Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Hari Baru


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


Temaram malam dalam peraduan,


Dan berjuta bintang laksana cantiknya hiasan, Biarkan angin menyapu rasa yang tertahan,


Meninggalkan sesak malam berbalut bingkai kerinduan,


Dan kini kehangatan tlah menyapu raga dalam pelukan rembulan.


Teramat nyaman, seakan tak akan pernah bosan,


Seolah cinta tercipta hanya teruntuk kedua insan ...



"*Tapi benarkah yang ia katakan tadi? Kenapa kau melakukannya Mas*??"



"Melakukan apa maksudmu?" dan mas Dimas menarik daguku keatas dan membungkam bibirku, bermain-main disana hingga merasa aku berhenti membalasnya baru ia melepaskanku.



Dan sebuah sapuan di daratkan kini dibibirku, mengusap saliva yang tertinggal.



"Mass, jawab..!!! Mengapa kau mencarikan pendonor mata untuk Firgie?" tanyaku kembali memastikan semua yang terjadi sebab agak aneh untukku mas Dimas memberi mata pada Firgie, seseorang yang jelas pernah menjadi masa laluku.



"Kau begitu ingin tau kah, Sayang?" ujar mas Dimas seraya menaikkan kedua alisnya kearahku. Akupun mengangguk seketika.



"Lyra, andai saja operasi mas kala itu gagal apa yang akan kau lakukan?"



"Mas, aku bahkan tidak sanggup membayangkan hal itu, kenapa kau bertanya seperti itu?" lirihku seraya menatap wajah suamiku.



"Hanya sebuah pertanyaan, jawablah..!! dan Mas Akan menjawab pertanyaan Lyra setelahnya," ujar mas Dimas seraya memainkan jemarinya diwajahku.



"Jika operasimu sam-pai ga-gal, mungkin aku akan membawa anak-anakku menepi ketempat yang jauh, dimana aku tak akan pernah menemukan bayangmu, melihat jejakmu dan setiap hal tentangmu. Aku akan sangat marah dan membencimu, karena kau telah sangat tega berhenti berjuang untukku," lirihku seraya terisak dan kutenggelamkan kini wajahku kebahu suamiku.



"Heii, kau menangis?? Lihatlah..!!! aku suamimu masih ada dihadapanmu, Mas Sehat dan tak akan pernah meninggalkan Lyra dan anak-anak. Pertanyaan tadi hanya sebuah pengandaian Sayang," lirih mas Dimas seraya menarik daguku keatas, menatap penuh wajahnya. Dan mengecup keningku setelahnya.



"Masss," lirihku seraya kueratkan pelukanku ketubuh bidang suamiku.



"Oh ya Mas, aku telah menjawab pertanyaanmu sekarang kau harus menjawab pertanyaanku."



"Baiklah, mungkin semua terdengar tak masuk akal tapi di saat Mas merasa rapuh akan kondisi Mas, entah mengapa Mas terfikir mempersiapkan Firgie untuk menemani sepimu jika hal buruk terjadi atas diri Mas," lirih mas Dimas kini.



"Begitukah? Mas sangat jahat, mas menginginkanku bersama orang lain. Apa yang ada diotak Mas sehingga menyamakanku seperti barang yang bisa diberikan untuk orang lain. Aku benci pemikiran Mas," dan kupukul-pukul dada mas Dimas saat ini, kesal dengan semua ucapannya.



"Sayang, maaf ... Maspun sangat membenci pemikiran Mas saat itu saat mengingatnya," ujar Mas Dimas.



"Sudah kita tutup cerita ini, oke," ujar Mas Dimas kembali setelahnya. Akupun mengangguk.



"Mas menurutmu apa Firgie serius terhadap Shifa?"

__ADS_1



"Kenapa kau menanyakan ini pada Mas, kalian lama bersama, pasti kau lebih tau bagaimana saat Firgie menyukai seseorang. Bagaimana menurutmu?"



"Firgie akan protektif saat menyukai sesuatu. Dia ingin selalu mendampingi orang yang dia suka, dia tulus, dulu ia tak banyak bicara tapi entah sepertinya sekarang ia berbeda, ia terkesan blak-blakan terhadap sesuatu. Entahlah, yang jelas emosinya sering tak terkendali saat ia cemburu, lalu ...



"Sudah cukup.!!! Ahh, sial ... jujur mas tidak suka membicarakan ini. Tapi melupakan bukan sesuatu yang mudah, dan kau masih mengingat semua tentangnya ternyata," gusar mas Dimas tiba-tiba.



"Ahh Mas, bukan begitu. Tadi mas bertanya dan aku menjawab, apa aku salah??"



"Sudahlah kita tidur okee, kau pasti lelah bukan??"



"Tapi Mas jangan marah," lirihku.



