
"Lyra."
Terdengar seseorang memanggil saatku hendak membuka gerbang kossanku.
Akupun menoleh,
"Fir- giee ...," lirihku.
Kuberjalan kearahnya yang sedang terpaku menatapku.
"Kau sudah lama menungguku kah?" tanyaku yang di balas kediaman olehnya.
"Ayo masuk!!" ujarku lagi melihatnya masih tak bergeming.
Ia meninggalkan motor di muka gerbang dan berjalan mengikutiku kini.
Kubuka hijabku setelah sampai di kamarku.
Ia masih terus memperhatikanku, ku duduk di sisi pintu bersebelahan dengannya.
"Kau sudah sholat?" tanyanya.
"Sudah."
"Siapa yang mengantarmu barusan?" tanya Firgie tampak hati-hati.
"Ia ...
Belum lagi ku jawab Firgie berujar kembali.
"Bukankah tadi kau letih dan ingin segera pulang, ada yang kau sembunyikan kah Ly?"
Haruskah aku menceritakan segalanya ya Robb, tapi apakah Firgie akan mengerti? batinku.
"Kulihat seorang wanita di mobil tadi, siapa dia? Apa kau sedang ada masalah Ly?" Firgie kembali bertanya padaku.
"Gie... wanita tadi adalah i- bu mas Di- mas," ujarku.
"Hahhh, untuk apa Ibu Dimas mencarimu?" Firgie tampak kaget mendengar jawabanku.
"Ia menginginkanmu kembali pada anaknya kah?" tanyanya lagi dengan nada emosi.
Gie, tolong jangan seperti ini, ijinkan aku menceritakan semuanya, oke!" lirihku.
"Baik. Maafkan aku Lyra, aku akan mendengarkanmu," ujarnya.
"Aku memang letih hari ini Gie. Dan ingin segera pulang, namun di perjalanan tadi ibu Mas Dimas telepon mengajakku bertemu."
"Darimana ia mendapat nomer ponselmu Lyra?" Firgie kembali memotong ceritaku.
"Gie ... Bisa aku melanjutkan ceritaku dulu!" tegasku.
Firgie meraih tanganku, "Lyra, maaf, kau tau kan aku seperti ini karena sangat takut kehilanganmu," lirihnya.
Aku mengangguk, mengeratkan genggamanku padanya.
"Kau ingin mendengar kelanjutan ceritaku kah?" tanyaku.
Firgie tampak mengangguk dengan tatapan malas.
"Seminggu ini mas Dimas sakit Gie, dan 2 hari ini ia kehilangan kesadarannya. Ibu Mas Dimas memintaku menemui mas Dimas," ujarku.
"Anaknya sakit kenapa mencarimu, bukankah seharusnya ia mengobati anaknya ke dokter?" tegas Firgie.
"Menurut ibunya, mas Dimas terus memanggilku dalam ketidaksadarannya."
"Dan kau akan datang?" tanya Firgie serius.
"Entah, masih ku pertimbangkan," ujarku berbohong.
Maaf Gie aku tak ingin kau bersedih jika tau esok aku akan menemui mas Dimas...
"Lyra ... berjanjilah kau tidak akan menemui Dimas.!!!" ujar Firgie sungguh-sungguh.
"Kau masih cemburu pada mas Dimas kah Gie? bahkan aku sudah bersamamu sekarang dan mas Dimas juga akan menikah dengan mbak Friss," ujarku.
"Lyra, kau memang bersamaku, tapi aku hanya memiliki separuh hatimu. Apa salah jika aku masih takut Dimas akan merebutmu dariku," tambahnya.
__ADS_1
"Aku sudah membuat pilihan bersamamu Gie. Kau tidak perlu takut," kusandarkan kepalaku di bahu Firgie.
"Lyra, tetap saja bagaimana jika ini hanya akal-akalan Dimas untuk bisa bertemu denganmu?"
"Gie, kau berprasangka buruk namanya. Buang fikiran seperti itu oke!" ujarku.
