuh bayimu, sedang 1 orang lagi ia tampak bingung di kamar hingga akhirnya ia meraih tubuh Diyara dalam pelukannya. Terjadi baku hantam setelahnya, pria botak sangat kuat, mas Firgie kewalahan hingga pria berjanggut bisa membawa Diyara kebawah, aku dan mbak Dinar menarik pria berjanggut dan berusaha meraih Diyara tapi tenaga kami tak cukup kuat, ia mendorong kami hingga terpental. Pria botak bisa meloloskan diri dari mas Firgie, mas Firgie mengejar mobil mereka. Hingga 30 menit mas Firgie kembali namun mobil sang pencuri Diyara telah kosong ...
"Mang Diman tidak ada kah?"
"Setelah penculik pergi, mbok Lasmi sadar, ia mengatakan beberapa saat sebelum kejadian ada seseorang yang menelepon rumah sebagai mas Dimas dan meminta mang Diman ke ruko Dago mengambil berkas di ruangannya. Jadi Mang Diman tidak ada di rumah."
"Security tidak tau?"
"Kejadiannya sangat cepat Mbak, security baru tau ada penculikan setelah mas Firgie melapor. Kami sangat bingung saat itu, ponsel mas dan mbak Lyra tidak diangkat, akhirnya kami menghubungi Aldo dan Ibu. Hingga ibu akhirnya datang dan ayah menghubungi polisi."
"Berarti tak ada jejak putriku kah??"
"Mas Aldo dan Mas Firgir berhasil mendapat CCTV di depan La eLpaLLazo hotel, dan ....
"Tunggu ... hotel apa?"
"La eLpaLLazo hotel mbak,"
"Ahhh ...," isakku.
__ADS_1
"Ada apa mbak?" heran Shifaa melihat reaksiku.
"Di hotel itu Rendi dan Frista menjebakku dan Mas Dimas hingga tak sadarkan diri,"
"Iya Mbak, dari gambar CCTV tertangkap saat seorang pria botak berbicara dengan mas Rendi hingga kemudian pergi bersama di mobil mas Rendi. Nomer Plat mas Rendi sudah dalam pelacakan. Kita tunggu ya Mbak, semoga Diyara lekas berkumpul ditengah kita."
"Aamiin. Terima kasih atas usahamu dan Firgie, Shif," lirihku.
"Semua terlihat jelas di depan mata kami Mbak, tapi kami tidak bisa menyelamatkan Diyara. Ma-af Mbakk ...."
"Kalau ada yang salah, tentunya mbak yang lebih bersalah. Andai mbak tidak meninggalkan Diyara malam itu," lirihku.
"Sudah Mbak, tidak ada yang tau akan terjadi seperti ini, kita do'akan Diyara mbak ..."
"Semoga Frista tergerak untuk mengembalikan Diyara, Shif," ucapku.
"Iya mbak. Semoga."
"Mbak ingin kebawah," lirihku kembali.
"Kata Mas, Mbak di kamar saja."
"Ini putriku yang hilang Shif. Mana bisa mbak berpangku tangan di kamar,"
"Oke ... oke, tapi mbak sarapan dulu yaa!!"
"Mbak tidak lapar," dan aku segera melangkahkan kakiku meraih hijab instan di sisi lemari."
"Mbak, ini ada salep dari Mas, untuk luka ditubuh mbak katanya," ujar Shifa seraya mengulurkan Salep ketanganku.
"Terima kasih," kuterima dan segera kuberanjak ke kamar mandi mengoleskan beberapa tanda yang lecet di tubuhku. Dan akupun keluar setelahnya.
Dan akhirnya kulihat Lyraku turun bersama adikku kelantai bawah saat ini, ia berusaha setenang mungkin walau gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Ia mendudukkan dirinya 1 meter dariku, tampak pula di ruang tamu, ayah, ibu, Aldo serta Firgie berkumpul setelah sarapan tanpa selera beberapa saat sebelumnya.
"Kau sudah memakan sarapanmu Sayang?" tanyaku yang hanya ditanggapi senyum kecil Lyraku.
"Mbak belum makan Mass, nggak lapar katanya," jujur Shifaa padaku, tampak Lyra hanya diam menunduk mendengarnya.
"Kau harus makan Nak, kau jangan sampai sakit," lirih ibu kemudian.
Dan Lyraku lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum kecil kearah ibu.
"Mbok Lasmi," seketika kupanggil wanita paruh baya yang membantu kami mengurus rumah, ia pun segera datang.
"Ada apa Pak?"
__ADS_1
"Tolong ambilkan nasi ibu di kamar ya Mbok," ucapku dan segera di tanggapi anggukan oleh mbok Lasmi.
"Mass, aku ingin keluar," Lyraku tampak berujar kini.
"Mau kemana?"
"Mencari Diyara."
"Tidak ada yang boleh kemana-mana, semua tetap di rumah," tegas ibu.
"Tapi kita tidak bisa hanya berdiam diri Bu," lirih Lyraku.
"Kata siapa kita berdiam diri, polisi sedang melacak mobil Rendi, dan foto Diyara sedang di copi. Biar nanti Mang Diman dan Aldo yang keluar menempel foto Diyara. Kalian berdua harus di rumah. Tujuan Rendi adalah Mayra, entah bagaimana ini hingga Diyara yang mereka bawa. Tapi ibu yakin tak lama lagi Rendi akan menghubungi kalian, mengajukan pertukaran mungkin."
"Dan ibu akan memberikan Mayra? Lyra tidak bisa menyerahkan Mayra Bu,"
"Apa ibu berkata begitu? Kita akan tetap mempertahankan Mayra. Kita akan bekerja sama dengan polisi jika Rendi menghubungi," tegas Ibu.
🌻Disuatu apartemen ...
"Apa kau tidak bisa mendiamkan bayi itu Friss? Sejak subuh ia terus menangis. Membuat otakku pusing saja ...."
"Aku juga bingung Mas, berbagai cara kulakukan tapi ia tak jua terdiam."
"Susu yang tadi pagi aku beli, berikan dia susu itu!!! Aku benci tangisan bayii, bagaimanapun caranya kau harus bisa mendiamkan bayi itu ...."
"Ia terus menolak susu yang kuberikan Mass, sepertinya Lyra tak pernah memberi sufor padanya, ia terbiasa dengan ASI ibunya," lirih Frista.
"Terserah bagaimana caramu, kau juga pernah jadi ibu bukan?"
"Mass, ayo kita hubungi mas Dimas, lakukan pertukaran dengan Mayra putri kita. Dan kita langsung keluar negeri setelahnya. Aku juga letih mengurus bayi ini.
"Kau pintar juga ternyata," ujar Rendi segera meletakkan simcard baru ke poselnya, dan menghubungi dimas setelahnya.
Setelah beberapa saat, tampak panggilan terjawab dan terdengar suara pria yang tak asing diponselku.
"Hai adikku yang tampan ..."
"Kau ... Kurang ajar kau Ren. Hanya tipu daya yang selalu kau gunakan, katakan dimana putriku Diyara!!!" teriak Mas Dimas saat ini.
"Hahh ... Diyara rupanya nama bayi yang sangat cengeng ini. Kau tenang saja aku juga tidak menyukai putrimu. Jika kau setuju aku menawarkan pertukaran untukmu, 1 ditukar 1. Kau bawa Mayra dan aku mebawa putrimu Diyara. Bagaimana??"
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