
"Hai, udah pulang Ly. Noh yayangnya dari tadi udah nungguin" ujar Diah yang berpapasan denganku ingin keluar menuju gerbang.
Kujawab ucapan Diah dengan senyum yang tampak kupaksakan.
Perlahan kudekati sosok pria yang berdiri mematung di depan kamarku. Kilirik ia sekilas lalu kutundukkan wajahku. Tak sanggup rasanya ku melihat tatapan itu. Kubuka pintu kamarku, namun ia tak jua masuk dan tetap berdiri mematung menatapku.
"Mau diluar aja?" ujarku setelah menarik nafasku, menghilangkan rasa cemas dan dan menetralkan kerja jantungku yang memompa lebih cepat saat ini.
Mendengar ucapanku, ia kemudian masuk dan duduk di sisi pintu seperti biasanya. Masih dengan diamnya.
Aku ikut duduk disisinya.
"Pergi sama siapa tadi?" tanya Firgie dengan nada datar tampak ia menahan amarahnya.
"Sama temen" jawabku.
"Masih berani pergi sama laki-laki asing?" ujarnya lagi tanpa menatapku.
"Dia bukan orang asing ko dan dia baik." ucapku.
"Apa kau sudah lama mengenalnya?" tanya Firgie lagi
Aku menggeleng dengan wajah polosku.
"Baru kenal ko bisa nyimpulin dia baik" ujar Firgie.
"Dia baik Gie, Mbak Dew yang ngenalin ke aku" ujarku lirih.
"Dewi yang mengenalkan padamu? Ko bisa? Dia kan sudah mengenalkanmu padaku, kenapa mengenalkanmu pada pria lain lagi?" ucap Firgie dengan nada meninggi.
"Bukan.. bukan begitu. Aku yang mau dikenalkan Gie" sanggahku tak ingin Firgie marah pada mbak Dewi.
"Lyra, apa selama ini kau tidak mengerti perasaanku padamu? kenapa minta di kenalkan pria lain?" lirih Firgie dan merubah posisi duduknya kearahku.
Aku menggeleng...
"Ly... Dengar aku!! *A-ku Suka Padamu!! Sejak pertama kita bertemu di kafe Holala. Jelas!!!" ujar Firgie tampak serius di wajahnya. Ia menatapku dengan mata sayu yang menghipnotisku membuatku tak mampu melepas tatapanku darinya.
"Maksudmu??" tanyaku masih tak menyangka dengan apa yang ku dengar.
"Yaa, aku menyukaimu Lyra. Menyukai semua yang ada di dirimu, kebaikanmu, kesederhanaanmu, kepolosanmu, dan wajahmu ini. Lyraa... Sekarang kau tau perasaanku, tolong!! Jangan cari yang lain lagi ya!! Maaf aku baru menyatakan ini, karna kufikir selama ini kau mengetahuinya Ly?" ujar Firgie masih dengan tatapan seriusnya.
"Tapi bukankah kau sudah memiliki kekasih Gie? aku tidak suka menyakiti hati wanita lain" ujarku.
"Wanita apa? tidak ada Ly. Aku hanya dekat denganmu saja" tampak Firgie kaget dengan ucapanku.
"Bohong. Aku melihatmu bersama seorang wanita di Mall SS Gie" ujarku lagi.
"Kapan? Aku tidak pernah jalan dengan wanita lain selain denganmu Ly!" elaknya.
"Aku lupa kapan, tapi saat tidak ada kabar darimu sore itu dan malam harinya kau datang. Ingatkah kau?. Sebenarnya sore itu aku mengantar ka'Fida ke Mall SS dan disana aku melihatmu bersama seorang wanita" ujarku menjelaskan.
"Hmm.. jangan-jangan yang kau lihat itu Hana sepupuku. Tingginya sepundakku, rambutnya pendek? begitukah yang kau lihat Ly?" tanya Firgie.
__ADS_1
"Sepertinya begitu dan ia memiliki kulit yang putih" tambahku.
"Lyraa... Benar itu adalah gambaran Hana. Memang aku pernah ke Mall SS bersamanya, mengantarnya mencari bahan untuk tugas sekolahnya. Dia sepupuku Ly anak satu2nya jadi meminta antar kepadaku. Dia masih SMP" ujar Firgie menjelaskan.
"Pantas, sejak saat itu kau terlihat berubah seakan menjauhiku Ly. Jujur, apa kau cemburu melihatku bersama Hana, Ly?"
"Ahh, tidak. A- ku cu- ma kaget melihatmu jalan bersa- ma wanita lain" ujarku.
D**uhhh, entah seperti apa wajahku saat ini, malunya... tapi aku senang karna ia bukan kekasihmu Gie. Batinku.
Firgie hanya tersenyum melihatku menyangkal dugaannya.
"Ly, janji!! Kau jangan mencari sosok pria yang lain lagi ya!!. Kau bersamaku saja, *aku sayang padamu Lyra" ujar Firgie serius sambil meraih jemariku.
"Maksudmu kau menembakku kah? Dan hari ini kita jadian??" tanyaku.
"Kau seperti anak sekolahan saja Ly, pernyataan cinta harus diungkapkan dan harus ada tanggal jadian" tandas Firgie sambil terus tersenyum. Tampak ia sangat bahagia, iapun mengusap kepalaku seolah aku gadis kecil dihadapannya...
Akupun tersenyum.
*Iya Gie mungkin kekanakan menurutmu, tapi ini bukti keseriusanmu untukku. Aku tidak ingin seperti dengan mas Dimas dulu. Langsung jalan tanpa ungkapan di awal dan ternyata ia tidak bisa mengungkapkan karna sudah di jodohkan dengan Mbak Friss.
