
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Terdengar alunan cinta merdu mendayu,
Menyusup ruang kosong dalam pandang pekat,
Usap manja membuyarkan prahara,
Dalam bingkai rasa yang terus terpatri,
Dengan harap tak akan pernah terganti,
Karena tlah menancap dalam sudut hati.
●●
Lirih terdengar merdu ayat demi ayat, surat cinta Sang Pengasih yang dilantunkan oleh Sang Terkasih, sambil terus kurasakan usapan lembut teruntuk 2 sosok yang masih tersamar yang mendiami suatu ruang dalam ragaku.
Ingin terus kutatap sang pemilik wajah ini, wajah tampan yang bertahun silam mencuri hatiku, bahkan screw-screw menjadi saksi kala itu. Wajah yang pernah hilang, dan kembali lagi.
Bingkai sama dalam warna yang berbeda. Warna yang lebih jelas dan terang, yang telah berdiri tegak teruntuk dirinya sendiri, tanpa ikatan yang terpaksa mengikat. Dan ia berdiri maju dan berani menghalalkanku.
Mas Dimasku ...
Lelaki pertama yang masuk kehatiku, membawaku merasakan cinta dan di cintai. Walau darinya pula aku merasakan sakitnya dipermainkan dan ditinggalkan ...
Sungguh ku tak pernah menyangsikan rasanya, menyalahkan salahnya. Karena ia juga manusia biasa yang ingin merasakan berjalan mengikuti alurnya sendiri, mencari bahagianya, mencari tempat hatinya tertuju walau takdirnya tlah tertulis kala itu.
Mas Dimasku ...
Tiada masa kini, tanpa hadirnya masa lalu ...
Kegagalan masa lalu yang menghantarkannya pada masa kiniku, dan sebaliknya. Jika ada ungkapan, ketika kita mengikhlaskan yang pergi akan ada yang lebih baik yang datang, itulah yang terjadi padaku.. Aku kehilangan dia tapi aku kembali bertemu dengannya.
Mas Dimasku ...
Dialah suamiku, pemilik diriku sepenuhnya kini, hati, jiwa dan ragaku hanya untuknya. Tidak untuk yang lain ...
Dan kini lantunan itu berakhir..
"Shodaqollohul'adziimm ...."
Ia menoleh, dan menatapku saat ini. Tatapan sayu penuh ketulusan, sorot mata yang tak akan pernah kulupakan, mata bening yang telah menghipnotisku. Dan ia terpaku kini melihat diamku, kulihat bibirnya mulai berucap kini ...
"Sayang ... sejak kapan kau bangun?"
"Sejak kau terus membisikkan kata-kata cinta yang mengalun melalui ayat yang kau bacakan untuk baby twins kita," ujarku masih tak mampu melepas pandangku.
"Kau butuh apa? Ada yang ingin kau makan?" tanyanya tersirat perhatian yang dalam untukku.
"Jam berapa ini Mas?"
"Jam 5 Sore."
"Asharku belum kutunaikan, antarkan aku berwudhu Mas."
"Tayamum saja ya?"
"Masih ada air Mas, aku juga masih kuat mengangkat tubuhku, aku sudah lebih baik Mas."
"Kau yakin??"
Akupun mengangguk.
"Baiklah, perlahan Sayang ...."
__ADS_1
Dan aku berjalan kini, dituntun suami terkasih yang dengan sigap kalau-kalau ragaku tiba-tiba melemah. Kutatap tangan satunya yang dengan erat pula membawa kantong infusku.
Kulakukan sholatku kini duduk diatas ranjangku, hijab menjadi penutup atasku, dan selimut menjadi penutup kakiku. Kulantunkan ikhlas ayat-ayat serta dzikir yang menyertai perjumpaanku dengan Robku saat ini. Hingga salam menjadi akhir dan do'a menjadi bukti lemahnya diriku tanpa pertolonganNya Sang Maha Pengasih.
Lagi lelakiku kini tengah menatapku. Dan ia menghampiriku yang telah selesai dengan ibadahku.
"Mass, aku mau pulang," lirihku padanya kini yang berada sangat dekat denganku.
"Sebentar lagi dokter kandungan akan datang mengontrol kondisimu dan bayi kita, nanti kita tanyakan yaa? Tapi apa Lyra sudah benar-benar kuat?"
"Sudah Mas, aku sudah seperti biasa," ujarku mantap.
"Oya ini ada puding dan apel yang diantarkan Suster saat Lyra tertidur tadi, mas suapi ya,"
Akupun mengangguk.
Tak lama kemudian, sepotong puding dan potongan apel telah tak tersisa.
