
Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
Mass ... kau tidak apa-apa Maasss??
"Tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke mobil..!!!"
Tampak mas Dimas masih menyentuh dadanya, walau mulutnya mengatakan baik-baik saja. Tapi sepertinya ia tidak sepenuhnya baik-baik saja.
"Ayahh, ayah jangan sakit lagi ...," celoteh Mayra dan terus menciumi wajah sang ayah Di dalam mobil.
"Ayah tidak apa-apa Sayang,"
"Kenapa menatap Mas seperti itu," sebuah tangan mendarat diwajahku saat ini, berusaha mengusir kegelisahanku tapi nyatanya aku takut jika kau menyembunyikan yang kau rasakan seperti sebelumnya.
Kusentuh dada Suamiku kini.
"Yang mana yang sakit Mas??"
"Mas baik-baik saja Sayang .... Hanya sedikit kaget atas pukulan tiba-tiba kedada Mas. Dan sekarang sudah tidak apa-apa, Mas tidak menyembunyikan apapun."
"Tunggu sebentar Mas, di sudut bibirmu berdarah," kuambil obat cair segera dan memberikannya di luka suamiku.
"Terima kasih Sayang, kita pulang ya..!!!"
•
•
"Sesampainya di rumah tampak Bik Lasmi segera menyambut barang bawaan kami, dan Mas Dimas seketika masuk ke kamar.
"Ada apa Lyra, mengapa Dimas terlihat tergesa-gesa keatas?" ibu Arini tampak menatapku dalam dan menanti jawabku.
"Buu, tadi kami bertemu Rendi, dan terjadi sedikit keributan. Mas Dimas terus menyentuh dadanya setelah beberapa pukulan mengenai tubuhnya," lirihku.
"Anak ini ...." Dan ibu segera berhambur ke kamar atas, akupun mengikutinya.
Tok ... Tok ...
"Dimas, buka pintu..!!!" gusar Ibu.
Dan seketika terbukalah pintu kamarku.
"Apa ini? Bibir berdarah, wajah pucat, buka bajumu..!!!" tampak ibu hendak memastikan yang terjadi pada putranya.
Akupun mendekati suamiku dan membantunya melepaskan pakaian, semua tampak normal tanpa luka disana.
"Katakan yang benar, apa begitu sakit dadamu?"
"Sedikit Buu," ucap mas Dimas kini.
"Kaum lelaki, mengapa selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tidak bisa kah kalian duduk dan membicarakannya dengan kepala dingin?"
"Lyra, ambil air hangat dan kompres dada suamimu..!!!"
"Iya Buu," lirihku.
"Apa yang diucapkan Rendi hingga memancing emosimu, ceritakan pada ibu..!!!"
tanya ibu dengan ketegasan lagi-lagi disana.
"Bukan hal penting Bu," ucap mas Dimas.
"Jawab yang betul pertanyaan ibu.!!!" teriak ibu kini.
"Rendi hendak mengambil Mayra Buu, walau bukan darah Dimas yang mengalir ditubuh Mayra, tapi Mayra selamanya anak Dimas. Tidak akan Dimas Biarkan siapapun merebut Mayra Bu," ujar mas Dimas penuh emosi.
Dan aku kembali dengan sebuah baskom air hangat, dan langsung kukompres dada mas Dimas.
"Jaga emosimu Nak, dan Rendi apa maunya anak itu? bisa-bisanya ia berfikir memiliki sesuatu yang lama tak dianggapnya. Lyra, hubungi dokter jantung suamimu untuk memastikan tidak ada hal yang serius."
__ADS_1
"Baik Buu."
•
•
•
20 Menit berlalu, Dr. Edo dari Dago Hospital Group datang ke rumah, dengan cekatan ia segera memeriksa keadaan mas Dimas termasuk bekas jahitan di tubuh dan kondisi jantungnya.
Setelah beberapa saat memeriksa dokter berujar, bahwa tidak ada yang hal serius yang terjadi. Hanya kaget, semua fungsi organ bagus, hanya saja perlu dihindari penekanan berlebih di area bekas sayatan, tampak luar memang oke tetapi tetap kita tidak tau bagaimana kondisi bagian dalamnya. Jadi hindari pergerakan cepat dan berlebih, emosipun harus selalu dijaga dan bersikap tenang akan lebih baik. Dokterpun segera pulang setelah memberi obat pereda nyeri pada Mas Dimas.
