Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Berbincang


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Lyraa ...."


"Iya Buu," ucapku menjawab sapa Ibu Arini melalui ponselku.


"Kamu dan cucu-cucu ibu gimana kabarnya Nak?"


"Alhamdulillah Lyra dan anak-anak semua sehat bu," jawabku.


"Dan Dimas, bagaimana kabar anak itu, anak kok kalau gak di telfon duluan gak ada kabarnya."


"Mas Dimas alhamdulillah juga sehat Bu," jawabku seraya memperhatikan Diyada yang sedang mengoceh sendiri di kasur.


"Ibu nelfon Shifaa kok gak bisa-bisa sih. Bisa tolong berikan ponselmu pada shifaa Ly, ibu ingin bicara dengannya," ujar ibu kembali dan aku segera menghambur keluar saat ini menuju kamar Shifa.


~~


"Iya Buu," ujar Shifaa menjawab tanya ibu dengan malas.


"Kenapa ponselmu? Ibu berkali-kali menghubungimu selalu tidak bisa?" ibu tampak menaikkan nada suaranya.


"Ponsel Shifaa lagi di charge Buu," ujar Shifaa membalas tanya sang ibu.


"Sudah seminggu di rumah Masmu, kenapa nggak balik-balik? kamu lupa besok kamu harus ke sekolah tandatangan ijasah?"


"Lho ke sekolah bukannya lusa Bu?"


"Nakal, kebanyakan main sih kamu? Besok ke sekolah, ibu sudah memastikan melalui wali kelasmu tadi."


"Yahh, terus Shifaa gimana dong Bu?"


"Nggak pake gimana gimana ... habis subuh minta anter mang Diman. Pas tuh jam 8 sampe Cikarang langsung ke sekolah," ujar ibu memberi solusi untuk putrinya.


"Oke, oke Bu kalau begitu," ucap Shifa kembali.


"Ya sudah kasih lagi ponselnya ke mbakmu, ibu mau ngobrol sama cucu-cucu ibu."




"Utii, uti sehat kan?" celoteh Mayra menjadi kesejukan untuk hati sang nenek yang terpisah jarak tersebut. Walaupun kenyataannya, Mayra bukan darah daging mas Dimas, rasa kasing sayang yang sudah terbentuk bertahun silam tak bisa pudar semudah itu.


"Alhamdulillah Uti sama Akung sehat Sayang, Mayra sudah libur kan? kapan nih main ke rumah Uti," tanya ibu berusaha membuang batas dengan cucunya tersebut.

__ADS_1


"Mayra sudah libur. Mayra sih mau-mau aja nginep dirumah Uti tapi nanti kasihan Bunda jagain dede kembar sendiri.


"Bukannya ada Mbak Dinar yang bantu bunda?"


"Mbak Dinar lagi pulang kampung Uti, anaknya sakit." celoteh polos Mayra.


"Uti ini Dirga mau ngomong juga," ucap Mayra kembali.


Ta ta ta ta ta ta ...


"Ini suara Dirga? lucuunya ... gemes deh uti. Haii Sayangnya Uti, Dirga .. Dirgaa ... " panggil berkali-kali itu pada cucu kecilnya.


"Kalau dede Diyara mana May?"


"Diyara lagi Mimik ASI bunda, tuh di kamar," celoteh Mayra menjawab tanya sang nenek.


"Begitu ya, ya sudah nanti kita lanjut ngbrol lagi ya Sayang. Ada tamu kayaknya dirumah Uti."


"Bye Uti, Assalamu'alaikumm,"


"Wa'alaikumsalam Sayang."


●●●●


🌻PUKUL 21:30


Hingga 20 menit berlalu, Mas Dimas duduk disisiku kini, yahh padahal lagi seru ceritanya, batinku. Tapi tetap kusingkirkan ponselku dan meletakkannya di atas nacash.


"Bagaimana hari ini, anak-anak rewel gak?" mas dimas memulai tanyanya dengan tangan yang bermain-main dengan jemariku.


"Nggak sih Mas, alhamdulillah walau nggak ada mbak Dinar Mayra sekarang udah pinter aku suruh jaga adiknya. Jadi aku bisa nyambi ngerjain yang lain," ujarku.


"Alhamdulillah, mas tenang dengernya. Mas cuma hawatir kamu terlalu capek ngurusin anak-anak," ucap mas Dimas seraya menatapku.


