
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻OTW KE RUMAH KAK FIDA
Ba'da Maghrib tiba ... kami berjalan beriringan saat ini menuju kediaman Mas Fahmi dan Kak Fida. Rumah kami hanya berbeda blok, berbeda 2 gang lebih tepatnya.
Dijalan mas Dimas terus merangkul bahuku. Sedang Mayra tampak berlari-lari saat ini tak sabar untuk sampai ketempat sahabat kecilnya.
Kami melewati beberapa Bapak-bapak yang sedang berkumpul di pos yang kami lewati. Tampak mereka menyapa kami saat melewatinya ...
"Mari, Pak Dimas," ujar salah satu orang dalam perkumpulan tersebut. Mereka memang mengenal mas Dimas, karena sebelum akad kami, mas Dimas telah mengadakan syukuran rumah sekaligus pembacaan do'a untuk lancarnya pernikahan kami lusanya.
"Mari Bapak-bapak," kami sama-sama menunduk dan melipat tangan kami kedada, sebagai salam perkenalan dan rasa hormat kami.
"Ini istrinya, Pak Dimas?" Terdengar seseorang memastikan hubungan kami saat ini. Memang saat acara syukuran rumah tempo hari aku memang tidak hadir, acara akan sampai malam, dan kami belum syah saat itu.
"Iya Pak," sambil kami menganggukan kepala meng-iyakan.
Beberapa saat berjalan, kami sudah berada di rumah sahabat kami, Kak Fida dengan longdrees rumahannya membukakan pintu untuk kami.
"Haii, pengantin baru ... sudah sampai sih, kapan datang? Kenapa tidak mengabari kami?" Kak Fida segera melancarkan tanya ketika menangkap bayang kami memasuki rumahnya.
"Kami sampai zuhur Kak," ujarku setelah sampai ke ruang tamu kediaman mereka. Kamipun segera duduk santai di sofa panjang berwarna tosca tersebut.
"Tunggu, aku panggilkan Mas Fahmi dan
Irsya dulu ya, mereka pasti akan senang melihat kedatangan kalian," ujar Kak Fida yang tampak menaiki tangga rumahnya saat ini.
Dan beberapa saat kemudian ketiganya menuruni tangga bersamaan, irsya yang melihatku seketika berlari memelukku,
"Undaa, Ichaa tanen unda," lirihnya dalam dekapanku, terlihat air matanya tampak mengucur dan membasahi pakaianku. Karena kami memang dulu sangat dekat, hari-hari Irsya banyak di habiskan di bersamaku. Sejak kecil aku sudah ikut memandikan dan merawatnya.
"Bunda juga kangen Irsyaa," ujarku seraya mencium lembut pipi haius Irsya.
"Isyya lepasin, Bunda Lyla bunda Aku, bukan Bunda kamu, Bunda juga jangan cium Irsya Bundaa," Marya tampak geram melihat Irsya yg terus memelukku, dan aku menciumnya pula. Tampak tangan kecil Mayra terus menarik Irsya agar menjauh dari tubuhku.
"Sini putri cantik Bunda, jangan marah Sayang ... bunda juga sayang Mayra," akupun meraih Mayra kan memeluknya pula dilenganku.
Semua yg hadir tertegun dengan drama kecemburuan Mayra.
"Oiya, Irsya kan punya mainan puzzle, yang bentuk-bentuk di masukin itu lo Nak, coba kamu ajak Mayra main itu Nak," kak Fida berusaha mengalihkan kedua bocah lucu kami agar ketegangan antara mereka mereda.
"Memang Isyaa punya mainan sepelti itu?" celoteh Mayra yang dalam hatinya penasaran dengan mainan yang dikatakan Ami Fida.
"Puna dong, Mayla mau main? Ayo itut atu! tapi mainnya halus pelan-pelan ya dangan dilusyakin," ucap lucu Irsya.
"Mainan Mayla juga banyak, nanti Isyya juga boleh main mainan Mayla, iya Mayla gak syuka lusyakin mainan kok," celoteh Mayra tampak matanya berbinar karena diperbolehkan main puzzle Irsya.
Dan tak lama keduanya telah menghilang ke kamar Irsya dan bermain disana.
"Aku buatin minuman dulu yaa," ujar kak Fida kearah kami.
"Aku ikut Kak," spontanku.