"Kau dengar itu Dim, tenang lebih baik, jangan sampai emosimu memperburuk dirimu sendiri," ujar ibu seraya menyapu kebelakang rambut putranya.
"Baik, ibu akan memeriksa penataan ruang tamu, Lyra kau temanilah suamimu dulu!!"
"Iya Bu,"
"Kemarilah Sayang ...," panggil mas Dimas melihatku yang tampak risau.
"Mass, aku akan sedih jika kau kembali sakit," lirihku seraya memeluk suamiku yang tengah berbaring kini.
"Jangan terlalu hawatir, tadi dokter Edo telah memberiku pereda nyeri. Kau dengar sendiri tadi bukan? Mas hanya kaget, dengan istirahat sesaat mas akan kembali baik.
"Mas ... Rendi dan Friss sudah menikah, entah alasan apa yang membut mereka tak bisa memiliki anak lagi. Tapi yang jelas, aku takut mereka akan kembali dan tidak akan menyerah untuk mengambil Mayra."
"Kau tenang saja, mas akan menempatkan security untuk menjaga extra rumah kita," ucap mas Dimas berusaha menenangkanku.
"Mas, malam ini dan besok akan banyak orang masuk kerumah kita. Apa tidak sebaiknya kita mundurkan acara syukuran ini? Kenapa aku hawatir kalau-kalau Rendi dan Friss akan menyusup dan mengambil Mayra."
"Sayangg ... tidak akan terjadi seperti itu. Saat nanti acara berlangsung, anak-anak biar diatas, jangan turun kebawah okee..!!!"
Dan akupun mengangguk dengan menyelipkan do'a semoga tidak ada keburukan yang terjadi lagi di rumahku.
Dan aku sudah bersiap dengan gamis satin berwarna marun, demikian pula mas Dimas menggunakan kurta berwarna marun pula senada denganku.
Mas Dimas tampak berdiri didepan bersama Aldo dan Firgie menyambut tamu yang datang, Aldo menggunakan koko kream dan Firgie tampak berkoko putih saat ini. Ketiganya terlihat sangat menawan tak ubah layaknya model dalam peragaan busana muslim di pelataran rumah.
Seperti instruksi mas Dimas, anak-anak dilantai atas bersamaku dan mbak Dinar saat ini. Dirga masih penuh semangat merangkak mengukur kamar kami. Dan Diyara baru saja terlelap setelah menikmati hak ASInya. Sedangkan Mayra merebahkan diri dengan manis di ranjangku seraya menonton acara kartun di ponselku. Dan di bawah terdengar suara Aldo mulai membuka acara, Puji Syukur kehadirat Alloh SWT serta sholawat dan Salam teruntuk junjungan Nabi Muhammad SAW sedang tercurah kini terdengar. Melihat putra-putriku tampak tenang akupun turun kelantai bawah dan berbaur pada kaum wanita di bawah.
Lantunan Surat Ar-Rohman, Al-Waqiah serta Al-Mulk tampak dibacakan bersamaan saat ini, Kesyahduan sangat terasa hingga bergetar hati-hati kami mendengar ayat demi ayat dengan makna dan bahasa yang sangat indah. Rangkaian kata yang hanya mampu tergores melalui pena Sang Pencipta. Dan kini beberapa ayah terakhir dalam Surat Al-Baqoroh tak lupa di lantunkan sebagai pelengkapnya.
Pembacaan ayat telah selesai dilantunkan, kini saatnya mendengar ceramah yang akan dibawakan oleh Ustad. Al- Baihaqi, ustad terkemuka yang biasa mengisi acara pengajian di Masjid tempat kami tinggal.
Tak terasa 30 Menit sudah ceramah dibawakan, dan masuk ke acara terakhir do'a penutup yang tersirat rasa syukur kami sekeluarga atas segala rahmat dan karuniaNYA hingga kami mampu menjalani setiap ujian yang datang, doa memohon kami senantiasa mampu membawa keluarga ini menjadi Syakinah, Mawaddah dan Warohmah, dinaungi cinta kebahagiaan di dunia hingga ke Syurga, rasa syukur pula tersirat teruntuk kebarokahan Rizki juga kesehatan seluruh anggota keluarga untuk hari ini dan berharap seterusnya.
