
Waktu menujukkan Pukul 20.35 saat babe jemputan menghentikan laju bus yang ia kendarai tepat di gang kontrakkan Mbakku.
Aku lembur sampai Pukul 20.00.
Dengan langkah gontai ku putar kunci pintu kayu didepanku. Tempat tidur menjadi tujuan utamaku. Letih seluruh tubuh rasanya. Kutatap layar ponselku, 2 pesan tertulis disana dari nomer yang tak kukenal.
"Sudah sampai Lyra??"
"Save nomerku, Dimas."
Langsung berdetak hebat jantungku membaca namanya. Baru teringat aku memberikan nomer ponselku padanya di kantin tadi. Segera ku masukkan nomer mas Dimas di daftar kontakku.
"Baru sampai Mas," balasku padanya.
Kutunggu-tunggu lagi jawabnya namun sampai kuterkantuk dan terbawaku ke dunia mimpiku.
Jam menunjukkan Pukul 22.30 saat ku terbangun. Seketika kutatap tas yang masih menggantung di pundakku. Baju yang sama saat ku berangkat tadi pagi. Ya Alloh, mengapa ku bisa terlelap sangat mudah, batinku.
Kuingat terakhir ku sedang berkirim pesan dengan Mas Dimas, dengan semangat kutengok layar ponselku.
Mungkin ada balasan darinya? fikirku.
Ternyata tak ada balasan pesan darinya, dengan rasa kecewa ku letakkan kembali ponselku.
Sudah terlalu malam fikirku untuk mandi.
Kuganti pakaianku.
Ku cuci beberapa bagian tubuhku.
Ku gosok gigiku.
Sebelum akhirnya kulanjutkan mimipiku kulakukan ibadah Isya ku yang hampir saja terlewat.
●●●●
"Hari ini kondisi masih sama seperti kemarin ya. Fida masih belum bisa masuk jadi akan ada orang pengganti di line kita. Tolong cek dengan benar setiap pekerjaan kalian jangan sampai ada kesalahan. tetap semangat !!!! Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh," ucap salam Mbak Dewi menutup meeting pagi ini.
2 Jam kemudian seperti biasa Pak Dimas datang mengecek pekerjaan orang pengganti di sampingku. Rasanya ingin sekali ku bertanya mengapa ia semalam tak menjawab pesanku. Tapi banyak orang disekitar, ku tak ingin terlalu terlihat.
Ku perhatikan ia biasa saja, tak ada rasa bersalah sedikitpun bertemuku. Sesekali ia melirikku tapi tak ada sapa, padahal semalaman aku sungguh menunggu pesan darinya.
Apa aku yang terlalu ke GR an, mengira ia memiliki perhatian lebih untukku??? Bodohnya aku cepat percaya, jangan-jangan pak Dimas hanya menjadikan ku mainannya saja. Hanya memberi angan-angan kepadaku, terus bergemuruh dalam batinku saat ini.
Tiba-tiba pula ku jadi teringat Mas Bayu.
Apa Pak Dimas juga seperti Mas Bayu. menggoda wanita lain di belakangku???
Tapi memang aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, apa pantas aku marah padanya?
Apa kedekatan kami kemarin tidak nyata, dan hanya khayalanku saja?
Sungguh banyak hal berkecambuk di otakku.
Ku tengok kebelakang. Sosoknya tak ada disana, hingga tiba-tiba suara seseorang menyadarkan alam bawah sadarku yang sedari tadi memenuhi otakku.
"Lyra, lo mikirin apa sih?" Doni stage packing memanggilku, meneriakiku tepatnya.
"Ada apa Kak?" ujarku padanya yang lebih tua dariku.
"Ni lo liat, produk loe ada yang missing label".
"Astagfirulloh, ternyata lamunanku tadi berimbas pada pekerjaanku," lirihku merasa bersalah. Aku langsung menuju stage Packing dan menempelkan label yang belum kupasang pada produk di depanku.
"Makasih ya kak," ucapku.
"Untung gw lagi gak ngantuk, kalo lewat habis deh line kita," gerutunya kearahku.
Aku terima setiap ucapan Kak Doni karna memang semua kesalahanku.