"Ayokkk," jawab kak Fida bersemangat.
"Kita mengobrol di teras bro," ajak mas Fahmi yang dibalas anggukan oleh mas Dimas.
●●●●
🌻DI DAPUR
"Bagaimana setelah menikah, kau bahagia bukan?" ujar kak Fida tampak menggodaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah Kak," jawabku malu.
"Aku senang Lyra, kau dan Dimas akhirnya bersatu, kalian berdua telah mengalami banyak hal sebelumnya. Aku sangat bahagia melihat kalian tampak bahagia kini," ucap kak Fida.
Akupun mengangguk.
"Kak, aku sudah bertemu Firgie ...," spontanku, rasanya aku ingin menuangkan rasaku pada sahabatku ini.
"Astagfirulloh, kapan kalian bertemu? Apa kalian sempat berbicara? Dan apakah Dimas mengetahuinya??"
"Sepekan sebelum menikah Kak, iya kami bicara," ujarku.
"Dimana kalian bertemu?Ayo katakan, apa yang kalian bicarakan," Kak Fida sangat tak sabar mendengar ceritaku.
"Firgie memiliki bisnis makanan Kak, kami bertemu disana saat Mayra menginginkan ketoporak."
"Ada Mayra juga? Lalu apa yang ia bicarakan?" kak Fida masih menungguku untuk segera menceritakannya.
"Aku berbicara dengan Firgie di ruangannya, Mayra dibawah bersama Fikra."
"Fikra nama Adiknya Firgie bukan?"
"Iya kak."
"Lalu?" Desak kak Fida lagi.
"Firgie tak benar-benar mencintaiku selama ini Kak, dan janjinya 1 tahun itu, iapun tak sungguh-sungguh memperjuangkannku," lirihku.
"Masa sihh, benar yang kau temui Firgie kan? orang yang sering perhatian padamu dulu? yang selalu siap menjagamu? yang selalu berusaha mendapatkan cintamu kala itu." kak Fida berusaha menegaskan yang kukatakan adalah benar.
"Benar kak, ahh sudahlah kak tidak usah dibahas lagi," ujarku.
"Ceritakan dong Ly, kenapa rasa Firgie bisa berubah dan mengapa ia tak datang dihari pertemuan kalian kala itu," desak kak Fida.
"Yang jelas rasanya sudah hilang padaku menurutnya, ia merasa menyesal mengenalku, kata-katanya hari itu sangat menyakitkan kak, Firgie sudah berubah, ia bukan Firgie yang dulu," ujarku.
"Iya Kak, aku bersyukur bertemu kembali dengan mas Dimas, orang yang benar-benar tulus padaku. Bahkan dalam tidurnya selama ini, mas Dimas selalu mengingatku," lirihku.
"Maksudmu?"
"Bukan apa-apa kok Kak."
"Oya, kita keluar dulu yuk, antar minuman untuk para kekasih kita," canda kak Fida.
"Ishh Kakak ngomongnya gak jelas sih," ujarku menahan senyumku.
Kamipun keruang tamu saat ini, dan ternyata para suami sedang berbincang di luar.
Kak Fida segera keluar diikuti olehku ...
"Bii, minumannya aku taruh di dalam yaa!!" ujar kak Fida pada suaminya.
"Iya, nanti kami menyusul kedalam, anak-anak masih bermain kah?"
"Iya, mereka dikamar atas sedang bermain," ujar kak Fida.
Mas Dimas yang menangkap bayangku, sejak tadi sudah menggengam tanganku.
"Hmm ... pengantin baru udah kayak mau nyebrang, gandengan terus," gurau mas Fahmi memperhatikan kami.
"Gpp dong Fah, sekarang kan udah sah," aku yang berusaha melepaskan tanganku terus di tahan oleh mas Dimas bahkan mas Dimas terang-terangan mencium tanganku di depan mata sahabat kami tersebut.
"Hahh, pengantin baru. Sini Yang, Abi juga mau bermesraan padamu!," mas Fahmi tampak memanggil kak Fida di sebrangnya saat ini.
"Ihh, klo kita mah udah lewat bii. Nihh lihat hasil perbuatanmu yg ini aja belum kelar," ujar kak Fida mengelus perut buncitnya.
"Sini Sayang ... setelah yang ini lahir. Kita buat yang ketiga ya Mii," ucap mas Fahmi menggoda istrinya. Dan kak Fida tampak menggeleng-geleng mendengar celoteh suaminya.