"Aku bawa enjoy kok Mas. Kalau capek, aku ikut merebahkan diri bareng si kembar."


Mas Dimaspun mengangguk dan tersenyum kearahku.


"Mass, anak-anak kan mulai aktif. Dirga dan diyara sepertinya sudah mulai mau merangkak, menurutku di unjung tangga bagian atas dan bawah lebih baik dikasih pintu mas, pintu di ujung atas biar anak-anak aman dan gak jatuh. Pintu bawah, agar anak-anak gak diam-diam naik ke lantai atas," ujarku mengemukakan pendapatku.


"Mas setuju, besok mas akan memesan di tukang las pagar, terima kasih sudah mengingatkan Mas."


"Mas, tadi dek Shifaa curhat ...


"Curhat apa dia??" ucap mas Dimas memotong ucapaanku.


"Mas, biar aku selesaikan ucapanku," lirihku sambil kutengok ranjang baby kembarku. Memastikan mereka tidur dengan pulas.


"Maaf, terlalu antusias Mas. Soalnya sama mas aja tuh anak jarang curhat,"

__ADS_1


"Begini Mas, Shifa katanya tertarik dengan bidang fashion, ingin melanjutkan ke sekolah fashion tapi ibu maunya ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Akuntansi sesuai jurusannya saat ini ....


"Ibu kebiasaan ...


"Mass, mulai kan memotong ucapanku,"


"Duhh, maaf Sayang keceplosan, lalu?"


"Shifaa minta tolong padaku untuk menyampaikan pada Mas untuk membantunya meyakinkan ibu, agar ia bisa melanjutkan sesuai jurusan yang ia sukai," ujarku sambil terus kutatap mata bening suamiku dan menanti jawab darinya.


"Jadi begitu, oke mas akan coba bicara dengan ibu, tapi mas gak bisa memastikan hasilnya karna ibu memang agak keras kalau sudah memutuskan sesuatu."


Akupun mengangguk, "Jangan negatif thinking pada ibu dulu mas, semua ibu pasti ingin yang terbaik, bicara dengan bahasa yang sopan dan kemukakan minat Shifaa yang sesungguhnya. Kurasa ia akan setuju, terlebih setelah ia pernah salah dulu menentukan masa depan untukmu," lirihku berhati-hati dalam ucapanku.


"Hahhh, kenapa mas merasa kau lebih mengenal ibuku Sayang," kecup lembut mas Dimas di keningku saat ini.


"Oya memang mau kuliah dimana dia? ibu biasanya akan memastikan kemantapan Shifaa pada hal yang dipilihnya dan Shifaa harusnya sudah tau dimana kampus yang akan ia tuju dan mantap dengan jurusan yang akan diambilnya juga harus bertanggungjawab pula setelahnya," ujar mas Dimas.


"Katanya sih dia tertarik dengan sekolah fashoin di Bandung."


"Dia akan tinggal bersama kita?"


Akupun mengangguk, "Apa itu masalah untukmu?" tanyaku menyelidik.


"Tentu saja tidak, sebaliknya mas lebih tenang ia berada disekitar kita kalau memang ibu menyetujuinya, dan lagi ....


"Hmm, dan lagi apa? kenapa berhenti?"


"Jika ada Shifaa mungkin saja kita bisa lebih sering meluangkan waktu menikmati malam seperti malam itu."


"Ishh, mas ada udang di balik batu," ucapku dengan senyum menggoda.


"Salah, yang benar ... sekali dayung 2 - 3 pulau terlampoi," ujar mas Dimas dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Besok rencana mas mau ke Bekasi, nanti mas mampir ke rumah ngobrol sama ibu."


"Mas mau ke Bekasi? besok setelah subuh Shifaa juga mau balik ke Bekasi diantar Mang Diman," ujarku.


"Kenapa baru bilang, setelah subuh Shifaa mas aja yang anter, mang Diman biar stay di rumah, nganter jemput Mayra juga kan dia."


Akupun mengangguk.


"Kalau gitu ayo kita tidur, besok kan mas berangkat pagi,"


Tak menunggu lama kami berdua akhirnya terlelap dengan tubuh saling menghangatkan, tak bergeming walau hembusan angin menyerang. Semakin menusuk dingin terasa, semakin erat pula lingkaran yang mengunci tubuh ini.


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2