Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Di Mall


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Jika ternyata Firgie sudah bisa melihat dan kalian bertemu apa hatimu akan ragu??"


"Mas jahat selalu meragukan hatiku. Tidak ada dia lagi di hatiku Mas."


"Yakin??"


"Yahh sedikit mungkin masih ada. Tapi sangat sedikit. Tertinggal kesedihanku saja jika mengingat ia menghadapi semuanya sendiri kala itu." Sesaat aku terdiam.


"Hahh ... Kau masih menyimpannya."


Seketika Mas Dimas memiringkan tubuhnya membelakangiku.


Bukankah rasa kasihan itu wajar, batinku.


"Mass," kudekap kini pria di hadapanku dari belakang namun ia tak juga berbalik.


"Apa Mas sudah tidur??" kukecup tekuk belakangnya, namun masih belum ada respon kudapati.


"Maafkan aku Mass, aku hanya sayang Mass, tidak sayang yang lain," bisikku di telingamya, segera kubalikkan tubuhku setelahnya.


Kucoba memejamkan mata namun tak ada kantuk kurasa, hingga kurasakan lingkaran tangan mulai mengunciku. Kubalikkan tubuhku kini menghadap wajah lelakiku. "Maafkan aku Mas," lirihku.


Kutatap mata bening yang juga sedang menatapku dalam, ia tampak mengangguk perlahan menanggapi ucapanku.


Seketika Mas Dimas merapatkan wajahnya hingga tersentuhlah bibirku, membuat penyatuan disana hingga beberapa saat, dan kami berhenti saat nafas kami mulai terengah, kamipun saling berpelukan setelahnya.


●●●●


🌻BANDUNG 12:30


3 orang gadis tampak baru keluar dari mushola sebuah Mall. Kaki mereka kembali melaju setelah sebelumnya rehat dan menjalankan ibadahnya. Mereka saling tertawa dan bercanda. Menikmati warna-warni yang melenakan mata disepanjang jalan yang mereka lintasi. Tampak pula 1 meter dibelakang mereka seorang pria berkemeja, bertopi serta berkaca mata tampak terus mengikuti langkah ketiga gadis berusia belasan tersebut.


"Shif, kenalin kita-kita sama bodyguard lo dong..!!!" ujar gadis berambut ikal bernama Nanda.


"Iya Shif, suruh buka dong kaca matanya, kayaknya ganteng tuh ...." Bella teman kelasnya yang juga menggunakan hijab tampak pula menimpali ucapan Nanda.


"Husss, jangan ngobrolin yang dibelakang dia pemarah dan jelek pula. Gak usah lihat-lihat kebelakang," ujar Shifaa saat ini membalas ucapan sahabat-sahabatnya.


Ketiganya memasuki gramedia saat ini, lorong buku berisi HOBI & KREATIFITAS menjadi tujuan mereka. Aneka buku dan majalah design di bukanya satu persatu, lembar demi lembar terus diamati guna mencari materi tugas yang diberikan mentor mereka.


Setelah hampir 1 jam akhirnya mereka menemukan apa yang dicarinya, fashion muslimah diberbagai negara adalah tema yang harus mereka kuasai sebagai tugas kelompok yang akan di presentasikan 2 hari mendatang.


Setelah memperoleh yang dicarinya ketiga sahabat itu akhirnya berpisah, 2 orang rekan Shifa tampak berlalu keluar Mall hendak segera pulang. Sedang Shifaa tampak mendekati sang pujaan hati yang belakangan sangat senang mengikuti aktifitasnya.


"Mass, sudah selesai, ayo sini..!!" Shifa tampak menarik lengan sang pria menepi.


"Dah ... buka, buka ... temen aku udah pada balik,"


Dibukanya topi dan kacamata yang melekat di wajah sang kekasih, kemeja formal yang sedari tadi dikenakan juga di copotnya. Meninggalkan kaos putih casual disana.


"Ganteng Maksimal," lirih Shifa setelahnya.

__ADS_1


"Ngapain sih harus begini, malu diikutin jalan Mas?" tanya sang pria heran dengan kelakuan gadis kecilnya yang memintanya berkemeja gelap, bertopi dan berkacamata jika ingin ikut dengannya.


"Bukan, biar temen-temen aku gak naksir sama Mas," ujar Shifaa dengan senyum menyeringai.


"Udah dapet tugasnya?"


"Udah, nihh ... nanti malem aku bakal bergadang membuat presentasi."


"Jangan terlalu di forsir."


"Iya Mas-ku," celoteh Shifa tampak menggemaskan.


"Mau makan dimana?" tanya sang lelaki bernama Firgie seraya meletakkan tangannya di bahu sang gadis yang terlihat imut bersanding dengannya.


"Sebenarnya aku mau yang di tenda-tenda itu sambil lihat perbukitan," wajah memelas di tampakkan Shifa saat ini.


"Jangan kesana kalau sekarang, matahari sedang terik. Yang ada kita malah kepanasan. Kesananya besok-besok saja bagaimana? Sekarang cari kuliner indoor saja," ujar Firgie.


"Oke lah," dan menurutkah Shifa saat ini.


Sebuah restoran ayam berselimut tepung dari negara paman Sam akhirnya tertangkap mata mereka.


"Disana saja yuk Mas, aku udah laper banget,"


Dan keduanya segera melangkahkan kaki dan duduk di tepi yang agak sepi pengunjung. Setelah beberapa saat menu yang dipesan akhirnya tiba. 2 Combo Winger dan 2 Mocha Float tersaji kini dihadapan mereka. Dan mereka mulai menyantap makan sang mereka saat ini ...


