Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
New Normal


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Dan beberapa saat kemudian, 3 orang perawat berpakaian serba putih tertutup tampak mendorong ranjang berisi putri kecil kami, kondisi yang sangat menyayat hati terpampang dihadapan kami saat ini ....


"Mass, Diyara kita Mass ... Diyaraa ...," lirihku.


Kami mengikuti perawat menuju ruang ICU tertutup saat ini, seorang perawat menahan kami untuk masuk saat ini. "Jika Ibu sudah bisa masuk, saya akan kabari," ujar seorang perawat padaku.




Pukul 23:00 seorang perawat memanggilku, dan akupun masuk mengikutinya. Ruangan yang hening hanya ada suara monitor kudengar. Kulihat di dalam terdapat 3 bayi dengan berbagai selang dan monitor di dekatnya, entah apa penyakit mereka tapi kondisi mereka tak jauh beda dengan Diyara-ku yang kulihat beberapa saat lalu. Dan aku masih mengikuti perawat hingga sampailah kami ke ranjang putriku yang terletak di sudut.


Diyara-ku tampak masih memejamkan matanya, ia terlihat pulas sekali tertidur, mungkin pengaruh obat biusnya belum hilang. Beberapa monitor berjejer di sisi ranjang putriku, entah selang apa tapi sangat banyak sekali.


"Ibu bisa menemani putri ibu selama 15 menit, untuk nutrisi masih menggunakan selang karena kami masih memantau pernapasannya," ujar sang perawat.


"Apa saya bisa bergantian dengan suami saya untuk masuk Dok?" tanyaku.


"Bisa, satu persatu silahkan tapi jangan bising." Tak lama sang perawat meninggalkanku dan Diyara-ku.


Kuusap lembut wajah dan lengannya, dan di dadanya tampak tertutup perekat sekitar 10-12cm memanjang dari tengkuk lehernya kebawah membuat air mataku seketika berlinang.


"Sepanjang inikah sayatan yang mereka lakukan untuk memulihkan kondisimu Nakk? Apa sangat sakit Nak?? Diyara, bunda sayang Diyara, Diyara harus kuat, nanti kita bermain bersama dengan Dirga, kak Mayra dan Ayah. Sayang ... kau harus bertahan Nakk, harusss..!!!" bisikku di telinga putri kecilku.


Kubacakan tilawah melalui aplikasi ponsel di dekat telinganya kini, kata-kata Cinta Rob kami, yang berjanji akan selalu menolong hambaNYA kulantunkan kini, hingga beberapa ayat kubacakan dan 10 menit berlalu. Kuhujani kecupan diwajah putri kecilku saat ini. Masih ada 5 menit, Mas Dimas juga berhak melihat putrinya, dan akupun keluar ruangan saat ini.

__ADS_1


5 menit berlalu tampak Mas Dimas keluar dari ruangan ICU dimana Diyara berada, Mas Dimas tak langsung menemuiku, ia menepi di sudut jendela. Aku yang sedang duduk di sisi Bapak seketika berdiri mendekati mas Dimasku. Ya, Ayah dan ibu Arini memang pulang kerumah saat ini, mereka harus beristirahat dengan baik karena kami akan bergantian untuk esok hari.


Dan Mas Dimas telah disisiku saat ini, Kuraih tangan yang sedang di daratkan didadanya tersebut. Aku menggenggamnya, tangannya berkeringat sangat banyak, akupun menoleh kewajah mas Dimasku. Terlihat wajahnya tampak pucat dengan raut kesedihan disana.


"Mas, kau seperti tidak sehat ... " lirihku.


Disunggingkannya senyum kecil kearahku, Mas Dimas membawaku ke tepi dimana terdapat 2 kursi kosong disana.


"Diyara tidur sangat pulas, padahal mas ingin sekali bercanda dengannya," ujar mas Dimas seolah memaksakan ucapannya.


"Mas, jawab aku..!! Apa kau sehat??"


"Heii pertanyaan apa ini? jelas-jelas mas sangat sehat."


"Mengapa mas terlihat pucat?"


"Masa sih?? pasti karena udara di dalam tadi sangat dingin, dan lagi mas tidak menggunakan lipstik sepertimu," ujar mas Dimas menjawab tanyaku dengan gurawan yang lagi-lagi dipaksakannya.


