
Firgie tampak melangkah masuk saat tanganku spontan melebarkan pintu yang berada dihadapannya.
Ia duduk bersandar pada dinding di samping pintu yang terbuka.
Aku duduk disisinya masih dengan diamku.
Suasana tampak hening.
Ia terlihat sesekali menatapku.
Entah apa yang difikirnya.
Hingga sesaat kemudian Firgie tampak memulai obrolan denganku.
"Kau tampak seperti bukan Lyra yang ku kenal..." ujar Firgie diikuti senyum khas yang biasanya mampu melelehkanku, tapi tidak untuk saat ini, banyak tanya dalam benakku yang tak mampu kusingkirkan terlebih kunyatakan padanya.
"Maksudmu?"
"Penampilanmu dirumah sangat berbeda" tampak Firgie memperjelas ucapannya.
"Maaf jika aku tidak seperti wanita shalihah seperti anggapanmu. Seperti inilah aku di rumah. Ilmu agamaku juga masih kurang." Tampak sekali aku begitu sensitif saat ini, entah karna pengaruh datang bulanku atau kekecewaanku padamu Gie.
"Tidak, Sungguh aku bukan mengejek ilmu agamamu. Tapi kau terlihat cantik Lyra" ujarnya sambil terus menatapku.
Ahh... Kau menggombaliku Gie, tapi aku sudah terlanjur kecewa padamu, batinku.
"Hentikan menatapku seperti itu! Dan berhenti menggombal padaku!" ujarku ketus.
"Aku tidak menggombal Lyra, aku berkata sesuai yang kulihat. O-ya, Maafkan aku juga tadi aku sangat sibuk di tempat kerja sampai tidak sempat mengirim dan membalas pesanmu." ujarnya.
Aku masih tak meresponnya. Masih tetap kukuh dengan diamku.
"Setelah pulang kerja rencananya aku akan langsung kesini tapi ada suatu urusan yang tak bisa kutinggalkan. Dan baru bisa mampir malam ini." Ujarnya lagi.
*Urusan.. Urusan dengan wanita lain maksudmu? lirihku dalam hati
"Kau marah padaku Ly?"
"Untuk apa aku marah?" kujawab masih dengan nada ketusku.
"Kau sudah makan?" tanya Firgie lagi.
"Su-dah" jawabku terbata. Dan tak lama "Kruukk" tampak suara perutku berdemo meminta haknya.
__ADS_1
Sial.. aku ketahuan berbohong..
Firgie yang juga mendengarnya tampak tersenyum memergoki kebohonganku.
"Aku juga belum makan" ujarnya.
"Kau mau keluar?" tambahnya lagi.
"Sudah ganti baju males keluar" lirihku jujur.
"Tek... Tek..."
Terdengar suara tukang nasi goreng keliling dikejauhan menuju kossanku.
Kalau aku makan bersama Firgie malam ini bukankah berarti hutangku yang tinggal 1 hari menemaninya makan malam berarti lunas, fikir dalam benakku.
"Itu... Tukang nasi goreng. Aku mau itu!!" ujarku tiba-tiba membuat Firgie tampak heran.
Segera ku berdiri hendak membaur kearah luar tapi Firgie dengan cepat manangkap tanganku dan menahannya. Aku kaget dan menoleh kearahnya.
"Mau nasi goreng?" tanyanya. Dan segera kujawab dengan anggukan kepalaku.
"Tunggu disini! Jangan keluar! Biar aku yang keluar!"
*Gadis ini, cepat sekali berubah fikirannya.
Setelah beberapa saat Firgie kembali membawa 1 kantong kresek berisi 2 bungkus nasi goreng di tangannya.
Aku segera mengambil sendok dan kami langsung menyantap nasi goreng dihadapan kami masing-masing.
1-2 pulau terlewati. Hak perutku terpenuhi dan Hutang makan bersamanya malam ini lunas. Tinggal hutang pergi bersamanya di akhir pekan. Dan setelah itu tak ada lagi hutangku padamu, aku akan segera menjauh, batinku.