__ADS_1
"Ayo Dim, cepat buat Lyra buncit seperti ini!!," gurau mas Fahmi kembali.
"Siyapp bro, rencananya malam ini kami baru mulai produksi, iya kan Sayang?" ucap mas Dimas seketika menatapku. Ohh, malunya, dan aku hanya bisa menyeritkan alisku menanggapi pernyataan mas Dimas.
"Lho memang dari kemarin belum gol to, haduuhh bro ayolah jangan pada di tahan," mas Fahmi semakin meracau.
"Ayo Ly kita masuk, mas Fahmi mulai gak jelas," geram kak Fida seketika menarikku kedalam.
Dan didalam ...
"Jadi kau dan Dimas belum melakukannya Ly?" tak beda dengan sang suami, kak Fidapun sedang melancarkan ke-kepoannya padaku.
Aku menggeleng.
"Dosa lo Ly, kalau menolak keinginan suami, bisa di laknat malaikat kata Umi Hana."
"Ihh Kakak, aku gak nolak ko. Memang mas Dimas belum memintanya," maluku sebetulnya membahas hal seperti ini.
"Tadi Dimas sudah ngasih kode tuhh, nanti malam buktikan kau bisa memuaskannya." Duhh kata-kata Kak Fida semakin membuatku dag dig dug ...
"Aku tidak paham hal seperti itu Kak," jujurku.
"Hee, iya sih aku juga waktu pertama belum mengerti. Yasudah untuk tahap awal, ikuti saja permainan Dimas. Dimas pasti sudah sangat berpengalaman, berbeda dengan aku dan mas Fahmi yang dulu sama-sama tabu. Hii ...," ujaran kak Fida semakin membuat aku takut rasanya.
"Apa sakit Kak?"
"Sedikit di awal, tapi setelahnya kau pasti akan menikmatinya, astagfirulloh ... aku bicara apa sih," ucap kak Fida sambil terus tersenyum.
"Ayo kita lihat anak-anak di atas Ly," tambah kak Fida lagi dan aku mengikutinya ...
Dan anak-anak ternyata masih asik bermain ternyata ... dan kamipun melanjutkan obrolan di sofa, dekat para bocah bermain.
"Kak, tadi aku lihat TK di seberang perumahan kita, apa TK itu bagus Kak? Sepertinya Mayra sudah cukup usia untuk sekolah," tanyaku.
"TKIT BUNAYYA CENDIKIA maksudmu, iya disana katanya bagus Ly. Banyak lulusan disana yang hafal juz 30. cepat pula bisa membaca katanya," jawab kak Fida.
"Wahh boleh tuh, pas dengan yang kucari. Nanti aku coba bicara dengan mas Dimas," tuturku.
"Aku bangga padamu Ly, walau Mayra bukan anak kandungmu, kau memikirkan yang terbaik untuknya juga."
"Harus itu Kak, dimataku Mayra putri kandungku, aku sangat menyayanginya seperti halnya aku juga menyayangi Irsya," lirihku.
"Kau ini, dengan anak orang lain saja bisa seperti itu, bagaimana dengan anakmu sendiri nanti," ujar kak Fida.
"Yang jelas aku tidak boleh membedakan Mayra dan anakku sendiri nanti," ucapku kembali.
Dan di sudut tangga tampak 2 orang ayah sejak tadi ternyata mencuri dengar obrolan kedua istrinya ...
"Heiii, kalian sudah lama disana kah?" kak Fida tiba-tiba melihat kedua ayah tersebut.
"Ini Dimas sudah ingin mengajak pulang istri dan anaknya," ucap mas Fahmi.
Dengan mata yang masih berbinar mendengar pernyataan istrinya sekejap lalu, Dimaspun berujar, "Ayo kita pulang Sayang."
"Iya Mas," jawabku.
Kuhampiri Mayraku, ia lantas segera membereskan mainan Irsya setelah kunyatakan, kita akan pulang karena hari sudah malam.
Dan tak lama bayang rumah Fahmi semakin terlihat mengecil ...
Dan Mas Dimas terus menatapku sepanjang jalan kami, iapun berkali-kali mengecup tanganku ...
Aneh, batinku.
🌷🌷🌷
🌻Happy Reading❤❤
__ADS_1