"Sayang ...."


"Apa dengan istrimu kau juga akan menutupi kesedihanmu Mas, apa aku tidak bisa membaca matamu?"


"Sayang," dan Mas Dimas membalas pelukanku, ia membenamkan wajahnya kebahuku yang membuat bahuku seketika basah.


"Maaf, melihat Diyara dengan berbagai selang di tubuhnya telah melemahkan Mas,"


Akupun mengangguk merasakan yang sama pula.


Tiba-tiba tangan mas Dimas terlepas dari tubuhku. "Sayang, mas akan ke toilet sebentar," dengan gerakan cepat mas Dimas seketika menjauh dariku, kutatap sebelah tangannya terus mendekap dadanya tapi aku menganggapnya hal biasa.


●●●●

__ADS_1


🌻2 Bulan telah berlalu, setelah dokter dan perawat ICU jantung yang selalu seksama memantau kondisi Diyara dengan serangkaian pemeriksaan darah rutin, echocardiografi, foto rontgen dada, obat-obatan melalui infus dan menggunakan alat bantu napas kerap dilakukan untuk memastikan kesehatan putri kami. Akhirnya hari ini tiba, hari dimana dokter dengan mantap mengizinkan Diyara pulang dan berkumpul di tengah-tengah kami kembali.


Diyara memang tidak dinyatakan sembuh 100%. Karena kami masih harus tetap mengecek kondisinya di 3 bulan mendatang, jika semua oke, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan 6 bulan kedepan, 1 tahun kedepan dan seterusnya hingga dapat dipastikan Diyara dapat bertahan lama tanpa gejala yang timbul yang akan mempengaruhi kehidupannya dimasa mendatang hingga beranjak dewasa.


Syukuranpun diadakan di rumah atas kepulangan Diyara. Berbagai do'a dari kerabat, sahabat, tetangga, rekan bisnis, rekan-rekan sekolah Mayra terus dipanjatkan. Rasa bahagia ikut terpancar dari wajah-wajah orang terdekat kami, setelah berbagai perjuangan panjang telah dilalui Diyara.


Dan hidup kamipun mulai normal setelahnya.


●●●●


🌻3 BULAN KEMUDIAN


Dirga dan Diyara sudah berusia 6 bulan saat ini. Tubuh mereka semakin berisi dan menggemaskan. Tak kalah dengan Dirga, Diyara-pun tumbuh menjadi anak yang aktif.



Bagi orang yang tak mengenal kami sebelumnya, tak ada yang menyangka dibalik senyum gadis kecil kami terdapat cerita yang meninggalkan tanda ditubuhnya. Sayatan panjang itu menjadi bukti perjuangan Diyara dimasa itu, rasa sakit yang kami lalui tiap detik tatkala melihat gadis kecil kami tak berdaya terbaring dengan berbagai selang terpasang di tubuhnya.


Namun semua sudah menjadi cerita, kuharap begitu sebab dari hasil checkup Diyara beberapa hari yang lalu, jantung Diyara tampak telah bekerja sempurna, detak jantung dan nafas teratur, pencernaannyapun tak ada masalah, gerakan aktif dan ceria. Diyara bahkan mulai MP ASI dengan lahap di banding Dirga sang kakak yang masih bergantung dengan ASI-ku, karena porsi makannya sedikit.


Kamipun memiliki pekerja baru di rumah. Mbak Dinar begitu ia dipanggil, usianya 35 tahun, ia membantuku mengurus Dirga di rumah. Ia kami dapati dari agen penyalur baby sister daerah Bandung, ia tampak baik dan sopan. Semenjak kehadirannya 2 bulan lalu, pekerjaanku sangat terbantu. Walau untuk Diyara, tetap aku yang memegang, karena Diyara lebih spesial untukku dan selalu ada ke hawatiran khusus jika ia di pegang tangan lain.


Keluarga Tangerang maupun keluarga Cikarang juga kerap menginap di rumah kami. Karena memang kami belum bisa berpergian jauh. Seperti halnya saat ini, Shifaa adik Mas Dimas sedang menginap di rumah kami, lagi liburan dan bosan di rumah ujarnya. Dan kamipun senang karena Mayra sangat suka bermain dengan tantenya itu.



🌷🌷🌷


🌻Ditunggu lagi up selanjutnya yaa😊


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2