Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Diyara Demam


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻Pukul 10.00 BANDUNG


"Eh Bapak, Ibu ... mari silahkan masuk Pak, Bu." Bik Lasmi membukakan pintu kepada 2 sosok paruh baya yang baru saja tiba. Iapun spontan membawa tas yang di bawa kedua sosok tersebut ke kamar tamu.


"Pada kemana kok sepi sih?" tanya Uti Fatia ibuku yang tampak heran dengan suasana rumah yang lenggang.


"Non Mayra sedang sekolah, Pak Dimas dan Bu Lyra masih di atas," jawab Bik Lasmi santun setelahnya ia masuk ke dapur hendak membuat teh hangat untuk orang tua majikannya tersebut.


Dan ibu segera naik keatas sudah tak sabar ingin melihat cucu kembarnya ...


Tok ... Tok ...


"Ly ... Lyraa ...," panggil ibu di muka pintu kamar saat ini.


Tok ... Tok ...


Ibu mengetuk pintu kembali.


Pada ngapain sih udah siang kok sepi kayak gak ada kehidupan, batin ibu.




Dan di dalam kamar ...


"Yang ... "


"Hmmm ...."


"Ada yang dateng,"


"Siapa??"




"Ly ... Lyraaa ...." panggil ibu kembali.




"Suara ibuku Mas,"


"Ibuu??"


Dan seketika mas Dimas beranjak dari kasur setelah melihat anggukanku yang mengiyakan suara yang memanggil adalah suara ibuku.


Mas Dimas segera masuk ke kamar mandi saat ini.


Akupun membuka pintu sambil merapihkan rambutku yang ku ikat kebelakang bersamaan saat ini.


Kreekkk....


Dan terbukalah pintu yang membatasi kami,


"Ibu ...," sapaku seraya kupeluk tubuh ibuku yang terlihat lebih berisi dari sebelum terakhir kami bertemu 2 minggu yang lalu saat akikah Dirga dan Diyara.


"Dikunci segala sih pagi-pagi Nok, mana cucu-cucu ibu??." Ibu seketika menghambur kedalam kamarku, ingin segera mungkin memastikan kondisi Dirga dan Diyara.


"Ohh.. lagi pada tidur yaa," ujar ibu, tak lama kemudian duduk bersamaku di sofa.


"Ibu berangkat jam berapa tadi?" tanyaku memulai obrolan kami.


"Setengah 7 dari rumah, maksud ibu biar gak macet. Ehh macet juga gara-gara ada truk yang kejeblos bannya ....


Ucapan ibu tiba-tiba berhenti melihat mas Dimas keluar dari kamar mandi. Tampak mas Dimas beranjak ke balkon menjemur handuk yang sesaat sebelumnya digunakan untuk membasuh wajahnya.


"Sudah sampai Bu?" sapa mas Dimas seraya mengahampiri dan segera mencium tangan ibu setelahnya.


"Iya ni ibu baru sampai," ucap ibu.


"Bapak mana Bu?"


"Bapak di bawah."

__ADS_1


"Kalau gitu Dimas permisi menemani Bapak di bawah ya Bu..!!!" tutur sopan mas Dimas.


"Iya Nak," sahut ibu.


~~


"Kamu habis ngapain sama Dimas? Kamu udah KB? anakmu masih pada merah lho, jangan sampai kebobolan dan hamil lagi!! Kayak Nia anaknya Bu Mar, anaknya belum ada 1 tahun udah mau ngelahirin lagi. Bukan apa-apa ibu cuma kasihan sama kamu."


"Ihhh ibu, iya kami tau kali Bu, tidur aja kok tadi, karena semalem baby Diyara lagi ngajak bergadang."


"Tapi udah selesai nifas?"


"Udah Bu, udah bersih Lyra langsung mandi nifas biar bisa ibadah."


"Udah KB kan?"


Akupun menggeleng.


"Kenapa belum?"


"Nanti rencananya pertengahan bulan Bu, sambil kontrol Dirga sama Diyara."


"Ya udah, jangan disepelein lho. Emang sih kamu kalau lahiran gampang kayak ibu tapi ngurusnya emang gak repot."


"Iya, iya Buuu ...."


"Ohh, baguslah. Gimana ngurus bayi?? Kamu pasti capek Ly ...," lirih ibu penuh kasih.


"Lyra seneng kok Bu, cuma kalau nyusunya lagi pada gak udah-udah, capek dan pucuk asinya jadi perih banget."