Kudekatkan dudukku di sisi Firgie, kusandarkan kepalaku dibahunya... Kenyamanan yang lama tak kurasa. Entah mengapa saat ini aku ingin berdekatan denganmu Gie, mungkin setelah kesalahpahaman yang kemarin.
"Ly.. sebenarnya aku heran, mengapa kau harus minta Dewi untuk mengenalkanmu dengan seorang pria? Maaf... Apa sebegitu inginnya kau memiliki kekasih?" tanya Firgie.
"Bukan begitu. Aku belakangan ini sebetulnya sedang resah dan bingung. Harus mengajak siapa di acara mas Dimas nanti. Padahal aku sudah berjanji untuk datang ke acaranya bersama seseorang" ujarku.
"Apa kau tidak ingin mengajakku Ly?" tanya Firgie.
"Dan sekarang kau ingin mengajakku kah?" tanya Firgie lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum. Firgie meraih jemariku dan bermain-main dengan jemariku.
"Ly, apa kau masih suka teringat dengan Dimas?."
"Bohong kalau aku bilang sudah melupakan Mas Dimas seutuhnya, tapi setidaknya hatiku sudah membiarkan kau masuk Gie."
Firgie hanya terdiam dan mengangguk.
"Apa kau marah Gie?"
"Tidak, kau benar Ly bukan sesuatu yang mudah melupakan seseorang yang pernah sangat dekat dengan kita. Setidaknya kau jangan salah lagi memanggilku ya Ly!" ujar Firgie.
"Maaf, bahkan aku juga bingung kenapa malam itu aku merasa mas Dimas yang datang, maafkan aku Gie..." lirihku.
"Sudah! kita tak perlu membahas laki-laki itu. Oya Ly, sebenarnya aku penasaran apa yang terjadi padamu malam itu? kenapa bisa sampai kesana? Ada robekan di pakaianmu. Apa ada yang berusaha menyakitimu Ly??" dengan hati-hati Firgie menanyakan hal yang mengganjalnya beberapa hari belakangan ini.
"Sisa sesak kejadian kemarin sebetulnya masih membekas di hatiku, tapi aku akan menceritakannya padamu Gie" lirihku.
Kuceritakan dari awal kondisiku di line yang sedang tidak baik dengan kehadiran mbak Friss dan mas Dimas yang menyerahkan undangan pernikahannya. Setelah itu ajakaan Anita ke kafe sampai pertemuanku dengan Rendi. Rendi mengantarku pulang dan terjadilah kejadian yang mengerikan itu...
Namun belum kumulai ceritaku selanjutnya air mata memaksa keluar terlebih dahulu. Kututup wajah dengan kedua tanganku menahan isakku.
__ADS_1
Firgie yang melihatku, menarik bahuku. Membawa kepalaku ke bahunya. Aku terisak disana. "Terima kasih sudah datang menjemputku malam itu Gie, bahkan aku tak tau apa yang akan terjadi padaku jika aku tak bisa meloloskan diri darinya. Laki-laki itu terus mengejarku, kakiku letih, aku takut, dan ia berhasil menangkapku.. aku berusaha keluar dari kungkungannya, tangannya menyakitiku, saat ada kesempatan kabur aku berusaha berlari lagi, namun ia bisa menangkap bahuku. Aku paksa berlari hingga pakaianku robek. Kau pasti sudah melihatnya.. Hingga aku sampai di taman dan menghubungimu Gie.. aku sangat takut...."
"Iya sudah... jangan bicara lagi Ly"
Firgie mendekapku memberi kenyamanan padaku. Menutup sedikit pintu kamarku.
*Brengsek!!! Siapa Rendi itu? Sejak awal ia pasti punya niat buruk terhadapmu Lyra.
Dan temanmu Anita, apa ia tidak tau sifat temannya? Kenapa membiarkanmu pulang bersamanya? batin Firgie
"Setelah kejadian itu bagimana perilaku Anita kepadamu? Kau tadi bertemu dengannya di line bukan?" tanya Firgie tampak emosi.
"Anita hari ini gak masuk, entah ia tau atau tidak yang terjadi padaku. Tapi aku akan memilih tidak dekat dengannya lagi" lirihku.
Tangisku kembali tumpah saat berbagai hal kembali muncul di otakku, perpisahan dengan mas Dimas, bagaimana aku berusaha menghindari Firgie belakangan ini dan telah berprasangka padanya.
"Maafkan aku selalu merepotkannmu Gie!"
"Aku senang menjaga dan melindungimu Lyra, bahkan aku akan mengutuki diriku jika malam itu terjadi sesuatu padamu" lirih Firgie.
"Lyra... Dengarkan aku!! Mulai saat ini, jangan cari sosok lain! Jangan cari bahu yang lain atau pergi dengan sosok yang tidak kau kenal! Jika ada hal yang mengganggumu, jangan berasumsi sendiri! Duduk dan berbicara seperti ini. Kau paham?"
Aku mengangguk.
"Setelah yang kau lalui, kau adalah wanita hebat jangan menangis lagi!"
Firgie mengangkat daguku..
"Aku ingin melihat senyummu Lyra!!"
Dan akupun tersenyum..
"Cantik.. bgini lebih baik untukmu. Dan aku menyadari sesuatu sekarang....." kalimatnya terhenti.
"Apa?" ujarku penasaran.
"Ternyata kau sangat penurut" ujar Firgie menggodaku.
Aku memukul dadanya..
"Sakit Ly.."
"Maaf..."
Firgie kembali menarik kepalaku kebahunya.
*Lyra... akan kubuat harimu penuh dengan senyum mulai saat ini...
****
#Salam Cinta dari thor❤
please komen, like, rate dan vote sebagai apresiasi untuk Thor😉
__ADS_1
#Happy reading😍