Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Semangat Membuka Hari Baru


__ADS_3

Aku masih terpaku dengan kepergian mas Dimas.


Kata terakhir yang ia bisikkan di telingaku masih terdengar jelas, "Selamat tinggal Sayang." Oh, Mas Dimas ... Mas Dimasku apa kau benar-benar tlah pergi? Bagaimana aku menjalani hari-hariku esok tanpamu mas? Kukutuki diriku sendiri yang berpura-pura kuat di depanmu. Tadi Mas Dimas meminta 1 hari lagi. Kenapa aku tak menyanggupinya ...


Kumasih duduk di muka kontrakanku, memeluk lututku dan terisak disana.


Hingga tiba-tiba tangan seseorang merengkuh pundakku.


"Kau kenapa Ly?" Mbak Susi yang mendengar isakku dari dalam rumah seketika keluar menghampiriku.


"Mbak ...." Belum lagi kulanjutkan, air mataku menahan kata-kata yang hendak keluar, dan aku hanya bisa terisak.


Mbak Susi membawaku kekamar. Meletakkan jari telunjuk dibibirnya saat Mas Bayu hendak bertanya apa yang terjadi padaku.


Mas Bayu yang memahami segera izin untuk pulang agar sang kakak bisa menenangkan adiknya.


Kami tinggal berdua kini, setelah mengunci pintu, mbak Susi memberiku minum dan menghambur memelukku dikamar.


"Apa yang terjadi Ly?" tanyanya ketika melihat tangisku mulai mereda.


"Mbak, aku telah berpisah dengan Mas Dimas," lirihku dan tangisku kembali pecah.


Mbak Susi kembali teringat mata sembab yang ia lihat dari kedua insan saat ia sampai di rumah tadi, ini alasannya rupanya. batin mbak Susi.


"Apa penyebabnya Ly? Mbak fikir hubungan kalian baru kenapa secepat ini?" tanya Mbak Susi heran.


Aku menceritakan segalanya pada Mbak Susi mulai dari pertemuanku dengan Mas Dimas hingga kenyataan yang baru saja ku ketahui tadi siang tentang pertunanangannnya dengan Mbak Friss.


"Oh Tuhan Ly, mengapa takdirmu begitu rumit," ujar Mbak Susi sambil kembali memelukku.


"Lalu bagaimana selanjutnya," ujar mbak Susi lagi. Ia tampak penasaran ingin aku melanjutkan ceritaku.


"Tadi Mas Dimas kesini menjelaskan smuanya mbak, tentang perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya. Bagaimana tak berkutiknya ia dengan perjodohan ini di karenakan kondisi ibunya juga sakit. Aku kasihan pada Mas Dimas mbak, hidupnya telah ia baktikan kepada orang tuanya dikarnakan beban budi keluarganya." Aku masih terisak membayangkan Mas Dimasku.


"Lalu bagaimana hubungan kalian bisa berakhir? Siapa yang mengambil keputusan itu?" tanyanya lagi


"Aku mbak, dengan bersikap sok kuat aku memintanya mulai esok menganggapku tak ada, aku memintanya melupakkanku ... menjauhiku. Bahkan aku menyanggupi untuk datang dan memberi doa terbaik disaat pernikahannya nanti. Aku benci dengan diriku mbak, aku berpura-pura di hadapan Mas Dimasku. nyatanya aku sangat terluka. Bagaimana ini mbak? Bagaimana kulalui hari-hari esok tanpa mas Dimas?" Air mataku semakin mengalir deras tak mampu kuelakkan.


"Sayang ... keputusanmu sangat betul Ly. Kau sangat hebat, bahkan mbak gak akan mampu jika berada diposisimu. Jangan kau sesali! bagaimanapun menjalin hubungan diatas suatu hubungan lain sangatlah gak benar, akan banyak hati yang terluka. Dan jika tidak hari ini kau menentukan keputusan, esokpun keputusan tetap harus dibuat. Karna memang ini salah ...," mbak Susi berusaha menguatkanku.

