Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kakak Sepupu


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Kududukkan diriku di ranjang mas Dimas.


Kuberusaha menghilangkan segala sesakku ...


●●●●


🌻Seseorang tampak masuk dan terhenyak, matanya terbelalak menatapku yang sedang duduk di tepi ranjang. Senyum tampak mengembang dibibirnya, Ia merapatkan pintu dan menguncinya. Baru kemudian ia mendekat dan beberapa kali memanggilku, hingga aku akhirnya menyadari panggilannya ...


"Haiii Lyra ... adik Lyra,"


Akupun menoleh kearah datangnya suara, dari balik pintu kamar Mas dimas tepatnya suara itu berasal. Dan kini, aku yang terhenyak ... laki-laki dengan rambut panjangnya sedang tersenyum menyeringai kearahku.


"Kau ...," kagetku.


Mengapa ia ada disini dan dimana mas Dimas? hembusan masa lalu telah membuatku lupa tujuanku ke kamar ini tadi. Aku langsung terhanyut dalam sesakku tanpa kupastikan kehadiran mas Dimas di kamar ini.


Lelaki itu mendekatiku, apa yang hendak ia lakukan ...


"Berhenti!! Jangan mendekat!! Jangan macam-macam denganku ... "


Suaraku seakan angin lalu, ia tak menggubris dan semakin mempercepat langkahnya. Iapun sudah sangat dekat denganku kini,


"Tak menyangka kita bertemu lagi disini, aku mulai berfikir sepertinya kita berjodoh. Aku baru tiba dari Bali dan langsung bertemu denganmu, apa kau berfikir hal yang sama denganku kah, Ly-raa?"


Ia terus berucap, dan mata itu tak sedikitpun membiarkanku terlepas dari tatapannya. Aku benci ... sangat benci dengan tatapannya ...


"Hentikan omong kosongmu!! Keluar kau dari kamar ini Ren!! Cihhh, bahkan menyebut namamu-pun aku sangat muak."


"Apa tidak bisa kita bicara baik-baik Lyra ...." Tampak Rendi mendudukkan dirinya disisi ranjang pula disebelahku.


"Bicara apa? tidak ada yang harus kubicarakan dengan laki-laki sepertimu, tingalkan aku!! tinggalkan kamar calon suamiku!!" tegasku.


Mata itu lagi-lagi meng-ekspos wajahku, menelusurinya ...


"Jangan tatap aku seperti itu!!" aku mulai berdiri dan berlari kearah pintu kini, kutarik handle pintu dihadapanku berusaha keluar dari kamar yang membuatku sesak atas kehadirannya.


Namun, pintu tak terbuka, tak ada pergerakan, pintu terkunci. Sejak kapan ini terkunci, padahal saat Mayra keluar tadi ia hanya menutupnya perlahan ...


Dan disana, pria dengan kemeja hitamnya sedang mengayunkan kunci di tangannya.


"Kau mencari ini? Ayo ambil ... !!!" ujarnya, terdengar sayup riuh suara orang yang mulai berdatangan di lantai bawah.


"Buka pintunya Ren!! Aku harus keluar, acara akan segera dimulai," ujarku.


"Kita bahkan belum bermain-main Sayangg, kurasa kasur Dimas sangat nyaman."


"Menjijikan, buang fikiran mesummu!! Cepat buka pintunya!! atau aku akan berteriak ... "

__ADS_1


"Kau sangat senang menggertakku dengan teriakanmu, ayo teriak, jika kau ingin memberi citra buruk pada keluarga calon suamimu!! Kau senang bukan, seluruh tamu menyadari kebersamaan kita dikamar ini? bagaimana ya berita yang pas ... Hemm, mempelai wanita berduaan dengan kakak iparnya di kamar calon suaminya ... Hmm, Oke juga!!," lirihnya.


"Kau gil*a Ren." ketusku.


"Sekarang aku tanya!! Apa yang kau lakukan di kamar calon suamimu? aku mulai curiga, jangan-jangan kau bukan wanita baik-baik seperti tampilanmu. Kau ingin menggoda calon suamimu dikamar ini, bukan?"


"Kau tidak waras Ren," ujarku. Dan kulihat laki-laki itu mulai mendekat padaku. Ia mempercepat langkahnya dan menarikku ketepi ranjang, ia mendorong tubuhku keatas ranjang setelahnya.


Gil*a, laki-laki ini sungguh gila, apa yang akan ia perbuat padaku. Ya Robb, tolong hamba, dimana ia menyimpan kunci tadi, bagaimana aku bisa mendapatkan kunci itu dan keluar dari ruangan ini? Mas Dimass, kau dimana?? Tolong aku Mas ... aku tidak bisa berteriak, karna aku harus menjaga nama baik keluargamu. Mass cepat kemariii!!!


Rendi mulai mendekati ranjang, ia menatapku yang terbaring diatas ranjang kini. Ia mulai mengukungku dengan kedua lengan kekarnya. Kupukul- pukul tubuh diatasku kini. "Tolong, jangan lakukan Ren!! ingat!! aku calon istri saudaramu, ibumu juga wanita bukan?" pintaku lirih mungkin saja ia akan mendengar.


