
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Kenapa diam? Jangan-jangan kau mengenal Lyra ...."
"Tentu aku mengenalnya, kami dulu satu PT, ia kekasih mas Dimas sebelum menikah denganku."
"Waww, surprize untukku kalian ternyata saling mengenal."
"Ternyata mereka bertemu lagi, padahal kufikir ia sudah menikah dengan Firgie," ucap Frista.
"Menikah dengan siapa? Firgie ... siapa dia?" tampak penasaran Rendi.
"Ia kekasih Lyra, setidaknya begitu kufikir. Karena mereka datang bersama di pernikahanku dan mas Dimas."
"Orang mana dia?"
●●●●
🌻SENTRA DUTA RESIDENCE
Setelah melewati perjalanan yang cukup berliku, udara dingin mulai menyeruak menandakan kami sudah memasuki kawasan Bandung.
Tampak pertokoan berjejer disepanjang yang kami lewati, karena kami memang berada daerah Bandung Kota. Tak kalah seperti Jakarta, hanya saja cuaca disini lebih dingin di siang hari sekalipun. Sepoi anginpun langsung merasuk kekulit ...
"Pakai jaketnya jika kau merasa dingin Sayang ...," mas Dimas memperhatikanku yang mulai melipat tanganku dan Mayra masih asik tertidur di jok tengah dengan kasur angin disana.
Aku membalikkan tubuhku dan memberi selimut pada gadis kecilku. baru kuambil jaketku yang sudah kupersiapkan dan kusandarkan di jok sejak keberangkatan kami.
"Kau tenang saja pada Mayra, ia lahir dan besar disini jadi sudah terbiasa dengan cuaca dingin Bandung."
"Ohh, Oya Mas apa rumahmu masih jauh?" tanyaku.
"Jangan katakan rumahku, tapi rumah kita oke!!! sebentar lagi kita akan melewati Pasar Sarijadi, sekitar 15 menit kita akan sampai di rumah," mas Dimas menjelaskan.
Beberapa menit kemudian, perumahan-perumahan bertingkat mulai kami lewati, bukan pemukiman warga menengah kebawah sepertinya kawasan ini, batinku. Bangunan rumah disini tampak megah dengan arsitertur yang unik. Aku suka Bandung ...
Tak berselang lama, bangunan mewah bertingkat 2 dengan penggabungan modern minimalis berada di hadapan kami, tampak pagar yang cukup tinggi disana. Dan mas Dimas segera membuang arah kemudi mobilnya kearah samping hingga tampaklah seorang pria paruh baya mengamati dari lubang pagar, baru kemudian ia membuka pagar saat didapati mobil sang Tuan rumah telah tiba.
"Ini ru- mah ki- ta Mas?" tanyaku terperajat melihat bangunan dihadapanku.
"Iya."
"Selamat datang Pak Dimas," sapa mang Diman sang tukang kebun sekaligus perjaga rumah.
Mas Dimaspun mengangguk
"Oya, kenalkan ini istri saya."
"Selamat siang Bu," sapa mang Diman."
Dan akupun mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
"Bawa koper-koper kami masuk Pak," ujar Mas Dimas.
"Siap Pak."
Kamipun masuk kerumah saat ini, tampak Mas Dimas mengendong Mayra yang tertidur di bahunya.
Seorang wanita paruh baya terlihat mendekat.
"Pak Dimas," sapanya.
Bik Lasmi kenalkan ini istri saya,
"Lyra ...," ujarku.
"Selamat datang Bu Lyra," sapa bik Lasmi terhadap majikan barunya tersebut.
Mas Dimas menggiringku ke lantai atas, kamipun masuk ke sebuah kamar kini. Mas Dimas langsung merebahkan Mayra di ranjang kamar tersebut.
"Ini rumahmu dan mbak Friss kah?" kuberanikan mulai bertanya pada mas Dimas.
Terlihat mas Dimas menggeleng.
