Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Kehangatan Kembali


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


Kami saling merebahkan diri setelah menjalankan ibadah isya berjamaah beberapa saat lalu. Tampak 2 malaikat kami tertidur dengan pulasnya setelah merasakan sesuatu yang baru dimulut mereka. Yah mereka memang memakan cake cukup banyak tadi.


Mas Dimas disisiku masih menelusuri ruang kotak yang kami diami saat ini. Ruang kotak yang sekian lama tak ia tempati, seketika berbagai hal terekam bagaimana awal-awal kami menempati kamar ini.


Sentra Duta Residence, perumahan elit di kawasan Bandung Kota adalah tempat mas Dimas menetap bersama malaikat kecilnya setelah perpisahannya dengan istri pertamanya, mbak Frista.


Rumah yang sebelumnya hanya menyimpan berbagai cerita tentang kasih sayang seorang ayah dan putri kecilnya, kini semua berubah setelah pertemuanku kembali dengan sang ayah yang senantiasa merasa kesepian dikala itu.


Dimas Anggoro, sosok masa lalu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk memenuhi janji terhadap sahabat atas balas budi kedua orang tuanya, ia meninggalkan cinta yang mengisi jiwanya dan berusaha menerima seluruh takdir yang tertulis untuknya.


Takdir yang membawanya terus melangkah bersama mimpi baru yang sesungguhnya tak sesuai dengan angannya. Ia mengukir mimpi, dengan bayang masa lalu yang tak benar-benar pergi di relung jiwa terdalamnya. Bayang masa lalu yang tanpa ia sadari mengoyak keutuhan mahligainya bersama wanita pertama yang ia sahkan menjadi istrinya.


2 tahun lalu segala cerita kembali tertoteh, kisah 2 bocah yang sama-sama memiliki ikatan denganku, Irsya, lelaki kecil yang selalu mengisi sepiku atas hidayah yang datang menyapaku kala itu. Dan Mayra, bidadari kecil yang entah bagaimana hatinya terus terpaut padaku, hingga semua seakan segaris dan membawaku menemukan masalalu yang telah lama berusaha kulupakan.


1 titik jengah dengan berbagai pelik, dan sepi yang terus menyelimuti diri membuatku akhirnya menerima tawaran perkenalanku dengan sosok seorang duda 1 anak yang juga berada dalam titik sepi namun ia berusaha merangkai mimpi kembali atas dasar goresan baru membuncah rasa yang diterima sang putri sehingga mengubah lukisan datar menjadi relief yang cantik, saat pahatan mulai berani diciptakan.


Dan pertemuan itu terjadi, pertemuanku dengan calon imamku yang diluar fikirku ia yang akan kutemui adalah orang dari masa lalu yang pertama mengenalkan rasa indah yang belum pernah kurasa sebelumnya, getar aneh yang membuatku ingin selalu dekat dan merasa menjadi diri yang berbeda. Melepas jiwa seorang anak kecil dalam dekap seorang ayah, menjadi aku seorang wanita yang ingin mencintai dan dicintai sepenuhnya oleh sosok baru yang telah lancang mencuri hatiku.


Hingga di depan penghulu ikatan itu terjalin, aku seorang istri dan dia adalah suamiku, mas Dimas-ku. Orang yang telah berani menghalalkanku, mengangkatku dari dunia sepiku menjadi dunia penuh cerita yang dipenuhi jalan berliku namun lagi-lagi kami berusaha saling mendekap dan menguatkan.


Ruang kotak Sentra Duta Residence menjadi kediaman baru kami setelah banyak hal terjadi menjadi hadiah pernikahan yang penuh makna dan membuat kami nyaman akhirnya dengan segala hal di Bandung ini. Hingga akhirnya Bandung menjadi kota kami, dunia dan mimpi baru kami, kediaman tetap kami hingga saat ini.




Kurasakan belaian tangan yang terus menyapu bahuku kini, mengusap lembut hingga merasuk kesanubari terdalamku, dekapan hangat kekasih yang sekian lama tak kudapati.



