Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Ada apa dengan Mayra?


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Kenapa Sayang?" sapa mas Dimas melihatku tak biasanya terus meringkuk seusai sholat subuh.


"Pinggangku sakit Mass," lirihku.


Dan mas Dimas seketika mengarahkan telapak tangannya kepinggangku, mengelus dan memberi pijatan lembut menggunakan minyak penghangat saat ini.


"Masih linu Mass ...,"


"Sabar Sayang, Lyra ingat perkataan Dr. Arianti tempo hari. Semakin besar janin, smakin besar pula pelebaran rahim dan perut ibu, itulah salah satu pemicu sakit pingangmu.


Maafkan Mass Sayang."


"Kenapa meminta maaf?"


"Karena Lyra merasakaan ini semua karena sedang berjuang untuk anak-anak Mas dalam kandungan Lyra," lirih mas Dimas sambil terus menyapu pinggangku.


"Mass ...." seketika aku beranjak dari posisi berbaring miringku dan bangun seraya meraih tubuh dihadapanku.


"Sayanngg," bisik mas Dimas seraya membalas pelukanku.


"Maaf, aku banyak mengeluh Mas," lirihku.


"Semua wajar karena banyak perubahan dari tubuhmu yang membuatmu tak nyaman. Apalagi ini pertama untukmu. Sabar yaa, 1 bulan lagi. Insyaa Alloh segala sakit yang kau rasa akan tercatat pahala untukmu."


"Aamiin, aku malu pada diriku sendiri Mas. Sudah dipercaya tapi aku malah tak sabar dan terus mengeluh,"


"Semua wajar Sayang dan mas senang mendengar keluhmu ketimbang kau menahannya sendiri, mas akan sedih kalau kau melakukannnya."


Akupun mengangguk.


Mas Dimas melepas pelukannya kini, ia mengarahkan tangannya ke perutku, membelai dan menyapu lembut, membisikkan do'a dan menyapa kedua baby twins kami,


°°Diyara dan Dirga kesayangan Ayah, baik-baik di dalam sana Sayang, kalian harus saling menyayangi, menjaga dan jangan pernah mempersulit Bunda. Ingatlah setiap sakit yang Bunda kalian rasakan selama mengandung kalian ... Kalian harus berjanji pada Ayah, untuk menjadi pelita dan pengukir senyum di wajah Bunda. Kalian dengar Ayah kan??


Dan kata-kata Mas Dimas bagai hujaman untukku, mengingat peranku menjadi seorang ibu baru saja dimulai, namun sudah kutoreh dengan keluh.


Kubasuh kepala yang masih berkutik diperutku. Lelaki di hadapanku ini kenapa bisa begitu bijak ...


Kulingkarkan lenganku ke lehernya, ingin dekat dengan lelakiku ini. "Ada apa Sayang," ujar lelakiku seraya mengangkat kepalanya dan menatapku intens, ia tampak heran merasakan lingkaran tanganku yang semakin menghimpit wajahnya.


"Mass ...." Seketika kukecup kening suamiku dan menarik wajahnya kedadaku. Ingin mendekapnya saat ini.


Setelah beberapa saat,


"Terima kasih Mass sudah mendampingiku, ucapku sambil terus kukecup pucuk kepalanya.


"Sudah Sayang, ia mengangkat kepalanya yang terbenam di dadaku," ia tampak tersenyum. "Mas suka posisi kau memeluk Mas tadi, tapi akan tidak menguntungkan untukmu. Hawatir mas tidak kuat dan mengharap lebih," ujarnya seraya terus tersenyum.


"Mas ihh, aku sedang terharu sempat-sempatnya bicara mesum."


"Tanganmu yang nakal, sini peluk seperti ini saja," mas Dimas menarik kepalaku kedadanya.


"Nanti biar bik Lasmi yang menjemput Mayra, Lyra istirahat saja di rumah ok, dan biar mas suruh bik Lasmi buat sarapan pagi ini,"


"Iya Mas,"


"Selamat istirahat Sayang, baby twins ... Ayahh titip Bunda bersama kalian yaa, Mas akan siapkan Mayra sekolah dlu, bye. Cup," sebuah kecupan mendarat singkat di keningku.