__ADS_1


Aku menganggukan kepalaku.


Mbak Susi meraih daguku dan mengangkat wajahku.


"Kau sadar Ly, kau itu cantik dan sangat manis. Kau cukup bersabar dan tetap kukuhkan niat pada keputusanmu, jalani hari-harimu dengan baik. Mbak yakin telah ada sosok yang Alloh siapkan lebih baik dari mas Dimas itu."


"Mbak, itu sangat tidak mudah. Aku menceritakan bagaimana ia selalu ada di sekitarku saat bekerja, kami istirahat makan bersama, pulang bersama. Dan esok smua itu tidak akan terjadi lagi."


"Lyra ... kau tidak boleh rapuh!! Bagaimanapun Kau sudah membuat keputusan. Buka lembaran baru dalam hidupmu! Mantapkan setiap kata yang telah Kau ucap pada mas Dimas!! Jangan buat dirimu kembali kepada kesalahanmu!!" Mbak Susi lagi-lagi menyemangatiku.


"Iya mbak ... makasih mbak," ucapku dengan tangis yang mulai mereda.


Benar aku harus membuka lembaran baru, belajar menjalani hidupku tanpa kehadiran mas Dimas, batinku.


"Lyra ... maaf, kau tidak melakukan ...." Dengan terbata mbak Susi hendak menanyakan suatu hal namun ditahannya, tapi aku tahu apa yang ia berusaha katakan.


"Mbak, jangan berfikir macam-macam ya, aku tahu batasanku dan Mas Dimaspun bukan sosok seperti itu. Ia sangat menjagaku mbak," jawabku berusaha membuang prasangka mbakku.


"Oh ... syukurlah, mbak tenang. Mbak hanya memastikan saja Ly mbakpun sadar kau tak akan seperti itu."


"Terima kasih sudah mendengar ceritaku mbak, aku senang ada mbak di dekatku saat ini."


"Gpp mbak, aku memahaminya kok."


Tampak mbak Susi melihat Jam. Dilihatnya sudah pukul 23:05.


"Oya, kau sudah sholat isya belum? Sholat dan istirahatlah Ly. Tenangkan dirimu!! Siapkan dirimu untuk menyambut esok yang lebih cerah!!."


"Iya Mbak ...."


Ku segera berdiri menuju Kamar Mandi, berwudhu dan bersiap melaksanakan ibadahku.


Kucurahkan segala sesak pada Robbku. Dan segera ku rebahkan diriku saat ibadah telah selesai kutunaikan.


●●●●


Suasana pagi ini sangat cerah. Rasa sesak semalam telah hilang dalam diriku.


🌻Pukul 06:30

__ADS_1


Mbak Susi mengajakku mencari sarapan kedepan. Dan kuikuti ajakannya.


Mbak Susi terus saja bercerita lucu sepanjang perjalanan kami, membuatku berkali-kali tertawa. Sampai kami berhenti didepan penjual nasi uduk didepan gang kontrakan kami. Yahh, memang hanya ini penjual sarapan yang terdekat.


Tampak dari kejauhan tempat kedua gadis itu berdiri, sepasang mata memperhatikan mereka.


🌻POV AUTHOR


Sejak semalam mas Dimas terus teringat tentang Lyra, bagaimana air mata Lyra terus mengalir saat ia hendak pergi malam itu. Hatinya saat itu juga sangat terluka ... berkali ia menengok kebelakang, hasratnya ingin kembali. Tak ingin meninggalkannya, tapi bahkan otaknya masih bekerja benar. Keputusan telah mereka ambil. Janji telah ia ucapkan pada gadisnya itu. Janji untuk menata hidup bersama Friss. Janji yang membuat kedua insan merasa terluka, ia terus terisak di kamarnya. Membayangkan kandasnya hubungan mereka ... mengutuki takdirnya yang memang tak bisa ia sangkal dan ia hindari.


