
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
POV Dimas
Dan aku kembali kesini,
Kamar yang menyimpan berbagai ceritaku.
Dan kini aku memasukinya kembali.
Hai bayang-bayang. Enyah-lah !!
Bayang masa lalu yang masih selalu mengikuti,
Kisah masa lalu yang sangat sulit. kuhilangkan..
Yang menjadi alasanku tak ingin melangkahkan kaki ke Bekasi ini,
adalah kehawatiran dan ketidaksiapan jika aku harus melihatmu bersama sosok lain.
Yaa ... tentunya kau sudah memiliki kehidupan dengan sosok lain, bukan?
Bagaimanapun aku telah gagal menjaga amanah pernikahanku,
Gagal menjadi kepala keluarga,
Dan gagal mendidik istriku..
Haruskah ku katakan tentang kegagalanku padamu?
Namun takkan kubiarkan diriku gagal menjadi seorang ayah untuk putriku..
Kupasrahkan apapun takdir hidupku kini.
Hidup yang kupersembahkan untuk putriku..
Mayra Khansa Putri Anggoro.
●●●●
Sebuah deringan ponsel mengaburkan lamunan Dimas,
Tampak nama sahabat lama tertera disana, sahabat masa kuliah yang baru sebulan belakangan ini terekam kembali jejaknya, itupun tak sengaja melalui suatu media sosial ternama di ponselnya.
__ADS_1
Komunikasipun terus berlanjut sejak saat itu, diketahui ia tinggal di Bekasi pula saat ini. Dimas sangat suka pada sahabatnya, sebab ia mampu memberi percikan iman lebih kedalam jiwanya yang hampa.
Diangkatlah panggilan yang masuh terus berdering itu,
"Assalamu'alaikum Bro.." ujar sosok di balik ponsel yang di genggam Dimas.
"Wa'alaikumusalam," jawab Dimas.
"Gimana, kapan sampai Bekasi?" ujar rekan Dimas.
"Ini aku baru sampai, lagi di Cikarang tempat Nyokap," jawab Dimas.
"Jangan lupa kau harus mampir ke tempatku," ujar rekan Dimas.
"Tentu, tapi tidak sekarang pastinya. Putriku masih sangat letih."
"Sip, kabar-kabari saja," ucap rekan Dimas.
"Oya, kau sudah dapat rumah yang aku cari?" tanya Dimas.
Dimas memang meminta tolong rekannya tersebut mencarikan rumah untuknya, maklum Dimas sudah lama tak ke Bekasi. Jadi seakan semua kembali asing untuknya.
"Perumahan baru kau mau? atau ingin rumah kavling saja dekat pemukiman warga?" tanya rekan Dimas memastikan.
"Perumahan baru saja, aku suka suasana tenang."
"Wahh, boleh sekali. Nanti aku lihat brosurnya dahulu. Oya, bukannya kau sudah ada rumah yang kau tempati saat ini?" tanya Dimas.
"Rumah yang kutempati saat ini, adalah rumah orang tua, aku ingin memiliki hunian sendiri. Apalagi kami akan segera memiliki anak kedua, istriku akan butuh suasana yang tenang. Rumah itu biarkan kelak dikontrakkan sebagai pemasukan orang tuaku." Teman Dimas tampak menjelaskan.
"Aku sangat iri, pasti hidupmu sangat bahagia. Ada istri yang setia, 2 anak yang membuat ramai rumah dan terpenuhi pula kasih sayang dari kedua orangtuanya," lirih Dimas.
"Heiii, maaf jika cerita tentang keluargaku melukaimu," ucap rekan Dimas merasa bersalah.
"Tidak. Inilah jalan hidupku, aku harus bersyukur masih memiliki Mayra disisiku. Yah memang manusiawi jika setiap orang berharap memiliki kehidupan rumah tangga ideal. Tapi manusia hanya berusaha, untuk kenyataan kembali pada Takdir Sang Pencipta," ujar Dimas.
"Sabar Bro, aku yakin akan ada saatnya kaupun memiliki hal tersebut," rekan Dimas menyemangati.
"Entah, aku sudah tak terfikir itu. Hatiku sudah lama kututup. Memberi kasih sayang untuk putriku, itu saja cita-citaku kini. Untuk membangun rumah tangga lagi akan butuh banyak pertimbangan sebab akupun tak sendiri, ada Mayra bersamaku," lirih Dimas kembali.
"Okelah selamat beristirahat, kita lanjutkan mengobrol nanti, klienku sudah tiba. Semangat Bro. Assalamu'alaikum."
"Thanks, wa'alaikumussalam."
●●●●
🌻2 Hari Kemudian
__ADS_1
"Jam berapa temanmu akan datang Mas?" 2 orang wanita tampak sibuk di dapur saat ini.
"Apa lagi yang bisa kulakukan Kak?" ujarku yang ikut sibuk membantu sahabatku saat ini.
"Bantu tata saja makanan yang sudah siap ke meja makan Ly," ujar Kak Fida padaku saat ini.
"Okee," ucapku.
"Katanya sih jam 7 dia akan tiba," Mas Fahmi tampak ikut sibuk bersih-bersih ruang tamu saat ini. Ia terlihat sangat bersemangat, akan bertemu teman kuliahnya kembali setelah 7 tahun tak bertemu.
Seperti apa Dimas saat ini, batinnya penuh tanya dan rasa penasaran.
"Emang siapa sih Kak yang akan datang?" ujarku penasaran melihat Kak Fida yang biasanya malas masak tiba-tiba menyempatkan membuat hidangan untuk tamunya. Apa ia begitu spesial, batinku.
"Temen kuliah mas Fahmi, katanya sih dulu mereka sahabatan," jawab Kak Fida.
"Oh,"
"Undaa, ayo main cama Ichaa di kamar!" Ganteng kecilku ku tiba-tiba mendekat dan menarik lenganku ke kamarnya.
"Heii, bunda sedang bantu Ami-mu Sayang," ujarku tapi tak digubrisnya.
"Kak, aku tinggal ya," teriakku.
Rupanya Irsya minta dibacakan cerita saat ini, akupun mulai membacakan cerita saat ini ...
"Undaa, nanti nginep di rumah Ichaa aja, bobo sama Ichaa," ujar Irsya dengan tampang polosnya.
"Bunda kan punya rumah sendiri sayang, lagipula besok pagi bunda ada kajian," ujarku.
"Bunda ngaji teyus,"
"Hee, iya biar bunda pinter, Irsya juga kalau sudah besar harus rajin ngaji yaa," ujarku menjawab celotehnya.
"Iyaa Undaa," jawabnya lagi.
"Masih mau bunda bacain cerita gak? Kalau sudah bunda mau bantu Ami."
"Macih dong Undaa," ucapnya.
Akupun melanjutkan cerita yang kubaca sambil berbaring bersama Irsya yang terus memelukku di ranjang mungilnya.
Dan seketika rasa kantuk mulai menyelimutiku, semua karena letihku setelah berjibaku seharian di PT.
Tak menunggu lama, kami berduapun terlelap dengan pulasnya saat ini..
●●●●●
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