Dari line sebelah tampak Pak Dimas memperhatikan yang terjadi. Tak ingin masuk dalam permasalahan mereka, karna terlihat dimatanya masalah sudah dapat diatasi.
🌻Kulihat Jam di tanganku 11:45
15 menit lagi istirahat, batinku.
Kumerasa hari ini sangat berat dan ingin sgera merehatkan otakku, berfikir dengan istirahat mampu menjernihkan otakku kembali.
Pak Dimas seketika melewatiku namun segera kupalingkan wajahku berpura tak melihatnya. Dan ia pun berlalu begitu saja.
Seorang delivery yang biasa menambah part di line tiba-tiba menghampiriku, membisikkan sesuatu padaku.
"Mbak, nanti istirahat cek pesan di hp Mbak ya!! ujarnya dan pergi terburu-buru.
"Siapa ya dia? kayaknya aku gak kenal deh," ujarku mengabaikannya.
__ADS_1
\=\=\=\=Bel istirahat berbunyi\=\=\=\=
Tampak beberapa member berlarian menuju kantin. Sebagian lagi menuju Masjid, dan aku memilih ke toilet dahulu sebab pagi tadi tamu bulananku datang, Bisa sedikit santai istirahat ini tak perlu berdesakan di Masjid, fikirku.
Kurapikan hijabku.
Kucuci wajahku.
tiba-tiba kuteringat ucapan delivery di line tadi.
Cek pesan di hpku, ujarnya.
Langsung ku ambil ponsel di sakuku.
"Haahh, 5 pesan masuk dari Pak Dimas dan ada 5x Missed Call.
11:50 "Makan tempat biasa ya!!!"
12:05 "Ko belum sampai-sampai?"
12:10 "Masih lama?"
12:15 "Gak makan disini?"
12:16 "Lagi dimana?"
Kulihat Jam di tanganku 12:16
Pesan terakhir belum lama dikirim.
Langsung ku percepat langkahku menuju kantin. Apa mungkin dia masih menungguku??
Segera ku ambil nampan makan siangku dan menuju tempat biasa kami. Masih terlihat punggung seorang laki-laki membelakangiku di tempat itu.
Ohh, dia masih ada ... segera kupercepat langkahku.
Tinggal 1 meter posisi pak Dimas di depanku.
Hingga kemudian tampak seorang wanita lebih dahulu duduk disisinya. Mbak Fris, kulihat wanita itu.
Kududukkan diriku tepat 1 meter di belakang mereka. Kulihat nampan yang masih terisi penuh didepan pria itu.
"Rupanya Pak Dimas belum melahap makanannya, apa ia ingin menungguku?" rasa bersalah menyelimutiku.
Kuambil ponselku berusaha mengirim pesan padanya. Namun saat hendak kukirim. Haahhh, ponselku mati.
"Maaf Mas, aku sibuk berfikir buruk tentangmu, tapi aku yang malah menyakitimu," lirihku.
Dia sudah tak terlihat lagi mendatangi line ku.. Apa Pak Dimas marah padaku?
Hahh sudahlah, kufikir waktu istirahat akan merilex kan otakku tapi sebaliknya, otakku semakin penuh dengan rasa bersalahku.
Nanti di rumah aku akan segera menghubunginya ...
Pukul 15:15 jam shift kami berakhir.
Smua orang dengan ceria bergegas menuju loker hingga akhirnya naik jemputan bus kami masing-masing. Namun tak begitu denganku.
Kulihat line telah kosong kini, tanpa semangat ku langkahkan kakiku.
Hari yang begitu melelahkan, batinku.
Hingga saat di kantin.
Seseorang menarik lenganku.
Membawaku duduk di tepi kantin, tempat biasa kami.
Terlihat suasana kantin yang telah sepi.
Hanya ada beberapa office boy yang tampak cekatan membersihkan setiap sisi kantin tanpa menghiraukan kehadiran kami.
Kulihat sosok yang baru saja menarikku.
"Mas Dimas," lirihku.
Bibirku terasa kelu bingung akan mulai menjelaskan darimana. Ia berlalu dan sesaat kemudian kembali menggenggam 2 teh botol di tangannya. 5 Menit berlalu dengan keheningan kami. Suara 1 per satu bus jemputan meninggalkan parkiran seketika menyadarkanku.
