
"Cari makan dulu ya Ly??" ajak mas Dimas sambil berteriak padaku. Kami sedang dimotor saat ini, hingga suaranya nyaris terdengar samar tersapu angin yang sangat gencar menggoda kami.
"Iyaa mass, " jawabku.
"Lyra mau makan apa??" tanyanya lagi.
"Apa saja mas."
Mas Dimas meminggirkan motornya di suatu foodcourt dalam suatu komplek Pom Bensin yang terlihat sangat nyaman dan bersih.
"Aku akan ikut makanan apapun yang kau pilih Lyra," ujarnya yang sudah berada tepat disampingku membiarkan motornya bersama motor-motor lain berjejer cantik disana.
"Tapi aku gak tau makanan apa yang mas suka."
"Apapun pilihanmu pasti mas makan habis," ucapnya lagi sambil lagi-lagi memberi senyum padaku.
Kilirik jam di ponselku menunjukkan Pukul 16:48
"Oh iya, aku kan sedang berhalangan," ujarku sesaat terlintas ibadah Asharku saat mataku terarah pada masjid besar di depan kami.
"Oya, kita ke masjid itu dulu ya Ly," ajak Mas Dimas.
"Aku sedang tidak sholat mas ...."
"Oh oke, maaf." Seketika mas Dimas tau apa maksud ucapanku.
"Aku akan tunggu mas disitu ya," ujarku sambil menunjuk sebuah bangku taman di tepi masjid.
"Oke, bisa tolong pegang jaket mas Ly!"
"iya mas," dan jaket mas Dimas seketika telah berpindah dalam dekapanku.
Dalam hati serasa semua ini tidak nyata untukku. Mas Dimas yang beberapa hari kemarin menjadi sesuatu yang sangat jauh dan terasa hanya anganku, kini sangat dekat padaku.
Selang beberapa lama laki-laki dengan rambut basah itu telah berdiri di sampingku.
●●●●
"Jujur apa kemarin kamu marah saat mas gak belas pesanmu Ly?" tanyanya sambil terus melusuri seluruh bagian wajahku dengan matanya.
Aku hanya tersenyum mendengar tanyanya.
"Semalam mas ktiduran Ly, saat pagi sudah sibuk untuk berangkat kerja lagi," ujarnya tanpa berhenti menatapku yang duduk di depannya.
Ohh, padahal seharian bekerja ku terus berfikir buruk tentangnya. Maaf mas Dimas, batinku.
__ADS_1
"Ly, kamu selalu konsentrasi ya kalau bekerja," ujarnya.
"Mas Dimas, apa jangan-jangan dia tau masalah aku yg lupa memasang label tadi???" batinku dengan tatapan terkejut padanya.
"Apa mas tau di line tadi aku ...." baru kuingin berucap sudah terpotong lagi dengan kalimatnya.
"Stage mu di line sangat berpengaruh, Mas gak mau suatu saat terpaksa akan mengomelimu jika terdapat kesalahan yang kau buat," ujarnya serius.
Kujawab dengan anggukan kepalaku. Aku sangat memahami maksudnya.
"Kenapa tadi mas gak mengomeliku jika mas tau aku berbuat salah?" keberanikan bertanya dengan wajah polosku.
"Karna mas lihat masalah sudah di selesaikan, dan lagi wajah polosmu itu Mas gak bisa marah melihatnya," ujarnya lagi sambil tersenyum kearahku.
"Apa aku terlihat seperti gadis kecil yang polos Mas?" tanyaku dengan mata penasaran sambil mengerucutkan bibirku.
"Bukan bgitu Lyra, wajahmu sangat menggemaskan saat panik," ia tersenyum menggoda lagi.
"Memang berapa usiamu Ly??"
"19 mas," jawabku.
"Aku 24, aku sangat tua ya?" tambahnya.
Percakapan kami berhenti saat seorang pelayan mengantar nasi goreng pesanan kami.
"Ayo, makan dlu!! nanti kita lanjut ngobrolnya," ujar mas Dimas.
Sambil menyantap makanannya mata mas Dimas tak berhenti menatapku.
Aku yang sejak tadi merasakan detak jantung yang berdetak tak karuan berusaha tenang agar serangan panikku tak muncul.
Sendokku tiba-tiba terjatuh. Mas Dimas menyodoriku sendok lain. Dan setelah 1 suapanku, sendokku terjatuh lagi. Mas Dimas yang menyadari panik/grogiku muncul tiba-tiba menghentikan makannya dan memegang jemariku, "Lihat mata Mas Lyra, kamu terganggu dengan tatapan Mas?"
Aku mengangguk.
"Mas ingin kamu terbiasa dengan tatapan mas," ujarnya dengan tatapan bersungguh-sungguh.
"Gak bisa Mas," jawabku.
"Sebelumnya kamu sering begini kah? atau tatapan mas saja yang membuatmu begini??" tanyanya lagi terheran ingin tau.
Aku memutar otakku "Sepertinya baru mas Dimas yang membuatku begini," terasa malu jika aku ungkap pada mas Dimas bahwa baru dia yang mampu menyentuh hatiku. Karna selama ini aku hanya tersibuk dengan keluarga dan sekolahku saja.
Aku hanya terdiam tak menjawabnya.
__ADS_1
"Jadi baru mas yang membuatmu begini?" tanyanya seolah tau isi otakku.
"Akupun mengangguk," menunduk menutupi rona wajahku yang pasti telah memerah terlihat olehnya.
Tampak mas Dimas berdiri merubah posisi duduknya di sampingku.
"Sekarang kamu bisa makan tanpa melihat wajah Mas di hadapanmu Lyra," ujarnya lagi melihat nasi goreng yang baru berkurang sedikit di piringku.
Setelah selesai makan, terdengar ponsel mas Dimas berbunyi.
"Kamu itu dimana Dimas? dari kmarin kan sudah ibu bilang Frista dan keluarganya habis magrib nanti mau ke rumah. Ini malah kamu gak sampe-sampe, cepet pulang!! Ibu tunggu di rumah!!!" ujar seorang wanita paruh baya dengan nafas terengah-engah berbicara pada mas Dimas.
"iya Bu, aku akan pulang ...."
Mas Dimas seketika meletakkan ponselnya ke saku kembali.
Kulihat Ia terdiam, tatapannya kosong.
Kulihat pula tangan kanannya mengepal keatas meja tampak sekali telfon tersebut sangat mengusiknya.
"Ada apa mas?" kuberanikan bertanya yang terjadi padanya.
"Aku harus segera pulang," jawabnya datar.
"A-da masalah kah?" tanyaku lagi terbata.
"Bukan apa-apa," jawabnya dengan memberi senyum yang di paksakan kepadaku.
"Klo memang terburu-buru, aku bisa pulang sendiri Mas," ujarku tak ingin menjadi bebannya.
"Mas akan antar kamu pulang Lyra, kamu baru 2 bln di Bekasi kan? Betapa jahat Mas membiarkanmu sendiri di tempat yang belum sepenuhnya kamu hafal."
Segera kami bangkit dari tempat duduk kami.
Mas Dimas segera beranjak mengambil motornya untuk mengantarku pulang.
"Terima kasih untuk hari ini ya Ly," ujarnya sebelum berlalu.
Entah mengapa kumerasa ada yang Mas Dimas sembunyikan, ia tampak berbeda setelah telepon itu.
●●●●
🌻Jangan lupa vote, rate, like and coment yaaa😉
🌻happy reading❤❤
__ADS_1