Dan pagi itu, ia terus terfikir tentang Lyra. gadisku bagaimana keadaannya? Dari Cikarang ke Cibitung ia lalui pagi itu demi melihat gadisnya. Sejak Pukul 06.00 Dimas menunggu jauh disudut sana, arah yang menghadap gang kontrakan Lyra ... berharap kalau-kalau gadisnya akan keluar pagi itu. Ia menunggu dengan sabarnya. Setengah jam berlalu, dan akhirnya ia menangkap bayang gadisnya. Lyraku dia disana ...


Ia terus menatap gadis diujung sana. Gadis yang masih mengenakan piyama kucing tadi malam, sangat terlihat manis. Sweater putih dipadukan sang gadis untuk menutupi lengan pendek piyama kucingnya. Hijab langsungan sedada dengan kedua tali yang diikat kebelakang semakin membuat penampilan gadisnya terlihat natural, "Lyraku sangat manis" berkali-kali Dimas bergumam ...


Seketika ia mengambil ponselnya. Ingin mengabadikan sosok manis didepannya. Ia arahkan kamera ponsel kearah gadis itu, mode zoom ia gunakan agar wajah Lyra terlihat jelas.1x.. 2x.. 3x... ia terus menekan tombol ponselnya.


foto-foto Lyra telah tersimpan kini. Ia kembali menatap sang gadis yang masih menunggu giliran dibuatkan nasi uduk pesanannya. Dimas menelusuri mata gadisnya, masih terlihat jelas sembab dimatanya. Sisa-sisa tangisan semalam telah membekas. Ia kembali menelusuri wajah dan tingkah gadisnya, berkali-kali ditangkapnya sang gadis tertawa bersama mbak Susi disisinya.


Dimas ikut terbawa tertawa melihatnya. Pemandangan yang ia lihat saat ini cukup membuatnya tenang, karna gadisnya baik-baik saja. Dilihatnya sang gadis berkali-kali menengok dan dan menelusuri pemandangan disekitarnya sesaat menunduk dan kembali bercengkrama dengan mbaknya.


Lyra merasa ada sosok yang mengawasinya saat ini, berkali ia menengok kebelakang dan arah sekitarnya tapi tak dilihatnya siapapun.


Hatinya bergetar berharap Mas Dimas ada disekitarnya, tapi tentunya tidak mungkin ini hanya perasaanku ... rumah mas Dimaspun jauh tak mungkin ia kesini. Dan lagi aku telah melarangnya ... Ah Lyra apa yang kau Fikirkan, mungkin karna bekas parfum mas Dimas yang masih menempel dipiyama ini membuatku berhayal tentangnya, ia wangi ini ... wangi milik mas Dimas masih tercium aromanya. Wangi yang tertinggal dalam pelukan yang kami lakukan. Mas Dimas akan sulit aku melupakanmu ...


Setelah sesaat menunduk, Lyra kembali tersadar dan melanjutkan obrolan dengan mbaknya yang pandai bercerita lucu. Membuatnya kembali tertawa, ia tau ... mbak Susi sedang menghiburnya.


Melihat gadisnya terlihat mantap memulai hari baru, iapun akan berusaha hal yang sama. Menepati janji yang ia telah ucapkan.


Diambilnya kembali ponsel di sakunya,


terlihat ia mengetik sesuatu disana, "Kau ada waktu sore ini Friss? aku akan menjemputmu nanti jam4 sore, bersiaplah."


Dilihatnya bayang Lyra telah hilang disana. Iapun bergegas pulang dengan senyum di wajahnya, senyuman bangga atas kemantapan gadisnya. Yang pasti tak mudah dihadapinya.


Lyraku ...


Akan terus kuukir nama dan bayangmu di hati ini. Do'a terbaik selalu untuk kebahagianmu.


●●●●

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2