"Mass, baby twins masih lapar. Porsi itu terlalu sedikit untuk kami," bisikku pada mas Dimas yang ditanggapi dengan senyum dan belaian di perutku.
Tampak mas Dimas menekan tombol dalam layar ponselnya saat ini.
"Diyara cantiknya ayah dan baby boy gantengnya ayah, sebentar lagi Uti dan Kakak Mayra datang bawa makanan untuk kalian, sabar ya Sayang," bisik mas Dimas diatas perutku, akupun turut tersenyum mendengarnya.
Dan tak lama kemudian ...
•
•
"Bundaa ... " berlari Mayra tiba-tiba kearahķu saat ini, iapun segera menghujaniku dengan kecupannya.
"Cantiknya Bunda, Bunda rindu sekali Nak," ! akupun menciuminya kini.
"Apa Bunda dan adik bayi baik-baik saja?" tanya Mayra sambil terus melingkarkan tangannya dan mendekatkan wajahnya keperutku.
"Bunda dan adik bayi baik-baik Sayang," ujarku menghilangkan keresahan Mayra.
"Menurut suster, dokter akan datang sesaat lagi Bu. Kalau boleh kami ingin pulang sore ini juga," ujaran mas Dimas segera kusambut dengan anggukanku dan ibu yang menatapku seketika menghampiri.
"Dokter akan lebih tau yang terbaik untukmu Sayang, kalau Dokter masih memintamu tinggal maka tinggalah, tapi jika sudah boleh pulang, tentu kami akan senang dengan kehadiran kalian di rumah," sungguh bijak ibu mertuaku ini, tak bisa kusangkal karena memang setiap ucapannya adalah benar. Akupun mengangguk atas pernyataannya.
Ayah dan Shifaa tampak masuk saat ini, aku segera bangkit untuk duduk dan mencium tangan ayah, demikian dengan Shifaa ia segera mencium tanganku, "Cepet sembuh ya mbak," ujarnya yang kujawab dengan senyum dan anggukanku.
Dan disudut pintu seorang wanita tampak terdiam dengan mata yang berkaca.
"Frista, masuk sini Nak, kenapa hanya terdiam disana?" Ibu segera merengkuh bahu mbak Friss dan membawanya kehadapanku.
"Maafkan aku, Lyra ...." ia seketika memelukku.
"Ada apa ini Friss?? Kenapa kau meminta maaf pada Lyra?" mas Dimas heran dan segera menanyakan kebenaran dari ibunya.
"Ibu sudah tau semua yang terjadi? Apa Frista orangnya?" mas Dimas berspekulasi saat ibu hanya menanggapi dengan diam.
"Kita akan bicarakan nanti di rumah Dimas," ujar ibu tak ingin ada kericuhan di kamar rumah sakit ini.
Namun mas Dimas tak bisa menunggu,
"Friss ikut aku..!!!"
"Mass sudah ...," panggilanku tak digubris mas Dimas.
"Shifaa tolong kupas mangga ini untuk mbak Lyra, Lyra ... ibu keluar sebentar yaa," dan akupun mengangguk.
"Mayra juga mau mangga Anty," celoteh Mayra saat melihat mangga yang terlihat manis tersebut.
Dan aku sungguh sangat resah saat ini, hanya do'a yang bisa kuhaturkan, semoga mas Dimas menyikapi semua ini dengan hati yang lapang, aamiin ...
•
__ADS_1
•
"Jadi benar kau Friss yang melakukannya?" ujar mas Dimas setelah mereka sampai di sudut koridor yang tampak sepi.
"Maafkan khilafku Mas,"
"Khilaf kau bilang? sadar kah yang kau lakukan hampir saja mencelakakan calon bayi kami? Untung kau wanita, kalau tidak ... " mas Dimas mengepalkan tangannya kedinding.
"Dimas ... jangan emosi Nak!!!" ibu tampak meraih bahu putranya diikuti ayah yang juga mendekat.
"Sudah, Frista sudah mengakui kesalahannya Dimas, jaga sikapmu!!! Ini rumah sakit," ayah dengan gaya cool tampak menasehati putranya.
Mas Dimas tampak masih melirik wajah Friss dengan wajah geramnya walau ibu sudah membawanya menjauh. Ibu dan mas Dimas tampak duduk di kursi ruang tunggu saat ini. Ibu memberi mas Dimas obat dan mas Dimas tampak menyandarkan kepalanya ke didinding saat ini.