"Tidak,"



"Lho Mas mau kemana?" tanyaku tiba-tiba melihat Mas bangkit dan memakai boxernya.



"Mau ke dapur ambil minum,"



"Ohh,"







*Firgie, apa ia benar-benar tulus padamu*??


*Awas saja kalau ia sampai menyakiti hatimu ... dan sebelum ia menyandingmu, aku akan memastikan rasanya padamu dahulu*.



Seperti biasa jam 4 pagi alarm otakku tlah membawaku terjaga, kubersihkan diriku dan kulaksanakan sholat malamku. Kulantunkan beberapa ayat cinta Robku sembari menunggu adzan subuh berkumandang.


Dan seperti biasa mas Dimas terbangun dengan sendirinya tatkala murrotal Al-Waqiah diperdengarkan melalui speaker masjid disekitar tempat tinggalku. Ia segera menuju toilet membersihkan dirinya. Akupun menghentikan aktifitas tilawahku dan menyiapkan pakaian sholat suamiku. Aktifitas ini, akhirnya aku mengalaminya lagi setelah sekian lama. Kupanjatkan rasa syukurku kembali atas limpahan karuniaNYA yang masih menyatukan kami dalam bingkai keluarga kecil ini.


Dan dibawah tampak Bapak, Ayah, Aldo dan Mang Diman juga telah bersiap mencari penawar dahaga iman yang harus kami lengkapi, dan kebersamaan Subuh di Masjid adalah penawar dahaga kerinduan pada belai sang Maha Cinta yang mereka siap tuju.


20 menit berlalu bayang mas Dimas telah kulihat dimuka kamarku kembali. Dan kini Dirga tampak telah terjaga, ia terus berceloteh yang tidak kupahami. Ia kududukkan di ranjang dengan beberapa mainan dihadapannya. Mas Dimas yang baru pulang seketika menghanpiri sang putra dan turut berceloteh bersamanya.


"Hai anak ganteng Ayah sudah bangun sihh, ini masih gelap Sayang, hemm ... mau gangguin Bunda, mau main dengan Ayah.. atau mau olah raga, muter-muter perumahan yuk ...."


"Sayang, kita joging ajak si kembar yuk," ajak Mas Dimas kini padaku yang tengah membereskan pakaian dalam koper dan memasukkan ke lemari kembali.


"Boleh, tapi Diyara belum bangun Mas," ujarku.


Dan tak menunggu lama Mas Dimas tampak mendekati ranjang Diyara dan mengganggu putri kecilnya hingga terbangun.


Mas Dimas mendekatiku kini dengan menggendong Diyara dan membaringkannya di ranjang kami, ia memakaikan kaos kaki Diyara sepertiku kini yang tengah memakaikan kaos kaki Dirga. Kususui si kembar bergantian kini agar tak rewel saat kami diluar nanti.


Setelah selesai dengan kebutuhan si kembar, kuganti outfitku dengan celana kulot beserta tunik kaos yang dipadu padankan dengan hijab senada, kaos kaki tak lupa kusematkan menutupi auratku. Dan mas Dimas telah siap pula disana dengan celana joger dan kaos army, didudukkannya Diyara di gendongan depannya setelah disematkan hijab cantik menutupi kepalanya. Sedang Dirga digendongan depanku saat ini.


"Mayra tidak dibangunkan Mas?" lirihku.


"Sebentar Mas lihat ia di kamarnya dulu," ujar Mas Dimas seketika langsung menuju kamar Mayra.


"Haii Kakak Cantik, Diyara mau jalan-jalan dengan Ayah dan Bunda, Kakak mau ikut aku nggak?" celoteh Mas Dimas mengganggu Mayra yang tertidur.


"Ayah, jangan ganggu Kakak masih ngantuk," celoteh Mayra setelahnya.


"Yasudah, nanti Ayah belikan bubur ayam yaa," ucap Mas Dimas seraya mencium pipi sang putri. Dan ditanggapi anggukan oleh Mayra.

__ADS_1


Berhubung Mayra tidak ikut, berempatlah kini kami melakukan jalan pagi kami, tampak Diyara sangat antusias sepanjang perjalanan terus berteriak seraya menggoyangkan kakinya. Sedang Dirga tampak tenang menikmati pemandangan sekitar.


Setelah beberapa lama berjalan, kami berhenti membeli bubur ayam untuk Mayra dan si kembar baru kemudian pulang ke kediaman kami.




Pukul 07.00 saat kami menginjakkan kaki di rumah, dan di rumah 2 ibu ternyata sudah menyiapkan sarapan.


Segera kuberikan Dirga pada Mbak Dinar untuk disuapi, sedang Diyara masih asik bermain dan belajar berjalan di ruang tamu bersama akung-akungnya.


Aku segera kelantai atas membangunkan putri cantikku dan mempersiapkannya sekolah. Hingga pukul 07:10 Mayra telah siap dan langsung menghabiskan sarapannya, iapun segera berangkat diantar Mang Diman setelahnya.