"Iya yang sabar Nok."


"Gimana kabar ibu sehat kan? Bapak nyetir sendiri apa ada yang nyetirin?" tanyaku sambil sesekali kulirik box bayi tempat putra putriku yag tertidur masih tampak tenang.


"Ibu sehat. Bapak nyetir sendiri pelan-pelan aja yang penting sampe."


Akupun mengangguk.


Sudah 2 bulan ini memang Bapak punya mobil sendiri, narik angkot agak sepi jadi angkotnya di jual dan dibeliin mobil jadul yang mesinnya masih bagus, Daihatsu Expass. Untungnya harga 30 jutaan dapet mobil dengan surat-surat komplit jadi bisa buat ojek online, kebetulan Bapak sering dapet carteran nganter ibu-ibu pengajian setiap sabtu-minggu juga.


Tampak sudah ada pergerakan dari dalam box baby twinsku, sepertinya Dirga mulai terbangun. Segera ku rengkuh tubuhnya sebelum Diyara menyadari saudarinya terbangun dan ikut terbangun pula. Kuberi guling kecil di sisi kanan dan kiri Diyara agar ia merasakan seolah ia tidak tidur sendiri.


Dan baby Dirga berada dalam dekapanku kini.


"Oya, masa sih Bu?? Kalau kata ibu Arini, Diyara yang mirip mas Dimas waktu bayi lho Bu," ujarku.


"Berarti pas dapet satu-satu, satu mirip kamu, satu mirip Dimas," ucap ibu setelahnya.


Dirga dan Diyara memang kembar tidak plek identik, ada bagian-bagian wajah mereka yang berbeda. Tapi keseluruhan mereka mirip menurutku.


Cap ... Capp ... Cappp


Dan Dirga sedang menyusu saat ini,


"Kuat banget nyusunya anakmu,"


"Iya Bu."


"Dimas kalau malem bantuin kamu ngurus si kembar kan?"


"Bantuin Bu, malah lebih sering mas Dimas yang bangun lebih dulu daripada Lyra kalau salah satu ada yang nangis."


"Bagus kalau begitu, kirain dia tidur aja kalau anaknya bangun," ujar ibu.


"Nggak Bu, malah Lyra yang kasihan sama Mas, malemnya ikut bergadang, pagi udah sibuk, nanti jam 11 mulai mondar-mandir ngecek usahanya. Magrib pulang langsung bantu ngurus baby twins."


"Kalau kamu kerepotan, cari tukang momong Nok, paling nggak bisa bantuin mandiin, jemurin si kembar atau ngurusin Mayra, bantu ngerjain PR Mayra. Jadi gak semua di pundak kamu," lirih ibu saat ini.


"Gimana ya Bu, kalau urusan baby twins kok Lyra gak tenang kalau mereka di pegang orang asing. Apalagi semua full ASI, tetep ujung-ujungnya ke Lyra. Kalau untuk jaga Mayra boleh deh nanti Lyra ngobrol sama Mas Dimas."


"Iyaa Nok. Jangan sampai kamu berdua sampai sakit gara-gara kecapean. Kan ada bik Lasmi, beres-beres atau ngerapiin bekas mandi si kembar bisa di kerjain bik Lasmi. Yang penting kamu fokus nyusuin, istirahat, sama makan yang banyak."


"Iya Bu, tapi memang cari pengasuh Mayra boleh tuh buat bantu beberes ruang atas juga. Bik Lasmi kerjaannya juga udah banyak, nyuci, ngepel, nyetrika, masak, kasihan juga klo dia ngurus diatas naik turun udah tua juga."


"Ya udah yang penting semua di obrolin sama Dimas." Dan aku mengangguk mengiyakan.


Oekk ... Oeekk ... Oekkk


"Dah kamu susuin Diyara sana, Dirga biar ibu gendong. Udah kenyang tuh kayaknya," ucap ibu seketika meraih Dirga kepelukannya.


"Dirga ibu bawa ke bawah ya Ly, biar Bapak ngeliat perkembangan cucunya, Bapak kalau di rumah yang di tanyain ya Dirga, Diyara, sama Mayra terus. Kangen sama cucu tapi rumahnya jauh."


"Iya Buu ..."

__ADS_1


"Kamu juga habis nyusuin Diyara, langsung kebawah bawa Diyara, bapak biar ngelihat juga. Kamu jg belum ketemu Bapak kan?"