"Gie, hutang makan bersamamu 1 pekan ini berarti lunas kan?" ujarku di tengah makan kami.
"Jadi, kau makan bersamaku karna terfikir hutang itukah Ly? ujarnya.
"Iya." Kujawab masih dengan nada ketusku.
"Jangan merasa terbebani dengan perjanjian itu Lyra! Akhir pekan nanti kaupun tak perlu pergi bersamaku jika kau tak ingin."
"Deg.. kenapa aku jadi tak nyaman mendengar kata yang keluar barusan dari bibir Firgie. Terdengar datar. Apa ia marah?"
*Awalnya aku yang kecewa dan marah padanya, tapi saat Ia terdengar akan menjauh. Kenapa aku jadi takut. Takut kehilangan perhatian darinya...
__ADS_1
"Tidak Gie, aku sudah berjanji pasti kupenuhi" ujarku merendahkan nada suaraku. Walau rasa penasaran tentang gadis yang bersama Firgie sore tadi masih menyelimutiku.
Tampak nasi goreng kami telah habis, Lyra segera membuang bungkus tersebut ke tong sampah di dapur. Dan segera ia kembali setelahnya.
"Lyra, jangan keluar dari gerbang dengan pakaian seperti itu ya?" Firgie tampak serius dengan ucapannya sambil sesekali menatapku.
"Kau fikir tadi aku akan keluarkah Gie? Tadi aku hanya hendak mengintip tukang nasi goreng itu sudah dekat atau belum. Itu saja?" ujarku.
"Aku juga malu kali Gie, kalau keluar ke jalan tanpa hijab" ujarku lagi.
"Kalau denganku atau lelaki lain yang datang kesini. Kau tidak malu Ly?"
"Firgie... Kenapa berkata seperti itu?" kata-kata Firgie sungguh menyentil imanku membuatku merunduk dan malu.
"Maaf Lyra, tidak bermaksud mengguruimu. Jika ada rasa malu itu adalah tanda keimanan. Dan bagus kau masih memilikinya." Ujar Firgie dengan hati-hati.
"Maaf Gie.. imanku masih seperti ini. Tapi suatu saat aku akan menjalankan perintah Robbku dengan baik." tampak rasa bersalah dari kata-kata Lyra saat ini.
"Iya. Aku paham Lyra. Sudah kita jangan lanjutkan pembahasan ini. Maafkan kata-kataku ya Ly."
"Oh ya... A-pa Di-mas, maaf aku menyebutnya.. juga pernah melihatmu seperti ini?"
Aku mengangguk.
*Oh bodohnya, kenapa kutanyakan hal ini. Pastinya Dimas sering main ke kontrakan Lyra dulu dan tentu pula melihat Lyra dengan penampilannya dirumah seperti saat ini.. Pertanyaan yang membuatku sesak sendiri membayangkannya, batin Firgie mengutuki dirinya.
"Sudah hampir jam 10. Aku pulang Ly..."
"Gie, apa tadi kau pergii...." Aku tiba-tiba berhenti tak melanjutkan tanyaku.
"Iya Ly... Apa yang ingin kau tanyakan barusan?" Firgie tampak heran dengan pertanyaan mengambang yang Lyra ucapkan.
"Tidak jadi Gie.."
*Ahh... Bahkan aku tidak siap mendengar kejujuranmu mengenai gadis itu Gie...
Biarlah semua tersimpan namun aku akan tetap menjauh setelah urusan hutangku denganmu selesai...
"Oke, tidak perlu mengantarku. Kau masuklah jangan lupa kunci pintunya!! Assalamu'alaikum Lyra..."
"Wa'alaikum salam Gie..."
****
__ADS_1
# Salam Cinta ❤ dari Thor😉 dan mohon dukungannya selalu...
#Happy reading😍*