__ADS_1




"Mayra berangkat dulu Bunda, Bunda tidak perlu jemput Mayra nanti ... Kata Ayah, Bik Lasmi yang akan jemput, Mayra sayang Bunda dan adek bayi, cup ... cup ...cupp ... Bye Bunda," peluk hanggat menjadi akhir pengantar keberangakatan sekolah Mayra pagi ini, setelah 3 kecupan di daratkannya kepada kedua adiknya diperutku, juga padaku setelahnya.


●●●


CHIIITTTTT ....


"Bundaa ...."


BRAAAKKK ....


●●


Prang ...


Hahhh ... jatuh, kenapa tiba-tiba gelas ini jatuh dari genggamanku.


Saat ini pasti Bik Lasmi sudah tiba di sekolah Mayra. Putri cantikku ... biasanya Bunda akan sangat bahagia menatapmu keluar dari gerbang sekolah, melihatmu seketika lari kearah Bunda. Tapi hari ini, rasa kurang nyaman di tubuh ini memaksa Bunda tak dapat melakukan aktivitas seperti biasa.


Maafkan bunda Sayangg ....




30 Menit berlalu,


Kenapa bik Lasmi dan mang Diman masih belum sampai juga ya??


Kenapa pula jantungku jadi berdetak tak karuan seperti ini ...


Kemana mereka??


Aku akan telepon Bik Lasmi,


Tut tut tut .... "Hahh, sibuk."


Mang Diman,


Tut tut tut .... "Kenapa sibuk juga."


Tenang Lyra, tenang ...


Oke, Mas Dimas. Semoga ia tak sibuk.


Tut ... Tut ... Tuttt ....


Angkat Mas ... Mas Please!!! Ayo angkat ...




"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Masss ...."


"Sayang."


"Mas, sudah hampir 1 jam tapi bik Lasmi dan Mang Diman belum juga kembali dari menjemput Mayra. Mass, entah mengapa aku sangat hawatir. Mas, bantu hubungi mereka. Mayra ... aku sangat hawatir dengan putri kita Mass ....

__ADS_1


"Tolong tanda tangan disini Pak..!!!"


"Baik Dok. Tolong lakukan yang terbaik!!!"


Dan akupun mendengar sayup suara, ada apa ini?


"Mass ... Kau dimana?


Suara siapa barusan?


Tanda tangan apa??


Kenapa tidak menjawab??


Jawab Maassss...!!!!"


"Mang Diman akan menjemputmu, bersiaplah..!!!"


"Menjemput kemana? Mass, Mass ....


Tut Tut Tut ... Haahhh, terputus. Ada apa ini Ya Robb??


●●


"Katakan kita akan kemana Mang?"


"Dimana putriku Mayra?"


"Dimana bik Lasmi??"


"Jawab Mang..!!!! Kenapa terus diam??" gusarku saat ini, Ada apa ini semua? bahkan Mang diman mengunci rapat mulutnya.


Beberapa saat kemudian ...





Rumah sakit??


"Siapa yang dirawat disini Mang?? Tolong jawab Mang..!!!"


"Mari masuk Buu..!!!" hanya sepatah kalimat tak penting yang tak memberi jawab. Dan aku mengikuti Mang Diman masuk kedalam Rumah Sakit saat ini, kulangkahkan kaki menuju koridor yang seakan tak berujung, hingga di sudut koridor dengan pintu besar dan tulisan berlampu mang Diman berhenti.


Kulihat Bik Lasmi, ia menangis tersedu disudut.


Dan mas Dimas, dari kejauhan ia tampak berjalan menghampiriku ...


Seketika ia memelukku saat jarak kami semakin dekat. Ada apa ini? gemuruh tanya di otakku saat ini.


"Masss ... ada apa ini? Kenapa kalian semua disini? Kemana Mayraku??" tak menunggu lama seketika kulontarkan tanyaku.


Tanpa jawab mas Dimas semakin mengeratkan peluknya, "Sabar Sayang, Kita harus bersabar.!!!"


"Mass ....


Ada apa ini??


Dimana Mayra??


Kenapa harus bersabar???"

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2