Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menggendong Kalisha


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA☺❀


VOTE DAN RATE JUGAAAπŸ˜‰πŸ™


πŸ‚πŸ‚


"Tidak sayang, tidak lagi. Kata-kataku kemarin adalah kesalahan. Harusnya aku tidak merusakmu, maafkan aku Lyra!"


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Bakulan Ketoprak 18:40


"Gie, kau tidak lupa acara sabtu ini kan?" tanyaku pada Firgie di sela aktifitas makan kami.


"Acara aqiqah anak Dewi maksudmu?" jawabnya.


"Iya, seperti apa ya mbak Dewi saat ini, sudah 6 bulan yang lalu dari terakhir aku melihatnya sebelum ia memutuskan resign" ujarku.


"Pastinya ia lebih bahagia dong sayang, ada suami yang menjaganya dan kini ada bayi kecil yang menjadi amanahnya" jawab Firgie.


"Iya." lirihku.


"Jam 9 pagi esok aku jemput ke kossanmu ya" ujar Firgie.


"Oke" jawabku lagi.


Ketoprak di piring kami masing-masing telah habis. Firgie seketika berdiri menjauh dariku, seperti biasa Firgie hendak menghisap rokok saat itu.


Ku seruput es teh manis di hadapanku sambil sesekali menatap Firgie di kejauhan.


Maaf Gie, kau harus merokok menjauh dariku. Sebab ingatanku akan sosok Rendi malam itu masih terlalu jelas. Dan setelah hari itu, rasa takut selalu hadir saat melihat orang yang merokok di dekatku dan syukurlah Firgie memahaminya.


"Gie," panggilku saat ia duduk kembali setelah menghabiskan gulungan rokok di tangannya barusan.


"Hem" jawabnya sambil menyeruput sisa es teh manis di gelasnya.


"Maaf kau harus menjauh setiap hendak merokok" lirihku.


"Iya sayang, aku yang minta maaf masih belum bisa menghentikan kebiasaanku ini walaupun kau sudah memintaku" ujarnya.


Aku mengangguk.


"Entah Gie, aku merasa takut melihat orang yang merokok, seperti akan melakukan hal buruk seperti yang Rendi lakukan." lirihku.


Firgie mengambil tanganku dan menggenggamnya, "Apa kau takut denganku juga Ly?"


Aku mengangguk kembali.


"Baik, aku akan berusaha lebih keras menghentikan merokokku" ujar Firgie kemudian.


"Makasih Gie" lirihku.


Kulihat Firgie tersenyum kearahku.


"Oke, ada yang ingin kau beli kah Ly? atau mau langsung pulang?" ujarnya kemudian.


"Aku belum membeli hadiah untuk putri Mbak Dewi, kita ke Baby shop di pertigaan depan ya Gie ... " ujarku.


"Siapp" jawabnya.


πŸ‚πŸ‚


"Baju ini lucu sekali Gie.."


"Ihh.. yang ini juga cantik"


"hijab kecil, lucunya. Aku kalau punya anak akan aku biasakan berhijab sejak kecil"


"Ayo bantu aku pilih Gie!! Semuanya lucu-lucu"


"Jaket ini juga manis Gie.."


Terlihat Firgie hanya tersenyum dan geleng-geleng mendengar celotehku.


Seorang pramuniaga tiba-tiba mengampiri kami,


"Nyari pakaian untuk calon bayinya ya mbak, mas?" tanyanya.


Aku dan Firgie tampak saling menatap.


"Ohhh, bukan mbak. Nyari hadiah untuk teman" jawabku.


"Oh, maaf. Usia brp bayinya?"


Pramuniaga tersebut dengan cekatan memberi pilihan sesuai dengan kebutuhan bayi di usia tersebut..


Akhirnya kami memilih gendongan depan model kekinian dan beberapa drees yang memang baru bisa di pakai 2-3 bulan kedepan.

__ADS_1


Ketika aku ingin membayar, ternyata kalah cepat dengan Firgie.. Iapun yang membayar semua.


"Makasih Gie.."


"Iya sayang" ujarnya sambil mengusap kepalaku.


πŸ‚πŸ‚


Sabtu pagi 08:30


Aku masih memilih pakaian yang akan ku gunakan untuk ke tempat Mbak Dewi.


Tunik batik akhirnya menjadi pilihanku.


Kurias tipis beberapa bagian wajahku.


Dan Selesai.


Aku memang bukan wanita yang senang berlama-lama berhias.


Cukup tau titik yang harus ku percantik dan sudah selesai.


Sepatu kets tetap menjadi pilihanku.


Tetap dengan gaya casual sesuai usiaku.


08:50


Sambil menunggu Firgie datang ku nyalakan radio melalui ponselku..


Bila yang tertulis untukku


Adalah yang terbaik untukmu


Kan kujadikan kau kenangan


Yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidupku


Yang telah terukir abadi


Sebagai kenangan yang terindah


Duhhh kenapa lagu ini yang muncul?


Mendengar kata demi kata membuat dadaku sangat sesak ... dan otakku ... kenapa di penuhi Mas Dimas?


Segera ku matikan radio yang masih mengalunkan lagu tersebut.


Tidak ... ini salah Lyra* ...


Sudah begitu lama kenapa hati ini masih sesak mengingatmu mas ...