Dan kami masih disini, ruang kotak yang lagi-lagi menjadi saksi kebersamaan yang ingin terus dinikmati. Gerakan lembut yang menyamankan, menambahkan kesyahduan dalam ikatan cinta terdalam, memuaskan diri tanpa menyakiti. Meninggalkan butiran peluh menjadi saksi.



Setelah berkali saling terpuaskan, kami mengakhiri penyatuan malam ini dengan do'a terbaik dan rasa syukur serta luapan cinta yang tak pernah terlupa. Sebab tanpanya hati akan kehilangan arah dan kebersamaan hanya sebuah penyatuan raga tanpa rasa. Dan kami tak menginginkan hal seperti itu.






Aku masih menenggelamkan diri ke tubuh suamiku seraya mengamati bekas sayatan memanjang yang setelah malam ini harus terbiasa kulihat. Sayatan yang membuat pilu mengingat suamiku menahan segalanya sendiri saat itu. Sudah kucerna mendalam alasan suamiku tak menghubungiku, kupahami alasannya hingga tak patut kini aku merasa marah. Karna nyatanya ia juga tersiksa dengan keadaan saat itu, saat raga tak bisa menyatu, juga rasa harus disimpan. Hingga hari ini, akhirnya kami telah saling menemukan dan berharap tidak ada alasan apapun untuk kami mengalami masa-masa berjauhan seperti kemarin.



Dan pria disisiku masih terus menatapku, memastikan tidak ada sesak yang tersisa di wajahku, memastikan pilu telah berubah menjadi bahagia. Tanpa keterpaksaan untuk terus mendampingi hingga akhir cerita kami.



Setelah beberapa waktu kami terdiam penuh makna, pria pemilik diriku seutuhnya ini mulai membuka mulutnya kini, lagi-lagi berusaha menyatakan rasanya dan memastikan pula rasaku padanya.



"Sayangg ...."



"Hemm??"



"Terima kasih,"



Kuanggukan kepalaku menanggapi pernyataannya.



"Mas sangat sayang Lyra," lirih ucapan suamiku tapi memacu gejolak yang dalam dihatiku.



Akupun kembali mengangguk kini.



"Boleh mas bertanya sesuatu?" tanyanya kini seraya mengecup lembut pucuk kepalaku.



"Silahkan."



"Kenapa kau tadi ketakutan saat Firgie menghampiri kita? apa hatimu tak tenang berada didekatnya?"



Aku menatap suamiku kini, "Ia aku sangat takut tadi," lirihku.

__ADS_1



"Takut kenapa?"



"Takut kalau Mas meragukan hatiku, takut pula jika perkataan Firgie akan mempengaruhi keadaanmu lagi," jawabku.



"Tidak, tidak lagi. Mas percaya padamu, maaf karena sebelumnya Mas pernah berlebihan menilai kehadiran Firgie," ujar mas Dimas seraya menggenggam jemariku.



"Tapi benarkah yang ia katakan tadi? Kenapa kau melakukannya Mas??"






🌻***Flashback*** :



Tapi suamiku tampak tenang diwajahnya, ia tak bergeming dengan kehadiran Firgie yang sudah sangat dekat dengan kami. Mas Dimas terus saja menyuapiku seolah Firgie tak ada. Iapun berujar kemudian ...



"*Ada apa Gie*? *Apakah kau ingin menyuapi istriku pula*??"



"Jika boleh??"



"Kurang ajar, beraninya kau..!!!" ucap Mas Dimas seraya masih berusaha menyuapiku, "Ayo buka mulutmu Sayang," lirihnya.



"Sudah Mas," ujarku sambil terus menatap 2 pria dengan wajah menegang dihadapanku.



"Bisa kita berbicara di teras?" ucap Firgie.




"Kalian berdua," tegas Firgie.



"Oh, oke. Mari Sayang ...," dan Mas Dimas melingkarkan tangannya di pinggangku seraya mengajakku terus berjalan mengikuti Firgie dihadapan kami.



Kami sampai di teras dan ternyata Shifaa telah ada disana pula.



"Mas Dimas, Mbak Lyra ...," kaget Shifaa melihat kehadiran kami yang bergabung diantara ia dan Firgie.