"Berjanjilah Lyra, kau tidak akan bertemu dengan Dimas," Firgie kembali memohon, ia mengeratkan genggamannya kembali padaku.
Aku hanya terdiam.
"Oya Gie, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" ujarku mengalihkan pembicaraan kepadanya.
"Seperti biasa," jawabnya singkat.
"Gie, kau belum menceritakan padaku tentang keluargamu. Ayo ceritakan padaku..!!" desakku mengalihkan fikirannya.
"Benar kau ingin mendengarnya?"
Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
"Aku anak pertama dari 4 bersaudara Lyra, adikku pertama Fikra, Kedua Firraz, dan yang ketiga yang paling cantik yang pernah kau jumpai di Gramedia tempo hari Yasmin namanya," ujarnya menjelaskan.
"Unik nama saudara-saudaramu Gie, rata-rata diawali Fi. Kenapa yang kecil tidak di awali Fi juga?"
"Yasmin maksudmu? nama panjangnya Fitrah Jasmina Kaffah. Kami sering meledeknya dulu sewaktu kecil dengan sebutan Zakat fitrah, sampai sekarang ia tidak mau di panggil Fitrah memilih di panggil Jasmin," ujar Firgie.
"Kenapa harus dengan awalan Fi?" tanyaku penasaran.
"Mungkin karena ibu begitu mencintai ayah, nama ayahku Firman. Dan semua berawalan seperti nama ayah," ujar Firgie menjelaskan.
"Hmm ... Apa aktifitas ibu di rumah?"
"Ibuku ibu rumah tangga Lyra namun ia juga mengajar ngaji di sore hari."
"Oya, ternyata kau anak seorang guru ngaji kah? Kenapa kau selalu ke tempatku? Aku bukan muhrimmu Gie. Bagaimana jika ibumu tau?"
"Ishhh, kau jangan meledekku lyra, iya aku memang masih nakal. Apalah dayaku, wajahmu ini selalu mengikutiku Ly. Ibu tau kok aku memiliki hubungan denganmu," Firgie semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku, merangkul bahuku dan aku menyandarkan kepalaku lagi di bahunya.
"Ibumu tau hubungan kita? lalu apa yang ia katakan?" tanyaku penasaran.
"Tidak apa-apa sebagai penyemangat satu sama lain, yang penting saling tau batasan yang tidak boleh dilakukan," begitu katanya.
"Oh Gie, tapi maaf ... sepertinya aku belum siap bertemu keluargamu."
"Iya Lyra aku juga tidak akan memaksamu."
"Ini sudah malam Gie, kau pulanglah. Jangan sampai ibumu mencarimu ke tempatku," ujarku kembali menggoda Firgie.
"Ayo bangun sayang..!!!" kutarik lengan Firgie memaksanya berdiri.
Dan ia pun berdiri, "Andai boleh berlama sesaat lagi," gumamnya.
"Ishh.. Kau Gie. Ayo ibumu menunggumu di rumah."
"Lyraa, boleh beri pelukan untukku sekejap saja!!" lirihnya memelas.
"Giee ... pulanglah!!"
"Jadi tidak boleh??"
Aku menggeleng.
Aku mengambil tangannya dan mengecup punggung tangannya. "Hati-hati sayangg," bisikku di telinganya.
Dan ia lalu lagi-lagi mencuri kecupan di dahi ku. "Cup"
●●●●
Pukul 16:30 saat ini.
Bus jemputan pulang satu persatu meninggalkan pelataran parkir PT. XX.
Saat semua jemputan tak terlihat, aku keluar menuju mobil APV hitam yang sejak tadi telah terparkir di sisi jalan PT ku berada.
Tampak Pak Supri keluar dari mobil saat langkahku telah mendekati mobil tuan rumahnya tersebut.
"Silahkan masuk Non Lyra..!!" ujarnya padaku sambil membukakanku pintu.