"Aku harus pulang, "" ujarku.
"Aku yang akan mengantarkanmu nanti."
"Apa smua karna aku tidak membalas pesanmu semalam Lyra, jadi kamu tadi tidak mas temukan di kantin," ia memulai obrolan denganku.
"Apa pesanku melalui delivery itu gak sampai padamu?"
__ADS_1
"Dan pesan di ponselmu, apa tidak kamu baca?" tanyanya bertubi dengan sorot mata tajam dan penuh tanya disana.
"A-ku ada di kantin Mas ...
Belum sempat kulanjutkan ia segera memotong kalimatku.
"Jadi kamu ada di kantin tapi tidak mau menghampiriku, aku menungggumu Lyra."
"Tidak, bukan seperti itu mas. Akuu....
"Apa kamu tidak memahami perasaanku Ly??" ujarnya lagi memotong ucapanku.
"Bisa biarkan aku menyelesaikan kalimatku mas?" ujarku serius sambil menatap matanya.
Kuceritakan setiap detail yang terjadi saat jam makan siang itu, sampai aku menuju kantin dan melihat Mbak Fris telah dahulu duduk di tempatku.
Pak Dimas menghela nafas panjang.
Karna semua ternyata tak sesuai dugaannya.
"Maafkan Mas Ly, sudah berfikir buruk tentangmu," ujarnya lagi.
Tampak kembali sorot mata yang ku kenal, mata sayu pak Dimas.
"Mass, bisa kita pulang sekarang," ujarku melihat beberapa staf office sudah mulai terlihat melewati kantin menuju loker hendak pulang kerumah, rata-rata dari mereka adalah yang membawa kendaraan sendiri. Mereka pulang saat melihat kondisi jalan telah terlihat lengah.
"Oke habiskan dulu minumanmu!!"
"Nanti jangan kemana-mana, tunggu mas di luar.
tepatnya di bawah tangga pojok sebelah kanan, ponselmu kan mati, biar mas gak bingung cari kamu," ujarnya seolah aku gadis kecil yang akan hilang saja.
"Iya Mas," jawabku sambil memberi senyum padanya.
●●●●
Suasana loker tampak sepi.
Sekitar 5-6 orang termasukku di dalam.
Kubuka seragam kerjaku.
tampak kini pakaian casualku.
Celana jeans dipadukan sweeater longgar berwarna amry.
Hijab hitam polos yang kuikat kebelakang turut menyempurnakan penampilan santaiku.
Kubiarkan tas hitam kecil melingkari leherku.
Kuikat tali sepatu kets putihku.
Sebelum beranjak, ku tatap cermin yang menempel di balik pintu lokerku.
Ku ratakan lip cream berwarna pink latte di bibirku untuk menyamarkan wajah letihku.
Ku turun ke bawah arah parkiran berada.
Dibagian bawah ujung tangga tampak sosok pria berdiri membelakangi tempatku berdiri.
Sosok yang terlihat berbeda, tanpa seragam yang biasa ia kenakan di dalam PT.
Lelaki dengan tinggi 173 cm itu memakai Jeans dark blue beserta Kaos hitam yang terlihat sangat cocok di tubuhnya. Tangannya memegang Jaket bomber berwarna abu tua.
Sepatu kets hitam dengan variasi 2 garis putih menambah pancaran pesonanya.
Entah apa yang ia lihat disana hingga tak menyadari langkahku yang mulai mendekatinya. Sampai akhirnya ia berbalik dan melihatku yang sudah berdiri di belakangnya.
"Haiii ... kamu sudah lama disini Ly?"
tampak pandangannya menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Dan ia tersenyum.
"Baru mas," jawabku.
"Tunggu ya, kuambil motorku dulu," ia berlalu sambil memberi senyumnya kembali padaku.
●●●●
●Missing : tidak terpasang.
●Delivery: orang yang mengantar part yang akan di pasang untuk menyempurnakan suatu produk.
🌷🌷🌷
🌻Jangan lupa kasih vote, rate, like dan komen ya😉
__ADS_1
🌻happy reading❤❤