Dan tak lama, seorang wanita dengan pin nama Arianti, SpoG masuk keruanganku. Membuat seluruh keluarga yang masih berada di luar segera mengikuti langkah Dokter tersebut kedalam.
"Bagaimana istri dan 2 bayi saya Dok?" tanya mas Dimas dengan perasaan was-was walau aku sendiri sudah menyatakan diriku merasa lebih baik.
"Oke semua baik dan bagus, ibu Lyra memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga proses pemulihan bisa cepat terjadi."
"Saya sudah bisa pulang sore ini kan Dok?" tanyaku.
"Kita lakukan USG dulu di ruangan saya, setelah kita pastikan kondisi calon bayi kembar Bapak dan Ibu dalam keadaan baik, tentu ibu boleh pulang," ujar sang Dokter yang menangkap ketidaknyamananku berada di kamar rumah sakit.
Mas Dimas seketika membawaku ke ruang Dokter Arianti dengan kursi roda diikuti ibu dan Mayra yang juga ingin melihat 2 adiknya katanya.
"Oke, ternyata pergerakan kedua bayi sangat aktif menandakan kondisi bayi baik-baik saja."
"Hahh cucu kembar Uti, lihat Mayra.!!! itu adik-adikmu sangat aktif dan menggemaskan, Uti jadi tidak sabar ingin menggendong mereka," ibu tampak gembira melihat calon cucunya secara langsung karena biasanya ia hanya melihat dari Foto USG yg kami kirimkan melalui ponsel.
"Bisakah di jelaskan perkembangan cucu saya saat ini Dok?" ibu tampak berujar guna membuang rasa penasarannya.
"Tentu, tertera usia janin ibu Lyra 27 minggu, dengan berat janin yang 1 adalah 900 gram, sedang yang tanpa monas ini 790 gram. Kita lihat wajahnya sudah mulai terbentuk, organnya sudah mulai bekerja.
Pada usia usia ini, janin sudah bisa merespons suara, sentuhan, dan cahaya dengan melakukan tendangan kecil. Tak hanya itu, janin juga bisa mendengar serta mengenali suara bunda dan ayahnya. Sesekali ia akan cegukan dan Bumil bisa merasakan. Semua normal dan tidak perlu dikhawatirkan. O iya, Janin juga mulai mampu merasakan perubahan suhu di lingkungan luar rahim ya Bund."
"Uti lihat mata dede kedap-kedip."
"Lucunya, ini Kakaknya kah?" kamipun mengangguk bersamaan.
"Di usia ini memang kelopak mata sudah bisa menutup dan membuka."
"Istri saya sering mengalami sakit punggung dan kram kaki, apa semua normal Dok?" Dan momen ini dimanfaatkan mas Dimas untuk menanyakan hal yang sering kurasakan.
"Ukuran rahim dan perut Bunda yang semakin membesarlah yang memicunya, ini biasa Pak. Bunda bisa melakukan latihan peregangan, berenang, atau yoga ibu hamil untuk melenturkan otot-otot tubuh. Selain itu, sakit punggung saat hamil juga bisa diredakan dengan cara tidur menyamping dan mengganjal punggung dengan bantal yang besar. Untuk kram kami bisa di siasati dengan minum air putih yang banyak dan hindari berdiri terlalu lama."
"Maaf Dok, berat bayi saya kenapa berbeda ya Dok? apa itu tidak bermasalah?" tanyaku kini.
"Untuk calon bayi laki-laki Bapak memang beratnya sedikit lebih besar, mungkin ia menyerap lebih banyak nutrisi dibanding yang satunya. Karena semakin besar, semakin banyak pula nutrisi yang dibutuhkan kedua janin. Untuk itu Bunda harus lebih banyak pula mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk janinnya."
"Baik keseluruhan keadaan bunda dan calon bayi sehat, jadi ... ibu Lyra sudah boleh pulang. Vitamin dan asam folat dari dokter bunda sebelumnya masih adakah?"
"Masih Dok," jawabku.
"Oke kalau begitu, lanjutkan minum vitamin yang ada jangan lupa kontrol kembali di dokter yang menangani ibu di bulan berikutnya."
"Terima kasih Dok."
•
•
Dan kami akhirnya bergegas pulang. Menurut saran ibu akhirnya aku, ibu dan Mayra pulang lebih dulu dengan Mas Dimas yang berada disisi kemudi. Untuk urusan administrasi diurus ayah agar aku tidak letih menunggu. Shifaa dan mbak Friss ikut pulang di mobil Ayah karna memang mas Dimas menolak 1 mobil dengan mbak Friss.
●●●●
Mungkinkah mbak Friss tidak akan berulah kembali??
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