"Mas dan Mbakmu sudah kembali?" Firgie tampak bertanya saat ini sambil mengunyah perlahan makanan di mulutnya.


"Katanya sih pulang hari ini," jawab Shifaa.


"Emang masmu punya usaha apa?" selidik Firgie tampak berusaha lebih mengenal keluarga gadis kecilnya.


"Dilihat dari rumah kalian, pasti usaha Masmu sangat berkembang."


"Alhamdulillah mas," jawab Shifaa lirih.


"Apa nama tokonya, mungkin suatu saat Mas Lewat dan ingin mampir."


Dan dihadapan mereka terpampang Toko kue dengan ciri khas warna ungunya.


"Itu salah satu cabang toko Masku," tunjuk Shifaa pada toko kue di hadapannya.


Mayleera Cake and Bakery, Mayleera, Lyra, ahh, ada nama yang mirip namamu. Mengapa sesak kurasa saat ini, batin Firgie.


"Mass, mass kenapa kok bengong sih," tepuk kedua tangan Shifa untuk menyadarkan kekasihnya yang diam mematung beberapa saat lalu.


"Gpp, namanya sangat berbeda."


"Itu perpaduan nama ponakanku yang tempo hari ke bakulan Mas plus nama mbakku istrinya. Mas-ku memang sangat mencintai mbakku, maklum setelah 6 tahun baru bertemu kembali. Jadi penantiannya sudah panjang,"


"Oya, lho bukannya ponakanmu sudah besar ya?" heran penuh tanya tampak diwajah Firgie saat ini.


"Ponakanku Mayra bukan anak mbakku, yang anak mbakku yang si kembar," ucap Shifaa.


"Maksudmu??"


"Udahlah pokoknya panjang cerita mas dan mbakku. Mas sendiri berapa saudara?" Shifaa bertanya kini.

__ADS_1


Pertanyaan seperti ini juga pernah dilontarkan Lyra dulu ...


"Mas kenapa sih ditanya kok malah senyum-senyum? inget mantan yaa??" ceplos Shifaa.


"Iya, dulu ia juga pernah bertanya tentang keluargaku."


"Hemm, pantes. Yaudah gak usah di jawab, nanti tambah inget lagi," polos Shifaa.


"Aku ceritakan ponakan kembarku saja yaa," ucap Shifaa kembali.


"Boleh."


"Ponakan kembarku sangat menggemaskan, namanya Dirga dan Diyara. Keduanya sangat aktif dan ceria walau diawal-awal kelahirannya banyak menguras air mata mbak dan masku."


"Maksudnya??"


"Diyara lahir mengidap jantung bawaan dari keluargaku, usia 1 bulan ia sudah menjalani operasi jantung."


"Aku bisa membayangkan perasaan mas dan mbakmu kala itu," ujar Firgie.


"Iya, setelah dioperasi, 2 bulan Diyara tinggal di Rumah Sakit, karena dokter harus memantau kondisi jantung Diyara setiap saat. Mbakku banyak menghabiskan waktu di rumah sakit kala itu untuk memberi kebutuhan ASI Diyara yang yang menurut dokter akan membantu pemulihan Diyara dengan cepat."


"Dan Dirga?"


"Dirga di berikan ASI yang sudah di stok di kulkas oleh mbakku."


"Pasti sangat melelahkan untuk mbakmu,"


"Bukan hanya melelahkan tapi juga menyesakkan, ia harus meninggalkan Dirga putra kecilnya setiap saat belum lagi melihat banyak selang di tubuh Diyara, beberapa kali jarum terlepas saat Diyara meronta, dan itu berarti harus menusuk ulang di lengan kecilnya," lirih Shifaa bercerita.


"Diyara yang malang ... "


Shifaapun mengangguk. " Hingga kini bekas tusukan jarum masih membekas di lengan Diyara, juga bekas sayatan panjang di tubuhnya, tapi alhamdulillah semua telah berlalu, Diyara ponakanku yang cantik sangat aktif saat ini, semoga hingga besar jantungnya akan tetap sehat."


"Aamiin, keluarga Masmu adalah keluarga yang hebat."


"Entah, jalan apa yang tertulis mas-ku, hidupnya selalu penuh lika-liku. Walau memang setelah sakitnya Diyara usaha masku semakin berkembang," ujar Shifaa seraya memasukkan suapan ayam terakhir ke mulutnya.


"Itulah hidup, saat kita ikhlas menerima ujian. Alloh akan mengganti dengan suatu kebahagiaan lain."


"Seperti hidup mas bukan?"


Fergiepun mengangguk.


"Mungkin aku tak sebaik mantan kekasihmu Mas, tapi aku memiliki ketulusan yang tak kalah besar dengannya," ucap Shifaa yang sudah pandai bicara ketulusan.


"Memang kau tau arti ketulusan??"


"Tau dong Mas, aku sering melihat ketulusan dimata mas dan mbakku. Mas tau gak, mas Firgie harus belajar romantis seperti mas dan mbakku. Walau sudah punya anak, masku sering menyuapi mbakku, masku juga sangat perhatian, pokoknya ketulusan dan keromantisan masku Best deh," ucap Shifaa dengan antusias.


"Keromantisan itu adanya setelah menikah, jika belum menikah perhatian itu cukup."


"Yahh, kok gitu sih Mas, kalau gitu kita menikah saja Mas. Biar kita bisa romantis-romantisan ...."



mas Firgie❤

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2