"Apa yang sedang kau fikirkan? Aku takkan membawamu masuk ke rumah yang ada jejak Friss di dalamnya Sayang," mas Dimas seketika meraup bibirku. Dan akupun membalasnya, kami masih menikmati penyatuan bibir kami, hingga tiba-tiba ....
"Ohh ... maaf Pak Bu, saya tidak melihat apapun," bik Lasmi yang memergoki kami tiba-tiba panik dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kamipun mengakhirinya aktifitas kami, Mas Dimas seketika menyapu bibirku yang basah dengan jemarinya.
"Buka wajahmu Bik, ada apa kesini?"
"Saya cuma mau bilang Pak, saya sudah siapkan makanan kalau Bapak dan Ibu lapar," ujar Bik Lasmi terlihat sekali ia masih sungkan menatap kami setelah yang dilihatnya barusan.
"Aku masih kenyang Mas," jawabku.
"Nanti kami akan turun saat kami mulai lapar Bik," ujar mas Dimas setelahnya.
"Baik Pak. Permisi." Dan bik Lasmipun segera ke dapur kembali di lantai bawah.
"Sayang, mas pergi dulu. Nanti malam kau dan Mayra tak perlu menunggu Mas. Karena sepertinya mas akan pulang agak malam."
Akupun mengangguk.
"Ini rumahmu, berbuatlah apapun yang kau sukai, jangan sungkan oke!" mas Dimas mencium keningku dan Mayra, sebelum akhirnya meninggalkannku.
Dan kini bayang mas Dimas telah menghilang. Kuputuskan ke lantai bawah berbincang dengan Bik Lasmi.
●●●●
🌻JALAN SENTRA DUTA
Ruko 2 lantai yang sudah kumiliki hampir 5 tahun tak terbentuk kini. Dimuka tampak wajah tokoku menghitam, spanduk sudah tak ada. Nyaris tak terlihat keindahan cat biru yang kuberi disetiap dindingnya.
Aku keluar dari Jazz Siverku, terlihat Aldo Asistenku, Pak Irwan pengacaraku serta 6 orang pegawaiku yang sedang bimbang akan nasib pekerjaaannya terlihat berdiri mematung.
Mereka semua seakan tak memberiku kesempatan bernafas, segera berlarian ke arahku ketika bayangku di tangkapnya keluar dari Jazzku.
__ADS_1
Dan seketika itu Aldo dengan sigap menahan ke 6 pegawaiku yang ingin mendengar kelanjutan nasib pekerjaan mereka yang sebelumnya berada di tanganku.
Akupun segera menghampiri mereka dan mengajak mereka ke tepi. Karena dalam kondisi seperti ini, dindingpun seakan dapat mendengar. Sejak aku keluar dari Jazzku beberapa orang tampak mengambil gambarku secara sembunyi-sembunyi. Hal seperti ini sudah tak aneh untukku. Karna momen seperti inilah yang secara tidak langsung menjadi hal yang sangat dinantikan dan disukai bagi awak pencari berita. Tak ayal bahkan istrikupun langsung tau dari jejaring berita online di ponselnya. Disurat kabarpun berita tentang rukoku yang dilahap api sudah menjadi konsumsi publik kini.
Dan aku berharap pencari berita tak masuk ke ranah pribadiku, mencari tau keluargaku tepatnya. Oleh karenanya, dengan bermodal amplop, kupesankan tadi pada security komplek untuk lebih teliti untuk memeriksa orang yang masuk ke perumahan kami saat ini. Terlebih penjagaan terhadap rumahku, kumohon pemantauan lebih sering dilakukan. Cukup berita rukoku saja yang menjadi makanan mereka, fikirku.
Aku berhadapan dengan ke 6 pegawaiku saat ini. Kuyakinkan pada mereka, bahwa aku akan secepatnya merenovasi kerusakan yang terjadi dan mereka akan tetap menjadi pegawaiku. Untuk gaji bulan ini aku akan tetap memberi full gaji. Tapi selama masa perbaikan, yang aku harap 1 bulan akan selesai. Aku hanya mampu memberi mereka gaji setengah dari yang biasa mereka dapat.