"Ada apa ini Mas?" Shifaa tampak bertanya pada Firgie saat ini yang ditanggapi dengan senyuman diwajah Firgie.



Dan seketika tangan mas Dimas mengaburkan pandanganku yang sedang menatap senyuman yang dulu sering kulihat diwajah pria kekasih adikku tersebut.



"Jaga matamu, Sayang," bisik mas Dimas kini ditelingaku. Akupun seketika tersenyum getir tertangkap mengamati mantan kekasihku.



"Dim, aku turut berbahagia dengan kepulanganmu ketengah keluargamu kembali," ucap Firgie tenang.



"Terima kasih," tegas mas Dimas.



"Mas tunggu..!!! Apa kalian saling mengenal sebelumnya? Kenapa aku mendengar Mas menyapa mas Dimas terdengar sangat akrab dan familiar?" heran Shifa.



"Kau bisa menjelaskan pada adikku Gie??"



"Kami sebenarnya tidak terlalu akrab, tapi aku mengenal Masmu Shif," ujar Firgie seraya sesekali melirikku namun segera kutundukkan wajahku.

__ADS_1



"Ohhh," ucap Shifaa.



"Dim, kau tentu tau di usiaku aku sudah tidak mencari kekasih untuk main-main, dan aku suka dengan adikmu, aku harap kau mau merestui aku dan Shifaa," ujar Firgie.



"Apa kau sedang melamar adikku? Ada orang tuaku disini kenapa bicara hal seperti ini denganku??"



"Mass, apa kau seriuss?" ucap Shifaa kepada Firgie, ia terlihat kaget dengan yang di dengarnya.



"Tentu aku akan bicara pada orang tuamu, tapi aku ingin meyakinkan kau tidak ada masalah dengan kedekatanku dan adikmu," tegas Firgie.



"Asal kau serius akan membahagiakan adikku, kenapa aku harus mempermasalahkannya, bukan begitu Sayang?" ujar mas Dimas sembari melempar tanya kearahku.



"Kenapa kau diam saja? menurutmu apa Firgie cocok dengan Shifaa Sayang?" mas Dimas mengulangi tanyanya padaku kembali.



"Cocok asal keduanya bahagia," ujarku.



"Shifaa, tapi sebelum aku benar-benar memintamu pada orang tuamu, ada suatu kebenaran yang ingin kusampaikan," Firgie tampak serius kini.



"Ada apa Mas?"



"Kau ingat pernah kuceritakan tentang tujuanku pindah ke Bandung bukan?"



"Iya, kau ingin mencari orang yang memberi penglihatan padamu Mas," ucap Shifaa.



"Tepat. Dan aku sudah menemukan orang yang kucari Shif."



"Oya, siapa? orang mana dia?"



"Dia tak lain adalah kakakmu."



"Benarkah itu Mass?" tanyaku dan Shifaa secara bersamaan kearah Mas Dimas kini dan mas Dimas mengangguk.



"Dan satu lagi Shif, kau ingat aku pernah bercerita tentang wanita dalam masa laluku yang harus kulepaskan untuk orng lain dalam kebutaanku?"



"Iya, aku ingat."



"Wanita itu adalah Mbakmu."



"Ohhh," dan Shifaa tampak kaget dan menutup mulutnya kini.



"Aku ingin kau tau Shif kerumitan ini, tapi aku memastikan padamu bahwa sudah tidak ada rasa apapun dalam hatiku untuk Mbakmu dan sebaliknya, kami telah sadar dengan kenyataan hidup kami masing-masing. Bukan begitu Ly?" dan Firgie mengarahkan tanya padaku kini yang kutanggapi dengan anggukanku.



"Agar jika suatu saat kita menjadi keluarga, tidak ada rasa sungkan, risih atau perasaan tidak nyaman lain saat kita harus sering bertemu, bagaimana menurutmu Shif??"



*Tunggu Mas, apakah kau serius dengan yang kau katakan?? Apa kau benar-benar sudah melupakan Mbakku?? Aku tidak bisa menjawabnya saat ini. Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya* ....



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2