"Diam!! aku tidak punya Ibu!! sebaiknya kau menurut Sayang, ahhh.. Pakaian apa yang kau gunakan ini, kenapa lebar sekali," gumamnya.


"Ren, tolong ... jangan rusak aku!! tenaga Rendi mulai tak sekuat sebelumnya ia terlihat sibuk dengan gamisku yang lebar dan aku gunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri,


Segera kutendang senjata andalannya, iapun segera meringkuk kesakitan, kupukul-pukul pintu dihadapanku, dan kupanggil-panggil nama mas Dimas, mungkin saja akan ada yang mendengar kufikir, tapi suara speaker pembukaan yang terdengar, menyamarkan suaraku..


Dan Rendi dengan tatapan marahnya mulai mendekatiku lagi.


Ia seketika melingkarkan tangannya ke tubuhku, dan menahan tanganku dibelakang. Kudorong ia dengan bahuku tapi tak berarti apa-apa untuknya. Kakikupun dihimpit dengan kedua kakinya kini.


"Tolongg... Tolongg ... Mas Dimas... " aku mulai berteriak kini.


"Kau terlambat Sayang, teriakanmu tidak akan terdengar. Kau dengar itu bukan!! Pembacaan Yasin sangat keras terdengar di speaker." ujar Rendi semakin mengintimidasi gerakku.


Tubuhku tak dapat kugerakkan saat ini, kaki dan tanganku telah terkunci. Ku palingkan wajahku ke kanan dan kiri, menghindari wajahnya yang berusaha menangkap wajahku.


"Kurang ajar ... mundur ... hentikan Ren, aku benci padamu, benciii!!! Mas ... Mas Dimas ... Tolonggg!!! Tolong!!!


Ia memang tak mampu melakukan hal lebih, karena tangan dan kakinya digunakan untuk menahan tangan dan kakiku, tapi himpitan tubuhnya sangat menyakitiku. Tubuh kekarnya membuat tubuhku sakit...


"Masss ...." aku berteriak kembali.


Dan tiba-tiba, aku mendengar ketukan dari arah luar. Ada seseorang di luar sana..


"Lyra ... kau didalam?" samar ku dengar suara mas Dimas memanggilku..


"Masss .... Tolong aku Masss!!!!" teriakku sekencangnya.


"Lyraa ... kau baik-baik saja?"


"Masss .... Aku di dalam Mass .... Tolong!!!" teriakku kembali.


"Diamm!!!" Rendi tampak panik saat ini.


Suara hentakan pintu sebelumnya, sudah tak terdengar lagi ...


Mas Dimas, apa kau tak menyadari suaraku?? Kau sudah pergi kah? Kau kemana Mas?? batinku.


Haha... Dimas sudah pergi saat ini, ia tak mendengar suaramu Sayangg ... Rendi mulai mengintimidasiku lagi.


Tak apa aku tak bisa melakukan lebih padamu, merasakan aroma tubuhmu sudah membuatku senang ...

__ADS_1


"Kurang ajar ... pria mesum ... mas Dimasku pasti akan kembali ...." ujarku.


"Mas... Mas Dimas... Tolong Aku Mass ...!!! Tolonggg!!!" aku kembali berteriak.


"Dimas itu penakut. Sebaiknya kau bersamaku saja. Aku juga bisa berlaku lembut seperti Dimas ... bagaimana Hahh?" tegasnya.


"Aku benci padamu ... sangat benci ...!!! mas Dimasss ... " aku kembali berteriak.


🌻POV DIMAS


Kau dimana Lyra? Kenapa aku tak melihatmu ... Aku harus menemukanmu ...


Menurut Ibu, Lyra pergi mencariku ke kamar sebelumnya.


Akupun sedang menuju kekamar saat ini, ku ketok berulang kali pintu yang terkunci dari dalam tersebut.


Apa Lyra di dalam?


Mengapa pintu kamarku terkunci?


Ku panggil nama Kekasihku berulang kali..


Karena suara speaker, aku tak mampu mendengar suara apapun dari dalam ...


Kudekatkan telingaku kepintu, dan aku mendengar suara samar meminta tolong. Apakah itu suara Lyra?


Batinku semakin tak menentu, siapa yang menahan Lyra didalam? Apa Lyra bersama seseorang??


Segera kuberlari ke kamar Ibu, kucari duplikat kunci kamarku disana, dan akhirnya aku menemukannya.


Awas saja jika ada yang berani menyakiti calon istriku ...


Lyraku tidak boleh terluka ...


Otakku ikut tak terkendali, hawatir hal buruk terjadi dengan wanitaku ...


Aku berlari.. Dan kini pintu kamarku sudah dihadapanku ... Kuputar kunci dalam genggamanku..


BRAKKK, pintupun terbuka..


BUG ... BUG ...


Kutarik pria yang menghimpit Lyraku, Kulayangkan beberapa pukulan ke wajah pria brengsek itu.. Sosok pria brengsek yang ternyata adalah ...


Kakak Sepupuku ....


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤



🌻 Rendi

__ADS_1


__ADS_2