Dan kami berkumpul di ruang makan kini, menyantap sarapan sambil terus berbincang, ibu Arini yang biasa tenang di meja makan seketika ikut berbaur dan tampak ruang makan ramai penuh gelak tawa, Dirga yang telah sarapan segera di rapihkan oleh Mbak Dinar, sedang Diyara kami biarkan asik bermain di lantai di sekitar ruang makan. Setelah Dirga siap barulah Diyara yang disuapi dan dirapihkan oleh Mbak Dinar. Dirga kini duduk diatas baby walker dan dengan lincah berlari ke kanan dan kini menikmati pijakan demi pijakan yang ia lakukan seraya terus berteriak.


Setelah menghabiskan makanan di piringnya, Mas Dimas tampak berbicara pada kami semua ...


"Ibu, Ayah, Bapak, mumpung saat ini kita sedang berkumpul. Dimas dan Lyra berencana mengadakan syukuran pengajian sebagai rasa syukur atas kesembuhan Dimas, kesehatan anak-anak, rezeki kami yang terus mengalir, juga bersyukur karena keluarga kami masih selalu harmonis menjalani bahtera ini setelah banyak ujian dihari kemarin. Bagaimana menurut kalian semua?"


"Ibu setuju bagus," ujar ibu Arini.


"Aku yo setuju Mbak," ibu Fatia turut menegaskan ucapak ibu arini.


Ayah dan Bapak tampak manggut-manggut mengiyakan.


Oke jadi insyaa Alloh besok malam pengajian, dan lusa siangnya Dimas juga hendak mengumpulkan seluruh karyawan Dimas untuk makan bersama sebagai apresiasi atas semangat bekerja mereka walau Dimas 2 bulan kemarin tidak bisa mendampingi.


"Okelah kau atur saja, Nak. Oya rencananya mau masak sendiri atau pakai catering," ujar ibu Arini.


"Catering saja Bu, kebetulan ada teman Dimas yang memiliki usaha catering, disini kalian tamu, Dimas tak ingin kalian letih. Kalian cukup duduk manis dan ikut mendoakan kami itu sudah keberkahan yang tidak ternilai, betul begitu kan Sayang??"


"Iya Mas," kujawab penuturan suamiku setelahnya.


"Oya, 1 lagi Bu. Mumpung kondisi rumah ramai, nanti malam Dimas dan Lyra rencana mau makan malam berdua, apakah keberatan jika kami menitipkan si kembar di rumah Yah, Pak, Bu.??"


"Hahh Mas Dimas pinter banget tuh Bu, cari kesempatan untuk berduaan," goda Shifaa.


"Apaan sih anak nakal, kami kan lama tak bersama Sayang, malahan Mas niatnya suatu saat bisa honeymoon bersama mbak Lyra," dan mas Dimas menaikkan alisnya kini kearahku.


"Ihh Mass," ujarku malu mas membahas hal seperti ini di depan keluarga.


"Jangan mau Mbak, nanti pulang-pulang Mbak hamil lagi lo," goda Shifa.


"Eh ni anak ngomongnya nakal ya."


"Sudah ... sudah, jangan bercanda terus. Kalau hamil lagi juga gpp, Ibu suka punya cucu banyak kok," Ibu Arini tampak mengutarakan pendapatnya.


"Kalau bisa sih nanti dulu Mbak, si kembar masih kecil, kalau si kembar 3 tahun baru deh bisa nambah momongan. Biar kasih sayang full mereka terima dulu, Dimas dan lyra juga pasti letih kalau ada bayi lagi," ujar ibuku ikut berpendapat pula.


"Ya gpp Mbak, kalau ada bayi lagi tinggal tambah tukang momong," ibu Arini masih bersih keras ingin punya banyak cucu."


"Sudah ... sudah, masalah anak itu rezeki dari yang Maha Kuasa, kalau Lyra dikasih hamil lagi, ya berarti mereka dipercaya kalau belum berarti cukup bersyukur dulu dengan yang ada, dibawa enjoy aja. Toh mereka yang menjalani, kita hanya memantau," Bapakku ikut menenangkan ibu.


Dan semuanya terlihat tertawa bersamaan setelahnya, merasa lucu telah ikut campur rumah tangga putra putrinya ....




Dan di kamar ini, mas Dimas terus menggodaku yang kembali membereskan koperku kembali.



"Sayang kau maukan kalau kita punya banyak anak?" bisik mas Dimas seraya bermain di tengkukku.



"Mass ... sudah siang berangkat sana ahh," lirihku malu.



"Hahhh ... ya sudah Mas berangkat tapi jangan lupa nanti dandan yang cantik saat makan malam, oke??"



"Iya Sayang ...."



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2