Firgie ...


Firgie ...


Hanya ada Firgie saat ini.


*Tok Tok..


Ohh, Firgie datang ...


Aku harus menetralkan sesakku.


"Sebentar Gie.." teriakku.


Tarik nafas.. Buang..


Tarik nafas.. Buang..


Setelah beberapa lama kubuka pintu yang membatasi kami.


Kupaksakan senyum untuk Firgie saat ini.


"Kau baik-baik saja Ly?" tanyanya.


"Iya" jawabku.


"Kau tampak pucat sayang" ujarnya.


"Oya, tapi aku baik-baik saja. Ayo berangkat!" ujakku.


"Oke," jawabnya.

__ADS_1


Firgie masih beberapa kali menatapku.


πŸ‚


Kediaman Mbak Dewi


Tampak dari luar sudah ramai kerabat dan rekan Mbak Dewi dan Mas Tama.


Seorang ART tiba-tiba menghampiri kami,


"Mbak Lyra dan Mas Firgie ya?" ujar sang ART


"Betul" jawab Firgie.


"Ayo ikuti saya mas, mbak! Disuruh langsung masuk kalau mas Firgie sama mbak Lyra datang," tambahnya.


Kamipun mengikuti ART tersebut masuk ke sebuah kamar besar dengan wallpaper bunga-bunga kecil yang sangat manis. Kamar mbak Dewi dan mas Tama sepertinya, terdapat pula sofa berbentuk L dengan televisi besar disana. Tidak seperti kamar tidur pada umumnya. Di sudut terdapat pula ranjang bayi dan pernak pernik cantik disana.


Tampak Mbak Dewi berdiri melihat kehadiran kami, di tangannya seorang malaikat cantik sedang mengedip-ngedipkan matanya kearah kami, lucunya ...


"Akhirnya kalian sampai juga" ujar mbak Dewi.


"Lho apa ini? kau ini Lyra repot-repot segala" ujar mbak Dewi lagi ketika ku berikan sebuah bungkusan ke tangannya.


"Siapa namanya mbak?" ujarku


"Kalisha Zahwa Medina" jawab mbak Dewi.


"Nama yang cantik, haiii Kalishaa.." ujarku.


Firgie tampak tak banyak bicara tapi matanya tak lepas memperhatikan kami, memperhatikanku tepatnya..


"Aku mau gendong boleh mbak?" tanyaku.


"Tentu saja boleh, Lyra" jawabnya.


Bayi mungil itu sekarang berada di dekapanku.


Kuayun-ayun sambil ku berceloteh dengannya.


"Gimana hubungan kalian?" tanya mbak Dewi mengarah pada Firgie karna melihatku yang sedang sibuk dengan si kecil.


"Hubungan kami baik Dew," jawab Firgie.


"Terus gimana udah ada rencana sebar undangan belum? lihat tuh Lyra sudah sangat cocok menggendong bayi" ujar mbak Dewi lagi.


Melihat tingkah Firgie yang terlihat gugup, aku yang mendengar ikut menyahut.


"Belum kearah sana mbak" jawabku sambil ikut duduk di sofa dekat Firgie berada.


"Lho memang nunggu apa? kalau udah saling cocok ya buruan di halalin, enak lho udah bebas ngelakuin apa aja. Malah jadi pahala" ujar mbak Dewi seolah mengompori kami.


Firgie seketika menatapku, akupun tak sengaja menoleh dan menangkap tatapannya.


"Mbak tinggal sebentar, tolong gendong Kalisha dulu ya Ly ..." ujar mbak dewi terlihat buru-buru keluar membawa ponselnya.


Kenapa aku dan Firgie jadi canggung begini setelah perkataan mbak Dewi pada kami barusan.


"Gie, lihat Kalisha terus menatapmu? sepertinya ia menyukaimu Gie" ujarku berusaha mencairkan suasana.


"Chayanggg ... ko liatin om teyus sihh? omnya ganteng yaa? tapi omnya punya ante, dede jangan liatin om teyus dong.." ujarku mengajak bicara bayi mungil tersebut.


Akhirnya kulihat Firgie tersenyum, ia mengelus pundakku yang duduk di sisinya saat ini.


"Kau mau coba gendong Gie?" ujarku.


"Nggak ah, gak bisa" jawabnya.


"Yahhh ... om ganteng gak mau gendong kamu chayanggg ... kamu cama antee aja yaa, antee ceneng ko gendong kamu" ujarku lagi pada si kecil sambil terus menciumnya.


"Jangan di cium terus nanti nangis bayinya" ujar Firgie mulai tampak mengakrabkan.


"Nggak, aku ciumnya pelan ko. Tau gak Gie, aku seneng bau bayi, harumm ..."ujarku tanpa jawaban dari Firgie. Ia hanya terus memperhatikanku.


"Giee, kayaknya Khalisha ngompol deh.." ujarku.


"Terus gimana?" Firgie tampak tersenyum ke arahku.


"Ko aku malah di ketawain sih. Gimana nih bajuku basah, mbak Dewi ko lama ya??"


"Lyra, aku tidak mau mendekatimu. Kau bau ompol" bisik Firgie.


"Ishhh, sempat-sempatnya Kau menggodaku Gie?"


"Mana ya mbak Dewi??"


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


#Happy reading😎❀


__ADS_2