Dan setelahnya acarapun berakhir, tersaji kini sajian soto ayam yang disajikan ibuku yang memaksa membuatnya. Baru kemudian bungkusan berisi nasi ayam bakar dan box snack dalam sebuah tas tampak dibagikan menjadi tanda berakhirnya acara pengajian ini.
Beberapa waktu berlalu ...
•
__ADS_1
•
Para tamu tampak telah tak terlihat tertinggal kami penghuni rumah sebagai keluarga yang masih tinggal dan duduk kini bersama dalam gelaran permadani saling bercengkrama dan bercerita. Tampak pula Mayra yang kini merebahkan diri dengan bertumpu pada kakiku masih asik dengan ponselku di tangannya.
Tak berselang lama, baru kusadari sosok lain diantara kami, Fikra. Adik Firgie dengan tinggi yang sepadan dengan sang kakak namun tampak memiliki beberapa jerawat di wajahnya terlihat pula duduk di tepi dekat sang Kakak. Matanya beberapa kali menangkapku dan tampak tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya sebagai sapaan padaku.
Sesaat semua tampak hening saat Firgie dan Fikra mulai terlihat mendekat kearah Ayah Arya dan Ibu Arini yang duduk di sisi Mas Dimas di sisiku. Seketika pula Shifaa tampak mulai berjalan mendekat dan duduk ditengahku dan ibu. Shifaa yang berbalut gamis jeans tampak cantik sesuai usianya yang belia.
Firgie tampak mencium tangan Bapak dan Ibu serta Mas Dimas saat ini dan diikuti oleh Fikra melakukan hal yang sama dengan kakaknya, Firgiepun tampak menatap dan menganggukkan kepalanya kearahku baru menatap Shifaa beberapa saat setelahnya.
Iapun mulai berbicara kini ...
"Bapak, Ibu ... sebelumnya perkenalkan ini adik saya Fikra."
Dan Bapak Ibu tampak tersenyum kearah Fikra menanggapi ujaran Firgie.
"Bapak, Ibu, seperti yang kalian tahu bahwa saat ini saya sedang menjalani hubungan dengan putri Bapak dan Ibu yang bernama Shifaa ....
Bapak dan Ibu tampak mengangguk.
Hingga Firgie kini melanjutkan kembali ucapannya, "Melihat usia saya yang telah cukup berumah tangga, dengan ini saya ingin mengutarakan keseriusan saya terhadap Shifaa putri Bapak dan Ibu. Saya berharap bisa melanjutkan hubungan kami ke ikatan yang lebih serius, jika berkenan saya meminta izin dan memohon restu Bapak dan Ibu untuk bisa meminang Shifaa putri Bapak dan Ibu. Mohon maaf sebelumnya untuk malam ini baru adik saya sebagai penguat apa yang hendak saya sampaikan, jika permohonan saya diterima segera mungkin saya akan bawa kedua orang tua saya untuk bertandang ke rumah Bapak dan Ibu di Cikarang."
"Apa kalian benar-benar sudah saling mengenal?" tanya ayah kini kepada Firgie.
"In syaa Alloh sudah Pak," jawab Firgie tegas.
Dan ibu mulai mengeluarkan suaranya kini, "Nak Firgie, jujur ini terlalu cepat buat Ibu apalagi melihat usia Shifaa yang masih terlalu muda ibu fikir untuk menikah. Apa kamu benar-benar yakin Shifaa adalah pilihan hati kamu dan bukan sekedar yang penting ada pasangan atau bersama dengan yang saat ini dekat. Tapi sesungguhnya hati kamu tidak benar-benar memilih Shifaa. Bisa saja mungkin hal seperti itu terjadi??" tegas ibu seraya menatap dalam Firgie.
Dan aku turut menatap dalam pria yang sedang berusaha memohon restu untuk adikku, tatapanku tak bergeming, terus penasaran ingin mendengar jawaban Firgie atas penuturan ibu hingga tak sadar mas Dimas sudah duduk disisiku kini.
Mas Dimas seketika merangkul bahuku menyadarkanku dari lamunku, hingga aku menoleh dan terkaget, kuterkekeh setelahnya karena tertangkap menatap pria lain sebelumnya.
"*Jaga matamu, bukan kau yang sedang diminta Firgie tapi Shifaa, adikmu*."
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1