__ADS_1
"Makasih pak," tuturku.
"Pak, panggil saya Lyra saja tidak perlu pakai Non," ujarku saat mobil mulai melaju.
"Wahh gak berani saya Non, Non Lyra kan teman Den Dimas," ujarnya.
"Saya juga orang biasa seperti Bapak, saya merasa risih di panggil Non," ujarku lagi.
"Maaf gak berani Non," jawab Pak Supri lagi.
"Yahh Bapak, atau kalau kita berdua seperti ini. Bapak bisa panggil saya Lyra saja."
"Maaf Non nggak bisa saya."
"Bapak sudah lama bekerja dengan keluarga mas Dimas?" tanyaku.
"Sudah dari mas Dimas SMA non. Sekitar 9 tahun lah," jawabnya.
"Ohh..."
Kamipun terus bercengkrama hingga Pak Supri menghentikan mobil yang ia kemudikan di depan sebuah Rumah besar berlantai 3 bewarna putih tersebut.
"I- ni ru- mah Mas Dimas, Pak?" tanyaku tampak takjub.
"Iya, Non Lyra baru pertama kali kesini kah?"
"Iya pak," jawabku.
Mas Dimas ... dulu aku sering mengajakmu makan di pinggir jalan ternyata semua bertolak belakang dari kehidupanmu sesungguhnya, maafkan aku mas. Selama ini kau mengikuti cara hidupku.
Tampak di halaman rumah besar terparkir Mobil Jazz Silver yang pernah mas Dimas kemudikan bersama mbak Friss menghadiri pesta mbak Dewi, ada pula motor Sporty besar berwarna biru yang sering mas Dimas pakai saat bersamaku.
*sekarang aku yakin ini rumahmu Mas...
"Non, ayo masuk kenapa bengong? ibu sudah menunggu di dalam," suara Pak Supri menyadarkanku.
"Pak saya gak berani," ujarku.
"Ihh, Non suka malu-malu," ujar Pak Supri menggodaku.
Pak Supri kemudian mengantarku berjalan kearah pintu besar berwarna putih berada, ia memencet tombol disana.
Dan seketika seorang wanita muda sekitar 35 tahun membuka pintu.
"Rim, nih non Lyra yang di tunggu Ibu sudah datang. Kamu antar dia ke dalam ya!" ujar Pak Supri pada wanita tersebut.
Wanita itu melebarkan pintu untukku masuk, terlihat pemandangan yang menakjubkan di dalam bangunan besar itu. Penataan ruangan yang sangat indah, lukisan mewah memanjang yang terpajang di sudut-sudut ruangan. Guci-guci cantik tertata disisi dinding.
Wanita tersebut membawaku menuju sebuah ruangan dengan sofa putih besar berbentuk U mengitari ruangan. 1 sisinya terdapat meja panjang dengan foto-foto berjejer dan beberapa vas bunga kaca yang terkesan minimalis namun terlihat mewah dipandang.
Terdapat seorang wanita sedang duduk santai dengan sebuah buku di tangannya di ruangan tersebut. Itu Tante Arini, batinku.
"Bu, ada non Lyra sudah sampai," ujar wanita yang mengantarku berkata lembut kepada Tante Arini.
Seketika Tante Arini meletakkan buku yang di bacanya dan segera menghambur ke arahku.
"Lyra ... akhirnya kau sampai nak," ujarnya sambil memelukku.
"Mari duduk Lyra ..."
"Kau mau minum apa sayang?"
"Air putih saja tante," jawabku.
"Rima, ambilkan air putih untuk tamuku!"
"Baik bu" ujarnya.
*Mas Dimas, aku berada di rumahmu.. Apa kau merasakan kedatanganku?? batinku.
Nongolin visual lagi ahh😎❤
●●●●
🌻Dukung selalu karya thor yaa.. Tolong Like dan Komen serta Rate dan Vote sebagai apresiasi untuk Thor.
__ADS_1
🌻Happy reading😍