Akupun mengangguk.


"Cucu Uti yang gantengg, kita ke bawah yuk ketemu Akung..!!!" celoteh ibu sambil berhambur pergi keluar kamar.


●●●●


"Bagaimana pekerjaanmu Dim?" ujar bapak melempar tanya pada mas Dimas.


"Alhamdulillah lancar Pak, Bapak sendiri bagaimana?" mas Dimas tampak membalas tanya Bapak sambil sesekali menyeruput teh hangat dihadapannya.


"Semenjak ada Daihatsu lumayan naik penghasilan Bapak. Ada aja ibu-ibu pengajian yang carter mobil buat ke taklim atau ke tabligh Akbar, kalau hari-hari biasa yang naik banyakan anak sekolah, ya di syukuri aja Dim."


Mas Dimas tampak mengangguk.


Dan di tangga tampak ibu sedang menuruni anak tangga menghampiri 2 pria yang terlihat santai mengobrol.


"Hehhh ini dia cucu Akung, ini yang namanya siapa ini? Lyra gak turun??"


"Kalau gak ada antingnya ya berarti Dirga lah Pak, Lyra masing nyusuin Diyara. Nanti kalau udah selesai mau langsung turun," ucap ibu menenangkan Bapak yang sudah kangen dengan putri dan cucunya.


Dan Dirga sudah di pelukan Bapak saat ini, "Ganteng, gantengg ... cucu akung," ujar Bapak seraya menautkan hidungnya dan hidung Dirga saat ini."


Dan Akupun turun saat ini bersama Diyara,


"Mas, udah setengah 11 kurang lho, emang gak kerja??" tanyaku heran melihat mas Dimas tampak masih duduk santai disisi Bapak.


"Mas berangkat habis zuhur aja hari ini, O ya, ini jam pulang sekolah Mayra kan?"


"Iya, biasanya Mang Diman yang jemput Mayra, tuh mang Diman udah siap-siap," ujarku.


"Mas saja yang jemput Mayra. Permisi Pak, Bu, Dimas jemput Mayra dulu," ujar mas Dimas seketika mengambil kunci motor matic setelah sebelumnya melihat anggukan di wajah Bapak dan Ibu atas pernyataannya.


"Cantiknya Akunggg, Ini Akung dateng ni Nokk," gemas Bapak yang saat ini sudah memangku Diyara. Tampak Bapak juga menautkan hidungnya ke hidung Diyara saat ini.


"Diyara kayaknya agak anget sih Ly," ujar Ibu tiba-tiba.


"Masa sih Bu," ujarku.


"Iya betul badan Diyara anget Nok," ujar Bapak setelah ia meletakkan jemarinya ke dahi mungil Diyara.


"Coba kasih parasetamol Nok ...."


"Nanti tunggu mas Dimas Buu," lirihku sambil kudekap tubuh Diyara saat ini.


"Ngasih obat kok nunggu suami?"


"Lyra gak mau kesalahan Buu," ujarku.





Beberapa saat kemudian ...


"Assalamu'alaikum ...," terdengar suara bocah kecil dari arah luar dan tak lama segera menghambur masuk kedalam.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami bersamaan saat ini.


"Utiii, akungg ...," panggil Mayra kini yang terlihat sangat bahagia atas kehadiran orang tua dari bundanya tersebut. Ia pun segera salim pada keduanya.


"Cucu Cantik Uti sudah pulang nihh," ujar Ibu menyambut uluran tangan Mayra dan memeluk sang gadis setelahnya. Hal yang sama dilakukan pula keada Akungnya.


"Lyra mana Bu?" tanya mas Dimas yang tak melihat kehadiranku.


"Diatas, menidurkan Diyara. Dimas, sepertinya kondisi Diyara sedang kurang fit coba kamu lihat keatas, Mayra biar bersama Ibu."


Dan Mas Dimas segera ke lantai atas, masuk ke kamar kami tepatnya.


"Diyara kenapa Sayang?"


"Mass, badan Diyara demam, sejak tadi rewel. Aku susui jg seperti kesulitan bernafas."


"Kau ingat, sejak semalam Diyara memang agak sulit tidur. Kita ke dokter yaa ...." ucap mas dimas segera.


"Tapi Mass, Dirga bagaimana? Dia juga harus disisiku karena susunya ada padaku," lirihku bingung.


Hmmm ... Bagaimana yaa??


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2