"Silahkan jika kalian ingin mencoba melamar pekerjaan di tempat lain dulu, setelah rukoku siap beroperasi aku akan segera menghubungi kalian. Semua tergantung kalian, jika tidak setuju dan tidak bisa menunggu saya persilahkan untuk mengundurkan diri. Tapi sekali lagi saya ulang, maaf saya tidak bisa memberi kalian gaji full selama masa renovasi. Silahkan tunjuk tangan untuk yang tidak berkenan!!"
Dan mereka semua diam, tangan mereka tak ada yg di tegakkan ke atas.
"Oke, saya anggap kediaman kalian adalah tanda setuju kalian. Karena semua data terbakar, tulis nama, alamat dan nomer telepon kalian yang aktif dan bisa di hubungi. Nanti serahkan pada Pak Aldo data kalian. Kalian mengerti?"
"Mengerti Pak," kompak mereka.
●●
"Jam berapa kejadiannya semalam Al?"
"Kira-kira jam 10 malam Mas," Aldo sang asisten tampak tegas menjawab.
"Kau katakan ada yang janggal, beritahu padaku apa yang kau temukan," ujar mas Dimas.
"Kemari Mas...." Aldo mengajakku mendekati ruko yang terbakar.
"Kau lihat Mas, area yang terbakar memutar, wajah toko tampak habis di lahap api, juga area belakang. Namun yang aneh barang-barangmu tak semua terbakar, karena untungnya pemadam cepat tanggap sehingga api tidak sampai melahap semuanya. Untuk barang-barang toko yang bisa di selamatkan, aku sudah letakkan di pemukiman warga terdekat, kebetulan ada kontrakan yang kosong disana.
Mas Dimas tampak mengangguk.
"Mari kita masuk Mas, jika kebakaran disebabkan konsleting listrik pasti sumber api berasal dari stop kontak ini dan menjalar dari 1 titik area. tapi ini benar-benar memutar Mas, seperti ... maaf ini hanya prediksi, seperti sengaja ada yang menyiram bahan bakar di setiap sisi rukomu Mas, tapi alhamdulillah warga cepat menghubungi tim pemadam, dan api-pun cepat dipadamkan. Dan alhamdulillah pula lantai 2 aman, hanya bagian atap lantai 1 yang tampak rusak."
"Bagaimana dengan CCTV, apakah ikut terbakar?" selidik mas Dimas.
"Sepertinya sebelum membakar, orang tersebut masuk membobol gembok kedalam, merusak CCTV baru kemudian menyiramkan bahan bakar kesetiap sudut toko. Tapi ada 1 CCTV yang terlewat, CCTV yang terpasang tersembunyi di meja kasir, sangat bersih dan tak ada kerusakan."
"Apa CCTV itu menangkap sesuatu?" ujar mas Dimas.
"Sayangnya hanya menangkap sekilas bayangan yang agak samar, mari saya perlihatkan!!"
Aldo dengan cepat membuk laptop miliknya dan menyalakan CCTV melalui video kecil yang diletakkan di vas bunga dan sang pembuat onar tak mengetahuinya.
Dari video yang diputar tampak seseorang berjaket cream, namun wajahnya tak terlihat.
"Berhenti Al, mundur sedikit ...," sela-ku tiba-tiba.
"Oke baiklah ... ada apa disini Mas?"
"Ini bayangan rambut. pelaku berambut coklat," ujar mas Dimas.
"Akupun tadi sempat berfikir demikian, pelaku berambut panjang dan berwarna coklat. Tapi sangat tidak mungin pelakunya wanita Mas, terlalu berani wanita melakukan hal sekeji ini." Aldo tampak geram.
"Banyak juga pria berambut panjang Al," lirihku.
Dan aku mulai berfikir sesuatu, mungkinkah pelakunya adalah dia?? Orang yang sudah terang-terangan mengungkapkan kebenciannya padaku sejak aku kecil?? Tapi terlalu biad*b jika benar ia yang melakukan hal seperti ini.
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